Jasmine Elnora Brown, seorang pelukis yang menyukai hal sederhana dan tidak rumit harus menghadapi sebuah cinta unik dari seorang pria pendiam nan misterius, Edward Maleaki Lendsman. Semua berawal baik, tapi semakin jauh Jasmine melangkah dia akhirnya menyadari bahwa dia tidak hanya menghadapi satu sisi pribadi saja dalam diri Edward, tapi juga menghadapi sisi tergelap Edward yang begitu hitam. Sisi yang akan membuat dia berpikir dua kali untuk memperjuangankan Edward.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aresss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Another Woman
Happy Reading
***
Jasmine POV
Aku segera membuka mataku dan merasakan sinar matahari dari luar. Sial. Mimpi macam apa itu? Aku menoleh ke kanan-kiri dan tidak menemukan Edward di sana. Aku bergerak untuk duduk, tapi aku merasakan pegal di seluruh tubuhku. Aku menahan diri dan segera memaksakan diriku untuk duduk dan melihat sekitar untuk mencerna apa yang terjadi? Yah... Akhirnya aku melepas kepeerawananku. Di kamar mewah ini.
Setidaknya, aku melakukan itu dengan pria kaya dan tampan sehingga jika suatu saat aku dan dia putus, aku tidak akan menyesalinya. Tidak ada jaminan hubungan kami akan bertahan lama walau aku menginginkannya.
Aku menoleh ke arah meja nakas dan melihat secangkir jus jeruk dengan sebuah bungkusan pil di sana. Aku melihat surat notes di sana. Surat tanagn Edward.
-Drink and eat me- E
Aku mengambilnya dan melihat bungkusan pil itu. Aku tau jelas jenis pil ini. Pil pengontrol kehamilan, setidaknya Edward menyadari satu kesalahannya semalam. Well... Dia begitu menggebu-gebu saat melakukannya untuk kedua kali. Begitu agresif dan cenderung kasar, tapi aku masih bisa mengatasinya.
But yeah... Terkadang pria kehilangan kontrol. Bukan begitu?
Aku segera memakan pil itu bersamaan dengan jus jeruk. Aku menguap kecil lalu mengambil ponselku. Pukul sembilan pagi. Aku bertanya-tanya Edward ada di mana? Aku berdiri perlahan dan berjalan dengan keadaan telanjang untuk menyadari bahwa pakaianku tidak ada di lantai.
What the--?
Lalu mataku menjelajah seisi kamar untuk mencair keberadaan pakaianku hingga mataku menatap dua buah kotak berwarna hitam di atas sofa. Aku berjalan dan segera membuka kotak itu. Aku menemukan surat lain dengan tulisan tangan Edward.
-Wear me- E
Aku mengeluarkan pakaian berwarna biru muda tersebut, sejujurnya itu gaun. Aku menaruhnya di bahuku kemudian menemukan satu set pakaian dalam berwarna putih. Aku mengangkat bra putih itu karena melihat price tag-nya masih menempel.
"Hah?" aku menutup mulut menatap harga pakaian dalam itu. What the?!! Seumur hidupku aku belum pernah membeli barang dengan harga seperti ini. Ini bahkan lebih mahal dari sewa bulanan apartemen lamaku.
"Oh, Edward...."
Aku hendak memasukkannya kembali, tetapi dia sudah membelinya untukku. Aku menarik napas dan segera menaruhnya kembali untuk memeriksa kotak yang lain. Ada flat-shoes dan stoking hitam dan terakhir sebuah mantel.
Aku menaruhnya kembali kemudian bergerak untuk mencari kamar mandi dalam ruangan itu. Aku menemukannya dan segera masuk. Aku melihat produk mandi di sana. Semuanyanya produk untuk pria. Namun, aku tidak terlalu peduli. Aku mandi dengan produk mandi Edward, termasuk sikat giginya.
Setelah selesai, aku berjalan keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit. Aku mengambil ponselku kemudian memainkan beberapa musik. Aku bergoyang kecil seraya memakai pakaianku. Sedetik, aku meraskan rasa lucu karena betapa pasnya bra itu padaku. Bagaimana dia thau ukuranku setepat ini?
Aku memakai stoking tebal itu kemudian gaun biru tersebut. Kainnya cukup tebal, nyaman, dan begitu sopan. Tidak ada potong berlebihan di sana, tapi itu nampak mewah saat kukenakan. Sebelum aku memakai flat shoes, aku berjalan ke arah tempat tidur, hendak memperbaikinya.
Namun, ketukan halus dari luar terdengar. Aku menatap ragu pintu itu kemudian memakai flatshoesku. Aku memperbaiki tempat tidur dengan seadanya, untuk menutupi bekas cairan di seprei. Kau tau jelas cairan apa itu dan aku tidak mau menjelaskannya lebih lanjut. Aku mematikan musik di ponselku dan segera berjalan ke arah pintu.
Aku mengenakan mantelku sebelum akhirnya membuka pintu. Aku melihat Johansen beserta dua orang pelayan wanita. Aku tersenyum kecil.
"Good morning, Miss..."
"Jasmine, please.." ucapku karena tidak biasa dengan panggilan formal tersebut. Johansen tersenyum kecil.
"Sebelah sini, Miss..." ucap Johansen untuk mengarahkanku pergi dari kamar. Aku ingin memprotes sebutan 'miss' itu, tapi kuurungkan niatku. Aku mengikuti Johansen sedangkan dua pelayan wanita masuk ke dalam kamar.
"Di mana Edward?" tanyaku seraya mengikutinya.
"Beliau pergi pagi sekali untuk urusan bisnis, Miss..."
"Kapan dia kembali?"
"Sebelum matahari terbenam, Miss..."
Jawaban macam apa itu. Jadi siapa yang akan mengantarkanku pulang?
"Ke mana kita pergi?"
"Mr. Lendsmen berpesan agar anda serapan, Miss..."
Johansen begitu formal, membuatku sedikit canggung di dekatnya.
"Apakah ada taxi di sekitaran ini?" tanyaku saat kami menuruni anak tangga dan dia segera menoleh ke arahku.
"No, Miss..."
"Anda menginginkan makanan apa untuk serapan Anda?" tanya Johansen sesaat kami menuruni anak tangga terakhir.
"Uhmm.. Sejujurnya, aku ingin pulang karena aku memiliki beberapa hal yang ingin kukerjakan..."
Dia tersenyum kecil, "Mr.Lendsman berpesan agar Anda tinggal di sini sampai beliau pulang.."
"No. Aku tidak bisa karena aku memiliki pekerjaan... Aku akan memberitahunya nanti. Apa ada stasiun bus di sekitar sini?"
"Kami akan menyiapkan penerbangan untuk Anda, Miss..."
"No.. No... Aku baik-baik saja jika menggunakan mobil..."
Aku tidak bisa bayangkan banyak bahan bakar yang habis hanya untuk emngantarku. lagi, aku tidak tahu jenis bahan bakar apa yang digunakan untuk helikopter.
"As you wish, Miss..."
****
Aku duduk di ruang tamu selagi Johansen mengurus kepulanganku. Jujur, perlakuan dan pelayanan mereka membuatku seperti pejabat tinggi yang tengah berada di luar negeri. Aku menarik napas lalu perlahan bersender di punggu sofa yang empuk. Itu membuat badanku rileks.
Lalu, ponselku berdering. Aku merogoh saku mantelku untuk mengambil ponselku. Aku melihat layarnya dan segera wajahku dipenuhi oleh senyum. Edward.
"Hai.." ucapku segera setelah menerima panggilan.
"Well.. Mendengar sapaanmu yang ceria cukup membuatku yakin jika kau tidak marah..."
"Marah? Marah karena apa?" aku melepaskan flatshoesku dan menaikkan kakiku ke atas sofa.
"Karena aku meninggalkanmu sendiri.."
"Nah.. iIt's okay..."
"Maafkan aku. Aku memiliiki urusan yang sangat penting pagi ini..."
"Bertani dan beternak?" ucapku dengan suara jenaka.
"Yah.. Kau bisa menyebutnya begitu... Aku berharap kau bisa tinggal lebih lama di rumahku selagi aku pergi.."
"Aku tidak bisa. Aku memiliki pekerjaan juga, Edward.." walau pekerjaan itu tak kungjung membuatku kaya juga.
"Setidaknya kau pergi dengan perut terisi...."
Aku tidak bisa menahan senyumku, "Aku akan makan di apartemenku..."
"Okay, Jasmine. Okay..."
"I miss you.." ucapku pelan seraya menggigit bibir bawahku gugup.
Dan yah.. Ada suara tawa di seberang. Oh yeah...
"What? Kenapa kau tertawa?" ucapku dengan nada jengkel yang kubuat-buat. Sejujurnya itu cukup menggelikan. Sangat menggelikan.
"Sorry... Aku hanya tidak terbiasa dengan kata-kata seperti itu..."
"Maka biasakanlah dirimu ketika berkencan denganku, Edward..."
Lagi-lagi suara tawa. Bukan tawa menghina, hanya tawa lembut nan renyah.
"I miss you too, Jasmine..."
Aku segera memukul-mukul kepalaku dengan pelan ke punggung sofa karena merasakan rasa menggelitik yang menyenangkan ini. Rasa yang membuatku sanggup berlari 10 mil, lalu mendaki gunung tinggi, dan berlanjut denagn berenang melewati samudera tanpa istirahat. Yah... Aku tahu itu berlebiha, tapi aku sedang dimasuk cinta...
"Okay, sekarang kembalilah bekerja, Mr. Lendsman.." ucapku
"Okay. Bye.."
"Bye..." dan percakapan pun berakhir, tapi senyum bahagiaku belum juga luntur. Astaga. Ketika kau jatuh cinta pada seseorang yang tepat, rasanya begitu indah dan menyenangkan.
"Woahh.." aku terkejut bukan main saat menatap wanita berambut pirang menatapku dengan tatapan datar di pintu ruang tamu. Aku buru-buru menurunkan kakiku dari sofa dan memakai flat shoesku. Astaga! Betapa tidak sopannya aku di kediaman orang lain
"Jasmine?" tanyanya dengan suara yang tajam nan merdu.
"Yah.."
"Aku akan mempiloti kepulanganmu hari ini..."
Aku berdiri, "Ah.. Kukipir aku menggunakan mobil dan bukan--" Aku berhenti bicara ketika dia segera membalikkan badannya dan pergi meninggalkanku.
Sialan. Kenapa dia begitu kasar? Aku mendengus kesal dan segera berdiri dan mengikuti langkahnya dari belakang.Dia memiliki tubuh yang tinggi, langsing, dan wajahnya begitu eksotik. Mungkin tingginya sekitar 180-an cm dan dia mengenakan pakaian serba gelap. Bootnya yang berhak berbunyi dengan lantang di atas marmer.
Kami berjalan dan sampai pada lahan helipad. Ada Johansen di sana dan beberapa petugas pria. Perempuan itu berdiri di samping Johansen lalu menatapku dengan tatapan sinisnya yang penuh penilaian. Dai menatapku dari atas hingga ke bawah. Sialan. Jika Jessi di sini, dia pasti sudah membelaku dan menjambak wanita sialan ini.
"Dia Kimberly Halson yang akan mempiloti kepulangan Anda..."
Aku menggangguk kecil, "Yah..."
"Enjoy your flight, Miss..." ucap Johansen dengan ramah.
"Thank you.." bisikku kecil lalu menatap Kimberly bergerak menuju Helikopter. Aku mengikutinya dan beberapa petugas membantuku naik. Aku memasangkan sabuk pengaman serta headphoneku sementara Kimberly menekan-nekan tombol.
Mesin helikopter menyala dan perlahan bergetar halus. Suara baling-baling terdengar dan aku mendengar Kimberly berbicara kepada petugas yang lain. Aku berpegangan pada sesuatu saat helikopter perlahan naik dan terbang.
Aku diam selama penerbangan karena sikap tidak bersahabat Kimberly sejak awal. Aku menghabiskan waktu 15 menit penerbanganku dengan menatap pemandangan di bawah hingga akhirnya kami mendekati gedung apartemenku.
"Monalisa dua siap mendarat.. Over..." ucap Kimberly dan badan helikopter perlahan merendah hingga akhirnya mendarat dengan aman.
Mesin helikopter tidak mati dan baling-balingnya tetap berputar. Dia tidak mengatakan apa pun padaku hingga aku akhirnya berinisiatif melepas sabuk pengamanku. Saat aku hendak melepas headphoneku, Kimberly tiba-tiba berbicara.
"Jangan merasa special jika Edward membiarkanmu tidur bersamanya..."
Aku menoleh ke arah Kimberly yang tidak menatapku.
"Edward tidur dengan banyak wanita dan kau hanya satu dari sekian koleksinya....."
Napasku berderu cepat dan aku merasakan seluruh tubuhku merasakah kemarahan. Sangat marah.
"Bukan urusanmu." ucapku ketus.
"Aku hanya memberimu nasihat agar kau bersiap menabahkan hatimu jika sewaktu-waktu Edward mencampakkanmu..."
Aku segera melepas headphoneku dan keluar dari helikopter itu dengan kepayahan. Aku segera menjauh dari helikopter itu dan tidak melihat kepergiannya. Sialan. Siapa pun dia dan apa pun hubungannya dengan Edward, dia benar-benar sudah merusak suasana hatiku.
***
MrsFox
sukaaa bgt semua tulisan miss Foxxy ini
❤️❤️❤️
dan kasihan juga Edward..
terimakasih thor cerita mu luar biasa