Di saat teman sekelasnya dipanggil ke dunia lain sebagai Pahlawan dan memperoleh kemampuan legendaris, Haruto Mirakawa hanyalah korban yang ikut terseret.
Karena bukan bagian dari ritual pemanggilan, semua skill hebat sudah habis saat gilirannya tiba.
Yang tersisa hanya satu kemampuan biasa:
Shadow Tool.
Kemampuan untuk menciptakan satu alat dari bayangannya.
Bukan pedang suci.
Bukan sihir penghancur.
Hanya... alat.
Merasa bersalah, sang dewa memberinya berkah kecil untuk bertani dan sebuah tombak tua yang kemudian menyatu dengan skillnya.
Lalu Haruto dikirim ke tempat yang katanya tenang dan jauh dari perang.
Tempat itu ternyata adalah...
Hutan Kematian.
Di hutan yang ditakuti seluruh dunia, Haruto hanya ingin menjalani hidup santai, menanam sayur, membangun rumah, dan menikmati hari-harinya.
Namun sedikit demi sedikit, para monster cerdas, buronan, dan orang-orang yang kehilangan tempat pulang mulai berdatangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kūkyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan dan Petani
Cahaya teleportasi itu menghilang seperti kepulan asap ditiup angin. Kali ini, tidak ada lantai putih tanpa batas. Yang menyambut mata kedelapan siswa itu adalah kemegahan yang menyesakkan dada. Aula besar dengan lantai marmer yang mengilap, tiang-tiang raksasa berukir emas, dan langit-langit setinggi sepuluh meter.
Di sekeliling lingkaran sihir, puluhan penyihir kerajaan terduduk lemas, wajah mereka pucat pasi karena kehabisan mana. Namun, suasana di aula itu jauh dari kata tenang. Gemuruh sorak-sorai terdengar dari balkon penonton yang dipenuhi bangsawan.
Di atas takhta, duduk seorang pria paruh baya dengan mahkota yang berkilauan—Raja. Di sampingnya, sang Ratu, seorang Putri dengan tatapan penuh harap, serta barisan Panglima perang berdiri tegak.
"Pahlawan telah tiba!" seru sang Raja. Suaranya menggema, penuh otoritas dan kelegaan yang luar biasa.
Para siswa itu—Kenji (Sword Saint), Rina (Archmage), beserta tujuh rekan mereka lainnya—tertegun. Kenji, yang tadi masih gemetar di ruang dewa, kini mulai berdiri tegak saat melihat karpet merah dibentangkan di depan kakinya. Musik orkestra yang megah segera berkumandang, memenuhi ruangan.
Raja bangkit, melangkah turun dari takhtanya. "Dunia ini berada di ambang kehancuran. Raja Iblis telah bangkit di utara, dan harapan umat manusia kini berada di tangan kalian."
Janji-janji kemewahan pun mengalir seperti air bah: istana, guru-guru terbaik, senjata legendaris, pelayan pribadi, dan dana tak terbatas. Para siswa mulai terhanyut. Kenji mengayunkan divine swordnya—yang kini memiliki status nyata—dan langsung membelah sebuah pilar batu latihan hingga rata dengan lantai. Para penyihir kerajaan bersorak, sementara Rina merapalkan mantra es yang membekukan air mancur aula dalam sekejap.
Di tengah hiruk-pikuk itu, Rina, sang Archmage, mengernyit. Ia menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya yang sedang asyik memamerkan status Great Sage dan Dragon Knight mereka.
"Yang satu lagi mana?" tanya Rina tiba-tiba.
"Siapa?" tanya Kenji, sibuk memeriksa pedangnya.
"Anak yang tadi di belakang. Haruto."
Suasana mendadak canggung. Para siswa saling berpandangan. Penyihir kerajaan yang bertanggung jawab atas ritual pemanggilan pun saling berbisik, lalu dengan gugup melaporkan kepada sang Raja.
"Apakah jumlahnya memang sebanyak ini?" Raja bertanya kepada Kepala Penyihir.
"Benar, Yang Mulia. Ritual itu hanya menangkap delapan jiwa pahlawan yang terpilih," jawab sang Kepala Penyihir dengan nada yakin.
Mereka pun berkesimpulan bahwa anak itu mungkin gagal dipanggil karena ketidakstabilan ritual, atau mungkin hanya orang asing yang tidak sengaja terbawa arus sihir yang tidak berarti. Tak ada yang terlalu memikirkannya. Jamuan makan malam pun dimulai, dan nama Haruto Mirakawa lenyap dari ingatan mereka, tenggelam dalam gemerlap pesta penyambutan.
Sementara itu, ribuan kilometer dari kemegahan istana, Haruto Mirakawa sedang jongkok. Ia tidak mengenakan jubah pahlawan, pun tidak sedang dipuja. Ia hanya memakai kaos santai yang sudah sedikit kotor terkena tanah, fokus mengamati kecambah kacang panjang yang baru saja tumbuh di lahan buatannya.
"...Benar-benar tumbuh," bisiknya. Ia menyentuh daun kecil yang hijau cerah itu dengan penuh kasih sayang.
Keyakinannya kini telah bulat. Haruto mulai mencangkul petak-petak tanah baru. Ia mulai merancang kebun yang lebih serius. Tomat, kubis, selada, timun, hingga terong; semua ia hadirkan lewat kekuatan imajinasinya. Tanah yang kemarin tampak gersang kini mulai menjanjikan kehidupan.
Namun, Haruto sadar, kebun ini tidak akan bertahan lama jika dia terus tidur di gubuk berbentuk toilet portabel itu. Dia membutuhkan rumah yang layak, gudang untuk hasil panen, dan tempat untuk menyimpan kayu.
Haruto berdiri, menatap pohon terbesar di area itu. Batangnya setinggi gedung tiga lantai, dengan diameter hampir tiga meter. Kulit kayunya kasar dan keras seperti baja.
"Gubuk kecil tidak akan cukup," gumamnya. Ia mengangkat kapak bayangannya. Fokusnya tajam, bukan untuk membunuh naga, tapi untuk mendapatkan kayu terbaik.
DOKK!!
Ayunannya mendarat dengan kekuatan yang tidak masuk akal. Suara benturan kapak pada kayu itu menggema keras, merambat menembus kabut, melintasi sungai, dan menghilang ke dalam kedalaman hutan.