NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Senjata Pembunuh Sungguhan

Bau zat kimia di laboratorium kampus menusuk hidung Savira saat ia menatap tabung reaksi di bawah mikroskop.

Udara dingin ruangan steril itu menggigit permukaan kulit lengannya secara konstan. Hawa beku pendingin ruangan berpadu dengan kelembapan sisa badai dari luar jendela. Savira mengabaikan rasa gigil yang mencoba merayap ke tulang punggungnya.

Ibu jari dan telunjuknya memutar lensa objektif mikroskop secara perlahan. Ia memfokuskan pandangannya pada sampel cairan keemasan dari produk kosmetik terbaru Dharma Group.

Tetesan cairan reagen yang baru saja ia campurkan mulai bereaksi. Gelembung-gelembung mikro terbentuk agresif di dasar kaca preparat, memancarkan pendaran warna ungu pekat.

Kemarin, ia menggantungkan strategi perangnya pada ingatan masa lalu. Cheat code berupa rentetan peristiwa masa depan itu memberinya rasa aman yang semu. Kini, garis waktu telah berkhianat dan menghancurkan kompas navigasinya.

Savira mendecih pelan. Ia menelan sisa rasa manis permen stroberi di mulutnya hingga tandas.

Rasa panik yang sempat mencekiknya di perpustakaan tadi telah menguap tak bersisa. Ia menyadari satu fakta absolut malam ini. Kejeniusan ini adalah miliknya seutuhnya, bukan hadiah dari takdir atau sisa belas kasihan Wijaya Dharma.

Otak di dalam tengkoraknya adalah senjata pembunuh sungguhan yang tidak akan pernah mengalami kedaluwarsa.

Aaron Jayanegara berdiri bersandar pada meja tahan karat di sudut ruangan. Pria raksasa itu telah menanggalkan jas basahnya, hanya menyisakan kemeja hitam yang melekat ketat mencetak otot dada bidangnya.

Mata elang Aaron mengunci setiap pergerakan tangan Savira. Pria itu menahan napasnya, menolak mengeluarkan suara sekecil apa pun yang bisa merusak konsentrasi sekutunya.

Ia membiarkan Savira menjadi penguasa tunggal di dalam laboratorium berpenerangan putih ini. Insting posesif Aaron malam ini mereda, berganti bentuk menjadi pengawasan bisu yang teramat solid.

Savira memindahkan pandangannya dari lensa mikroskop. Ia mengambil botol kosmetik berikutnya dengan tangan terbalut sarung tangan lateks.

Ia memecahkan segel emas botol itu menggunakan pisau bedah kecil berujung tajam. Bunyi pecahan kaca halus beradu nyaring dengan desingan mesin sentrifugal di sudut ruangan.

Ia meneteskan cairan kosmetik mewah itu ke dalam tabung reaksi yang kosong. Bau parfum bunga buatan yang teramat kuat langsung menguar liar ke udara. Bau wangi yang sangat menyengat ini sukses membuat ujung hidung Savira berkerut jijik.

"Ada ribuan senyawa kimia dalam produk kecantikan," suara bariton Aaron memecah keheningan dengan sangat hati-hati. "Bagaimana kau tahu bagian mana yang harus dibedah tanpa membuang waktu berminggu-minggu?"

Savira tidak menoleh. Ia mengambil pipet kaca panjang dari rak sterilisasi.

"Logika deduktif," jawab Savira singkat dan dingin. "Wijaya Dharma memotong anggaran produksi hingga empat puluh persen demi mendanai percepatan peluncuran ini. Sosiopat itu pasti memangkas biaya pada elemen pengawet."

Langkah kaki Aaron terdengar berketuk pelan mendekati meja kerja baja tersebut. Suhu panas dari tubuh besar pria itu bergesekan dengan udara dingin di sekitar Savira.

"Pengawet murah yang mampu menahan tekstur cairan selama bertahun-tahun di suhu ruang." Aaron bergumam pelan, mencoba mengikuti alur pikiran liar gadis jenius di depannya.

Savira menyuntikkan larutan asam sulfat encer ke dalam tabung reaksi berisi cairan kosmetik itu.

Reaksi kimiawi seketika terjadi dengan sangat brutal. Asap tipis mengepul ke udara, membawa bau belerang kotor yang menusuk langsung ke kerongkongan. Cairan keemasan yang semula tampak mewah itu mendadak berubah warna menjadi hitam pekat dan berlendir tebal.

"Ini bukan sekadar kosmetik, Aaron," desis Savira. Ujung bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyum kepuasan yang luar biasa mematikan.

Aaron memajukan wajahnya, menatap cairan hitam menjijikkan itu dengan rahang yang mengeras kaku.

"Mereka menggunakan campuran logam berat dan pengawet industri kelas bawah," jelas Savira tajam. Matanya berkilat buas menatap hasil karyanya. "Kadar racun korosif di dalam botol ini sepuluh kali lipat melampaui ambang batas aman untuk sel kulit manusia."

"Bahan ini akan memicu nekrosis jaringan kulit jika dipakai secara rutin." Suara Aaron berubah menjadi geraman marah yang tertahan.

"Tepat sekali." Savira melepaskan sarung tangan lateksnya dengan bunyi jepretan karet yang nyaring.

Ia melempar sarung tangan kotor itu ke dalam tong sampah limbah medis. Matanya menatap botol-botol kemasan mewah milik Dharma Group dengan tatapan penuh penghinaan.

"Wijaya menutupi bau busuk kimiawinya menggunakan parfum sintetis berdosis sangat tinggi," ucap Savira datar. "Ayahku menukar nyawa dan kesehatan ratusan ribu konsumen dengan margin laba yang gila-gilaan."

Rasa puas yang luar biasa pekat membanjiri rongga dada Savira. Darahnya berdesir panas oleh adrenalin kemenangan murni yang baru saja ia raih.

Ia berhasil membongkar jantung kebusukan kerajaan Dharma Group malam ini. Ia melakukan semuanya secara mandiri, tanpa perlu bersandar pada contekan ingatan masa depannya.

Ini adalah bukti validasi mutlak. Ia tidak butuh senyuman ayahnya untuk memiliki harga diri. Ia adalah predator puncak yang jauh lebih berbahaya dari monster yang membuangnya.

"Jika puluhan ribu botol ini lolos ke pasaran besok pagi, ini bukan lagi pelanggaran bisnis," kata Aaron dengan suara berat. Insting membunuh pria itu kembali menyala terang di dalam manik hitamnya. "Ini adalah kejahatan kemanusiaan yang disengaja."

"Dan Nadia adalah wajah utama dari kejahatan ini," timpal Savira tanpa menyisakan sedikit pun celah untuk rasa kasihan.

Gadis tiruan itu telah bersikap angkuh dan mengklaim proyek ini sebagai karya agungnya. Nadia dengan sangat sombong menyatakan bahwa dirinya adalah putri pembawa keberuntungan bagi keluarga Dharma.

Esok hari, ilusi keberuntungan itu akan berubah menjadi jerat tali yang mencekik leher Nadia di hadapan jutaan mata publik.

Savira membalikkan badannya menghadap Aaron. Aroma melati dari kulit lehernya menguar tipis, berhasil mengalahkan bau asam memualkan di dalam laboratorium tersebut.

"Aku butuh kau mengamankan hasil uji lab ini sekarang juga," perintah Savira dengan otoritas penuh. "Sistem keamanan pangkalan data kampus ini terlalu rentan. Anjing pelacak siber milik Wijaya bisa meretasnya dalam hitungan jam setelah matahari terbit."

"Server induk pribadiku akan mengunci data ini dengan enkripsi lapis militer." Aaron menyetujui komando itu tanpa ragu sedetik pun.

Pria itu menatap mata kelam Savira lekat-lekat, memberikan rasa hormat absolut pada jenderal perangnya. "Gunakan komputer utama. Aku akan menautkan jaringan amannya ke sistemmu sekarang."

Savira melangkah tegap menuju meja komputer. Layar monitor besar menyala terang menyambut kedatangannya.

Jari-jari lentiknya langsung menari cepat di atas papan ketik. Ia memasukkan rentetan data kimiawi, struktur molekul racun, dan grafik reaksi yang baru saja ia bongkar dari bawah lensa mikroskop.

Suara ketukan tombol terdengar ritmis dan teratur. Bunyi itu menyerupai melodi eksekusi mati yang sengaja ia ciptakan khusus untuk menghancurkan Wijaya Dharma.

Dalam hitungan menit, sebuah laporan komprehensif tercipta sempurna. Laporan itu berisi rincian bukti ilmiah tentang racun mematikan yang bersembunyi di balik kilau botol emas kosmetik Dharma Group.

Savira memasukkan diska lepas miliknya ke dalam celah komputer. Ia menekan tombol simpan dengan tekanan yang sangat kuat.

Layar monitor berkedip hijau, menampilkan baris indikator perpindahan data. Proses transfer bukti kejahatan itu berjalan lancar dan selesai tanpa hambatan.

Savira mencabut logam penyimpan data itu dengan gerakan mantap. Sensasi dingin dan padat dari diska lepas tersebut terasa sangat memuaskan di ujung telunjuknya.

"Ini adalah hulu ledak nuklir kita," ucap Savira pelan. Ia menggenggam benda kecil itu kuat-kuat tepat di depan dadanya.

Aaron menatap gadis itu dari ujung ruangan. Kekaguman gelap bercampur obsesi yang pekat memancar bebas dari sorot mata pria tersebut. Kejeniusan murni Savira malam ini terbukti jauh lebih mematikan daripada senjata militer mana pun.

"Kita harus segera keluar dari area kampus ini." Aaron menilik jam tangan mewahnya yang memantulkan pendaran cahaya biru. "Waktu kita tersisa kurang dari empat jam sebelum pasar bursa dibuka dan Wijaya meresmikan peluncurannya."

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!