"Ya Allah ... tolong izinkan abah lebaran sekali lagi."
Doa seorang anak di tengah kesunyian malam. Tak banyak yang dia inginkan untuk lebaran kali ini, hanya kebersamaan dengan Abah saja yang dipintanya.
Nur, seorang anak kecil dari keluarga sederhana yang tak banyak mengeluh. Kehidupan yang sulit tak menjadikan Nur menjadi anak yang murung. Ia tetap percaya diri pergi ke sekolah meksipun sepatunya telah rusak.
Kisah sebuah keluarga sederhana di era 90-an. Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abah Baik-baik Saja
Sepeninggal abah ke rumah sakit, aku tak ingin bermain. Duduk tenang di depan kotak tak berwarna bersama Aceng. Tak ingin rasanya kaki ini melangkah keluar dari rumah. Jadilah, aku dan Aceng duduk bersemedi di sini.
"Nur ... main yuk!" Sebuah seruan dari luar bagai es orson yang melambai-lambai ingin kuteguk.
Osron adalah sejenis sirup, tapi encer. Tak perlu tambah air karena itu tidak seperti sirup.
Aku menoleh dan mendapati Puji di depan rumah, wajahnya menempel pada jendela kaca mengintip aku dari luar.
Puji membuka pintu tanpa membawa masuk serta tubuhnya. Di tangannya memegang karet gelang yang dijalin sehingga membuatnya seperti tali.
"Main karet?" tanyaku, dia hanya mengangguk dengan garis bibir melengkung ke atas. Aku menimbang ragu, antara malas keluar dan asiknya main di luar.
"Hayu!" sahutku seraya beranjak berdiri dan berjalan keluar.
"Aceng ikut!" teriak Aceng. Kulirik dia baru saja mematikan benda kotak itu. Aku keluar bersama Aceng dan bergabung dengan teman yang lainnya.
"Ih, udah ngumpul aja," kataku sembari duduk di batu besar pinggir jalan. Ada kelompok laki-laki yang sedang bermain kelereng di bagian lain.
"Hayu, main apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Sempring, yuk!" sahut temanku yang lain.
"Sempring?" beoku sedikit mengernyit. Seru sih, tapi kurang menantang menurutku. Aku menggeleng.
"Terus main apa, dong?" tanyanya sedikit cemberut. Ingin kukuncir saja bibirnya yang mengerucut lucu itu menggunakan karet. Aku terkekeh saat membayangkannya.
"Main yeye aja, yuk!" kataku final. Mereka mengangguk setuju. Kami berdiri dan bersiap melakukan hompipah.
"Hompipah alaihum gambreng, mak Ipah pake baju rombeng!" ucap kami bersamaan untuk mencari pemain pertama dan kedua. Kami melakukan hompipah dua kali. Dua orang yang bermain pertama sudah aman.
Dua orang lainnya akan berjaga setelah melakukan suit jari yang akan menentukan siapa yang menjadi pemain ketiga dan keempat.
Aku menjadi yang ketiga. Jadi aku yang akan berjaga memegangi tali. Kami bermain di depan rumah Puji. Ada juga kelompok lain yang sedang bermain seperti kami.
Puji yang mendapat giliran main pertama mulai bermain. Kuletakkan untaian karet di atas tanah. Puji memulai bacaan mainnya.
"Ajinamoto cap mangkok merah!" Kaki yang melompat secara zig-zag tak boleh menyentuh karet sampai bacaan itu selesai. Jika tersentuh, maka dia akan berjaga dan aku bermain.
"Baturan aja, yuk!" seru Puji setelah menyelesaikan permainan tahap pertama dari yeye.
"Hayu!" kataku setuju. Jadilah kami main baturan. Kami kembali melakukan hompipah dengan lagam yang lain.
"Baturan, jangan suka marah kalau marah ... udahan!" Begitu bunyinya hingga mendapatkan pasangan masing-masing.
Artinya bermain berpasang-pasangan dan saling membela. Jika salah satu kalah, maka temannya boleh menggantikan dia bermain. Setelah kedua-duanya kalah, barulah kami akan bergantian. Aku di tim yang kalah lagi.
Biasanya lawan akan kalah di tahap ketiga dalam permainan yeye ini. Setelah melewati karet setinggi jengkal di tanah, karet akan dinaikkan ke lutut. Mereka harus berdiri dengan satu kaki, lalu melompati karet menggunakan satu kaki itu tanpa menyentuh hingga enam kali balik. Aku yakin, mereka akan tumbang di sini. Hehe.
Dan, benar saja mereka kalah di sini. Giliranku bermain, biasanya aku selalu berhasil sampai tahap merdeka. Seperti saat ini. Keseruannya membuatku melupakan tentang sakit abah. Aku bermain dengan asik bersama Puji dan teman-teman.
Permainan yeye harus melewati beberapa tahap untuk mencapai berhasil, dimulai dari karet yang diletakan di atas tanah, lalu di atas jengkal, kemudian di atas lutut, dan di pusar. Kesemua itu karet tidak boleh tersentuh.
Dilanjutkan karet diletakkan di bagian dada, lalu kuping, kepala dan terakhir merdeka. Dengan mengangkat tinggi-tinggi tangan ke udara bersama karet yang berada di ujung jari telunjuk.
Permainannya menggunakan sebelah kaki yang dikaitkan pada karet. Dilakukan sebanyak enam kali kecuali bagian merdeka, hanya satu kali dan boleh sambil koprol. Berdiri dengan tangan di bawah dan kaki si atas. Selesai!
Tak lama suara motor yang berhenti di depan mushola menyita perhatianku. Itu abah yang baru datang dari rumah sakit.
"Udahan, abahku pulang," ucapku seraya berjalan meninggalkan teman-teman dan menghampiri abah.
Kusalami abah yang berjalan mendekati rumah. Ia tersenyum dan terlihat baik-baik saja.
"Mana Aceng?" tanya abah mencari sosok anak laki-lakinya. Aku ikut menoleh dan mencari sosok kecilnya.
"Abah!" Tak lama suara teriakannya terdengar membahana. Di tangannya memegang sepotong kayu kecil dengan ban bekas motor yang diputar sembari berlari bersama temannya.
Abah tersenyum melihat sosok kecil itu berlari dengan ceria. Celana kolornya sudah dipenuhi tanah dan lumpur. Dia pasti main di kubangan air bekas hujan.
Kami berjalan menuju rumah bersama Aceng yang meletakan ban bekas tersebut bersandar di tembok samping rumah.
Mak datang dan menyalami abah. Kami duduk di ruang tengah, tapi Aceng kembali bermain bersama temannya.
"Gimana hasil Rontgennya, Bah?" tanya mak penasaran. Abah mengeluarkan map coklat besar dari balik bajunya. Ia membuka tali map tersebut dan mengeluarkan sebuah gambar berwarna hitam.
"Ini apa, Bah?" tanyaku karena baru pertama ini aku melihat gambar seperti itu.
"Ini hasil Rontgen paru-paru Abah," jawab abah. Ia mengangkat gambar tersebut dan menerawangnya.
"Yang mana paru-paru Abah? Yang kaya asap ini?" tanyaku menunjuk gambar yang seperti asap di dalam gambar tulang.
"Iya," sahut abah. Aku mendongak menatap abah memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.
"Kata dokter, udah mendingan. Asal jangan putus minum obat maka Abah akan sembuh," kata abah lagi menjelaskan hasil diagnosanya.
Aku tidak percaya begitu saja. Kutatap abah secara intens mencari kebenaran dari manik abu-abu miliknya. Senyum yang diulasnya membuatku percaya bahwa abah baik-baik saja.
"Alhamdulillah!" seruku bersamaan dengan mak. Tak pernah kupungkiri hatiku senang mendengarnya, tapi juga ada sedikit sedih yang entah mengapa terselip di bagian hati yang mana?
"Abah mau berangkat aja, 'kan belum dapat THR dari bos. Lumayan, walaupun sedikit bisa kebayar daging buat lebaran," ucap abah tiba-tiba.
Aku menoleh tidak suka, benarkah kondisi abah baik-baik saja. Atau hanya bersembunyi di balik senyum yang terus diulasnya.
"Beneran gak apa-apa, Bah?" tanya mak memastikan.
"Gak apa-apa, kata dokter Abah udah mending dan bisa berangkat kerja. Yang penting jangan lupa minum obatnya," jawab abah tenang.
Mak mendesah pasrah, abah sedikit keras kepala. Tepatnya, ia berpegang pada keputusannya. Mungkin karena abah keturunan Jawa asli. Ya ... abah berasal dari Jawa Tengah. Tepatnya dari Semarang. Sedangkan mak asli dari Rangkasbitung. Keturunan Sunda asli.
"Ya udah, gak apa-apa. Yang penting Abah jangan sampe lupa minum obatnya," sambut mak penuh pengertian.
Mak beranjak untuk menyiapkan baju-baju abah yang akan dibawanya. Memasukkannya ke dalam tas slempang bergambar burung Garuda.
Rupanya, tukang ojek itu masih ada di depan mushola. Menunggu abah yang akan pergi lagi ke stasiun untuk pergi ke Jakarta.
"Abah berangkat, ya," katanya sembari mengusap rambutku dan mencium pucuk kepalaku.
"Ceng!" Abah memanggil Aceng. Bocah gembil itu datang berlari menghampiri kami. Kami bergantian menyalami abah dan memberikan satu ciuman di pipi.
Sampai abah menghilang di belokan aku masih bergeming di tempatku berdiri. Enggan beranjak dari sana. Entah. Rasanya jalanan yang dilalui abah terasa meninggalkan jejak kenangan. Ya Allah lindungi abahku di mana pun berada.
Rela tidak beli baju baru mendahulukan keinginan anak2nya.
Ah,sungguh indah masa dulu ya author.
Dan aq skrg ngalamin ngedahulukan keinginan anak dan aku mengerti skrg gmn perasaan orgtua hanya utk melihat anaknya tersenyum tulus ketika ngucapkan kata2 "Terimakasih" dan memeluk kita.
Baru tau setelah punya anak itu namanya celana mambo.. hehehe
dan sangat bermanfaat sekali
untuk saya Thor
👍👍🤩🤩🤩🤩🤩
malahan kebalik beliau yang sering kasih uang ke aku kalau datang ke rumah
katanya, ini buat jajan cucu2nya
Alhamdulillah saya juga masih belajar pakai hijab
padahal anak udah 3😥