NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

09. Karpet Merah untuk si Berondong

Evan yang baru saja tiba mengekor di belakang Fiki langsung tersedak ludahnya sendiri. Pria itu terbatuk-batuk hebat di ambang pintu, matanya melotot horor melihat aura mistis sekaligus super dominan yang sedang menguasai ruang tamu rumah tantenya.

Di sofa, wajah Bagas seketika berubah menjadi merah keunguan, kombinasi menahan malu, amarah, dan harga diri yang mendadak diinjak-injak oleh seorang berondong asing yang ketampanannya berada di level ilegal.

Aruna sendiri hanya bisa berdiri mematung di samping Gavin. Jemarinya yang masih bertaut di lengan tegap pemuda 19 tahun itu mendadak dingin. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Aruna menyadari satu hal fatal, kontrak gila pacar sewaan yang terpaksa ia setujui di dalam mobil SUV tadi, kini benar-benar telah menyeretnya masuk terlalu dalam ke medan perang keluarga yang sesungguhnya.

Suasana ruang tamu yang tadinya dikuasai penuh oleh pesona intimidatif Gavin mendadak senyap saat langkah kaki berat terdengar dari arah pintu samping.

Fiki Erros, ayah Aruna, melangkah masuk. Pria paruh baya itu memiliki wajah tegas dengan aura dingin khas mantan pejabat kementerian yang sangat berwibawa. Padahal, aslinya pria itu adalah mantan penguasa keluarga Erros yang kini di teruskan oleh Ethan dan Evan.

Melihat sang kepala keluarga datang, Bagas si pria PNS langsung menegakkan punggungnya. Ia buru-buru menunduk hormat dengan senyum yang dipaksakan seformal mungkin, berharap bisa mencuri simpati pertama dari calon mertua potensialnya.

"Selamat sore, Om Fiki."

Namun, malang bagi Bagas. Pandangan mata elang milik Fiki sama sekali tidak melirik ke arah seragam batik kebanggaannya. Atensi Fiki langsung terkunci mutlak pada sosok Gavin yang sedang duduk dengan santai di sofa utamanya.

Langkah kaki Fiki mendadak terhenti di tengah ruangan. Sepasang alis tebalnya bertaut erat, menatap pemuda bertubuh 187 cm di depannya tanpa berkedip.

Aruna yang menangkap perubahan ekspresi drastis ayahnya langsung menahan napas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Gadis itu sudah bersiap pasang badan, mengira ayahnya akan mengamuk hebat karena melihat pria asing yang jauh terlalu muda berani bersanding dengan anak perempuan pertamanya.

"Lho... kamu..." Fiki menunjuk ke arah Gavin, matanya melebar karena syok yang teramat sangat.

Gavin, dengan ketenangan yang luar biasa seolah sedang berada di rumahnya sendiri, langsung bangkit berdiri. Pemuda itu mengulas senyum ramah, sopan, tanpa menyisakan secuil pun rasa takut dari aura phoenix eyes nya.

"Selamat sore, Om Fiki," sapa Gavin dengan nada suara bariton yang stabil.

"Gavin?! Kamu Gavin Alexander, kan?" tanya Fiki, suaranya yang menggelegar kini memenuhi seisi ruang tamu.

Mendengar nama lengkap Gavin disebut dengan begitu fasih oleh ayahnya, netra almond milik Aruna terbelalak sempurna. Bagaimana bisa ayahnya langsung mengenali berondong sialan ini?

"Iya, Om. Betul, saya Gavin," jawab Gavin dengan anggukan hormat yang sangat elegan, sembari mengulurkan tangan kanannya untuk bersalaman.

Kontras seratus delapan puluh derajat dengan sikap kaku dan dingin yang biasanya Fiki tunjukkan pada pria-pria yang mencoba mendekati Aruna, kali ini Fiki justru langsung menyambut jabat tangan Gavin dengan sangat erat. Pria paruh baya itu bahkan menepuk-nepuk bahu tegap Gavin dengan tawa renyah yang sangat bersahabat.

"Aduh, Papa nggak menyangka kamu pacarnya Aruna!" ujar Fiki dengan wajah sumringah yang luar biasa cerah, mengabaikan total keberadaan Bagas yang kini melongo canggung di sudut ruangan seperti pajangan yang salah tempat.Fiki melanjutkan dengan antusias,

"Empat bulan lalu, waktu Papa diundang ke jamuan makan malam Privat Caspian Property Group, kakakmu, Dominic, sempat memamerkan profil rintisan bisnis logistik digital milikmu. Dom bilang adik bungsunya ini jenius dan susah sekali disuruh pulang ke rumah karena terlalu sibuk mengurus starup nya sendiri!"

Fiki kemudian memutar tubuhnya, menatap Inda, sang Kanjeng Ratu yang masih duduk syok di sofa dengan ponsel di tangan.

"Ma! Ini Gavin, adiknya Dominic Alexsie! Pria muda yang waktu itu Papa ceritakan di meja makan, yang berhasil mengamankan pendanaan seri A senilai puluhan miliar di umur yang sangat muda!"

Jedarrr!

Bukan hanya Ibu Aruna dan Bagas yang merasa seperti tersengat listrik tegangan tinggi, tetapi seluruh pertahanan mental Aruna runtuh seketika saat itu juga.

Aruna menatap Gavin dari samping dengan pandangan tidak percaya yang luar biasa pekat. Jadi, selain memegang rahasia tentang penolakan kakaknya di meja makan aliansi, Gavin ternyata sudah lebih dulu dikenal, dikagumi, dan divalidasi oleh ayahnya sendiri dalam dunia bisnis kelas atas?

Rencana darurat kerja sama yang awalnya Aruna pikir bisa ia kendalikan, kini resmi berubah menjadi bumerang raksasa yang mengunci mati posisinya. Aruna tidak bisa mendepak Gavin begitu saja setelah malam ini, karena ayahnya jelas sudah jatuh hati pada profil pemuda ini.

Gavin melirik Aruna dari sudut matanya yang tajam. Ia sengaja melempar senyum miring asimetris penuh kemenangan yang seolah berbisik langsung ke indra pendengaran Aruna

Rencana daruratmu resmi gagal total, Kak Aruna. Kamu terjebak bersamaku.'

Di sudut lain, Bagas berdiri kaku di samping sofa seperti patung selamat datang yang malang. Seluruh lencana kementerian, jabatan PNS, dan seragam batik kebanggaannya mendadak kehilangan seluruh wibawa dan harga dirinya seiring tawa renyah Fiki yang terus mengalir memuji kejeniusan Gavin.Bagas berulang kali berdeham keras,

"Ehem... Om Fiki... ehem..."

Ia mencoba memotong obrolan kelas kakap antara penguasa hiburan malam dan pebisnis muda digital yang sekaligus adik dari sindikat nomor satu tersebut. Namun, usahanya diabaikan secara konsisten dan kejam. Fiki bahkan tidak menoleh sedetik pun ke arahnya, seolah-olah Bagas hanyalah partikel debu tak kasat mata di ruang tamu itu.

Sadar posisinya sudah tenggelam tanpa sisa dan hanya menjadi pajangan canggung yang memalukan, Bagas akhirnya menyerah. Wajahnya berubah merah padam keunguan, menahan kombinasi rasa malu yang membakar dada dan harga diri yang hancur berkeping-keping.

"Uh... Om Fiki, Tante..." Bagas akhirnya nekat memotong pembicaraan dengan suara yang sengaja dikeraskan, meski nada bicaranya terdengar agak bergetar menahan malu.

"Karena hari sudah semakin sore, dan sepertinya keluarga Om sedang kedatangan tamu penting, saya... izin pamit pulang dulu."

Fiki akhirnya menoleh. Namun, pria paruh baya itu hanya memberikan anggukan kilat tanpa minat yang berarti.

"Oh, iya, iya. Silakan, Bagas. Terima kasih sudah mampir, ya. Salam buat bapakmu."

"Iya, Om. Mari, Mbak Aruna... Mas Gavin," ucap Bagas ketus. Ia sengaja mengabaikan Evan yang sejak tadi sudah bersembunyi di balik vas bunga besar di sudut ruangan sambil menahan tawa sampai pundaknya terguncang.

Gavin menegakkan tubuhnya yang atletis. Ia mengulas senyum ramah yang justru terlihat sangat mengintimidasi dan penuh dominasi bagi Bagas.

"Hati-hati di jalan, Mas Bagas. Semoga dinas kementeriannya lancar terus, ya."

Kalimat Gavin terdengar seperti pukulan telak terakhir yang meremukkan sisa-sisa harga diri Bagas. Tanpa menunggu lebih lama, pria PNS itu berbalik dengan langkah tergesa-gesa. Ia bahkan nyaris tersandung kaki meja kopi sebelum akhirnya melesat cepat keluar dari pintu utama rumah.

Tidak lama kemudian, suara deru mobil sedan putih miliknya yang melaju kencang meninggalkan kompleks terdengar seperti suara pelarian yang sangat menyedihkan.

Begitu pintu depan tertutup rapat, pertahanan Evan runtuh. Tawanya langsung pecah memenuhi seisi ruang tamu.

"Hahaha! Mampus! Vin, lo beneran pawang mas-mas narsis! Mukanya tadi udah kayak kesemek busuk, anjir!"

Aruna hanya bisa menghela napas panjang. Ia melirik Gavin yang kini kembali menyandarkan tubuhnya di sofa dengan gaya santai, seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan yang tidak menguras tenaga sama sekali. Target pertama mereka memang telah lenyap, namun Aruna tahu ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai saat ayahnya kembali menatap mereka dengan mata berbinar penuh tuntutan bisnis.

Di sisi lain, Inda menarik napas dalam-dalam. Senyum semringahnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan dalam di dahi. Sebagai seorang ibu yang tajam, nalurinya menangkap satu keganjilan besar yang sejak tadi sengaja diabaikan oleh suami dan keponakannya. Ia menatap Gavin lekat-lekat, meneliti kulit wajah pemuda itu yang terlalu mulus dan pancaran matanya yang, meski sangat karismatik, masih menyisakan gejolak khas anak muda.

"Tunggu, Papa," potong Inda, mengangkat tangan kanannya untuk menghentikan Fiki yang baru saja mau membuka obrolan bisnis baru mengenai ekspansi pelabuhan dengan Gavin.

"Mama akui Nak Gavin ini hebat, tampan, dan sangat sopan. Tapi ada satu hal yang mengganjal di otak Mama sejak dia masuk ke rumah ini."

Aruna seketika menegakkan punggungnya yang kaku. Jantungnya serasa berhenti berdetak di tempat. Ini dia. Bom waktu yang paling ia takuti sejak masuk tadi akhirnya mulai berdetik nyaring di depan matanya.

Inda beralih menatap Aruna sekilas, lalu kembali mengunci pandangannya pada Gavin.

"Nak Gavin, tadi kalau Mama tidak salah dengar, Papa bilang kamu baru saja menyelesaikan pendanaan seri A saat masih kuliah? Berarti... sekarang kamu umur berapa?"

Hening seketika melanda ruang tamu mewah itu. Evan yang tadinya masih tertawa sisa-sisa humor langsung bungkam seketika. Ia melirik Gavin dengan pandangan waswas yang sangat ketara.

Aruna sudah membuka mulutnya, otaknya yang perfeksionis bekerja cepat bersiap merakit kebohongan baru untuk mendongkrak usia Gavin menjadi 26 atau 27 tahun agar terdengar masuk akal. Namun, Gavin justru bersikap jauh lebih jantan. Pemuda itu tidak gentar sama sekali. Dengan senyum tenang yang tampak sangat tulus, ia menatap langsung ke dalam netra Ibu Aruna.

"Usia saya sembilan belas tahun, Tante," jawab Gavin jujur tanpa ada satu pun nada ragu di suaranya yang bariton.

"Sembilan belas tahun?!" Inda hampir saja memekik. Tangannya refleks menepuk dada karena syok yang teramat sangat.

"Astaga, Aruna! Kamu ini bagaimana, sih? Umur kamu itu sudah dua puluh lima tahun! Kamu terpaut enam tahun lebih tua dari Nak Gavin! Dia ini... dia ini masih sangat muda, masih anak kuliahan, Aruna! Bahkan sama Ethan dan evan lebih tua mereka! Kamu mau merusak anak orang lain?"

Aruna langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajahnya yang berstruktur dewi itu kini memerah padam, bercampur antara rasa malu dan panik yang luar biasa. Di dalam hatinya, ia sudah mengutuk Gavin habis-habisan karena terlalu jujur di waktu yang salah.

Rencana darurat mereka resmi hancur berantakan.Tetapi, tepat saat Inda hendak menceramahi anaknya lebih panjang lebar, suara dehaman berat dari Fiki seketika memotong atmosfer tegang di ruangan itu.

"Mama, sudahlah. Jangan kuno," ujar Fiki dengan nada suara yang sangat tenang namun tidak menerima bantahan sedikit pun. Ia mengibaskan tangannya di udara, menganggap protes istrinya sebagai angin lalu.

"Tapi, Pa! Umurnya itu..."

"Memangnya kenapa kalau usianya sembilan belas tahun?" potong Fiki tegas, menatap istrinya dengan pandangan lurus.

"Zaman sekarang, kedewasaan seorang pria itu diukur dari tanggung jawab dan cara berpikirnya, bukan dari angka di KTP. Banyak pria umur tiga puluh tahun di luar sana yang pikirannya masih seperti anak-anak, cuma bisa mengandalkan harta orang tua atau jabatan dinas yang kaku."Fiki menghela napas sejenak, lalu memberikan argumen telak.

"Toh Khanza ( sahabat sekaligus kaka angkat inda ) dan Zaviar ( sahabat fiki, ayah dari Narendra Mahesa ) juga begitu, kan? Lebih tua Khanza enam tahun."

Inda merengut, mencoba membela diri.

"Tapi Papa, dulu Zaviar mengejar Khanza pas umur dia sudah dua puluh dua tahun!"

"Bedanya apa? Tetap saja ujung-ujungnya umur mereka beda enam tahun, bukan? Dulu waktu mereka dekat, kamu yang berdiri di garda terdepan mendukung mereka. Kenapa sekarang anak kandung kamu sendiri pacaran dengan yang lebih muda, kamu malah protes? Bukankah ini keinginan kamu sejak awal, melihat anak perempuanmu memiliki kekasih?" ucap Fiki telak.

Inda langsung terdiam seribu bahasa, hanya bisa mencerna ucapan suaminya dengan wajah masam namun tidak bisa membantah logika tersebut.Fiki kemudian kembali menoleh ke arah Gavin, menatap pemuda 187 cm itu dengan binar mata penuh kekaguman seorang pebisnis senior.

"Gavin ini di usia sembilan belas tahun sudah bisa memimpin puluhan karyawan, mengamankan investasi besar bernilai puluhan miliar, dan punya visi masa depan yang jelas di dunia digital. Jangankan menjadi pacar Aruna, menjadi menantu di rumah ini pun Papa tidak akan keberatan sedikit pun!"

Jedarrr!

Kali ini, Evan tersedak mendengan ucapan Pamannya itu dan giliran Aruna yang merasa sel-sel di otaknya benar-benar meledak.

Menantu?! Ayahnya baru saja memberikan restu karpet merah, lengkap dengan jalur VIP, untuk seorang berondong yang baru semalam melakukan one night stand dengannya di apartemen?

Gavin yang mendengar pembelaan mutlak dan restu instan dari Fiki langsung menyembunyikan senyum miring penuh kemenangan ke arah Aruna. Di bawah meja kaca yang tertutup dari pandangan kedua orang tuanya, ujung sepatu mahal Gavin sengaja menyenggol pelan sepatu hak tinggi milik Aruna.

Gavin meliriknya dari sudut mata phoenix-nya yang intens, seolah sedang memberi kode rahasia yang sangat menyebalkan

'Gimana, Kak Aruna? Kerja sama darurat kita kayaknya bakal berlanjut sampai ke pelaminan, nih.'

***

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!