SERI KE 4 DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Menceritakan tentang perjalanan kehidupan anak gadis bernama Gendis, yang hidup dalam sebuah keluarga miskin. Namun, seiring berjalannya waktu, kekayaan datang dalam kehidupan keluarganya karena orang tua Gendis melakukan pesugihan.
Dan, karena pesugihan itu, justru menjadikan Gendis sebagai "wadah" pencari tumbal agar kekayaan keluarganya tetap bertahan.
Ritual pesugihan apa yang dilakukan orang tua Gendis?
Bagaimana penderitaan Gendis selama menjadi "wadah" pencari tumbal?
Dan, seperti apa perjalanan hidup Gendis sampai ia ditakdirkan bertemu dengan Nisa?
Selamat membaca...
.
.
.
DISCLAIMER!!!
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, budaya, laku tirakat tertentu, dan kepercayaan tertentu dengan para pembaca semua, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 SALSA DATANG MENJENGUK
Singkat waktu...
Sore hari pun menjelang...
Mas Anto telah melaksanakan sholat Ashar di sebuah musholla yang tak jauh dari rumah keluarga Gendis, tepat di seberang lapangan yang menjadi tempat bermain anak-anak sekitar.
Ketika ia berjalan hendak kembali ke rumah Gendis, sejenak ia berhenti di seberang lapangan itu...
Tampak mulai ramai anak-anak yang sedang bermain, menikmati waktu sore mereka...
Terdengar jelas tawa dan canda semua anak-anak itu...
"Ya Alloh... Seandainya Gendis matanya bisa melihat, pasti dia lagi main sekarang bareng anak-anak itu..." gumam Mas Anto dalam hati.
Dan, selama Mas Anto memperhatikan anak-anak yang sedang riang bermain itu, ia juga teringat dengan kenangan saat ketiga anaknya masih seusia mereka.
Ketiga anaknya yang kini sudah beranjak dewasa semua, sudah tak bermain seperti anak-anak yang berada di lapangan itu.
Dan terlihat senyuman tipis di bibir Mas Anto, seolah ia sedang bernostalgia mengingat masa kanak-kanak ketiga anak kandungnya sendiri.
Sejenak ia menoleh ke sebelah kiri, terlihatlah seorang anak perempuan yang memiliki tinggi badan sama seperti Gendis. Rambutnya panjang lurus, sama juga dengan Gendis. Wajahnya tampak sangat ceria dan manis, sama lagi seperti Gendis.
Anak itu sedang membeli cilok, sambil menenteng sebuah kantong kresek transparan yang penuh dengan buah jeruk.
Ketika anak itu sudah selesai membeli cilok, ia tak langsung memakannya. Justru sebungkus cilok itu ditaruhnya ke dalam kantong kresek berisi jeruk yang dibawanya.
Dan, anak perempuan itu berjalan tepat di depannya. Gaya berjalannya terlihat sangat riang. Dan anak itu lewat saja di depan Mas Anto, tanpa menyadari keberadaannya.
Mas Anto pun tersenyum melihat langkah anak perempuan yang begitu manis dan ceria itu...
Saat anak perempuan itu sudah berlalu darinya, Mas Anto kembali menikmati sebentar suasana di lapangan itu sore ini. Sebelum ia kembali ke rumah Gendis.
.....
.....
Saat Mas Anto sudah berjalan menuju ke rumah Gendis, dia melihat dari kejauhan...
Tepat di depan gerbang rumah Gendis itu, anak perempuan yang barusan ia lihat sedang berdiri di depan gerbang, seperti sedang mencari seseorang di rumah Gendis.
"Loh? Anak itu?" gumamnya pelan.
Dengan langkah agak cepat, ia segera menghampiri anak perempuan itu...
"Adek? Cari siapa?" tanya Mas Anto pada anak perempuan itu.
Anak perempuan itu sedikit kaget sambil menoleh padanya.
"Eh, maaf Om, aku mau jengukin temanku..." jawabnya.
Seketika Mas Anto langsung paham...
Bahwa anak perempuan itu ternyata adalah teman Gendis...
"Oooh... Kamu temannya Gendis ya?" tanya Mas Anto dengan senyuman yang hangat.
"Iya Om... Aku temannya Gendis." jawabnya.
"Ya udah, ayok masuk ke dalam." ucap Mas Anto.
Sejenak, anak perempuan itu terlihat bingung. Mungkin dirinya bertanya-tanya dalam hati, kenapa Mas Anto ini bisa membuka gerbang rumah Gendis?
Mas Anto yang peka, akhirnya berkata...
"Hehehe... Saya Om Anto, saya Pakde nya Gendis..."
"Ooohhh, gituuu..." respon anak itu sambil langsung berubah ekspresinya, merasa tenang.
"Ayok masuk Dek..." ajak Mas Anto ketika gerbang sudah terbuka.
"Iya Ooom... Terima kasiiih..." jawab anak perempuan itu dengan sangat ceria.
Mas Anto pun membiarkan anak itu berjalan di depannya, menuju ke depan rumah.
Mas Anto langsung membuka pintu depan, dan mempersilahkan anak itu untuk masuk.
"Adek mau minum apa?" tanya Mas Anto saat sudah sampai di ruang tamu.
"Eh, gak usah Om, gak usah repot-repot." jawabnya malu.
"Gak ngerepotin kok, gak apa-apa... Mau minum apa? Om ambilin..."
"Emm... Air putih aja deh Om, hehehe..."
"Oh iya... Sebentar ya Dek..."
"Eh iya Om..."
"Iya? Kenapa Dek?"
"Boleh gak? Air putihnya dikasih es batu? Hehehe..." pinta anak itu sambil cengengesan manis.
"Oooh... Iya, boleh... Hehehe..." jawab Mas Anto.
Mas Anto pun beranjak ke dapur, mengambilkan air putih dengam es batu sesuai permintaannya.
"Loooh... Kok berdiri aja? Duduk dong..." ucap Mas Anto saat kembali ke ruang tamu dan melihat anak itu masih berdiri memegangi sekresek buah jeruknya.
"Hehehe... Iya Om..."
Dan akhirnya mereka berdua pun duduk di sofa...
Dan Mas Anto pun bertanya, "Namamu siapa Dek?"
Anak itu menjawab, "Namaku Salsa Om..."
😆😆 lanjut kak👍👍👍