NovelToon NovelToon
Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Beberapa hari telah berlalu sejak pembicaraan antara Han Seokjin dan Viola terjadi. Kehidupan di Sweet Cake sebenarnya berjalan seperti biasa. Toko tetap buka setiap pagi, karyawan tetap datang sesuai jadwal, pesanan tetap berdatangan, bahkan jumlah pelanggan justru semakin bertambah.

Ada pelanggan lama yang mulai menjadi langganan tetap. Ada pula wajah-wajah baru yang datang karena rekomendasi dari orang lain. Pesanan untuk acara ulang tahun, arisan, rapat kantor, hingga berbagai perayaan kecil mulai memenuhi buku catatan pesanan.

Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Namun, tiga orang yang setiap hari bekerja bersama Viola mulai menyadari satu perubahan kecil. Viola tidak lagi seceria biasanya.

Pagi itu, Rani berdiri di balik etalase sambil memeriksa beberapa pesanan yang harus disiapkan. Di sebelahnya, Siska sedang menata potongan strawberry shortcake ke dalam etalase kaca.

Dimas baru saja masuk membawa beberapa kardus bahan kemasan dari gudang belakang. Rani melirik ke arah dapur, tatapannya berhenti pada sosok Viola. Wanita itu berdiri di depan mixer.

Mesin sedang bekerja mengaduk adonan. Namun, Viola tidak melakukan apa-apa, ia hanya berdiri dengan kedua tangan bertumpu di sisi meja, menatap adonan yang terus berputar di dalam wadah mixer. Wajahnya tampak kosong, seolah pikirannya berada jauh dari tempat itu.

Rani menyenggol lengan Siska pelan. "Coba lihat, Bu Viola melamun lagi."

Mengikuti arah telunjuk Rani, kedua alis Siska langsung terangkat. "Lagi?"

Rani mengangguk. "Dari tadi."

"Jangan-jangan kurang tidur," tebak Siska sambil meletakkan strawberry shortcake terakhir ke dalam etalase.

"Kayaknya bukan itu."

"Terus?"

Rani mengangkat bahu. "Itu yang bikin aku penasaran."

Dimas yang sejak tadi mendengar percakapan mereka ikut mendekat. "Ada apa?"

Rani menunjuk diam-diam ke arah dapur. "Lihat Bu Viola."

Dimas menoleh, beberapa detik ia memperhatikan atasannya kemudian menghela napas kecil. "Memang kelihatan berbeda."

"Kan?" Rani langsung menimpali. "Aku juga merasa begitu."

Siska ikut melirik. "Biasanya kalau menunggu mixer selesai, Bu Viola pasti sambil memeriksa daftar pesanan atau menyiapkan bahan berikutnya."

"Sekarang malah bengong," timpal Dimas.

Mereka bertiga terdiam. Tidak ada satu pun yang benar-benar tahu apa penyebabnya, padahal jika melihat keadaan toko, tidak ada alasan bagi Viola untuk murung.

Sweet Cake justru sedang berada dalam masa terbaiknya. Pesanan semakin banyak, pelanggan semakin ramai, bahkan beberapa hari terakhir, mereka sering kali harus menolak pesanan mendadak karena kapasitas dapur sudah penuh.

Rani menatap daftar pesanan di tangannya. "Padahal toko kita makin ramai."

"Pesanan juga makin banyak," timpal Siska.

"Kalau begini terus, Bu Viola harus secepatnya menambah orang lagi." Dimas ikut menanggapi.

"Nah, itu. Harusnya Bu Viola senang," sahut Rani.

"Makanya aku bingung. Kenapa Bu Viola malah murung?" jawab Siska.

"Mungkin ada masalah pribadi?" tebak Dimas.

"Masalah pribadi?" sambar Rani menatap Dimas.

"Bisa saja, kan."

Mereka kembali memandang Viola. Tidak satu pun berani bertanya langsung. Bukan karena mereka takut, justru sebaliknya mereka sangat menghormati wanita itu.

Viola bukan tipe atasan yang suka membentak atau memperlakukan karyawan seenaknya. Ia selalu bekerja bersama mereka, bahkan sering kali ikut membereskan toko ketika pekerjaan sedang menumpuk. Karena itu, ketika melihat Viola berubah, ketiganya merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Jangan-jangan toko kita mau tutup?" Rani mengatakannya hampir berbisik.

"Hush, jangan ngomong sembarangan!" tegur Siska. Matanya menatap tajam Rani.

"Aku cuma menebak."

"Bu Viola baru saja membuat toko ini berkembang. Mana mungkin ditutup?"

Sementara Rani dan Siska berdebat, Dimas justru terdiam. Ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi urung.

Ingatannya terlempar kembali pada Pria berpakaian rapi yang pernah datang ke Sweet Cake. Saat itu ia memang banyak bertanya tentang bangunan tempat mereka bekerja. Waktu itu Dimas menganggap pertanyaan itu hanya bagian dari rasa ingin tahu pelanggan. Namun, sekarang ... Entah mengapa semuanya terasa berbeda.

"Dimas?" Suara Siska membuat Dimas tersadar.

"Hm?"

"Kamu kenapa ikut melamun? Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Rani penuh selidik.

"Nggak, kok!" Dimas buru-buru membantah.

Suara mixer yang berhenti, membuat ketiganya langsung terdiam. Sementara Viola tersentak kecil. Ia menatap mesin tersebut seperti baru menyadari bahwa adonan sudah selesai diaduk. Tangannya bergerak mematikan tombol kemudian menghela napas.

Saat berbalik, pandangannya bertemu dengan tiga karyawannya yang sedang memperhatikannya. Ia lantas melangkah mendekat. "Kenapa kalian melihat saya seperti itu?" tanyanya heran.

Rani langsung salah tingkah. "Eh ... nggak kok, Bu."

Siska buru-buru kembali menata etalase, sementara Dimas mengangkat kardus yang dibawanya tadi.

Melihat tingkah konyol tiga karyawannya, Viola hanya menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Lakukan pekerjaan kalian ... masih banyak pesanan yang harus segera dibuat." Setelah mengatakan itu Viola kembali ke dapur.

Ia kembali melakukan rutinitasnya, mengeluarkan adonan dari mixer, menimbang, mencampur, menyiapkan loyang. Semuanya ia kerjakan dengan penuh ketelitian, meski di dalam kepalanya, kalimat yang Seokjin katakan terus berputar sejak beberapa hari terakhir.

"Setelah kontrak sewamu berakhir, aku ingin kau mempertimbangkan untuk tidak memperpanjangnya."

Tangannya berhenti sesaat ketika hendak menuangkan adonan ke loyang. Suara tawa pelanggan terdengar dari depan toko, ia menyadari sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak.

Sweet Cake sedang tumbuh semakin besar tepat ketika dirinya mulai harus memikirkan cara untuk meninggalkannya.

Dan yang membuat dada Viola semakin sesak adalah keputusan itu harus segera ia ambil karena waktu terus berjalan.

*****

Sementara di kantor pusat Dhanubrata Group.

kesibukan tampak semakin meningkat. Proyek kawasan bisnis Distrik Timur mulai memasuki tahap yang lebih serius. Enam bangunan telah mendapatkan persetujuan dari para pemiliknya, sementara satu bangunan masih menjadi bagian yang belum terselesaikan.

Di ruang kerjanya, Seokjin duduk di balik meja besar dengan wajah serius. Tatapannya tertuju pada layar tablet yang baru saja diperlihatkan Asisten Kim. Beberapa dokumen dan laporan perkembangan pembebasan lahan terpampang di sana.

Jarinya sesekali menggeser layar. Angka, denah, nilai kompensasi, status negosiasi, semuanya diperiksa dengan teliti. Seokjin tidak pernah membiarkan satu detail pun terlewat begitu saja.

"Bagaimana perkembangan terakhir?" tanyanya.

Asisten Kim berdiri di hadapannya dengan tablet lain di tangan. "Enam pemilik sudah menyepakati nilai yang ditawarkan. Dokumen tinggal masuk tahap berikutnya setelah proses administrasi selesai."

Seokjin mengangguk. "Hanya tinggal Bu Mirah," gumamnya pelan. Tatapannya kembali pada denah kawasan. Satu titik masih belum terselesaikan, yakni bangunan milik Bu Mirah yang masih digunakan Viola sebagai toko kue.

Ia terdiam beberapa saat kemudian mengangkat wajah. "Kau sudah mencari tahu berapa lama gedung itu disewakan?"

"Sudah, Tuan." Asisten Kim membuka catatannya. "Satu tahun."

Seokjin tidak langsung menanggapi. Jarinya justru mengetuk pelan permukaan meja.

Asisten Kim melanjutkan. "Nona Viola sudah lebih dari enam bulan membuka toko di sana. Itu artinya, masa sewa bangunan itu akan berakhir dalam beberapa bulan ke depan."

Mengangguk kecil, tatapan Seokjin kembali jatuh pada denah kawasan. "Kalau begitu, kita hanya perlu menunggu sampai kontraknya berakhir."

"Tuan, bagaimana jika Nona Viola justru memperpanjang kontrak sewa bangunan itu lalu Bu Mirah menyetujuinya? Bukankah itu artinya ...."

"Tidak." Jawaban Seokjin terdengar cepat dan tegas. Ia mengangkat wajah. "Viola tidak mungkin memperpanjang kontrak sewanya. Aku sangat yakin."

Asisten Kim terdiam sejenak. Bukan karena meragukan atasannya, melainkan karena penasaran dengan keyakinan itu.

"Dia sudah mengetahui mengenai proyek ini. Dia juga tahu bangunan yang ditempatinya berada dalam wilayah pembebasan lahan." Seokjin menutup tablet di hadapannya. Pria itu lalu bersandar pada kursinya. "Orang yang rasional tidak akan memperpanjang kontrak di tempat yang tengah mengalami persoalan yang hanya akan merugikan dirinya sendiri."

Seokjin mengatakan itu karena ia yakin Viola juga pernah berada di posisinya. Dan wanita itu pasti akan mengambil keputusan yang tidak merugikan siapa pun.

"Asisten Kim," lanjut Seokjin. Ia menatap Asistennya yang masih setia berdiri menunggu tugas berikutnya.

"Iya, Tuan."

"Temukan sebuah bangunan berlantai dua di pusat kota."

Asisten Kim sedikit mengernyit. "Untuk Nona Viola?" tebaknya.

"Ya. Temukan yang lokasinya strategis dengan akses kendaraan bagus, lingkungan ramai, tetapi bukan kawasan yang harga sewanya tidak masuk akal." Seokjin berhenti sejenak. "Cari beberapa pilihan. Jangan hanya satu."

"Baik, Tuan."

"Aku ingin bangunan itu sudah siap digunakan. Tidak perlu terlalu besar, yang penting memiliki area yang cukup untuk toko kue sekaligus tempat tinggal."

Asisten Kim segera mencatat semuanya. Meski dalam hati ia sedikit aneh dengan sikap atasannya yang terkesan terlalu memikirkan penyewa tersebut, bahkan sampai mencarikan tempat lain sebagai pengganti bangunan itu.

"Tuan ...."

"Aku melakukan itu karena Nara sendiri yang memintanya," ucap Seokjin. Ia seolah bisa membaca apa yang ada di benak asistennya.

Asisten Kim terdiam.

Seokjin kembali mengambil tablet di atas meja, lalu menatap layar yang masih menampilkan data pembebasan lahan Distrik Timur.

"Beberapa waktu lalu Nara menghubungiku." Tatapannya tetap tertuju pada layar. "Dia meminta agar aku mencarikan tempat untuk Viola sebelum perusahaan benar-benar membuatnya keluar dari bangunan itu."

Asisten Kim mengangguk pelan. Kini ia mengerti. Apa yang dilakukan atasannya bukan semata-mata terlalu memperhatikan penyewa sebuah toko kue.

"Sepupuku dan suami beruntungnya itu tidak pernah meninggalkan Viola," lanjut Seokjin.

"Selama ini mereka hanya memilih untuk tidak ikut campur secara langsung dalam kehidupannya." Ia menyandarkan kembali punggungnya pada kursi. Pikirannya melayang pada saat Nara menghubunginya beberapa hari yang lalu.

Seokjin sendiri tidak pernah menyangka jika ternyata Nara dan suaminya diam-diam memantau kehidupan Viola. Dari jauh, mereka mengetahui bagaimana Viola membangun toko kue itu dan menjalani kehidupan sederhananya tanpa meminta bantuan siapa pun.

"Karena itu, temukan tempat yang layak untuknya," lanjut Seokjin kemudian.

Asisten Kim mengangguk. "Baik, Tuan."

Pintu ruangan tertutup. Menyisakan Seokjin yang masih duduk tenang di kursinya. Pria itu menghela napas panjang, kali ini bukan karena masalah kawasan Distrik Timur ataupun Viola. Tapi karena perasaannya yang kembali tidak nyaman saat mengingat Nara. Sepupunya yang masih menempati seluruh ruang di hati dan perasaannya.

*** Bersambung.

1
Lisa
Wah apa nih yg mau dibicarakan oleh Seokjin pd Nara..
〈⎳ FT. Zira
dalam hati "kenapa Vio gak nyapa.?" 🤣
Lisa
Wah Viola cantik banget dgn gaun yg dr Seokjin..👍
mama Al
kalau di tengah kota emang mahal viola.
coba kalau jauh dari perkotaan, harga nya ga murah ga kemahalan juga.
mama Al
Hmmm bisa jadi di carikan tempat sekaligus di jadikan bini 🤭
ngarep boleh ya Thor
mama Al
tenang viola akang Seok jin lagi nyari tempat yang pas buat kamu
Lisa
Wah Seokjin perhatian banget nih sama Viola..sukses y Viola utk sweet cakenya..pasti deh byk pengusaha yg tertarik utk bekerja sama dgn sweet cake..
Lisa: wah ada pengorbanan juga y Kak
total 2 replies
Lisa
Senengnya sweet cake makin ramai dan byk pelanggan..sukses trs y sweet cake..semangat y Viola..aplg nanti sweet cake hadir dlm acara ultahnya Danubrata grup..pasti makin byk yg mengenal sweet cake..
Lisa
Oke Kak Lia ntar aq mampir di kisahnya Sagara & Nara juga 😊
Lisa: Sama² Kak Lia..aq suka ceritanya menarik Kak..
total 2 replies
Lisa
Puji Tuhan sweet cake rame lg.ada tamu spesial nih kayaknya..siapa y mereka..
mama Al
Apa Nara mengatakan sesuatu pada viola terkait bangunan itu.
mama Al
jangan mau viola, beda tempat beda rezeki
mama Al
ya wajar ngga di kabari soal undangan soalnya pemilik juga ga mau datang. menolak menyerahkan toko.
mama Al
setelah di bab kmarin aku ngira asisten Kim adalah perempuan dan sekarang terjawab sudah 😁
mama Al: bab sebelah maksudnya
total 1 replies
mama Al
hmmm jangan bilang dia mau mendekati viola supaya bisa mengambil alih ruko.
Lisa
👍👍 pasti sweet cake di hari kedua ini lebih rame..semangat y Viola..pelangganmu pasti tetap dtg meskipun tmptnya pindah.
Lisa
Selamat y Viola utk grand opening sweet cake nya..meskipun di hari pertama ini byk pembeli yg dtg atas saran dr Seokjin..moga utk hari² selanjutnya mereka tetap dtg bahkan semakin byk pelanggan lain yg dtg.
-Thiea-
jangan rendah diri viola. kamu pasti bisa menemukan seseorang yang menjadikan kamu orang terpenting dalam hidupnya.
Lisa
Wah tmptnya strategis banget Kak 👍👍 pasti sweet cake makin laris 😊
Lisa
Semangat y Viola..perhitungkan semuanya..moga sweet cake tetap laris bahkan makin laris di tmpt yg baru.
Lisa: Amin..😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!