Mengisahkan tentang dua orang anak kembar yang memilki dunia yang sama. Karena sejak kecil mereka memang tidak pernah terpisahkan.
Rean Arya Partama, kakak dari Sean Kingston yang terkenal sebagai dokter playboy, padahal dirinya bahkan tidak pernah berpacaran sebelumnya. Sosok hangat yang selalu menjadi partner terbaik dalam hidup adik kembarnya, Sean.
Sean Aryo Pratama, seorang dokter muda yang memiliki kesabaran seluar lautan, namun berubah menjadi dingin saat sebuah kecelakaan merenggut seluruh masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 29
Tidak! Embun tidak bisa menunggunya lebih lama lagi. Malam itu juga dia harus menyelesaikan masalah ini.
Dia pergi ke rumah yang pernah dia tempati bersama mama dan papanya dulu. Tapi semenjak perceraian kedua orang tuanya, mereka memilih pergi dari sana.
"Non Embun, nyari bapak?" tanya satpam rumahnya saat melihat kedatangan dirinya.
"Mereka ada di rumah mang?" tanya Embun membuat laki-laki dewasa itu mengangguk.
Embun langsung masuk tanpa memberi salam lebih dulu.
"Keluar kalian!!!" teriak Embun di bawah membuat ibu dan anak itu terkejut melihat kedatangannya.
Mau apa anak mantan suaminya itu datang ke rumah mereka malam-malam begini?
Tatapan wanita itu terlihat tidak ramah atas kedatangannya, dan dia tidak peduli sama sekali.
"Malam-malam datang ke rumah orang, tanpa permisi dan teriak-teriak." ucap wanita itu tidak suka atas kedatangan Embun.
"Perlu ku ingatkan satu hal, jika aku adalah anak satu-satunya dari suami anda! jadi rumah yang anda tempati ini adalah milikku!" ucap Embun dengan penuh kesombongan.
"Kamu!" tunjuk Embun pada anak dari istri papanya itu. Bahkan menyebut namanya saja dia sangat enggan. Tapi karena permasalahan ini melibatkan dirinya, Embun harus menyelesaikan semuanya.
"Jangan macam-macam kamu ya!" sentak wanita bernama Regina itu, istri kedua papanya.
"Kenapa? Selama ini aku selalu diam saat kalian menyabotase papa. Aku heran, bagaimana bisa papa melihara keluarga ular seperti kalian?"
plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Embun, membuatnya meringis kesakitan.
"Jaga omongan kamu Embun! Dasar anak perempuan arogan. Ibu dan anak sama-sama arogan!" tidak terima ibunya di hina, membuat Embun langsung memberontak saat itu juga.
Dia baru saja hendak membalas wanita itu, tapi suara papanya sudah menggelegar lebih dulu.
"Embun!!!" seru Wijayanto membuat tangan Embun mengambang di udara.
Melihat suaminya datang, membuat Regina langsung bereaksi. Dia melancarkan aksinya seperti biasa.
"Apa yang kamu lakukan, Embun?" tanya papanya emosi.
"Kenapa? papa mau marahin aku kayak biasanya? Mau belain perempuan ular ini lagi?"
"Embun!!! Jaga bicara kamu!" sentak papanya membuat Embun tersenyum hambar disana.
"Kamu benar-benar sudah keterlaluan. Bagaimana bisa kamu mau menampar istri papa?"
"Pa! seharusnya papa tanya dulu apa yang terjadi. Anak istri papa ini udah buat kesalahan besar. Aku harus menanggung kebencian seseorang karena perbuatannya!" ucap Embun frustrasi menghadapi keluarga toxic ini.
"Apa maksud kamu?" tanya papanya tidak mengerti.
"Pa, Rere gak ngerti apa yang di maksud Embun." ucapnya yang belum mengerti.
"Jangan pura-pura bodoh kamu!" sentak Embun mendorong tubuh Rere hingga terjatuh membuat papanya kembali marah.
"Embun!"
"Pa! Seharusnya papa tanya dulu apa yang terjadi! Papa masih belaian dia dari pada putri kandung papa sendiri? Pernah gak sih pa, sekali aja papa sayang sama aku? pernah gak sih papa khawatir sama aku?" ucapnya dengan dada yang terasa sesak.
Bibirnya bergetar, kedua tangannya terkepal erat melihat pembelaan papanya terhadap Rere.
"Pa, Rere gak apa-apa kok. Mungkin Embun gak sengaja dorong Rere."
"Lihat, Rere bahkan menganggap ini tidak sengaja."
"Papa stop! mereka benar-benar keluarga ular pa! mereka itu udah ngeracuni otak papa! Mereka itu orang jahat pa, mereka cuma mau uang papa doang! Mereka itu jahat pa! mereka jahat!" seru Embun meluapkan kekesalan hatinya selama ini.
"Embun!!!" sentak papanya yang sudah mengayunkan tangannya ke udara.
Embun langsung reflek memejamkan matanya saat melihat tangan papanya terayun ke arahnya.
Air matanya jatuh, siap menerima pukulan dari papanya. Dia benar-benar kecewa sama papanya.
"Embun?" ucap papanya melembut melihat putrinya ketakutan begitu.
"Aku benci sama papa! Aku benci sama papa! Aku benci papa!!!"
"Dan kamu!" tunjuknya pada Rere lagi.
"Aku akan membalas mu! Jika setelah ini aku mendengar kau menyamar menjadi aku lagi, akan ku buat kamu benar-benar menyesal! Ingat itu!" ucapnya penuh ancaman pada Rere.
Embun hendak meninggalkan rumah papanya, namun dengan cepat papanya menarik tangan Embun dan menghentikannya.
"Embun, tunggu dulu sayang. Papa -"
"Stop, pura-pura sayang sama Embun, Pa! Embun capek, Embun benar-benar capek, Pa! Embun capek harus jelasin sama papa kalau Embun gak salah. Bahkan karena mereka, papa mau nampar anak kandung papa sendiri? Apa papa tau apa yang dia lakukan di luar sana?" tanya Embun berlinang air mata.
Sakit sekali hatinya saat ini. Dia tidak percaya jika papanya bahkan lebih mempercayai wanita itu dari pada dirinya.
"Dia pa, anak perempuan itu pura-pura jadi Embun dan berbohong pada orang lain! Gak tau seberapa banyak kebohongannya di luar sana atas nama Embun. Yang jelas Embun gak akan tinggal diam! Embun akan balas mereka, walau papa yang jadi penghalangnya! Embun akan balas mereka Pa! Embun akan balas!" ucap Embun sebelum pergi meninggalkan rumah papanya.
***
jevan lho up sn... kok trs di tgl kn
eee jevan noh