Asisten Duda CEO Tajir Melintir
Grizella Madeline Dealova, seorang anak magang yang ambisius dan berani, tidak pernah menyangka akan terlibat dengan Galaxy Adelion Wesley, CEO kaya raya yang dingin dan terluka karena pengkhianatan masa lalu.
Pertemuan mereka dipenuhi pertengkaran, tetapi perlahan rasa benci berubah menjadi ketertarikan. Saat Galaxy memintanya menjadi asisten pribadi dan tinggal bersamanya, keduanya mulai menghadapi perasaan yang tidak bisa mereka hindari.
Namun, ketika cinta mulai tumbuh, mantan istri Galaxy kembali membawa rahasia lama yang mengancam hubungan mereka.
Akankah Grizella menjadi alasan Galaxy kembali percaya pada cinta, atau justru menjadi luka baru dalam hidup sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
nama yang dicuri
Suara sirene masih memenuhi kawasan Manhattan.
Asap hitam membumbung dari reruntuhan gedung yang baru saja meledak. Tim pemadam kebakaran dan ambulans berdatangan silih berganti, sementara area sekitar langsung dipasang garis pembatas.
Galaxy masih berdiri dengan jas yang dipenuhi debu.
Tatapannya tidak lepas dari dokumen yang diberikan Aaron.
Nama paling atas dalam daftar itu masih terlihat jelas.
Galaxy Adelion Wesley.
"Aku tidak pernah menandatangani dokumen ini."
Suara Galaxy terdengar datar, tetapi penuh tekanan.
Aaron mengangguk.
"Itulah yang membuat kami curiga, Tuan."
"Semua transaksi menggunakan identitas Anda."
Grizella yang berdiri di samping Galaxy ikut membaca halaman berikutnya.
Puluhan perusahaan besar tercantum dalam daftar itu.
Nilai transaksinya mencapai miliaran dolar.
"Seseorang memakai nama Anda selama bertahun-tahun."
Galaxy mengepalkan tangannya.
"Dan orang itu sengaja membuatku terlihat sebagai dalangnya."
Sesampainya di Wesley Corporation, Galaxy langsung mengadakan rapat darurat.
Semua direktur hadir.
Ruangan rapat yang biasanya tenang kini dipenuhi ketegangan.
Galaxy meletakkan Arsip Aurora di atas meja.
"Mulai hari ini, semua transaksi perusahaan selama sepuluh tahun terakhir diaudit ulang."
Beberapa direktur tampak saling berpandangan.
Salah satu dari mereka, Harold Benson, mengangkat tangan.
"Tuan Galaxy, itu akan memakan waktu sangat lama."
Galaxy menatapnya tajam.
"Kalau memang perusahaan ini bersih, tidak ada yang perlu ditakutkan."
Ruangan kembali sunyi.
Tak seorang pun berani membantah.
Di sisi lain, Grizella kembali ke ruang asistennya.
Pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan.
Ia membuka laci meja untuk mengambil buku catatan.
Namun sebuah amplop putih sudah tergeletak di sana.
Padahal ia yakin laci itu kosong pagi tadi.
Dengan perlahan ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya hanya ada sebuah foto.
Foto dirinya saat masih kecil.
Di samping seorang wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Di belakang foto terdapat tulisan tangan berwarna merah.
"Carilah wanita ini sebelum Richard menemukannya."
Jantung Grizella berdegup kencang.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, ponselnya berdering.
Nomor tak dikenal.
Dengan ragu, ia mengangkat panggilan itu.
"Hallo?"
Suara seorang wanita tua terdengar lirih.
"Grizella..."
Wanita itu menyebut namanya dengan sangat pelan.
"Jangan percaya siapa pun..."
"Bahkan orang yang paling kau cintai."
Sambungan langsung terputus.
Grizella membeku.
Tangannya mulai gemetar.
Sementara itu, Aaron masuk tergesa-gesa ke ruang CEO.
"Tuan!"
Galaxy mengangkat kepala.
"Ada apa?"
"Kami berhasil melacak transaksi pertama yang menggunakan identitas Anda."
"Di mana?"
Aaron menarik napas panjang.
"Transaksi itu dilakukan..."
"...dua hari setelah ayah Anda meninggal dunia."
Galaxy langsung berdiri.
"Itu tidak mungkin."
Aaron menyerahkan salinan dokumen.
"Tanda tangannya sangat mirip dengan milik Anda."
Galaxy menatap dokumen itu dengan rahang mengeras.
Ia sadar...
Musuhnya bukan hanya sedang menghancurkan perusahaan.
Musuh itu sedang berusaha menghancurkan nama keluarga Wesley.
Dan tepat saat itu, pintu ruangannya diketuk.
Grizella masuk dengan wajah pucat sambil membawa foto yang baru diterimanya.
"Galaxy..."
"Saya rasa..."
"Seseorang sedang mengawasi setiap langkah kita."
Galaxy segera bangkit dari kursinya ketika melihat wajah Grizella yang pucat.
"Ada apa?"
Tanpa berkata-kata, Grizella menyerahkan foto yang baru diterimanya.
Galaxy menerimanya dengan hati-hati.
Di dalam foto itu tampak Grizella kecil sedang tersenyum di samping seorang wanita berambut panjang yang belum pernah ia lihat.
Di balik foto tertulis:
"Carilah wanita ini sebelum Richard menemukannya."
Galaxy mengernyit.
"Apakah kau mengenal wanita ini?"
Grizella menggeleng pelan.
"Tidak."
"Tapi... entah kenapa wajahnya terasa sangat familiar."
Galaxy menatap foto itu lebih lama.
Lalu sesuatu menarik perhatiannya.
Liontin yang dikenakan wanita tersebut.
Liontin berbentuk bunga lily perak.
Lambang yang sama kembali muncul.
Galaxy segera memanggil Aaron.
"Aaron."
"Ya, Tuan."
"Lacak identitas wanita dalam foto ini."
Aaron menerima foto itu.
"Baik."
"Saya juga akan mencocokkannya dengan arsip kependudukan."
Galaxy mengangguk.
"Jangan beri tahu siapa pun."
"Penyelidikan ini harus benar-benar rahasia."
Beberapa jam kemudian...
Aaron kembali dengan wajah serius.
"Tuan..."
"Kami menemukan kecocokan."
Galaxy langsung berdiri.
"Siapa dia?"
Aaron meletakkan sebuah map di atas meja.
"Namanya Sophia Laurent."
Grizella mengernyit.
"Saya tidak pernah mendengar nama itu."
Aaron membuka halaman pertama.
"Dua puluh tahun lalu, Sophia Laurent bekerja sebagai sekretaris pribadi Alexander Wesley."
Galaxy membeku.
"Sekretaris ayahku?"
"Benar."
"Tapi..."
Aaron menarik napas.
"Dia menghilang tanpa jejak setelah kecelakaan yang menewaskan ayah Anda."
Ruangan kembali hening.
Galaxy mulai menyusun potongan-potongan teka-teki di kepalanya.
Sophia mengenal ayahnya.
Sophia juga pernah bersama Grizella kecil.
Berarti wanita itu mengetahui sesuatu yang selama ini disembunyikan.
Sore harinya...
Galaxy memutuskan membawa Grizella keluar dari kantor.
"Kita mau ke mana?"
tanya Grizella.
"Ada seseorang yang harus kita temui."
Mobil mereka berhenti di sebuah panti jompo kecil di pinggiran kota.
Menurut informasi Aaron, mantan pengasuh Sophia tinggal di sana.
Seorang wanita lanjut usia menyambut mereka.
Saat melihat foto Sophia, matanya langsung berkaca-kaca.
"Sudah lama sekali..."
Galaxy duduk di hadapannya.
"Nyonya, kami ingin mengetahui keberadaan Sophia."
Wanita tua itu menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu di mana dia sekarang."
"Tapi sebelum menghilang..."
"Dia pernah menitipkan sebuah pesan."
Galaxy dan Grizella saling berpandangan.
"Pesan apa?"
Wanita tua itu menatap Grizella dengan lembut.
"Kalau suatu hari seorang gadis bermata teduh datang mencariku..."
"Berikan ini."
Ia membuka laci meja dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang sudah kusam.
Di bagian depan amplop hanya tertulis:
"Untuk Grizella."
Dengan tangan sedikit gemetar, Grizella membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat secarik kertas.
Tulisan tangan Sophia memenuhi halaman.
"Grizella, jika surat ini sampai kepadamu, berarti mereka sudah mulai bergerak. Jangan pernah datang sendirian ke Mercusuar Black Harbor. Di sanalah semua jawaban berada... tetapi di sanalah nyawamu juga akan berada dalam bahaya."
Galaxy langsung mengangkat wajah.
"Black Harbor..."
Nama tempat itu terdengar tidak asing.
Aaron yang baru datang membawa informasi tambahan berkata pelan,
"Tuan..."
"Itu adalah pulau pribadi yang dulu dimiliki keluarga Wesley."
Galaxy mengepalkan tangannya.
Berarti...
Rahasia terbesar keluarganya selama ini disembunyikan di tempat yang pernah menjadi milik ayahnya sendiri.
Namun di tempat lain, Richard Wesley tersenyum sambil memandangi layar monitor.
"Akhirnya..."
"Mereka menuju ke tempat yang kuinginkan."
Di samping Richard berdiri seseorang yang wajahnya masih tertutup bayangan.
Orang itu berkata pelan,
"Apakah waktunya sudah tiba?"
Richard mengangguk.
"Ya."
"Siapkan semuanya."
"Kali ini..."
"Galaxy akan dipaksa memilih."
"Antara menyelamatkan perusahaan..."
"Atau wanita yang dicintainya."
Malam menyelimuti Kota New York.
Di lantai paling atas Wesley Corporation, Galaxy berdiri di depan jendela kaca besar sambil memandang gemerlap lampu kota.
Pikirannya dipenuhi satu nama.
Black Harbor.
Pulau pribadi yang pernah menjadi tempat favorit ayahnya.
Tempat yang kini diduga menyimpan jawaban atas seluruh misteri yang selama ini menghantuinya.
Grizella menghampiri dengan membawa dua cangkir kopi.
"Anda belum tidur?"
Galaxy menerima cangkir itu sambil tersenyum tipis.
"Masih banyak yang harus kupikirkan."
Grizella ikut memandang ke arah kota.
"Kalau memang harus pergi ke Black Harbor..."
"Saya akan ikut."
Galaxy langsung menggeleng.
"Tidak."
"Tempat itu terlalu berbahaya."
Grizella menatapnya dengan tatapan tegas.
"Sejak awal saya sudah terlibat."
"Jadi jangan menyuruh saya berhenti sekarang."
Galaxy mengembuskan napas pelan.
Ia tahu tidak ada yang bisa mengubah keputusan Grizella jika wanita itu sudah bertekad.
Keesokan paginya...
Jet pribadi Wesley Corporation lepas landas menuju Black Harbor.
Di dalam kabin hanya ada Galaxy, Grizella, Aaron, dan empat anggota keamanan.
Perjalanan berlangsung tanpa banyak percakapan.
Semua orang mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.
Dua jam kemudian, pulau itu mulai terlihat dari udara.
Pulau pribadi itu tampak indah.
Pantainya berpasir putih.
Air lautnya biru jernih.
Namun suasana sunyi membuat tempat itu terasa mencekam.
Setelah mendarat, mereka berjalan menuju sebuah vila tua yang berdiri di atas bukit.
Bangunan itu terlihat kosong.
Tetapi pintu utamanya tidak terkunci.
Galaxy membuka pintu perlahan.
Di dalam vila, semua perabot masih tersusun rapi seolah pemiliknya baru saja pergi.
Di dinding ruang tamu tergantung sebuah foto keluarga.
Galaxy menghentikan langkahnya.
Foto itu menampilkan Alexander Wesley bersama beberapa orang.
Di sudut foto berdiri seorang wanita.
Wanita yang sama dengan foto yang diterima Grizella.
"Sophia..."
bisik Galaxy.
Mereka melanjutkan pencarian hingga tiba di ruang kerja tua.
Di balik sebuah lukisan, Galaxy menemukan brankas kecil yang tersembunyi.
Kode pembukanya ternyata adalah tanggal lahir Alexander Wesley.
Brankas itu terbuka.
Di dalamnya terdapat sebuah buku harian kulit berwarna hitam.
Galaxy membukanya perlahan.
Halaman pertama berisi tulisan tangan ayahnya.
"Jika seseorang menemukan buku ini, berarti keluargaku berada dalam bahaya."
Galaxy membaca halaman demi halaman.
Isi buku itu menjelaskan bagaimana Alexander selama bertahun-tahun melindungi seorang anak yang menjadi target organisasi rahasia karena sebuah warisan keluarga.
Galaxy menoleh ke arah Grizella.
Dadanya berdebar.
Ia mulai menyadari siapa anak yang dimaksud.
Tepat ketika ia hendak membuka halaman terakhir...
Dor!
Suara tembakan memecah keheningan.
Kaca jendela vila hancur berkeping-keping.
"Merunduk!"
teriak Aaron.
Semua orang berlindung.
Beberapa pria bersenjata mengepung vila dari berbagai arah.
Galaxy langsung menarik Grizella ke balik meja kayu.
"Apa kau terluka?"
Grizella menggeleng meski wajahnya pucat.
"Tidak."
Galaxy menghela napas lega.
Namun di luar vila terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Galaxy!"
Richard Wesley melangkah keluar dari sebuah mobil hitam.
Di tangannya tergenggam sebuah alat pemicu.
Ia tersenyum tipis.
"Serahkan buku harian itu."
"Atau seluruh pulau ini akan menjadi kuburan kalian."
Galaxy menatap alat di tangan pamannya.
Ia sadar ancaman itu bukan gertakan.
Richard benar-benar telah memasang bahan peledak di sekitar vila.
Galaxy menggenggam erat tangan Grizella.
Dalam hati ia mengambil satu keputusan.
Jika harus memilih antara buku harian itu atau keselamatan Grizella...
Ia sudah tahu jawaban yang akan dipilihnya.
Galaxy menyerahkan diri kepada Richard demi menyelamatkan Grizella, tetapi pengorbanannya justru membuka rahasia terbesar tentang kematian Alexander Wesley dan identitas sebenarnya orang yang mengkhianati keluarga Wesley.