Mengharuskan menjalani pernikahan disaat istri pertamanya masih hidup? Lebih uniknya harus dijodohkan oleh istrinya sendiri.
Pernikahan yang diawali dengan niat untuk agar dapat merawat suaminya dan bersiap jika operasi yang akan dijalani gagal oleh sang istri pertama.
Akankah Alva dapat bertahan dengan niat itu? Bisakah dia menjadi istri selamanya sosok bernama Adnan dan menjadi satu satunya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fatmass, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 26
Kini bergantian waktunya untuk Alva menjenguk Melanie sebelum dokter melakukan operasi kepada Melanie.
Di dalam entah apa yang ingin dikatakan oleh Alva. Ia bingung ingin berucap apa selain mendoakan agar mbak Melanie cepat sembuh dan sadar dari komanya.
"Cepat sembuh mbak Mel, aku sudah kangen dan suami mbak Melanie pasti sudah rindu dan merindukan mbak Melanie" Ujar Alva panjang sambil terus menatap ke arah Melanie yang tengah terbaring itu.
Setelah berbincang dengan tubuh Melanie yang tengah tertidur itu akhirnya Alva keluar dari ruangan itu.
Di luar sudah ada Adnan yang tengah berbincang dengan dokter entah apa yang mereka bicarakan. Pastinya membahas mengenai operasi untuk Melanie.
"Kau pulanglah kau besok harus kuliah jam pagi!" Ujar Adnan kepada Alva.
"James kau antarkan dia!" Perintah Adnan dan stelah itupun Adnan pergi.
Alva memaklumi mungkin ini saat terberat Adnan menghadapi bahwa istrinya dioperasi. Alva pun akhirnya memasuki mobil dengan James.
"James apa tuanmu itu tidak akan pulang malam ini?" Tanya Alva pada James di dalam mobil.
"Saya kurang tahu nyonya" Jawab James dimana Alva menanggapinya dengan menganggukan kepalanya.
"Setidaknya malam ini hidupku tenang dan besok manusia pluto itu tidak akan mengajar dikelas ku bukan?" Tanya Alva kembali.
"Saya kurang tau nyonya" Jawab James kembali membuat Alva merasa kesal karena tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh James.
"Kurang tau kurang tau, kau itu niat tidak sih menjawab pertanyaan ku!" Kesal Alva pada akhinya.
"Maaf nyonya!" Timpal James.
...🍀🍀🍀...
Alva pun sudah sampai di mansion dan kini dirinya berada di kamarnya. Ia merasa ada yang berbeda dengan dirinya.
Seperti sepi, mungkin karena ketidakhadiran Adnan yang mungkin ia sudah terbiasa dengan kejahilan Adnan.
"Semoga saja besok manusia pluto itu tidak akan mengajar di kelasku" Gumam Alva sebelum akhirnya ia memilih untuk mengganti pakaiannya dan mencuci mukanya.
Sementara kini di rumah sakit Adnan tengah setia menunggu didepan pintu ruangan dimana tempat istri pertamanya di operasi.
Dengan lampu bewarna merah itu masih setia berada di atas ruangan operasi. Adnan menengaahkan tangannya berdoa yang terbaik untuk keselamatan Melanie.
Berharap agar operasinya berjalan lancar dan dapat mengangkat penyakit Melanie untuk selama lamanya.
Sepanjang malam dirumah sakit Adnan sama sekali tidak dapat tertidur. Ia masih setia dengan menanti dokter keluar dengan membawakan kabar yang menyenangkan mengenai istrinya.
Begitu pula dengan Alva yang kini masih belum tertidur entah sebenarnya ada apa dengan dirinya sendiri ia pun juga tidak tau.
Menatap langit langit kamarnya sembari memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Astaga mungkin aku terlalu terbiasa dengannya sehingga aku akan gelisah jika akan diceraikan olehnya" Gumam Alva meyakinkan dirinya.
Ia menolak bahwa dirinya sudah sangat nyaman dengan Adnan. Ia hanya berpikir bahwa hanya sudah terbiasa. Terbiasa dan bukan nyaman.
"AAAAA!!" Geram Alva.
Namun tak lama kemudian ia pun tertidur.
Keessokan paginya Alva pun terbangun dan bersiap untuk berangkat ke kelas paginya.
Ia pun keluar dan menuju dapur dan menyadari bahwa Adnan tidak pulang semalam dan tentu bahwa Adnan berada dirumah sakit.
Alva pun berangkat menuju kampusnya bersama James.
"James apa kemarin kau juga berada dirumah sakit semalaman?" Tanya Alva kepada James di dalam mobil.
"Saya hanya menjenguk sebentar karena tuan menyuruh saya untuk pulang dan beristirahat!" Jelas James membuat Alva kecewa karena tidak dapat mengetahui keadaan Adnan.
"Dan apa operasinya berhasil" Tanya kembali Alva menimpal.
"Kenapa tidak nyonya sendiri yang bertanya kepada tuan?" Heran James.
"Memang bagaimana caranya?" Timpal Alva membuat James mengangkat alisnya.
"Apa nyonya tidak memiliki ponsel untuk chat tuan Adnan sendiri?" Heran James bertanya karena memang benar.
Dan Alva pun baru kepikiran hal itu. Ia pun segera mengeluarkan ponselnya. Namun ia malah melamun dan hanya menatap ponselnya.
"Tapi aku tidak punya no nya!" Seru Alva membuat James melotokan matanya.
"Bagaimana bisa tidak mempunyai no ponsel tuan Adnan?" Heran James.
James pun segera mengeluarkan ponselnya dan memberikan no ponsel tuannya kepada nyonyanya.
"Terima kasih James!" Seru Alva.
Namun Alva tidak melakukan apapun dan malah memasukkan ponselnya kedalam sakunya.
James yang melihat nya terbingung. Namun ia hanya terdiam tidak berani mengatakan apapun.
Sampai tak terasa pun mobilpun berhenti tepat di depan universitasnya. Alva pun segera turun tak lupa berterima kasih kepada James.
Di dalam kelasnya sudah ada Jennita dan Ritha disana dan beberapa mahasiswa lainnya.
Selama penyampaian materi pun Alva hanya menatap ponselnya yang tertera nomor Adnan dengan kontak yang dinamainya manusia pluto.
Ritha yang berbangku di depan bangku Alva pun menyadari saat ia berbalik dan meminjam tip-x.
"Al, hei Al!" Panggil Ritha membuat Alva tersetak dan menatap Ritha.
"Ada apa?" Tanya Alva membuat Ritha curiga bahwa temannya pasti ada something yang membuat pikirannya terganggu.
"Tip-X" Seru Ritha membuat Alva mengagguk dan memberikan tip x nya kepada Ritha.
Ritha pun mengangkat bahunya dan kembali membalikkan badannya untuk menyatat materi.
Mata kuliah pertama mereka pun selesai dan menunggu beberapa jam lagi untuk ke mata kuliah berikutnya.
Ada yang memilih untuk pulang, jalan jalan, ke perpustakaan, dan kebanyakan dari mereka berada di kantin.
Alva, Ritha dan Jennita pun memilih untuk menunggu di kantin. Mata kuliah berikutnya adalah mata kuliah yang diajarkan oleh Mr. Rams.
Mengingat bahwa Adnan yang akan mengisi mata kuliah berikutnya membuat Alva semakin terdiam dan menebak
Apakah Adnan akan mengisi kelasnya atau tidak. Entah mengapa ia sangat berharap bahwa Adnan akan mengisi kelasnya.
"Al, kau itu dari tadi kenapa? Kenapa murung sekali?" Tanya Ritha pada akhirnya dan Jennita pun hanya menyimak.
Ia juga memiliki permasalahannya sendiri bahwa bahkan saat ini ia masih se atap dengan Daryan.
Namun Daryan hanya berpikir positif dan menganggap Jennita hanya sebata adik kakak. Entah mengapa hal itu membuat Jennita sakit hati.
"TIdak ada aku hanya ingin pulang ke Indonesia. Aku rindu dengan rumahku!" Jawab Alva yang dijawab anggukan oleh Ritha.
"Oh iya Al, Aku ingin bercerita kepadamu bahwa aku sudah menemukn jodohku!" Seru Ritha dengan terkekeh membuat Jennita menggelegkan kepalanya mendengarnya.
Alva terkekeh mendengarnya.
"Memang siapa orangnya?" Tanya Alva.
"Orangnya khayalan!" Jawab Jennita memotong pembicaraan Alva dan Ritha.
"Kau itu tidak tau saja, orangnya tinggi, tampan, tinggi, dadanya sangat lebar, keren pokoknya segalanya deh ia punya!" Celoteh Ritha membuat keduanya menggelengkan kepalanya dan terkekeh.
"Mungkin kau benar Jen, bahwa idamannya hanya khayalan saja"
X
hihihi...