Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32- Sah
Beberapa saat kemudian...
Gemuruh tepuk tangan dan denting gelas kristal memenuhi Grand Ballroom. Prosesi sakral pengucapan janji suci telah dilewati dengan khidmat, dan kini pesta resepsi berlanjut menjadi perayaan yang luar biasa meriah.
Di atas panggung pelaminan yang dihiasi ribuan mawar putih, Alena dan Bara berdiri berdampingan. Mereka tampak begitu serasi, bagaikan sepasang bangsawan dari negeri dongeng.
Saat lagu bernada lambat mulai dimainkan oleh orkestra, Bara mengulurkan tangannya dengan membungkuk hormat, mengajak sang istri untuk berdansa dan Alena pun menyambutnya dengan senyuman manis.
Di tengah lantai dansa, di bawah sorotan lampu spotlight keperakan, Bara melingkarkan tangannya di pinggang ramping Alena, sementara tangan Alena bersandar nyaman di bahu tegap suaminya.
Gerakan mereka begitu selaras dan penuh dengan riak romansa. Ketika Bara mengecup kening Alena dengan lembut di akhir dansa, riuh sorak gembira dan tepuk tangan dari para tamu undangan langsung pecah.
Prok prok prok prok!!!
Sementara itu di sudut area VIP, Bramantyo tengah berdiri dengan dada membusung bangga. Beberapa kolega bisnis kakap dan anggota keluarga besar silih berganti menghampirinya dan menjabat tangannya dengan erat.
"Luar biasa, Bram. Menantumu bukan hanya cantik, tapi auranya sangat anggun dan berkelas. Pilihan yang sangat tepat untuk mendampingi Bara," puji salah seorang investor utama perusahaan mereka.
"Xi xi xi..." Bramantyo terkekeh puas, lalu menyesap cerutunya. "Tentu saja. Bara tau mana yang terbaik untuk masa depan keluarga ini."
Namun, di tengah suasana yang dipenuhi kebahagiaan itu, ada sepasang mata yang memancarkan kilat yang sangat berbeda.
Di dekat meja bar, Mico berdiri diam memegang gelas sampanye. Matanya tidak pernah lepas dari sosok Alena yang kini tengah tertawa kecil mendengar bisikan Bara di lantai dansa.
Mico tidak membuat kekacauan. Ia tau betul amarah ayahnya akan sangat fatal jika ia merusak malam ini. Namun, ada gejolak aneh yang membakar dadanya.
Sorot matanya dipenuhi kombinasi antara rasa iri, benci, dan... hasrat yang terlarang.
Mico menatap bagaimana gaun pengantin itu melekat sempurna di tubuh Alena, bagaimana cara wanita itu bergerak dengan keanggunannya, dan bagaimana sorot mata cerdas itu bisa memikat semua orang di ruangan ini.
"Wanita sekelas dia... kenapa harus jatuh ke tangan anak sialan itu?" batin Mico, giginya bergelatuk rapat.
Di dalam benaknya yang mulai diracuni obsesi, timbul sebuah pikiran lancang, ia ingin merebut dan memiliki istri kakak tirinya itu. Baginya, memiliki Alena akan menjadi kemenangan mutlak untuk menginjak harga diri Bara sedalam-dalamnya.
Namun, beberapa saat kemudian fokus Mico pada Alena langsung buyar saat sebuah tepukan pelan mendarat di bahunya.
Sofia melangkah mendekat dengan senyum anggun yang menutupi kelicikannya di hadapan publik.
Sofia melirik arah pandang putranya, lalu berbisik dengan suara yang sangat rendah, dan nyaris tak terdengar di antara riuh musik, namun penuh dengan racun yang mematikan.
"Simpan pandanganmu itu, Mico. Jangan bertindak bodoh di depan ayahmu," tegur Sofia tanpa merubah ekspresi wajah ramahnya.
Mico mendengus, lalu meneguk sampanyenya hingga tandas. "Ibu lihat sendiri, kan? Semua orang memuji mereka. Ayah bahkan terlihat sangat menyayangi wanita penjual bunga itu."
Sofia terkekeh sinis, lalu tatapannya beralih menatap tajam ke arah Alena dan Bara yang masih berada di lantai dansa.
"Kelak... pernikahanmu akan jauh lebih meriah dari semua ini, Mico. Ibu akan memastikan kamu mendapatkan wanita dari keluarga yang jauh lebih berkuasa untuk menghancurkan posisi Bara di perusahaan."
Sofia menjeda kalimatnya, lalu meremas bahu putranya lebih erat. "Untuk saat ini, biarkan saja mereka menikmatinya dulu. Biarkan mereka merasa terbang tinggi ke awan. Karena semakin tinggi mereka terbang, akan semakin hancur tubuh mereka saat Ibu menjatuhkannya nanti."
Mico tidak membalas sepatah kata pun. Ucapan ibunya memang masuk akal, namun matanya perlahan kembali bergulir, menatap Alena yang kini sedang bersandar di dada Bara saat berdansa.
Di dalam hati Mico, rencana Sofia untuk menjatuhkan Bara adalah satu hal yang penting, tetapi ambisi pribadinya untuk menguasai Alena telah menjadi obsesi baru yang siap menyulut badai di dalam keluarga Bramantyo.
(Orang songong dan belagu emang gak ada hentinya ya... Hadeuh...)
**
Beberapa jam kemudian...
Riuh rendah pesta megah itu perlahan memudar dan berakhir. Pintu kamar Penthouse Suite yang mewah ditutup dengan ketukan lembut oleh Bara dan seketika mengunci seluruh kebisingan dunia luar.
Kamar pengantin mereka didominasi oleh dekorasi elegan berwarna putih dan emas, dengan hamparan kelopak mawar merah yang membentuk hati di atas ranjang berukuran besar.
Cahaya lampu tidur yang temaram menciptakan suasana yang hangat, intim, dan penuh privasi.
Alena menghela napas lalu bersandar di balik pintu kayu yang kokoh. Sepasang sepatu hak tingginya sudah ia lepas sejak di lorong, dan kini ia bisa merasakan dinginnya lantai marmer yang menyegarkan telapak kakinya yang lelah.
Bara membalikkan tubuh dan menatap istrinya. Ia melepaskan dasi kupu-kupu dan jas tuksedonya, hingga menyisakan kemeja putih yang dua kancing teratasnya sudah dibuka.
Wajah tegapnya yang tadi tampak formal di depan para kolega, kini sepenuhnya melunak. Ada binar kebahagiaan yang begitu pekat di matanya.
"Lelah?" tanya Bara lembut, sambil melangkah mendekat.
Alena mendongak lalu tersenyum manis. "Sedikit. Berdiri dengan gaun seberat ini selama berjam-jam ternyata lebih menguras tenaga daripada mengurus satu truk bunga mawar."
Bara terkekeh pelan. Ia lalu berdiri di belakang Alena, dan dengan telaten membantu menurunkan ritsleting gaun pengantin wanita itu agar Alena bisa bernapas lebih lega.
"Akhh..."
Sentuhan jari-jari Bara yang hangat di kulit punggungnya yang terbuka membuat Alena sedikit berdesir dan luhan pelan pun lolos dari bibirnya namun tak terdengar oleh Bara.
Setelah Alena mengganti gaunnya dengan gaun tidur sutra yang lebih nyaman, ia kembali ke kamar utama.
Di sana, Bara sudah menunggunya di tepi ranjang sambil memegang dua gelas air putih hangat. Alena lalu duduk di sampingnya dan menerima gelas itu, kemudian meneguknya hingga setengah.
Setelah itu, Bara menaruh gelas mereka di meja nakas, lalu berbalik sepenuhnya menghadap Alena.
Ia meraih kedua tangan Alena dan menggenggamnya erat di atas pangkuan mereka. Cincin pernikahan yang kini melingkar di jari mereka berdua pun tampak berkilau serasi.
"Alena," panggil Bara dengan tatapan lembut dan hangat. "Terima kasih. Terima kasih karena sudah memercayakan hidupmu bersamaku. Malam ini... aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia."
Alena menatap mata Bara yang bersih tanpa kepalsuan. Seluruh bayang-bayang kelam tentang masa lalu, sindiran Sofia, hingga tatapan aneh Mico di lantai dansa tadi seketika sirna. Di depan pria ini, ia merasa utuh.
"Aku juga, Bara," sahut Alena, sambil ibu jarinya mengusap punggung tangan Bara. "Aku tidak pernah menyangka akan ada hari di mana aku bisa memakai gaun putih dan berdiri di altar. Bersamamu, aku merasa punya rumah yang sesungguhnya."
Bara tersenyum, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Alena.
Deg deg deg deg deg deg!!
Jantungnya berdegup kencang saat wajah mereka mulai mendekat. Di tengah keheningan malam pertama mereka sebagai suami istri, Bara mendaratkan kecupan yang lembut, hangat, dan penuh kasih sayang di bibir Alena.
Cup!
Sebuah kecupan yang menjadi segel atas janji suci mereka untuk saling menjaga hingga akhir hayat.
_____
_________
Keesokan paginya, sinar matahari menembus celah gorden kamar mewah mereka. Alena terbangun lebih dulu lalu menatap wajah Bara yang masih tertidur lelap di sampingnya dengan napas yang teratur.
"Ternyata ini bukan mimpi..." Batin Alena.
Alena tersenyum lalu mengusap rambut suaminya dengan lembut sebelum beranjak dari ranjang.
Ia kemudian berjalan menuju meja rias untuk merapikan rambutnya. Namun, saat ia menyalakan ponselnya yang sempat dimatikan sepanjang acara pesta, sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Alena mengernyitkan dahinya lalu membuka pesan tersebut.
"Selamat atas pernikahanmu yang megah, Kakak Ipar. Gaun putihmu semalam sangat indah. Tapi hati-hati, barang yang terlalu indah biasanya memicu orang lain untuk merebutnya. Sampai jumpa di rumah utama."
Melihat kalimat bernada provokatif tersebut, Alena tidak panik. Sudut bibirnya justru terangkat, membentuk senyuman dingin yang sangat tipis.
Tanpa perlu menebak, ia tau persis siapa pemilik gaya bahasa lancang seperti ini. Mico sudah mulai menunjukkan taringnya, bergerak lebih cepat dari yang ia duga karena terbawa obsesi semalam.
Alena langsung menghapus pesan itu dengan sekali ketukan, lalu menatap pantulan dirinya di cermin.
"Kau ingin bermain-main denganku, Mico?" batin Alena, kilat matanya mendadak berubah menjadi setajam silet. "Silakan coba. Tapi jangan menyesal jika nanti tanganmu yang kotor itu patah sebelum sempat menyentuh apa pun milikku."
Alena menarik napas lalu menghembuskannya dan mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi sehangat biasanya saat mendengar suara selimut bergemerisik di belakangnya.
Bersambung...