Kisah tentang langit dan bumi yang meskipun sama luasnya, namun tak dapat bersatu.
Angkasa adalah anak hasil perselingkuhan ibunya. Dia dibenci banyak orang. Kekerasan dan pembullyan yang sering dia dapatkan membuatnya ingin mengetahui alasan untuknya hidup.
Suatu hari Angkasa bertemu dengan seorang Gadis. Gadis itu membuatnya tersadar bahwa selama ini dia terlalu pengecut untuk menolak ketidakadilan yang dia dapatkan. Dari situ, hidup Angkasa mulai berubah.
Kisah tentang seseorang yang ingin hidup bertemu dengan seseorang yang sangat menginginkan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hulapao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MERAIH LANGIT
“LAGI! LAGI!”
Napasku tak teratur, aku tersenyum lebar saat tahu penonton ingin melihat kami membawakan satu lagu lagi. Sayang sekali time keeper sudah memperingati. Kak Mawar menyudahi penampilan kami dengan salam terakhir. Sungguh, hari ini dia bernyanyi dengan luar biasa. Banyak inprovisasi yang kak Mawar lakukan, membuat penonton menyorakinya. Aku yakin, kini jumlah fans kak Mawar bertambah pesat.
Dengan reaksi orang-orang yang demikian, tidak menutup kemungkinan Manager menginginkan kami membuat versi full lagu baru kami. Sebagai pendatang baru, ini sudah menjadi kemajuan yang sangat pesat. Mungkin ini semua juga karena kami berada perusahaan rekaman terkenal.
“Penampilanmu keren sekali!” Seru Fajar. “Awan juga, kau sudah mirip seperti musisi professional.”
Setelah acara berakhir aku dan Awan memutuskan pergi menemui Fajar dan kak Jay. Kak Lang sedang berbicara dengan Manager, sedangkan kak Mawar menemui adik dan temannya yang ikut melihat penampilan kami.
Ibu menghampiriku. “Angkasa, Ibu sangat bangga padamu.” Dia memelukku, aku balas memeluknya.
“Sudah malam, kami harus pulang.” Kata kakak tiri perempuanku. “Bisa-bisa nanti Ayah memarahi Ibu.”
“Hati-hati, terimakasih sudah datang melihatku. Ibu jaga kesehatan, ya.” Kataku.
Ibu mengangguk. “Kau juga, jangan lupa makan. Jangan lupa selalu beri kabar pada Ibu.”
Aku tersenyum, mengiyakan. Aku menatap punggung Ibu yang berlalu pergi. Acara pertunjukannya sudah usai kini giliran para pengunjung pergi ke tempat parkir. Bazar disana pasti sudah ramai dan sesak.
“Ayo ke bazar.” Ajak Fajar. “Daritadi perut kak Jay sudah keroncongan.”
Aku dan Awan tertawa.
“Kalian pergi dulu saja, aku menyusul.” Kataku.
“Eh?” Fajar menatapku heran.
“Iya kita pergi dulu saja.” Kak Jay sepertinya mengerti apa yang kuinginkan. “Angkasa masih menunggu seseorang.”
“Oh, oke.” Fajar melambaikan tangan. “Good luck, Ang.”
Aku menatap Fajar bingung, tak mengerti apa maksudnya. Mereka sudah pergi, aku mengeluarkan ponsel. Berdering sejenak kemudian terdengar suara ramai dari ujung telepon.
“Ra, kau dimana?” Tanyaku.
“Aku di…” Dhara diam sejenak. “Di depan pintu selatan mall.”
“Baiklah tunggu disitu.”
Aku mematikan sambungan telepon, segera menuju pintu masuk mall. Ada delapan pintu masuk mall ini, namanya disesuaikan dengan arah mata angin. Salah satu pintu yang menuju langsung ke parkiran, tempat bazar diadakan adalah pintu selatan. Karena mall ini besar, aku beberapa kali bertanya pada security letak pintunya.
“Maaf lama.” Aku ngos-ngosan.
“Ayo ke bazar.” Ajak Dhara.
Aku mengangguk mantap. Aku tak pernah pergi ke bazar sebelumnya, tapi menurutku bazar mirip dengan pasar malam. Hanya saja bazar tak memiliki permainan anak-anak yang biasa ada di pasar malam. Disini lebih banyak orang yang menjual makanan. Tanpa sengaja kami bertemu dengan rombongan Fajar.
“Kita pergi bareng aja.” Kata Dhara.
Mereka semua setuju. Kami berjalan bersama. Seperti yang kuduga, bazar penuh dengan pengunjung mall. Mereka beli makanan ini itu, pasti para penjual disini meraup untung berkali-kali lipat. Padahal ini sudah pukul setengah sembilan malam, tapi sepertinya tak ada orang yang berniat pulang.
“Kau kemari sendiri? Lilina?”
“Eh.” Dhara diam sejenak. “Aku lupa memberitahunya.” Dia menggaruk kepalanya.
Aku tertawa. “Bagaimana bisa seperti itu.” Aku membeli ice cream. “Mau?”
Dhara mengangguk mantap.
Sekarang aku tahu, Dhara sangat suka makanan manis.
Kami berlima berbincang ini itu sambil memakan makanan setelah lama mencari tempat duduk yang kosong. Dhara cepat akrab dengan mereka, dia juga menanyakan keberadaa Bunga. Aku memberitahu bahwa Bunga akan menghadapi ujian kelulusan. Dia senang saat mendengar Bunga berencana sekolah di sekolah kami.
“Kau ada di kelas mana?” Tanya Awan.
“Yang pasti bukan di kelas kalian berdua dan juga bukan di kelas Angkasa.” Kata Dhara.
“Itu berarti kau di kelas A?”
Dhara mengangguk.
Awan manggut-manggut. “Pantas saja aku tak pernah melihatmu.”
Mendengar kata-kata Awan, aku teringat sesuatu tentang perkataan Lilina waktu itu saat Dhara tak kunjung masuk sekolah.
“Eh Ra, aku ingin tanya.” Kataku.
Dhara sibuk memakan ice creamnya. “Hm?”
“Waktu itu Lilina pernah bilang kau-“
“Hei kalian!” Suara itu mengangetkan kami semua, membatalkan pertanyaanku. “Aku cari dimana-mana ternyata kalian santai-santai disini.”
“Eh, itu, maaf kak Lang.” Awan berdiri, menggaruk kepalanya.
Aku juga ikut berdiri. Jelas yang dikatakan kak Lang ‘kalian’ itu berarti yang dimaksud aku dan Awan. Kak Lang mencari kami berdua.
“A-Ada ada kak Lang? Bukannya acara sudah usai?” Tanyaku.
Kak Lang mengangguk, duduk di sebelahku. “Tak usah tegang begitu, aku hanya ingin memberitahu.”
Aku heran, ikut duduk, Awan juga. Bukankah kak Lang bisa memberitahu kami lewat grup chat saja. Disana juga ada kak Mawar.
“Dimana kak Mawar?” Tanyaku.
“Dia pergi dengan teman-temannya. Tadi dia sudah kuberitahu lebih dulu.”
Aku dan Awan manggut-manggut. “Jadi?”
Kak Lang memberitahu bahwa mulai besok kami akan mulai membuat versi full lagu baru kami. Lalu video rekaman penampilan kami tadi sudah diunggah di media sosial dan dapat respon positif. Band kami mendapat job lagi, kali ini kami akan tampil sebagai guest star di acara pentas seni atau biasa disebut pensi salah satu universitas terbaik di kota ini.
Awan sangat antusias mendengarnya. Tentu saja acara pensi itu masih satu bulan lagi. Jadi kami masih harus fokus pada lagu barunya. Tak apa kini sekolah sudah libur, aku punya banyak waktu luang. Hasil ujian kenaikan kelasku juga tak buruk-buruk amat.
“Pasti banyak orang yang menidolakanmu.” Kata Dhara sambil menatap langit.
Aku mengantarnya pulang lebih dulu. Kak Jay dan Fajar masih bersama Awan dan kak Lang di bazar. Entah, mereka hendak pulang jam berapa aku tak tahu. Dhara meminta berjalan kaki karena jarak ke rumahnya tak terlalu jauh.
“Mana ada? Aku dibelakang posisinya, mereka tak bisa melihatku.”
“Kata siapa? Aku bisa melihatmu kok.” Dhara tertawa kecil. “Senyum lebarmu saat mendengar suara sorakan orang-orang bahkan aku masih mengingatnya.”
“Eh?” Wajahku terasa panas.
Dhara tertawa. Tangannya menjulur kea rah atas, langit. Kemudian tangannya mengepal. “Seperti namamu, Angkasa, aku sangat menyukai menatap langit. Langit yang bahkan tak bisa kugapai bagaimanapun caranya. Kau terlalu tinggi untukku.” Dia tertawa menatapku. “Aku tak bisa meraihmu.”
Aku tertegun, tak mengerti apa yang Dhara katakan.
“Bodoh sekali aku masih berharap bisa meraih langit. Haruskah aku menyerah saja?”
“A-Apa yang kau katakan Ra?” Aku bingung. “Aku sama sekali tak mengerti.”
Dhara tertawa. “Maaf sudah bicara macam-macam. Tak perlu kau pikirkan, aku hanya asal bicara kok.”
Aku diam menatapnya yang kembali menatap langit. Detik ini juga aku sadar bahwa hal yang aku ketahui tentang Dhara hanyalah sepotong kecilnya saja. Aku bahkan tak mengerti apa yang membuatnya sampai bicara seperti ini. Waktu itu juga, saat dia berbicara jika dia yang akan lebih dulu mati.
“Ra, aku… hanya tahu beberapa hal tentangmu seperti kau yang kuat dan pemberani, kau yang sangat menyukai langit, kau yang menyukai makanan manis, itu hanya sebagian kecil darimu. Lebih banyak hal yang tak kuketahui, aku… ingin tahu hal apa yang membuatmu sedih, marah, bahkan senang. Aku ingin tahu semuanya tentangmu. Jadi bisakah kau-“
BRUK!
“Ra!”
aku bacanya nyicil ya kak, udah aku fav