NovelToon NovelToon
Wanita Sang Raja Iblis

Wanita Sang Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:732
Nilai: 5
Nama Author: Jee44

Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Dilema Sang Pengasing

Pintu pondok kayu berderit pelan saat Gu Jue mendorongnya dengan bahu. Ia melangkah masuk ke dalam kamar beralas tikar anyaman yang sederhana, lalu membaringkan tubuh Shen Liya di atas tempat tidur kayu miliknya. Begitu tubuh sang Dewi menyentuh kasur, ruangan yang semula sejuk langsung terasa hangat akibat uap panas kemerahan yang terus menguar dari pori-pori kulitnya.

Gu Jue berdiri di sisi tempat tidur, melipat kedua tangannya di depan dada. Sepasang mata sehitam tintanya menatap lekat-lekat wajah wanita di hadapannya. Rambut hitam Shen Liya basah oleh keringat, menempel di dahi dan pipinya. Napas wanita itu kian pendek dan tersengal-sengal, sementara tangannya mencengkeram sprei kasur dengan begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Panas... sakittt..." rintih Shen Liya dari balik bibirnya yang mulai pecah-pecah.

Gu Jue mengulurkan tangan, kembali menyentuh dahi Shen Liya. Rasa panas yang menjalar kini terasa berkali-kali lipat lebih pekat daripada saat ia menemukannya di hutan tadi.

Racun Jue Qing San di dalam tubuh wanita ini tidak lagi sekadar mengalir, melainkan telah mengamuk. Energi suci tingkat tinggi yang mengalir di meridian Shen Liya bertindak seperti minyak yang menyiram api kutukan tersebut.

Sebagai Raja Iblis, Gu Jue tahu persis anatomi kekuatan alam atas. Jiwa seorang dewi digerakkan oleh inti suci murni (Yand Core). Sementara racun yang dikirim oleh Ling Cang adalah jenis racun penghancur jiwa ekstrem yang membalikkan energi tersebut menjadi api destruktif. Di dunia fana ini, tidak ada satu pun tanaman herbal manusia yang bisa meredamnya.

Jika dibiarkan satu jam lagi, inti suci Shen Liya akan meledak akibat tekanan energi yang tidak stabil.

Ledakan dari dewi tingkat tinggi akan setara dengan jatuhnya meteor spiritual. Hutan bambu tempatnya mengasingkan diri akan lenyap, dan desa manusia fana dalam radius puluhan mil di bawah gunung akan menjadi abu dalam sekejap.

"Kau benar-benar membawa masalah besar ke pelataran rumahku," desis Gu Jue, suaranya terdengar dingin di tengah keheningan malam.

Sebenarnya, ada satu cara instan untuk menghentikan ledakan ini tanpa mengotori tangannya: Gu Jue bisa saja menghancurkan inti jiwa Shen Liya saat ini juga menggunakan energi kegelapan miliknya.

Namun, jika ia melakukan itu, wanita ini akan langsung tewas dan jiwanya akan musnah dari tiga alam. Entah mengapa, melihat kedalaman luka dan keputusasaan yang terpancar dari sisa aura Shen Liya, Gu Jue enggan melakukannya. Sisi dirinya yang bosan dengan kekejaman Alam Langit merasa tertarik melihat ada seorang dewi yang diburu seperti buruan haram oleh kaumnya sendiri.

Maka, hanya ada satu pilihan tersisa. Sebuah pilihan kuno yang melibatkan penyatuan spiritual ekstrem demi menyeimbangkan energi (Dual Cultivation darurat).

Racun pemutus sukma ini hanya bisa diredam jika ada energi dingin murni tingkat tinggi (Yin) yang masuk ke dalam tubuhnya untuk menjinakkan api kutukan tersebut dari dalam.

Dan di seluruh dunia fana ini, satu-satunya makhluk yang memiliki energi dingin murni yang mampu menandingi kemurnian inti suci sang dewi adalah dirinya—sang penguasa kegelapan.

Namun, metode ini mengharuskan adanya penyatuan fisik yang intim agar aliran energi mereka bisa selaras sempurna tanpa penolakan dari dalam meridian. Bagi seorang dewi langit yang mengagungkan kesucian di atas segalanya, tindakan ini adalah sebuah penodaan besar.

"Ugh... ku—mohon... bakar aku..."

Shen Liya tiba-tiba bergerak liar. Kesadarannya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh insting bertahan hidup yang kacau akibat racun. Efek samping dari Jue Qing San yang membakar juga mulai memanipulasi indranya, menciptakan ilusi gairah spiritual yang tak tertahankan.

Merasakan hawa dingin murni yang memancar dari tubuh Gu Jue yang berdiri di dekatnya, Shen Liya secara tidak sadar mengulurkan tangannya yang gemetar, mencengkeram ujung jubah kain rami Gu Jue dan menariknya mendekat.

Gu Jue tidak bergeming saat tubuhnya tertarik sedikit condong ke depan. Kulit tangan Shen Liya yang membara menyentuh pergelangan tangannya.

Seketika itu juga, getaran spiritual yang aneh menyengat inti iblis di dalam dada Gu Jue. Ada sebuah tarikan tak kasat mata yang kuat antara energinya dan energi wanita ini—seperti malam yang merindukan fajar.

"Jangan menyesali ini besok, Dewi. Aku hanya mengambil apa yang diperlukan untuk menyelamatkan ketenanganku," bisik Gu Jue, matanya berkilat ungu sesaat, melepaskan sekat emosinya sebagai manusia samaran.

Dengan gerakan perlahan namun pasti, Gu Jue naik ke atas tempat tidur kayu. Ia melepaskan jubah abu-abu kasarnya, menyisakan tubuhnya yang kokoh dan dipenuhi beberapa bekas luka pertempuran masa lalu yang sengaja disembunyikan.

Saat kulit dinginnya bersentuhan langsung dengan kulit membara Shen Liya, wanita itu mengeluarkan lenguhan pelan, seolah-olah baru saja menemukan oase di tengah gurun pasir yang gersang.

Malam itu, di dalam pondok kayu yang terisolasi oleh kabut Hutan Bambu Ungu, tatanan kuno tentang batas suci dan noda runtuh tak bersisa.

Gu Jue menundukkan tubuhnya, mengunci kedua tangan Shen Liya yang bergerak gelisah ke atas kasur dengan satu tangan besarnya. Ketika bibir mereka akhirnya bertemu, sebuah ledakan energi yang dahsyat terjadi secara internal. Rasa manis dan murni dari energi suci Shen Liya menyerbu rongga mulut Gu Jue, sementara energi hitam sepekat malam miliknya mulai dialirkan secara perlahan masuk melalui meridian bibir menuju tenggorokan wanita itu.

Shen Liya melengkungkan punggungnya saat rasa dingin yang pekat menusuk langsung ke dalam dadanya yang membara. Itu bukan rasa sakit yang menghancurkan, melainkan sebuah pelukan es yang langsung menjinakkan api kutukan di dalam pembuluh darahnya. Penyatuan fisik yang terjadi kemudian bukan didasari oleh nafsu duniawi, melainkan sebuah pertempuran spiritual yang intens antara hidup dan mati.

Setiap kali mereka bersatu lebih dalam, Gu Jue mengendalikan napasnya dengan sangat hati-hati. Ia harus menekan kebuasan energi iblisnya agar tidak merusak dinding meridian Shen Liya yang rapuh, sembari membiarkan esensinya menyerap racun Jue Qing San yang meleleh keluar.

Energi mereka berputar seperti pusaran Yin dan Yang—hitam dan emas yang saling menjalin di udara di atas tempat tidur, menciptakan riak cahaya gaib yang berputar-putar di dalam kamar yang remang-remang.

Keringat bercampur dengan air mata samar di sudut mata Shen Liya. Di balik ketidaksadarannya, jiwanya merasakan kehadiran sesosok makhluk yang sangat kuat, sebuah eksistensi luas sepekat ruang hampa udara yang kini sedang menopang jiwanya yang hampir hancur.

Rasa takut yang semula mencengkeramnya perlahan menguap, digantikan oleh rasa aman yang asing namun sangat pekat.

Proses penyatuan spiritual itu berlangsung berjam-jam, melewati pergantian malam yang sunyi. Gu Jue terus mengalirkan energinya tanpa henti, memandu api racun di tubuh Shen Liya untuk perlahan-lahan jinak dan mengendap di bawah kendali energi dingin iblisnya.

Tanpa disadari oleh keduanya, seiring berjalannya waktu, sebagian kecil dari esensi energi kegelapan Gu Jue mulai berakar dan tertinggal di dalam relung inti suci Shen Liya, mengunci sebuah ikatan spiritual permanen yang tidak akan pernah bisa dihapus oleh sihir apa pun di tiga alam.

Ketika semburat cahaya fajar pertama mulai menembus celah-celah jendela kayu pondok, badai spiritual di dalam kamar akhirnya mereda.

Uap kemerahan yang mengerikan itu telah hilang sepenuhnya dari kulit Shen Liya. Napasnya kini telah kembali teratur, mengalun halus seirama dengan detak jantungnya yang telah stabil.

Warna merah alami telah kembali ke pipinya yang mulus, dan luka-luka luar di tubuhnya mulai menutup berkat efek regenerasi dari energi gabungan mereka.

Gu Jue duduk di tepi tempat tidur, membelakangi wanita yang kini tengah tertidur lelap dalam balutan selimut tebal. Wajah sang Raja Iblis tampak sedikit pucat; proses menetralkan racun langit menggunakan tubuhnya sendiri menguras cukup banyak konsentrasi dan energinya.

Ia menoleh sekilas ke belakang, menatap wajah damai Shen Liya yang tertidur. Sudut matanya menangkap bercak merah pekat yang tersisa di atas seprai putih—sebuah bukti bisu atas hilangnya kesucian sang Dewi di tangan seorang pria yang seharusnya menjadi musuh alaminya.

Gu Jue menghela napas panjang, bangkit berdiri lalu mengenakan kembali jubah abu-abu kasarnya. Ia melangkah keluar dari kamar, menutup pintu kayu dengan sangat pelan agar tidak mengganggu istirahat wanita di dalam.

Berjalan ke halaman depan, udara pagi yang dingin langsung menerpa wajahnya. Kabut di Hutan Bambu Ungu tampak lebih tebal dari biasanya. Gu Jue mengangkat tangan kanannya, menatap telapak tangannya sendiri. Di balik kulitnya, samar-samar terlihat pendaran cahaya keemasan tipis yang mengalir di pembuluh darahnya—sisa energi suci Shen Liya yang terserap ke dalam tubuhnya selama penyatuan malam tadi.

"Energi sucinya terlalu murni," gumam Gu Jue pada diri sendiri. "Jika ia keluar dari hutan ini sekarang, getaran auranya yang telah bercampur dengan energiku akan membuat seisi alam langit dan alam iblis gempar."

Menyadari bahaya besar yang mengintai jika eksistensi mereka terendus, Gu Jue menghentikan langkahnya di tengah halaman.

Ia memejamkan mata, memusatkan pikirannya pada ikatan spiritual baru yang baru saja terbentuk di antara mereka malam tadi. Karena sebagian energinya kini berada di dalam tubuh Shen Liya, Gu Jue memiliki kendali penuh atas bagaimana aura wanita itu memancar.

Ia menghentakkan kaki kanannya ke tanah dengan pelan.

Wusss!

Sebuah lingkaran cahaya hitam transparan melesat keluar dari bawah kakinya, merayap cepat ke segala arah menembus pagar pondok dan membentuk kubah raksasa tak kasat mata yang mengurung seluruh area tempat tinggalnya. Itu adalah Segel Penjerat Jiwa—perisai iblis tingkat tinggi yang paling mematikan.

Namun, Gu Jue memodifikasi frekuensinya. Ia menggunakan sisa energi suci Shen Liya yang ada padanya untuk menyamarkan perisai tersebut, mengubah penampilannya menjadi transparan dan menyatu dengan energi alam fana biasa.

Perisai ini bekerja dua arah: ia akan menahan serangan fisik dari luar, dan di saat yang sama, ia bertindak sebagai penyaring absolut.

Setiap kali aura suci dari tubuh Shen Liya mencoba bocor keluar, perisai ini akan menyerapnya dan mengubahnya menjadi aroma embun pagi dan udara hutan biasa, sehingga tidak akan pernah bisa dilacak oleh radar pencarian ataupun cermin gaib milik Dewa Tinggi Ling Cang.

Semua perlindungan luar biasa ini ia bangun secara rahasia, menaruh seluruh energinya demi memastikan keberadaan sang Dewi terkubur rapat di dunia fana, tanpa wanita itu sadari sedikit pun saat ia terbangun nanti.

Gu Jue menurunkan tangannya kembali, merasakan perisai gaibnya telah terpasang dengan sempurna. Ia berjalan menuju rak anyaman bambu, kembali mengambil pisau kecil dan potongan kayu obatnya yang sempat tertunda tadi malam. Saat ia mulai mengikis kulit kayu dalam kesunyian fajar, sepasang matanya menatap pintu kamar yang tertutup, menantikan badai emosi yang pasti akan pecah begitu sang Dewi membuka matanya.

1
Aisyah Suyuti
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!