NovelToon NovelToon
SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

SANTET PRING SEDAPUR: Kaurebut Suamiku, Kurenggut Nyawamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.

Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.

​Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.

Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 - Perjanjian Alas Purwo

​Penerbangan paling malam dari Bandara Blimbangan kembali ke Jakarta terasa bagai perjalanan menembus lorong waktu bagi Danu. Di dalam kabin pesawat yang sunyi, sang detektif tidak memejamkan mata sedikit pun.

Di pangkuannya, sebuah map kulit berisi catatan lapangan terbentang, bersanding dengan tabung kaca berisi sampel tanah merah berakar hijau dari pekarangan Desa Kemiren yang ia ambil siang tadi.

​Danu menatap keluar jendela pesawat, menembus hamparan awan hitam yang pekat. Keputusannya untuk terbang ke Banyuwangi selama belasan jam secara kilat memang terkesan nekat, namun forensik gaib tidak bisa menunda waktu ketika 'hulu' energi telah memancarkan sinyal kematian.

Ia tahu, bubuk belerang dan rajah kelor jantan yang ia taburkan di tubuh Maya sebelum subuh tadi hanya akan menahan paku-paku gaib itu selama maksimal dua 24 jam. Aryo di Jakarta pasti sedang menghitung menit dengan jantung yang nyaris copot.

​Namun, ada satu kepingan teka-teki yang paling krusial yang berhasil Danu amankan dari perjalanannya yang singkat itu: rahasia di balik sosok Mbah Sukri.

​Bagi orang awam, kehadiran Mbah Sukri di kedai kopi tua siang tadi mungkin terasa seperti kebetulan yang terlalu mulus. Bagaimana bisa seorang lelaki tua di sudut desa terpencil mengetahui dengan sangat presisi tentang empat sudut tanah sajen yang dibawa Aryo ke Jakarta 13 tahun lalu? Mengapa matanya begitu pekat dengan rasa bersalah?

​Danu membuka halaman kedua dari catatan komunal yang sempat ia salin secara digital dari arsip lama Mbah Sukri.

Di sana tertera sebuah nama yang sengaja dicoret dengan tinta hitam tebal, namun masih bisa terbaca di bawah pendar lampu kabin pesawat: Sukriadi – Carik Adat Rumpun Barat.

​Mbah Sukri bukan sekadar pensiunan pencatat desa yang gemar menyesap kopi hitam. Tiga belas tahun lalu, ketika Aryo masih menjadi pemuda kota yang merangkak mencari modal dan bersujud di kaki Ki Demang, Mbah Sukri adalah orang kepercayaan yang meramu tanah dari bawah rumpun bambu keramat Pring Sedapur.

Sukri-lah yang menuliskan aksara kuno di atas kain mori hitam dengan darah ayam cemani atas perintah Ki Demang. Sukri adalah saksi hidup, atas lahirnya kekayaan Aryo di Jakarta.

​Namun, ketika Ki Demang wafat dan Sekar mengambil alih seluruh otoritas gaib keluarga, Mbah Sukri tersingkirkan. Ia hidup dalam ketakutan, menunggu hari di mana rumpun bambu yang dulu ikut ia pelihara akan datang untuk mencabut nyawanya sendiri sebagai bayaran atas pengkhianatan Aryo yang gagal ia cegah.

Pertemuannya dengan Danu siang tadi bukanlah kebetulan; itu adalah upaya terakhir Mbah Sukri untuk menebus dosa masa lalunya sebelum ajal menjemput.

​"Sumpah itu diikat di kamar gelap Alas Purwo, Anak Muda," suara parau Mbah Sukri kembali terngiang di telinga Danu, memutus lamunannya.

Danu mengingat kembali detail percakapan rahasia mereka di belakang kedai kopi sebelum ia menuju rumpun bambu Sekar.

​Perjanjian itu mengikat tiga hal, darah perempuan murni sebagai penjaga, tanah pusaka sebagai batas hulu, dan kesetiaan mutlak dari lelaki luar yang mencicipi rezekinya sebagai jangkar hilir.

​Ketika Aryo datang belasan tahun lalu sebagai pemuda kota yang miskin namun berambisi besar, Ki Demang melihat adanya potensi tersebut. Ki Demang tidak sembarangan memberikan restu kepada Aryo untuk menikahi Sekar.

Sebelum pernikahan adat dilangsungkan, Ki Demang membawa Aryo ke pekarangan belakang rumahnya, memintanya menumpahkan setetes darah dari ibu jari kanannya ke atas kain mori hitam yang membungkus sepasang cincin kuningan kuno.

​Aryo mengira itu hanya bagian dari ritual keselamatan atau penglaris bisnis tradisional biasa. Dia tidak pernah tahu bahwa tindakan itu adalah penandatanganan kontrak gaib.

​Pring Sedapur bekerja seperti sistem kemitraan perbankan supranatural: Alas Purwo meminjamkan energi kejayaan, kelancaran proyek, dan kekayaan melimpah kepada Aryo melalui perantara garis darah Sekar. Sebagai gantinya, seluruh rezeki dan keturunan yang dihasilkan Aryo harus tetap berada di bawah naungan rumpun bambu keluarga Ki Demang.

​Begitu Aryo sukses, menjadi konglomerat, lalu menceraikan Sekar secara sepihak demi menikahi Maya, kontrak itu seketika dianggap cedera janji.

Hukum adat Alas Purwo tidak mengenal istilah pengadilan agama atau harta gono-gini manusia. Sanksi untuk pelanggaran perjanjian garis darah ini hanya satu: penarikan kembali seluruh modal hidup secara paksa, termasuk janin di dalam rahim yang dianggap sebagai benih haram hasil pengkhianatan.

​Itu adalag penjelasan Mbah Sukri, tangannya bergetar hebat saat menyelipkan selembar catatan tua ke dalam saku mantel Danu.

​Pesawat akhirnya mendarat di Jakarta tepat pukul sebelas malam. Hujan deras langsung menyambut kedatangan Danu di ibu kota.

Tanpa membuang waktu, ia memesan taksi bandara dan melaju membelah jalanan tol menuju kawasan Jakarta Timur. Atmosfer di dalam taksi mendadak terasa berat begitu kendaraan mendekati radius lima kilometer dari rumah tua tempat Maya diisolasi.

​Begitu taksi berhenti di depan pagar berkarat rumah tua itu, Danu langsung merasakan getaran frekuensi yang luar biasa tinggi. Alat EMF Meter di dalam sakunya berbunyi, dengan jeda yang sangat rapat, menandakan energi di dalam rumah telah menembus batas aman.

​Danu mendorong pintu depan yang ternyata tidak terkunci. Di ruang tengah, suasana tampak berantakan. Kursi kayu kuno terbalik, dan laptop milik Danu bergeser beberapa sentimeter, diselimuti lapisan debu tipis yang berbau hangus.

​"Mas Danu?! Mas tolong Maya, Mas!"

​Aryo muncul dari lorong kamar belakang dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Kemejanya robek di bagian dada, wajahnya penuh cakaran kecil yang telah mengering, dan tangannya dibalut kain handuk yang bersimbah darah.

​"Apa yang terjadi selama aku pergi, Pak Aryo?" tanya Danu tenang, meskipun matanya langsung memeriksa sekeliling ruangan untuk melacak arah datangnya serangan.

​"Sesuai katamu ... setelah jam tiga sore tadi, pagar belerangmu mulai menipis," ratap Aryo, suaranya gemetar menahan tangis. "Mas harus melihatnya sendiri."

​Danu melangkah cepat menembus ruang tengah menuju kamar belakang. Sementara Aryo sudah berlari lebih dulu.

Di ambang pintu, pemandangan yang tersaji membuat sang detektif menghentikan langkahnya sejenak demi mengatur fokus energinya.

​Di bawah siraman cahaya senter yang diletakkan Aryo di lantai, Maya sedang berada dalam posisi yang mengerikan.

Tubuhnya menempel kaku di dinding sudut kamar, sekitar setengah meter di atas lantai—seolah ada akar tak kasat mata yang mencengkeram punggungnya dan memakukannya ke tembok beton.

​Kedua kelopak mata Maya melotot terbuka lebar. Dari sudut mata kirinya, bukan air mata yang mengalir, melainkan ujung sebuah jarum karat panjang yang perlahan-lahan mendesak keluar dari balik selaput matanya, merobek jaringan air mata hingga darah hitam kental meleleh membasahi pipinya yang abu-abu berserat.

​Klang ... dring ....

​Dari bawah kuku-kuku jari tangannya yang telah menghitam dan mengelupas, mencuat belasan ujung paku payung kecil yang kaku. Setiap kali jemari Maya bergerak gemetar, paku-paku itu mencakar dinding semen, mengeluarkan bunyi derit yang memilukan saraf telinga.

​Aryo duduk bersimpuh di lantai di bawah kaki Maya, menangis meraung-raung sambil memeluk lututnya sendiri.

"Mas Danu ... tolong cabut paku-pakunya ... saya nggak tega lihat dia disiksa seperti ini ...."

​Danu tidak mendekati Maya. Ia tahu betul, jika ia mencoba mencabut material itu secara paksa sekarang, fluktuasi energi Perjanjian Alas Purwo akan langsung memutus urat saraf utama di otak Maya, alias membunuhnya seketika.

​Danu mendekat, lalu mengeluarkan tabung kaca berisi sampel tanah merah berakar dari Banyuwangi yang ia bawa siang tadi. Ia membuka segel tabung itu, lalu menyiramkan tanah merah tersebut membentuk lingkaran penuh di lantai tepat di bawah posisi tubuh Maya yang tergantung di dinding.

​"Analisis Mbah Sukri benar," gumam Danu, matanya menyipit menatap perubahan drastis pada tubuh Maya. "Ilmu ini tidak menyerang raga secara acak. Energi ini sedang mencari 'pulang' ke tanah asalnya. Dan karena tanah sajen itu ada di brankas kantormu, kutukan ini terus menyiksa Maya sebagai bentuk tarikan magnetis."

​Danu berbalik menatap Aryo yang bersimpuh di lantai dengan sisa-sisa kewarasannya.

​"Dengar baik-baik, Pak Aryo. Perjalananku ke Banyuwangi tidak sia-sia. Kita sekarang tahu struktur lengkap dari kutukan ini. Mbah Sukri, orang yang dulu membuatkan jimat untukmu, sudah membuka jalan. Tapi konsekuensinya sekarang jauh lebih berat dari dugaan kita semula," ucap Danu dengan nada bariton yang menekan.

​Aryo mendongak, matanya yang merah menatap Danu penuh harap yang rapuh.

"Apa ... apa yang harus saya lakukan, Mas Danu? Saya akan lakukan apa saja ... tolong ...."

​Danu memantik rokoknya, membiarkan asap putih bergulung di antara mereka, mengusir sisa-sisa bau busuk di dalam kamar.

​"Perjanjian Alas Purwo yang Anda tandatangani tiga belas tahun lalu tidak bisa dibatalkan hanya dengan menghancurkan kotak jati itu. Menghancurkan kotak itu hanya akan menghentikan teror paku dan beling pada Maya, tapi tidak akan menyelamatkan jiwanya. Mbah Sukri bilang, ada satu syarat mutlak yang sengaja disembunyikan Ki Demang di dalam kain mori hitam itu."

​Danu menjeda kalimatnya, menatap Aryo dengan tatapan menguliti tanpa ampun.

​"Untuk memutus anyaman Pring Sedapur sepenuhnya agar tidak membantai seluruh keturunanmu, Anda harus memberikan satu tumbal pengganti yang memiliki bobot darah yang sama dengan sumpah yang Anda langgar. Dan malam ini, kita akan pergi ke kantor Sudirman untuk mengambil kotak itu. Bersiaplah, Pak Aryo. Karena begitu brankas itu dibuka, Sekar di Banyuwangi juga tidak akan tinggal diam."

Aryo hanya bisa mengangguk gemetar, menatap tubuh istrinya yang kini dikelilingi tanah merah berbau mistis pedalaman Banyuwangi.

1
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sebelum paham soal Pring sedapur ini sempat berpikir, kenapa Sekar tidak langsung membalas sakit hatinya ke Aryo?

Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.

Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Danu menyuruh Sekar membalas Aryo secara langsung di tanah wetan. Apa Danu lupa kalau santett Pring Sedapur ini berlaku untuk seluruh keturunan Aryo? menghabisi keturunan Aryo sampai akar akarnya.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?

Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Cha Libra
mampus kau Aryo ..jngan kira perempuan klo udh sakit hati bkal diem inget perempuan klo udh sakit hati bkal lbih mengerikan
kinoy
ngeri BNR..angel temen ni santet. Yo Aryo. .km sih ah biang kerok
Cha Libra
syukurin ..emang 3nak makanya jngan suka selingkuh d ksih Istri yg baik mlah nyeleweng nikmatin ja buah dri penghianatan mu yo yo
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Siapa sebenarnya yang di gunung salak ini?
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
shafira 🥰
bagus banged... ceritanya sungguh menarik.seruuuuu.. karna aq juga tinggal di banyuwangi....
Buna: woah, ada tetangganya Sekar. 😄
terima kasih penilainnya, yaaaa. ❤
total 1 replies
shafira 🥰
lanjuttttttt.... thorrrr
shafira 🥰
lanjutttttt thorrrrrr.... seruuuuuu.... l
Buna: siap, kak. hari ini sudah 3 bab. insyaallah besok lanjut lagi. terima kasih sudah mampir, ya. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Aryo terlalu egois !!
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
Shusand MaiTtimu
habis kan saja Thor,, si Aryo nya juga
dasar laki laki tidak tau diri
kinoy
ttp y mnt tanggungjwb Aryo sbg pelaku utama y
kinoy
Bnr2 DAh..keren ni crt
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Emang kemana tujuanmu sekarang, Aryo??

Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻: Ngadi Ngadi authornya 😄
total 2 replies
kinoy
egois si Aryo..BKN y sadar
Mifta Afandi
orang kayak Aryo ma Maya moga GK ada yq nolongin
kinoy
ngeri y..adakah yg BS nolongin Aryo..ato EMG kudu metong
Inna Mirna AR
suka sama karyamu thor, serasa lagi nonton film horror
Buna: terima kasih, kak. selamat membaca. ♥︎
total 1 replies
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
ibaratnya ....
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.

Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Meski jangkar sudah diputus oleh Danu, tapi tetap saja tidak bisa menolong Maya .
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!