NovelToon NovelToon
DETEKTIF MUDA

DETEKTIF MUDA

Status: tamat
Genre:Detektif / Action / Romantis / Komedi / Mafia / Chicklit / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 5
Nama Author: CovieVy

Lutvia Megita, adalah seorang siswa yang baru duduk di bangku SMA. Gadis keturunan Indo-Jepang yang cantik, menyamar menjadi gadis jelek bernama Marni, pura-pura gagap dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kekasihnya dibunuh mafia psikopat, membuat dia menjadi semakin kuat. Saat dewasa, seseorang yang mencintainya semenjak sekolah, berusaha mencari keberadaannya. Seorang dokter tampan yang sengaja membentuk grub mafia agar ditangkap gadis detektif yang dicintainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Flashback bg.3

Berita yang tersebar secara langsung membuat kehebohan pada masyarakat. Bagi mereka yang merasa mengonsumsi obat dari perusahaan itu, merasa sangat takut dan khawatir untuk mengonsumsinya kembali.

Sementara bagian direksi perusahaan melaksanakan rapat dadakan terkait masalah yang santer dibicarakan ini.

"Pak, kita harus segera mengadakan jumpa pers, menolak segala pernyataan yang dilemparkan Bejo terhadap perusahaan ini..." ucap direktur pemasaran.

"Jika terus begini, perusahaan kita akan terus merugi, kami takut kita akan mengalami penyurutan pendapatan yang sangat drastis.. Ini sungguh berbahaya bagi perusahaan kita..." tambah direktur keuangan.

"Lalu apa yang harus kita lakukan setelah jumpa pers tersebut, sementara opini publik sudah memandang semua obat-obatan yang dibuat perusahaan kita, adalah obat dengan berkualitas yang buruk. Padahal kita sudah membuat obat-obatan dengan kualitas terbaik. Gara-gara mereka, kita akan merugi..." tambah direktur produksi.

Kehebohan dari dewan direksi membuat sang CEO menahan amarah dalam diamnya.

Aku harus mencari tahu siapa yang menyebabkan ini semua, batinnya.

***

Di rumah keluarga Buana Putra, Jimmy yang baru saja menonton berita dan membaca berita online yang lagi viral itu, mendekati sang ayah yang tengah pusing akibat masalah ini.

"Pa, aku mendengar berita tentang perusahaan Papa. Apa benar Papa yang menyuruh Om Bejo melakukan itu semua?"

Buana Putra dengan kepala penuh kerutan melirik anak yang akan dijadikan penerus satu-satunya nanti. Dia tak ingin keluarganya mendapatkan masalah akibat pemberitaan ini semua. Meskipun dia seorang mafia, namun dia sangat menyayangi putranya yang tampan ini.

"Kamu tak usah ikut pusing memikirkan ini! Tugas kamu saat ini adalah belajar! Selain itu, biar Papa yang mengurusnya. Jadilah yang terbaik dan teruskan usaha yang sudah dirintis oleh keluarga kita selama ini!"

"Aku ingin jadi dokter Pa... Sudah sering aku bilang kan?" bantahnya, dia ingin meniru sang ibu menjadi dokter teladan.

Buana Putra mengernyitkan keningnya, "Kenapa kamu memilih jadi Dokter? Lihat Mama kamu! Selalu sibuk sampai tak ada waktu di rumah!"

"Tapi Mama itu bekerja dengan hati Pa. Menyembuhkan orang-orang yang sakit. Tidak seperti Papa, iming-iming membuat obat untuk menyembuhkan masyarakat, tetapi malah membuat mereka makin celaka!"

"JIMMY...!!!" teriaknya pada pria remaja itu.

"Pa.. Aku ini memang masih pelajar. Tapi aku tahu mana yang benar dan mana yang salah. Jika Papa begini terus, aku merasa tak sudi punya orang tua seperti Papa..."

Amarah Buana Putra semakin memuncak, hampir saja memukul Jimmy. Jimmy merasa marah, keluar dari ruang kerja Papanya, dan membanting pintu tersebut dengan keras.

"Sampai anak yang tak pernah melawanku mulai berani padaku..hmmmfff.. ini tidak boleh dibiarkan.." geramnya

Kemudian dia menelepon seseorang kepercayaannya, "Kamu coba tengok si Bejo ke dalam tahanan, pastikan dia tidak bicara lebih banyak lagi. Dan, tanya siapa yang menjebloskannya ke dalam penjara!"

"AWASSS KAU..." teriaknya marah, namun tak tahu harus marah pada siapa.

***

Sementara karena masalah pemberitaan tersebut, membuat Jimmy turut menjadi bulan-bulanan oleh kawan-kawan sekolahnya.

"Hooy.. enak ni Bro.. Dah tajir melintir, makin nggak habis-habis sekarang duit bokap Lo..." sindir salah satu teman sekelasnya.

"Nggak nyangka, di sekolah selalu jadi siswa teladan, ternyaya bokapnya bobrok.." timpal kawannya yang lain.

Jimmy hampir saja melayangkan tinju pada temannya itu, namun dia segera menepis amarahnya. Memilih duduk sendirian di bagian pojok sekolah yang banyak nyamuk. Sambil menepuk nyamuk, dia merenung sendirian diiringi suara merdu nyamuk dan kodok yang mengelilinginya.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku buktikan? Jika Papa hanya sekedar difitnah bagaimana? atau malah Jika Papa memang bersalah bagaimana? hari ini dia merasa ingin menghilang dari bumi ini. Tiba-tiba, dia bergerak, kembali ke kelas, dan mengambil tas, memilih cabut dan mengambil motor di parkiran. Menuju tempat yang biasa dikunjunginya kala dia suntuk.

Menjelang sore, dengan langkah yang berat, kembali menaiki motornya kembali menuju rumah. Sebenarnya belum ingin pulang, tapi dia takut sang ibu menjadi khawatir, sehingga dia memilih untuk pulang dan langsung masuk kamar.

Matahari telah rebah ke ufuk barat bergantikan malam bertahtakan bintang. Namun Jimmy belum juga beranjak dari kamarnya semenjak ia sampai di rumah.

tok...

tok...

tok...

"Jimmm...." terdengar suara sang ibu dari luar kamarnya. Jimmy memutar kunci, dan membuka pintu kamarnya.

"Kamu sudah makan belum?" Dia hanya menggeleng dengan lesu.

"Kamu harus kuat, untuk kuat kamu harus berenergi, dan energi itu datangnya dari makanan. Setiap manusia memiliki masalah dan titik balik nya sendiri-sendiri."

"Tak selamanya manusia selalu berada di atas, dan tak selamanya manusia berada di bawah. Kita saat ini sedang diuji. Kamu harus kuat! Jangan lemah hanya karena masalah ini. Kamu seorang laki-laki!"

Jimmy yang sedari tadi tertunduk lesu di atas kasur, melirik sang ibu yang selalu menjadi orang yang kuat untuk dirinya.

"Aku sedang berusaha memikirkan cara memecahkan masalah tersebut Ma.. Aku sedang berusaha menjadi dewasa untuk menghadapi ini semua."

Sang ibu tersenyum mendengar ucapan dewasa dari sang anak, "Dewasa itu pilihan, meski usiamu masih muda kamu masih tetap bisa dewasa dalam menyikapi setiap masalah. Ya semua itu tergantung pada kamunya.. Mau disikapi dengan cengeng, atau dengan tegar..."

Jimmy mengangguk, dia merasa yakin untuk bisa menjadi dewasa secepatnya. "Ayok, temani Mama makan!"

Jimmy bangkit dari posisi duduknha tadi, mengikuti langkah sang ibu menuju ruang makan. Mengedarkan pandangan ke sekeliling sudut rumah dan ada sosok yang belum terlihat olehnya.

"Papa sudah pulang Ma?"

Sang ibu tengah menyendokkan nasi untuk Jimmy, "Belum, Papa mungkin harus membereskan masalah ini terlebih dahulu. Baru dia bisa pulang ke rumah dengan tenang..."

***

Di ruang kerja Buana Putra

Buana Putra menyilangkan kakinya, bersandar pada kursi sambil memegang sepucuk pistol. "Bagaimana kata si Bejo?"

"Begini Boss, Bejo mengatakan mereka memergoki anak kecil kira-kira usianya masih SMP tengah mengendap di pabrik obat yang di sana. Tetapi dia tidak tahu siapa gadis kecil itu. Sudah berusaha untuk menangkapnya, tapi malah dilawan. Katanya gadis kecil itu sangat kuat dan jago bela diri. Sehingga banyak anak buahnya yang tumbang..."

"Gadis kecil? SMP?" hmmmff..

"Sekarang kamu cari informasi siapa Kira-kira gadis kecil itu.. Saya beri waktu satu jam untuk mendapatkan informasi tentang dia!"

"Satu jam boss?" ucapnya kaget.

Mengarahkan pistol tersebut tepat di hadapan wajahnya, "Iya, satu jam! Kalau lebih dari itu, kepala kau akan kutembak...!!!"

"Ba..baik Boss.." orang yang disuruhnya lari terbirit-birit, mengumpulkan orang-orang yang ahli dalam IT, langsung mencari informasi tentang gadis yang diinfokan oleh Bejo.

Tepat satu jam kemudian dia kembali lagi, menyerahkan lembaran hasil penggalian informasi barusan. Buana Putra segera membaca hasil penelusuran yang dilakukan oleh anak buahnya itu.

"Detektif Via... usianya belum genap lima belas tahun.. Kenapa mereka semua bodoh bisa kalah oleh anak kecil itu?" wajah Buana Putra berkerut karena merasa heran dan kesal menjadi satu.

"Kata Bejo dia sangat kuat Boss..."

"Sekuat-kuatnya dia tetap hanya seorang anak kecil... Besok kau bawa dia kehadapanku! Telusuri dimana dia bersekolah...!!!"

***

Via dan Irin pulang sekolah seperti biasa. Lalu tiba-tiba ada sebuah sedan berhenti di dekat mereka. Seketika Via merasakan feelling yang buruk, menyuruh Irin untuk lari dari sana. Irin lari kembali ke sekolah.

Via dihadang oleh beberapa orang yang menggunakan pakaian serba hitam, dan memiliki tampang sangar.

"Kamu Via kan?"

Via hanya diam tidak menjawab, memasang kuda-kuda kalau seandainya ada hal buruk yang akan dilakukan orang-orang itu.

"Kamu Via kan?" kembali dia bertanya.

Gadis kecil itu menatap orang-orang yang menghadangnya ini dengan tingkat kewaspadaan seribu persen, "Kalian siapa? Mau apa mencari gue?"

Semua pria sangar bertubuh kekar ini tertawa, "Hahaha, jadi kamu benar-benar anak yang kami cari.."

Via mulai mencerna dan mengira siapa mereka. "Kalian orang-orang dari pabrik obat-obatan kemarin?" tanyanya waspada.

"Hahaha, ternyata insting kamu sangat hebat..."

Masih memasang kuda-kuda, "Kalian mau apa?"

Para Mafia itu mulai mendekati Via secara bersama-sama untuk mencoba menangkapnya.

"Ooohhh... beraninya keroyokan?" Lalu Via memelintir tangan salah satu mafia yang akan menangkapnya. Lalu menarik dan mendorongnya. kembali memasang kuda-kuda menyiapkan serangan berikutnya.

Berlari ke arah salah satu lalu melompat menendangnya, selanjutnya meninju, memukul, sebisa dia punya.

...klik gambar di bawah ini...

"Bu..Bu..itu mereka..." Irin berlari kembali ke tempat Via membawa guru-guru untuk membantu Via.

"Gawat... Ayo kita cabut dulu...!!!" mereka kembali masuk ke mobil tadi dan pergi.

...klik gambar di bawah ini...

"Heeeii... awas yaa.. jangan berani-beraninya mengganggu siswa kami!" teriak guru olah raga.

"Via, kamu tidak apa?"

"Saya tidak apa Bu..."

"Oh... syukurlah.. Ayo kembali dulu ke sekolah. Biar kami telepon keluargamu dulu untuk dijemput..."

Via dan Irin mengangguk. Pihak sekolah menelepon ayah Irin, dan Ayah Irin datang menjemput mereka untuk pulang.

...*bersambung*...

...JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YAA...

...LIKE, LOVE, VOTE & COMMENT 🥰🥰😘😘...

...terima kasih...

1
khesya72
via sangat ngembira saat di berikan sepeda yg ajaib
khesya72
via memiliki kakak dengan rentang umur yg jauh
khesya72
rata rata siswa pergi bersama teman
khesya72
saat pertama kali sekolah marni merasa gugup
Hafizah Mayputri
saya sudah membaca ya buk saya dri kls Vll. 2
KhanzaRamdani_7.1
kakak² senior tidak mengetahui identitas asli via yg menyamar menjadi culun dan berpura pura menjadi marni
SoVay: baik kanza, udah masukdan terdata
total 1 replies
KhanzaRamdani_7.1
membaca pada bab 1 itu?
Naya Desriyal
bab 1 selesai dibaca 🌷
SoVay: isinya tentang apa hayooo
total 1 replies
dzakira SMP5
7.1
Marni salah memakai sepatu karna terburu² kesekolah
SoVay: oke, diterima
total 1 replies
Rahma S.P
di awal awal romi dan dino menyepelekan marni
Raysa Humaira
Stevan pas kayak apa yg gw bayangin
Raysa Humaira
waduh.....bakal ketahuan nih,..
Rahma S.P
tampaknya Stevan sudah handal menon aktifkan cctv
Rahma S.P
karena irin bersikap baik kepada yg lebih tua akhrirnya via juga bisa mengikuti sikap irin tersebut
afifah syah putri. s
Stevan dan via hampir ke tahuan securty
Anisa septiani kelas 72
ibu dan anak berpamitan
Muhammad Rahman
Marni mengakhiri misi penyelidikan di rumah mak iroh
Muhammad Rahman
Dink tidak mengerti apa yg dijelasin Marni alias via karena aksi gagunya
Muhammad Rahman
Marni dan via makan siang di rumah joko
Muhammad Rahman
Marni dikira penjahat oleh temannya karena membawa benda-benda aneh yg keluar dari tasnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!