"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."
Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.
Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.
Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....
(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)
ooOoo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 25
...Godaan Lara Season 2...
"Terserah lo deh. . .," Getta mendengus lagi. "Gue emang bocah, terus lo mau apa? Dasar. . ."
Melihat Getta segitu kesalnya, Lara mencoba untuk tenang, habisnya bakal keterlaluan kalau dia nggak berhenti tertawa. Jadi dia berdehem sekali. "Jadi. . . lo mau gue ajarin nggak?" tanya dia, sudah kelihatan bener-bener serius.
"Lo sinting. . .," gumam Getta, menggeleng-geleng dengan senyum sinis.
Tapi, Lara marah mendekat, dan Getta tersentak, terlambat menyadari kalau cewek itu sudah mendongak ke arahnya. Getta merinding, nekat banget nih cewek.
Tawa meledak-ledak saat Getta benar-benar nggak bisa menyembunyian gugupnya. Beneran nih cewek jengkelin banget. Dia ketawa lagi saat ia menarik dirinya dari Getta.
Sialan. . .
Tapi, mendadak suara tawa jenaka Lara terhenti. Ia lihat seseorang berdiri di pintu, mandangin mereka dengan ekspresi begok sekaligus syok.
Jonas.
"Pagi semuaaa!!!" Yuna berseru di belakang Jonas secara tiba-tiba, seolah mereka barengan. Suaranya memecah keheningan yang bisa dirasakan lewat ketegangan yang barusan.
Tapi, mungkin dia nggak sadar. Jonas, cowok itu kesal banget sampai membanting tasnya ke atas meja.
"Hei, Jo," sapa Getta memandanginya, berusaha menyingkirkan perasaan nggak enak itu. Tapi, Jonas malah pergi, bahkan nggak membalas sapaan Getta.
Lara hanya celingak seolah nggak melakukan sesuatu. Ia berdiri dan kembali ke kursinya untuk memandang keluar lagi, sampai belnya bunyi.
Yuna termangu. Tadi Jonas segitu riangnya saat mereka ketemuan di gerbang. Tapi, mendadak jadi panas. Ada apa sih?, ia bertanya-tanya, termangu sendiri sebelum ia juga keluar entah menyusul Jonas atau ketemu sama teman-temannya yang lain. Aneh deh. . .
"Kalau dia beneran teman lo, dia nggak bakal berpikiran kalau lo itu ngelangkahin dia..,," kata Lara mengingatkan dari tempat duduknya, dengan sangat acuh, saat ia merasa harus mengejar Jonas untuk menjelaskan apa yang ia lihat sekilas tadi.
"Ini semua gara-gara lo, tau?!" celetuk Getta kembali duduk di kursinya dan menghembuskan nafas lelah.
Anak-anak lain mulai berdatangan. Suara-suara riuh mereka mulai kedengaran hingga bel berbunyi. Seperti semut yang menuju gula, mereka masuk satu per satu dan pintu tertutup begitu gurunya masuk.
Molly terlihat pada menit-menit terakhir Pak Heru mau masuk. Dan ketika ia melihat Getta, langkahnya sempat berantakan dan salah tingkah lagi begitu ia mendudukan pantatnya di kursi belakang.
Lara yang melihatnya cekikikan sendiri, menghancurkan kesenangan Getta yang lega akhirnya melihat Molly datang dan memastikan dia nggak telat. Cewek itu meledeknya!
****
"Jo, dengerin gue dulu! Semuanya nggak seperti yang lo lihat! Lara cuma ngisengin gue doang!" Getta berusaha menjelaskan sambil mengejar langkah Jonas yang buru-buru.
Jonas nggak mau berhenti. Menoleh pun juga nggak, dia berjalan dengan cepat, melewati anak-anak yang memadati lorong begitu bel istirahat berbunyi. Sejak di kelas, Jonas nggak mau bicara sedikitpun. Dia benar- benar ingin menghindari Getta.
"Jonas!" panggil Getta, saat ia hampir berhasil mengejar langkahnya.
"Udah, Get!" pekiknya. "Lo nggak bisa biarin gue sendiri dulu?"
"Iya, tapi lo harus dengerin gue! Gue sama Lara tuh nggak ada apa-apa"
"Iya nggak ada apa-apa, tapi gue kaget! Di depan semua orang termasuk gue, dia bersikap dingin dan cuek, tapi di depan lo, gue seolah nggak yakin kalau itu dia. Dan menurut gue, kalau nggak ada sesuatu nggak mungkin dong kalian segitu akrabnya. Dan sekali lagi, gue nggak pernah tahu itu!" katanya, emosi. Matanya melotot dan ia merajuk kayak anak kecil yang nggak kebagian mainan.
Getta terdiam. Nggak mungkin dong, Getta harus menceritakan awal gimana mereka mulai bicara. Toh, gimana pun juga ia sudah janji sama Lara akan tutup mulut sekalipun Getta nggak meragukan kalau cewek ini memang menjengkelkan. Lagian Jonas juga nggak tahu apa topik yang menari bagi mereka pagi ini. Duh, benar-benar jadi rumit.
"Lara itu suka sama orang lain!" kata Getta akhirnya, seenggaknya untuk bikin Jonas berhenti uring-uringan. Tapi, malah bikin Jonas mengerutkan dahi -bukan karena kaget tapi syok!. "Lara itu suka sama orang lain yang bukan gue, lo harus tau itu"
"Gila!" Jonas berusaha menyembunyikan syok-nya tapi gagal. "Bahkan lo juga tahu sejauh itu?"
Rasanya mau memukul kepala sendiri, goblok!
Tapi, mau bilang apa lagi?
"Gue cuma nggak sengaja tahu. . .," jelas Getta, dengan suara pelan dan meyakinkan. "Karena orang itu juga ada di sekolah ini. . ."
Jonas melongo, berusaha memamahami kata-kata Getta yang lumayan menyakitkan di hatinya.
"Gue pernah lihat. . .," Getta mulai bingung. Ini rahasia, harusnya tetap rahasia! Soalnya dia nggak mau ngurusin urusan pribadi orang apalagi terlibat di dalamnya. "Itu nggak sengaja. . ."
"Siapa, Get?" tanya Jonas, sekarang jadi penasaran. "Siapa cowok itu?"
Getta menarik nafas, kepikiran untuk menghindar sebelum ia mengatakan apa yang nggak boleh ia katakan gara-gara melihat wajah sedih Jonas yang patah hati.
"Pokoknya bukan seseorang yang nggak kayak gue, atau elo," jawabnya, mundur beberapa langkah sebelum pergi. "Sebaiknya lo nyerah, Lara nggak mungkin suka sama lo"
Jonas masih belum percaya, ia mengejar Getta yang sekarang malah ingin pergi setelah berusaha mengejarnya untuk memberi penjelasan yang sekarang jadi ia butuhkan.
"Get, lo harus kasih tau gue! Lara pacaran sama siapa?" dia mendesak, tapi juga memohon.
"Dia suka sama cowok dewasa. Dan lo harus tau, kalau Lara itu nggak seperti yang lo atau kita semua kira. . .," Getta mengingatkan.
"Maksud lo apa?"
"Itu urusannya, Jo, gue nggak berhak ikut campur. Itu rahasianya dia. . .," kata Getta sebelum akhirnya dia pergi, untuk menenangkan dirinya sendiri.
****
Gara-gara Lara sendiri jadi begini!, Getta masih menggerutu dalam langkahnya yang cepat menuju tangga darurat. Rasanya mau tidur dan bolos lagi juga nggak apa-apa, habisnya hari ini benar-benar nggak terduga.
Membayangkan Lara mendongak padanya dan kelihatan serius mau mencium, siapa juga yang mau percaya di antara mereka nggak ada apa- apa. Cuma Getta yang tahu siapa Lara sebenarnya dan bukan haknya pula memberi tahu Jonas tentang itu semua walaupun Jonas sahabatnya dan dia hampir terjebak sama cinta monyetnya.
Tapi, kembali lagi ke tangga darurat itu, bikin Getta sekarang jadi malu sendiri. Ingat di sana telah terjadi sesuatu.
Tapi, nggak nyangka juga, di sana ia malah menemukan seseorang yang lain. Seseorang yang lumayan ia kenal tapi nggak terlalu ia suka.
Siapa lagi kalau bukan Richard, si kakak kelas yang telah menyebar virus-virus cemburu ke Getta sebelum ini.
"Terus?, suara seorang cewek juga bikin Getta geger.
Gimana enggak? Cewek berseragam yang kayaknya kesempitan itu nempel-nempel sama cowok itu. Mereka berdiri dekat-dekatan kayak pasangan yang mesra banget.
"Ya nggak kenapa-napa," suara Richard terdengar santai seolah dia nggak risih di deketin cewek model begitu, atau memang dia sengaja
memanfaatkan.
Ah! Jadi ingat, Yuna dan Jonas pernah bilang kalau cowok ini playboy! Ternyata benar.
"Kapan tugas jadi baby sitter-nya selesai?" tanya cewek itu dengan suara manja. "Aku nggak tahan, Karina ribut kamu dekat sama anak kelas dua itu. . ."
"Itu sih merekanya aja yang lebay," Richard kelewat santai. Namanya juga cowok playboy. "Aku disuruh sama Pak Heru kok"
Cewek itu mengangguk-angguk. "Hm. . .berarti Pak Heru dong yang suka sama anak itu?, cewek itu menyandar ke bahunya Richard manja.
"Itu mah lebih ngaco lagi," Richard cekikikan. "Molly itu disleksia"
"Itu penyakit ya?" cewek itu bertanya dengan serius.
"Ya. . .kata Pak Heru gitu sih," jawab Richard tenang. "Dari kelas satu Pak Heru memang perhatiin dia, soalnya dulu Pak Heru kan juga disleksia. Yah, kayak prihatin gitu. . ."
"Terus kenapa harus kamu, Richard? Kenapa nggak teman sekelasnya aja?" cewek itu kedengaran merajuk.
"Kebetulan aja sih," Richard menoleh padanya dengan senyum menawan yang sebelum ini juga pernah ia perlihatkan sama Molly, sampai cewek itu girang. "Aku pernah lihat dia main piano di ruang kesenian. Ternyata
***
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita