Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Bab 13: Ikatan yang Disempurnakan
Sore itu, suasana di halaman rumah Pak Joko semakin ramai oleh warga yang berbondong-bondong.
Mereka ingin menyaksikan acara tersebut,
Sekaligus penasaran dengan sosok Arga,
"Aku kayaknya nya pernah lihat pria itu, tapi di mana yah?"
"Oh iya, aku pernah lihat di hape. Dia itu pebisnis besar, banyak berita nya di toktok" Ujar beberapa warga.
"Owalahhh... Beruntung banget yah, Diana!" Ujar warga yang lain
Matahari mulai condong ke barat,
menyinari seluruh penjuru desa dengan cahaya keemasan.
Bapak Modin,
Tokoh agama di kampung itu,
Datang bersama dua orang saksi dan beberapa pejabat desa yang diundang untuk menyaksikan prosesi ijab qobul.
Semua warga yang hadir tak henti-hentinya memandang Arga dengan tatapan kagum.
Mulai dari penampilannya yang rapi dan berwibawa,
hingga mobil mewah yang terparkir rapi di depan rumah,
menjadi bahan perbincangan hangat mereka.
“Kok bisa yah anaknya pak Joko itu punya suami sukses, mana baik lagi, gak sombong orangnya,” ujar seorang ibu-ibu sambil mengangguk-angguk takjub.
“Bener bu. Kalau dilihat dari sikapnya, dia bukan orang sembarangan. Aura wibawanya saja sudah terasa meski dia hanya diam saja,” tambah warga lain.
Pujian-pujian itu membuat hati Pak Joko dan Bu Lestari merasa sangat bangga.
Namun, di antara keramaian itu,
ada juga orang yang iri dan julid.
Merasa tidak senang melihat kebahagiaan keluarga orang lain.
“Sombong banget. Baru dapat suami kaya, langsung dipamerin. Siapa tahu Diana itu cuma dimanfaatin,” bisik seorang wanita paruh baya bernama Bu Intan,
Bu intan memang dikenal suka memandang rendah orang lain. Dia adalah istri dari juragan tanah.
Suaranya tidak terlalu keras, tetapi cukup terdengar oleh Arga yang sedang berdiri tidak jauh dari Bu intan.
Dasar orang aneh, ternyata di mana-mana ada aja orang julid. Batin Arga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya
Awalnya Arga hanya mengabaikannya, berusaha bersabar dan tidak ingin merusak suasana sakral hari itu.
Tapi, omongan wanita itu terus berlanjut dan makin menyebar ke telinga warga lain.
“Bisa aja pria itu udah punya istri di kota, terus cuma jadikan Diana sebagai simpanan. Lihat saja perbedaan usianya yang jauh, mana mungkin benar-benar serius?” ucapnya lagi dengan nada sinis.
Mendengar itu, raut wajah Arga perlahan berubah.
Kesabarannya mulai mendekati batas.
Ia melangkah mendekat dengan tenang,
namun setiap langkahnya memancarkan aura yang begitu kuat dan menekan,
membuat orang-orang di sekitarnya terdiam seketika.
Arga menatap Bu intan dengan tatapan yang tajam penuh tekanan,
Arga berkata dengan tenang, tanpa berteriak atau emosi.
“Maaf, Bu. Kalau Ibu memiliki pendapat, sebaiknya dipendam saja jika itu hanya dugaan tanpa bukti.
Pernikahan kami sudah tercatat secara resmi di negara,
dan hari ini akan disempurnakan menurut ajaran agama.
Tidak ada satu pun yang disembunyikan atau dilakukan secara sembarangan,” ujar Arga dengan suara tegas namun terkontrol.
Semua mata tertuju padanya. Suasana menjadi hening seketika.
Diana ingin menghampiri, tetapi tangannya di cekal oleh pak Joko
"Biarkan Nak Arga yang menyelesaikannya, Nduk. Bapak yakin, Nak Arga itu orang berpendidikan, tidak akan mudah terpancing emosi" Bisik Pak Joko pada Diana
Diana pun akhirnya duduk kembali dan hanya melihat, tetapi tetap saja, hatinya gelisah.
Kembali lagi pada Arga, dia masih berbicara dengan tenang dan tanpa beban.
“Perbedaan usia bukanlah patokan untuk menilai keseriusan seseorang.
Yang terpenting adalah niat baik, tanggung jawab, dan rasa hormat yang kami miliki satu sama lain.
Saya datang ke sini bukan untuk memamerkan harta,
melainkan untuk memohon restu orang tua Diana dan memulai kehidupan baru dengan cara yang benar.
Jika Ibu tidak bisa mendoakan,
setidaknya jangan menyebarkan dugaan yang bisa menimbulkan prasangka buruk,” lanjutnya lagi dengan logika yang sulit dibantah.
Bu intan tertegun.
Ia merasa tertekan melihat tatapan dan wibawa Arga yang membuatnya merasa kecil.
Kata-kata yang ingin ia ucapkan kembali tergantung di tenggorokan.
Rasa takut mulai menyelimuti hatinya.
“Saya… saya hanya mengira-ngira saja, Lagipula, kenapa dadakan sekali. Baru datang langsung melangsungkan ijab qobul, seperti orang yang ham*l duluan” jawabnya terbata-bata,
Tetapi dia masih belum puas dengan segala penghinaan nya.
Meski kakinya sudah gemetar,
Apalagi, tatapan Arga semakin tajam dan membuat aura nya semakin menyeramkan.
"Saya tidak segan untuk membuat anda di penjara, karena sudah menyebarkan fitnah serta mencoreng nama baik istri saya!" Arga berkata dengan penuh tekanan
Tangannya sudah mengepal dan matanya merah menatap Bu intan.
Melihat suasana yang semakin menegang,
Pak Bahri, selaku kepala desa.
Segera mengamankan Situasi, khususnya Bu intan.
Dia segera menghampiri wanita julid itu.
"Bu intan, sebaiknya ibu pulang saja. Jangan menggangguku acaranya pak Joko, ibu ini tidak pernah berubah!" Ujar Pak Bahri, kepalanya menggeleng heran
"Loh, saya ini kan tamu, kenapa di usir. Bapak berani sama saya!" Ujar Bu intan menantang
"Ih dasar julid, gak bisa lihat orang lain senang, udah deh Bu. kehadiran ibu di sini itu cuma bikin kacau. Mending ibu pulang aja!" Ujar warga yang ikut geram
"Betul tuh, bisanya ngomongin orang, tapi gak sadar diri!"
Beberapa warga ikut berkomentar, karena acara yang harusnya terasa penuh haru.
Malah jadi kacau karena ulah Bu intan.
"Jika ibu masih berkenan untuk di sini, sebaiknya jaga ucapan ibu!" Ujar pak Bahri lagi
Dia merasa malu karena sikap salah satu warganya ini,
Tetapi Bu intan juga sudah merasa malu untuk tinggal lebih lama, karena banyak warga yang melihatnya dengan sinis.
"Gak usah ! Saya juga gak sudi lama-lama di sini ! Awas kalian semua !" Ujarnya tidak tau malu , tangannya menunjuk-nunjuk setiap warga yang ada
Lalu dia pergi sambil mendengus dan menghentakkan kakinya.
Setelah wanita itu pergi,
Arga menarik napas panjang dan kembali menetralkan amarahnya.
Jika saja kepalanya bisa keluar asap, mungkin sekarang kepalanya sudah seperti kereta api.
seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia menoleh ke arah Diana dan kedua orang tuanya,
memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja.
"Saya mohon maaf untuk kejadian yang kurang mengenakkan barusan, Pak. Semoga Bapak bisa memakluminya " Ujar pak Bahri pada Arga
Beliau merasa tidak enak hati, karena pak Bahri sangat tau siapa Arga.
Arga tersenyum dan menepuk pundak pak Bahri dengan pelan.
"Tidak apa-apa, Pak. Mari kita lanjutkan acaranya!" Ujar Arga
Pak Modin pun segera memulai prosesi ijab qobul.
Suasana kembali menjadi khusyuk dan sakral.
Dengan suara yang lantang, tegas, dan penuh keyakinan, Arga mengucapkan akadnya. Sekali ucap, langsung sah.
“Sah!” seru semua saksi dan warga yang hadir serentak.
Air mata bahagia menetes di pipi Diana dan kedua orang tuanya.
Alhamdulillah, bolehkah aku meminta kebahagiaan ini untuk selamanya, tuhan. Batin Diana.
Ikatan mereka kini telah sempurna, sah di mata hukum maupun agama.
Setelah prosesi selesai dan doa dipanjatkan,
Arga menyuruh seseorang membawakan kotak-kotak bingkisan yang sudah disiapkan.
Ia membagikannya kepada setiap warga yang hadir, dengan senyum ramah.
“Ini hanya tanda terima kasih saya atas kehadiran dan doa yang Bapak-Ibu berikan untuk kami. Semoga kebaikan ini dibalas berlipat ganda oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar Arga dengan sopan.
"Terimakasih, semoga pernikahan nya langgeng dan segera di berikan momongan" Ujar salah satu warga
Arga dan Diana saling pandang,
Mereka tersenyum dan kembali membagikan bingkisan.
Semua warga menerima dengan gembira dan mengucapkan selamat serta doa terbaik untuk mereka.
Bahkan yang tadinya berprasangka buruk pun kini merasa malu dan ikut mendoakan.
Hari itu berjalan dengan lancar dan penuh kebahagiaan.
Menjelang malam, suasana desa menjadi sunyi dan tenang.
Di dalam kamar yang telah disiapkan khusus untuk mereka, cahaya lampu temaram menerangi ruangan itu.
Diana baru saja selesai membersihkan diri,
Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memainkan ujung bajunya,
Diana masih merasa malu tapi juga bahagia bercampur menjadi satu.
Arga mendekat, duduk di sampingnya, lalu menatap wajah istrinya dengan pandangan lembut namun terlihat sedikit serius.
“Diana,” panggilnya pelan.
Diana menoleh, matanya menatap Arga dengan rasa ingin tahu. “Ya, Mas? Ada apa?”
Arga menarik napas panjang seolah mengumpulkan keberanian, lalu berkata dengan nada yang tenang namun tegas.
"Aku... Ingin mengatakan sesuatu !" Ujar Arga
Mendengar kalimat itu, jantung Diana berdegup sedikit lebih kencang.
Ia mengangguk pelan, siap mendengarkan apa pun yang ingin disampaikan suaminya.
“Mas mau bicara apa ?,” jawabnya lembut.
Arga sedikit ragu, dia duduk membelakangi Diana, tangannya sedikit gemetar.
"Tentang... Kontrak satu tahun pernikahan kita," Kata Arga pelan
Diana merasa dadanya sesak seketika, dia sudah berpikiran macam-macam.
"Mas Arga... Berubah pikiran? Apa Mas menyesal menikah denganku?" Tanya nya lirih