Arjuna Baskoro adalah ketua Geng Petir yang tampan, kaya, dan berpengaruh di SMA Cendekia. Ia dikenal sebagai pemuda yang suka bersenang-senang dan menganggap hubungan dengan wanita hanya sebatas hiburan semata. Semua berubah saat ia bertemu Laila Arsyila-siswi berprestasi, sederhana, mandiri, dan harus bekerja paruh waktu untuk membantu kehidupan keluarganya.
Awalnya Arjuna hanya iseng mengganggu Laila, karena gadis itu satu-satunya yang tidak terpesona dan selalu berani melawannya. Namun rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi cinta yang tulus untuk pertama kalinya. Sementara Laila yang awalnya kesal dan menolak, mulai melihat sisi baik Arjuna di balik sikap nakalnya.
Dengan latar belakang kehidupan yang sangat berbeda, keduanya harus menghadapi berbagai rintangan mulai dari kecemburuan orang lain, pandangan lingkungan, hingga tantangan untuk saling memahami. Mampukah cinta mereka menyatukan dua dunia yang terasa begitu jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Ingin Pindah Kelas
Suasana kelas 12 IPS 1 pagi itu terasa lebih riuh dan tidak biasa. Semua pandangan siswa dan siswi tertuju pada satu sosok yang duduk santai di bangku paling belakang, tepat di sebelah Laila....Arjuna Baskoro.
Laila hanya bisa memijat pelipisnya perlahan, rasanya pusing melihat tingkah laki-laki itu yang tiba-tiba muncul di kelasnya. Sementara itu, Arjuna duduk manis dengan gaya santai, sesekali tersenyum dan melambai ke arah siswi-siswi di sekitarnya. Bagi mereka, mimpi apa semalaman sampai pangeran sekolah yang terkenal tampan dan berwibawa itu kini hadir tepat di dalam ruang kelas mereka.
Ada yang tersenyum malu sambil menunduk, ada yang terang-terangan mengeluarkan ponsel untuk memotretnya, bahkan banyak yang memberanikan diri meminta berfoto bersama. Dan anehnya, Arjuna meladeni semuanya dengan senang hati, seolah sudah terbiasa menjadi pusat perhatian.
Laila sedikit mendekatkan kepalanya ke telinga Arjuna, berbisik pelan agar tidak terdengar orang lain. “ngapain sih lo ada di sini? Kelas lo kan bukan di IPS. pergi sana, jangan bikin ribut.”
Arjuna pun ikut menunduk dan berbisik balik, alasan yang dibuat-buat terdengar sangat meyakinkan. “Apaan sih… gue kan udah bilang tadi, gue mau pindah kelas. Sekarang tempat ini jadi tempat duduk gue, paham?”
Mendengar jawaban itu, Laila hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah. Ia memutuskan untuk tidak membalas lagi, biarkan saja asal tidak mengganggu terlalu banyak.
Namun kehadiran Arjuna justru memancing rasa iri di hati teman sekelas. Banyak siswi yang melirik sinis ke arah Laila. Di mata mereka, Laila hanyalah siswa penerima beasiswa yang dianggap berasal dari keluarga kurang mampu rasanya tidak pantas duduk berdampingan dengan Arjuna yang kaya raya dan populer itu. Beberapa bahkan sempat menawarkan Arjuna untuk pindah ke bangku lain yang kosong, tapi Arjuna tetap bersikukuh menolak.
Tidak hanya di dalam kelas, siswa-siswa dari kelas sebelah pun sudah mendengar kabar itu. Mereka mengintip dari balik jendela, penasaran melihat ketua Geng Petir yang katanya pindah tempat belajar. Karena keributan itu, pintu kelas pun ditutup rapat agar tidak makin ramai.
Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi nyaring. Siswi-siswi yang sempat berkeliaran segera kembali ke kelas masing-masing dengan perasaan kecewa harus berpisah sebentar dari Arjuna. Namun Arjuna tetap tidak bergeming, masih asyik duduk di sebelah Laila.
Pak Ahmad, guru mata pelajaran Ekonomi, masuk ke dalam kelas dengan membawa buku dan papan tulis. Belum sadar ada murid dari kelas lain yang menyelinap masuk, ia langsung membuka pelajaran seperti biasa.
Laila segera menata buku dan pulpennya, fokus mendengarkan setiap penjelasan yang keluar dari mulut Pak Ahmad. Sesekali tangannya yang mungil mencatat poin-poin penting di buku catatannya. Ia mencoba menghiraukan keberadaan Arjuna di sampingnya, meski rasanya sangat tidak nyaman karena Arjuna tidak melakukan apa-apa selain menatap wajahnya terus-menerus.
Sementara itu, suasana di 12 IPA 1 terasa berbeda. Bu Anjeli, wali kelas sekaligus guru Matematika, masuk dan langsung memulai kegiatan dengan mengabsen satu per satu nama siswa. Saat namanya sampai pada Arjuna Baskoro, ruangan menjadi hening seketika tidak ada jawaban apa pun.
Bu Anjeli mengangkat wajahnya, menatap ke arah bangku yang biasa diduduki Arjuna. Benar saja, kursi itu kosong dan rapi. Ia menghela napas panjang, sudah biasa menghadapi kelakuan muridnya yang satu ini. Lalu pandangannya tertuju pada Rian yang terlihat gelisah.
“Rian, kamu tahu ke mana Arjuna pergi?” tanya Bu Anjeli dengan nada tegas.
Awalnya Rian bungkam, takut mengadukan ketuanya sendiri. Tapi Bu Anjeli sangat pandai meyakinkan dan mengajak bicara sampai akhirnya Rian keceplosan memberi tahu bahwa Arjuna berada di ke kelas 12 IPS 1.
Tanpa membuang waktu, Bu Anjeli segera melangkah menuju kelas yang dimaksud. Sesampainya di depan pintu, ia mengetuk pelan lalu menyapa sopan. “Permisi Pak, maaf mengganggu waktu mengajar. Saya ingin mengambil murid saya yang salah tempat duduk di sini.”
Begitu mendengar suara itu, Arjuna langsung bereaksi. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menutupi wajah dengan lengan dan berpura-pura sudah tertidur lelap.
Namun usaha itu sia-sia. Mata Bu Anjeli segera menangkap sosok yang dicarinya, duduk tepat di sebelah Laila yang dikenalinya sebagai siswa berprestasi. Tanpa basa-basi lagi, Bu Anjeli mendekat dan langsung menjewer telinga Arjuna dengan kuat.
“Aduh! Sakit Bu!” rintih Arjuna sambil meringis kesakitan dan mengangkat kepalanya.
“Dasar anak nakal! Ngapain kamu di kelas ini? Tidak dengar bel masuk sudah berbunyi tadi?!” omel Bu Anjeli sambil tetap menjewer telinganya.
Dengan wajah memelas dan sedikit merengek, Arjuna menjawab, “Bu… saya mau pindah ke kelas ini saja ya, lebih enak suasananya.”
Mata Bu Anjeli langsung melotot mendengar permintaan itu. “Pindah gimana caranya? Kamu itu jurusan IPA, bukan IPS! Kalau mau pindah kelas bisa, tapi bukan ke sini. Ayo, ikut saya kembali ke tempat yang seharusnya!”
Ia pun menarik lengan Arjuna keluar dari kelas, sempat tersenyum dan meminta maaf kepada Pak Ahmad yang masih tertegun melihat kejadian itu.
Setelah mereka pergi, Pak Ahmad baru menggelengkan kepalanya sambil bergumam pelan, “Ternyata ada Arjuna juga tadi… kenapa saya tidak sadar dari awal ya?”
Sementara di luar kelas, Arjuna hanya bisa mengikuti langkah Bu Anjuna dengan wajah cemberut, namun di dalam hatinya ia sudah punya rencana lain ia tidak akan menyerah begitu saja untuk mendekati Laila.