NovelToon NovelToon
Arley & Ana

Arley & Ana

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:292.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Yulia

Pertemuan yang tak di sengaja dalam sebuah pesawat. Hingga menimbulkan ketertarikan dan akhirnya menghadirkan benih cinta di hati seorang pria tampan
Arley Mahardika Altezza pada seorang
gadis cantik Attilah Nasya Ardilla (Ana).
Sementara sang Presdir mempunyai kekasih yang telah dijodohkan dengannya karena balas budi.

Kisah cinta mereka semakin rumit setelah di ketahui ternyata mereka adalah kakak dan adik, sementara mereka telah melakukan hubungan terlarang.

Bagaimana kisah cinta Presdir tampan bersama adiknya ini selanjutnya?
Mampir dan Ikuti yaah...🙏

Dukung author...🙏
dengan memberi like, rate, hadiah, vote, komentar biar author tambah semangat untuk up terus 😊

Karya ini di terbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia. Isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Ana masuk dan menutup pintu kembali. Saat berbalik dahinya mengerut melihat meja kerja yang kosong. Tak ada sosok pimpinannya di sana. Kemana dia? batinnya. Mungkin di ruang meeting?

Ana kaget saat mendengar bunyi ponsel berdering. Ana mendekati meja kerja karena benda itu terus berdering, sudah tiga kali mati berdering kembali.

Ragu ragu Ana meraih benda pipih itu, karena takut membuka privasi Arley. Tapi karena penasaran siapa yang menelepon, dia segera melihat layar ponsel. Dan ternyata panggilan pada aplikasi WhatsApp.

Ana tertegun melihat orang yang menelpon. Seorang wanita cantik dan seksi terlihat dari foto profilnya, tak ada namanya tertera di sana. Ana terus menatap wajah wanita ini. Dia teringat pada wanita yang bersama dengan Arley semalam. Ana memperkuat ingatannya. Benar... wanita Ini yang bersama Arley semalam memakai gaun merah. Dia yakin walau hanya melihat sekilas.

Panggilan berakhir, lalu masuk sebuah pesan.

Yang muncul pada layar ponsel.

"Sayang, malam ini aku menunggumu. Jangan telat datang. Aku mencintaimu." pesan dari Savira.

Ana terbelalak membaca pesan itu.

"Jadi benar dugaan ku. Dia punya kekasih. Aku sudah yakin tidak mungkin pria mapan, punya segalanya seperti dia tidak memiliki wanita dan juga kekasih dalam hidupnya. Ya tuhan, hampir saja aku menikah dengannya. Untung saja aku menolak menikah dengannya." gumamnya sedih.

Ana merengkuh kuat cincin yang ada dalam genggamannya. Tubuhnya dirasakan lemah.

Kedua lututnya gemetar lemah seakan

tak tersambung. Pandangannya tersamarkan oleh air mata. Sedih, kecewa, sakit hati, marah jadi satu. Ana segera meletakkan ponsel Arley ke tempat semula yang layar wallpapernya masih tetap foto dirinya.

Dengan gontai, Ana melangkah menuju pintu, seiring air matanya jatuh berderai.

"Hampir saja aku tertipu oleh kebohongan rayuan kata kata manisnya." batin Ana sedih.

Sakit, dan sesak yang dia rasakan.

Dia menarik handle pintu. Tapi belum sempat keluar, sebuah suara menghentikan langkahnya.

"Ana?" suara Arley memanggilnya. Arley baru saja dari toilet.

Ana batal membuka pintu. Dia segera menyapu air matanya, lalu berbalik.

"Apa kau sudah lama di sini?" Arley berjalan mendekatinya. Wajahnya mengernyit melihat Ana yang tampak tegang dan terlihat sedih.

"Ada apa Ana?" tanyanya.

Ana berusaha menguatkan tubuhnya yang terasa lemah berhadapan dengan pria ini. Matanya melihat cincin yang terpasang di jari manis Arley. Cincin yang dia sematkan kemarin, bentuknya sama dengan miliknya, hanya berbeda ukuran. Cincin sebagai pengikat mereka berdua sebagai tanda kepemilikan seperti yang di katakan Arley. Dan pria ini masih menggunakannya.

Ana berjalan ke meja kerja dan meletakkan cincinnya.

"Maaf pak, aku ingin mengembalikan ini."

"Kenapa?" tanya Arley kaget, melihat benda mungil itu. Lalu kembali menatap Ana penuh tanya.

"Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir, aku tidak pantas untuk memakainya. Apalagi memiliknya." kata Ana berusaha tenang. Dia mengulas senyum.

"Apa alasannya?" tanya Arley menatapnya lekat.

"Cincin itu terlalu mahal dan mewah buat aku. Sangat tidak cocok di pasangkan pada jari ku. Seharusnya anda tidak menyematkan benda itu di jariku. Anda salah memberikannya padaku. Anda salah orang tuan Arley." kata Ana sedikit serak. Dia menahan sekuat hati agar tidak menangis dan meneteskan air mata di depan pria ini. Meski kedua matanya sudah tergenangi riak riak bening.

"Aku juga ingin mengundurkan diri dari perusahaan ini. Surat resign nya nanti menyusul. Permisi__" Ana segera berbalik seiring jatuh air matanya. Dia melangkah cepat menuju pintu.

Tapi langkahnya kalah cepat dari Arley.

Arley berlari cepat menghadang jalannya.

"Kamu kenapa An?" menatap lekat mata Ana yang memerah dan basah.

"Minggir, tolong jangan menghalangi jalanku." kata Ana seraya mendorong tubuhnya.

Arley segera menangkap kedua tangannya.

"Lepas, jangan menyentuhku." kata Ana agak keras seraya menarik tangannya dari pegangan Arley.

"Akan ku lepaskan tapi katakan dulu ada apa?"

Ana tak menjawab hanya menatapnya tajam.

Dia mendorong tubuh Arley sekuatnya. Lalu menarik handle pintu. Arley segera menyergap tubuhnya dari belakang. Lalu mengangkat tubuhnya di letakkan di atas bahu. Dia membawa Ana ke kamar pribadinya setelah terlebih dahulu menyambar cincin Ana dan juga ponselnya di meja.

"Lepas... turun kan aku." pekik Ana meronta kuat memukul mukul punggungnya. Tapi pegangan Arley terlalu kuat. Arley mengunci pintu kamar lalu menurunkan tubuh Ana.

"Ana, ada apa? Katakan padaku." berusaha memegang wajah Ana.

"Jangan menyentuhku." sentak Ana seraya menepis kuat tangannya.

Ana terus berontak, terpaksa Arley menekan kuat tubuhnya di pintu.

"Jangan menyentuh ku. Menjauh dariku." teriak Ana kembali berusaha mendorong tubuh Arley ke belakang. Airmatanya kembali jatuh.

"Tidak sayang, jangan meminta ku untuk menjauhi mu. Aku tidak akan sanggup jauh darimu. Jangan seperti ini. Katakan ada apa?"

Ana mendengus tersenyum menyeringai mendengar ucapannya.

"Kenapa kau marah seperti ini?" Arley kembali menekan kuat tubuhnya ke tubuh Ana, sehingga gadis ini sulit bergerak. Dia memegang wajah Ana kuat. Untung saja ruang ini kedap suara. Biar berteriak sekeras apapun tidak akan terdengar ke luar.

Arley teringat kejadian semalam saat Ana melihat dirinya bersama Savira. Mungkin karena itu Ana marah dan sedih begini. Tapi saat mereka bertemu di lift tadi kenapa Ana tidak mengungkitnya?

"Apa karena kau melihatku bersama dengan seorang wanita semalam?" memberanikan diri bertanya.

Ana kembali tersenyum menyeringai.

"Apa peduliku Anda mau bersama siapa? Aku tidak perduli. Lepaskan aku dan buka pintunya." teriak Ana semakin keras. Dia semakin memberontak.

"Ana, dengar aku, wanita itu__." ucapan Arley terpotong.

"Sudah katakan aku tidak perduli. Entah siapa wanita itu aku tidak perduli. Kekasihmu atau atau istrimu__atau simpanan mu Aku tidak perduli." kata Ana keras dengan emosi yang meluap-luap.

Arley terkejut mendengar ucapannya, dia benar benar melihat kemarahan di wajah gadis ini. Tatapannya yang menyorot tajam, merah memancarkan kemarahan dan kesedihan yang mendalam. Juga bibirnya yang gemetar.

"Ana, tenangkan dirimu. Biar ku jelaskan sayang__." menenangkan dengan lembut.

"Tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku tidak butuh itu. Anda tidak perlu mengatakan apa apa lagi. Lepaskan aku. Aku mau pulang, aku mau nenekku," potong Ana cepat sambil menangis terisak. Saat sedih atau punya masalah, hanya neneknya tempat dia berkeluh kesah dan menumpahkan segala kesedihan. Dia sangat butuh neneknya saat ini.

"Tapi kau harus tahu Ana, agar kau tidak berpikiran buruk padaku."

Ana geleng geleng kepala.

"Jangan katakan apapun. Anda tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku tidak perduli anda berhubungan dengan wanita manapun. Di antara kita tidak ada hubungan apa-apa. Aku sangat bersyukur tidak menerima anda dan menolak menikah dengan anda. Hampir saja aku terjebak dengan permainan Anda__ kebohongan anda...."

"Ana....." Sentak Arley keras. Dia mulai emosi mendengar ucapan buruk Ana pada dirinya.

"Aku benar-benar bodoh termakan rayuan gombal Anda__." lanjut Ana, kata katanya kembali terputus oleh sentakan Arley.

"Kamu salah menilai aku. Aku benar-benar tulus mencintaimu." sentak Arley kembali memegang kedua bahunya kuat.

"Hebat sekali tuan Arley. Kau memang hebat sekali mempermainkan hati perempuan. Ungkapan cinta ternyata hal yang lumrah bagimu. Sepertinya kau sudah terbiasa mengucapkannya pada setiap wanita." kata Ana di sela isak tangisnya.

"Ana." teriak Arley keras menatap tajam.

Ana tersenyum menyeringai menatapnya.

"Tapi untungnya aku tidak terlambat mengetahui siapa dirimu. Kau benar-benar Brengsek, kau punya kekasih di luar sana tapi masih juga merayuku dan mengatakan cinta, bahkan ingin menikah ku, hah? dasar bajingan, pembohong, brengs....." belum selesai ucapannya, Arley langsung membungkam mulutnya. Arley ******* bibirnya.

Ana terkesiap, dia tidak siap di serang tiba tiba begini. Ana terus berontak dan melawan menghindari ciuman Arley. Tapi Arley memeluknya kuat, menekan tubuhnya pada dinding dan terus menciumi bibirnya dengan rakus sebelum lebih banyak lagi kata kata menyakitkan di ucapkan Ana yang membuat Ana semakin marah dan membencinya.

Arley terus menciumnya, menggoda dengan lidahnya. Menjelajahi setiap inchi rongga mulutnya, menyesap manisnya mulut Ana.

Lama kelamaan pertahanan Ana melemah. Kepalanya pening. Amarah dan rasa memberontak yang menguasai hati dan pikirannya perlahan menyusut dan hilang.

Ana terbuai dengan permainan bibir Arley.

Perlahan Ana mulai membalas ciuman Arley.

Mereka berciuman penuh gairah. Saling menyesap dan mereguk kenikmatan dari bibir masing masing. Ana semakin terbuai dan lupa segala emosi yang membuat marah dan sakit hati.

Merasa tak ada perlawanan lagi, dan juga mendapat balasan dari Ana, Arley melepaskan pegangannya dan bermain lembut. Memeluk Ana penuh kasih sayang. Sungguh dia sangat menyayangi dan mencintai gadis ini. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyakitinya. Terlalu sayang baginya untuk menyakiti gadis polos ini. Dia tidak akan tega melakukannya.

Ciuman Arley merambah ke leher dan terus turun ke dada. Tangannya bergerilya menyentuh lembut setiap inchi tubuh Ana dari atas hingga turun ke bawah. Terdengar lenguhan dan ******* dari mulut Ana dengan matanya yang terpejam. Arley terus memberikan ciuman dan sentuhan lembut penuh gelora agar Ana dapat melupakan kemarahannya sejenak sampai Ana merasa tenang. Dan setelah itu dia akan menjelaskan semuanya.

Arley mengangkat tubuh Ana dan membawanya ke tempat tidur, melanjutkan cumbuan mereka di sana. Beberapa saat kemudian Ana kaget dan tersadar saat merasakan Arley menghentak berusaha memasukinya. Ana baru menyadari kalau mereka sudah berada di atas ranjang dengan tubuh dalam keadaan polos.

Secepatnya Ana melepas ciumannya dan mendorong Arley yang berada di atas tubuhnya dengan kuat. Tangannya memukul mukul dada Arley. Kakinya tak tinggal diam menendang nendang sebisa mungkin menjauhkan Arley dari tubuhnya.

"Lepaskan aku bajingan, jangan sentuh aku." teriaknya keras.

Arley kembali menahan tubuh Ana kuat tak perduli dengan pukulan dan cakaran kuku Ana di dada dan punggungnya.

"Bajingan, brengsek. Kau memanfaatkan diriku hanya untuk mencari kesenangan dan menyalurkan hasrat mu. Kau biasa melakukan hal ini pada semua wanita. Kau memang manusia rendah." jerit Ana histeris. Dia menangis keras.

Arley memeluknya kuat. Hatinya ikut pilu mendengar ucapan dan jeritan tangisan Ana.

"Tidak sayang. Aku hanya melakukan ini padamu, Aku melakukan hubungan fisik hanya denganmu. Aku tidak melakukannya pada wanita lain, hanya padamu. Kau yang pertama sayang. Jangan menuduhku buruk seperti itu, kau salah__kau berdosa."

"Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak pernah membohongimu. Aku tidak mempermainkan mu. Atau hanya ingin mencari kesenangan darimu. Tidak sayang. Aku serius dan tulus mencintaimu. Hanya kamu wanita yang aku cintai, sungguh, percayalah padaku." Arley mengecup keningnya lembut.

Ana terus menangis."Pembohong, dasar pembohong. Aku membencimu." ucapnya di sela sela tangisnya. Dia terus memukul punggung Arley yang berada di atas tubuhnya, menindih dan memeluk tubuhnya kuat.

Arley memegang wajah Ana sedikit kuat, menatap dalam wajah Ana yang di penuhi air mata.

"Aku tidak membohongimu atau menipumu. Aku berkata jujur sayang. Wanita yang kau lihat semalam, dia adalah Savira. Dia dekat denganku, tapi aku tidak mencintainya. Aku sama sekali tidak punya perasaan apapun padanya. Aku hanya mencintaimu sayang. Hanya kamu, percayalah padaku." kata Arley serius. Dia kembali mengecup kening Ana lembut.

Entah bagaimana caranya dia meyakinkan Ana untuk percaya padanya.

"Sayang, dengarkan aku.." Arley mengecup bibirnya agar gadis itu berhenti menangis, dia menekan bibirnya sedikit lama pada bibir Ana.

Ana terisak Isak kecil. Dia mengigit bibir Arley kuat.

"Akhhrr__." Arley meringis kesakitan.

Ana kembali mengigit bibirnya karena Arley tetap pada posisinya tidak beranjak.

Arley tetap bertahan......

"Gigitlah sampai kau puas, lakukan sesukamu. Jika itu bisa membuat hatimu tenang. Aku akan diam dan menerimanya. Cepat lakukan, luapkan kemarahan mu."

Ana kembali melancarkan gigitannya mendengar ucapan Arley. Dia mengigit kuat berulangkali meluapkan segala rasa yang menyakiti hatinya. Dia tidak perduli bibir Arley yang sudah terluka dan berdarah. Bahkan darah itu menempel pada bibirnya dan masuk kedalam mulutnya dan tertelan olehnya. Dia terus menggigit dan berhenti sampai dia puas. Setelah itu dia menangis keras. Tangan dan kakinya terkulai lemah tak melakukan pemberontakan lagi. Matanya tertuju pada dagu dan bibir Arley yang bengkak, terluka dan mengeluarkan darah.

Sementara Arley tetap bertahan diam menerima apa yang Ana lakukan, dia hanya meringis dan menahan kesakitan sekuatnya.

Arley segera menyapu darahnya melihat tak ada pergerakan lagi dari Ana.

"Sudah puas?" tanyanya pelan seraya menatap mata Ana lembut.

"Lakukan lagi jika kau masih ingin. Atau kau ingin mengigit di tempat lain? Di sini..di sini.. disini di sini..." Arley menunjuk pipi, dagu, hidung, dan dadanya.

"Ayo lakukan. Sampai rasa sakit di hatimu hilang. Aku akan terima."

Tangis Ana kembali pecah dan malah semakin keras. Dia segera memeluk leher Arley. Menumpahkan segala kesedihannya.

Arley terenyuh. Dia bangun dan duduk. Kemudian mendudukkan Ana dalam pangkuannya. Dia membalas pelukan Ana, menyapu lembut punggung gadis ini yang masih menangis.

"Percayalah padaku Ana. Tidak ada wanita lain yang aku cintai selain dirimu."

Arley memegang wajahnya di hadapkan padanya. Ana menatapnya terisak Isak.

Arley menyapu air matanya yang tidak pernah kering meski selalu di sapunya.

"Ana, dengar__aku akan mengatakan padamu siapa wanita itu. Dia adalah__."

"Aku tidak mau tahu tentang dia. Jangan katakan apa pun tentangnya." potong Ana cepat dan kembali menangis. Dia tidak mau tahu tentang Savira karena hanya akan menambah rasa sakit dan kesedihannya. Hatinya sudah sangat terluka saat ini.

"Baik__Aku pun lebih suka kau tidak mengetahui dirinya. Tapi satu hal harus kau ingat, aku tidak mencintainya. Aku bersumpah tidak mencintainya atau punya perasaan padanya. Kau dengar itu Ana? Jika kau melihat aku bersamanya di lain waktu, semua hanya karena keterpaksaan, bukan karena aku suka atau cinta padanya. Semua hanya karena terpaksa__ terpaksa aku lakukan." kata Arley menegaskan tentang hubungannya dengan Savira

"Terpaksa?" tanya Ana dengan kedua alis terpaut. Tangisnya terhenti.

"Iya sayang. Apa kau ingin tahu alasannya?"

Ana berpikir sejenak, kemudian menggeleng kepala."Gak.....jangan katakan apapun."

"Baiklah jika kau tidak ingin mengetahuinya." Arley kembali menyapu sisa sisa air mata Ana.

"Sayang, aku benar-benar mencintaimu. Sangat mencintaimu. Percayalah padaku, jangan kau ragu padaku. Aku sengaja mengajakmu menikah untuk menunjukkan keseriusanku padamu dan bukan main-main." membelai lembut pipi Ana.

"Apa kau masih marah padaku?"

Ana menunduk. Diam tak menjawab.

Arley tersenyum kecil. Dia lega melihat Ana mulai tenang. Dia meraih cincin Ana di atas sprei. Arley menyematkan benda indah itu ke jari manis mungil Ana.

"Berjanjilah padaku tidak melepasnya lagi. Semarah apa pun dirimu jangan melepasnya. Aku pun berjanji tak kan melepaskan milikku." Dia mengecup jari Ana, lalu menyamakan cincin di jari mereka.

"Kedua benda ini akan mengikatkan kita selamanya. Berjanjilah padaku untuk tidak melepasnya."

Ana mengangguk lemah. Arley tersenyum senang, dia mengecup lembut kening Ana.

"Tapi ada untungnya juga kamu marah padaku. Itu artinya kau cemburu, dan artinya kau mencintaiku. Kau telah menunjukan perasaanmu padaku sayang." kata Arley tersenyum lebar.

Ana mengalihkan pandangannya ke arah lain.

"Lihat, kau bahkan mengigit bibirku sampai terluka dan bengkak." Arley memanyunkan bibirnya.

Ana menunduk tersipu malu.

Arley mengangkat dagunya, dan tanpa permisi ******* bibir Ana sebagai balasan telah menggigit bibirnya. Meski sakit dia terus menciumi bibir Ana.

Ana membiarkan apa yang di lakukan Arley.

Dia diam tak membalas karena khawatir bibir Arley yang terluka akan sakit.

Arley melepaskan pangutan bibirnya karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit. Dia menunduk ke bawah melihat pada dadanya.

Melihat luka cakaran dari kuku Ana.

"Kau bahkan mencakar dada dan punggung ku sayang. Lihat luka luka ini. Perih dan sakit."

Ana kaget melihatnya. Terdapat beberapa luka cakaran di dada dan leher Arley. Dia baru menyadari hal itu. Tadi memukul mukul, mencakar cakar dada dan punggung Arley karena berontak melakukan perlawanan.

Ana kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain menghindari tatapan Arley yang menggodanya.

"Kau harus tanggung jawab sayang."

Wajah Ana mengernyit."Tanggung jawab?"

"Iya...kau harus mengobatinya sampai sembuh. Kau harus tinggal di rumahku biar rutin mengobatinya setiap saat."

Ana kembali kaget. Dia menatap Arley masam.

"Nggak mau." kata Ana dan bergerak hendak turun. Tapi Arley menahan bokongnya.

"Mau kemana sayang, tetaplah di sini. Sejak tadi aku tersiksa menahannya." Kata Arley dengan wajah tegang.

Ana kaget, dia mengerti ucapan Arley. Karena dia juga merasakan benda itu. Tapi dia mengabaikan dan tak ambil pusing.

"Nggak mau, ingat dosa." katanya kemudian, lalu segera turun, tapi dengan cepat Arley menarik tubuhnya hingga terduduk kembali.

"Auwwww___" Ana meringis merasakan sakit karena sesuatu yang memasukinya dengan paksa di bawah sana. Dia memegang kuat bahu Arley.

"Maaf sayang, aku benar benar tidak tahan." kata Arley. Lalu mencium bibir Ana untuk mengalihkan rasa sakitnya.

Sejam berlalu, mereka terbaring saling berpelukan dengan tubuh kelelahan dan bermandi peluh. Arley berulangkali mengecup kepala Ana yang menangis sesenggukan dalam pelukannya.

"Salahmu sendiri tidak mau ku nikahi. Jadi jangan salahkan aku melakukannya." kata Arley tersenyum kecil.

Ana mendengus geram lalu menggigit dadanya kuat dan kembali menangis. Arley meringis kesakitan dan tertawa kecil.

"Jangan marah sayang, maafkan aku." katanya seraya membelai lembut rambut dan punggung Ana. Dia lega akhirnya permasalahan di antara mereka selesai.

Bersambung.

Jangan lupa di like ya? juga kasih hadiah kopi, vote dan bintang lima. Terima kasih 🙏

1
Lilis Sumarni Lisvhancho
kok jadi ilfill dengan ana..
Zugix Huawei
gantung ceritanya,hidup segan mati tak mau
Nani Rosmiati
cerita nya bagus...tpi ending nya deuhh...apa cuma aku az yg baca langsung bab terakhir 60😂 krna ending nya gtu..jadi gk mood
Samudra Rohul
padahal cerita nya menarik tpi koq tamat tba² ya. gmna nasib mereka kalo memang benar ana adik kandung nya . penasaran thour lanjut km knpa
Amilia Indriyanti
goblog
LOVE YOURSELF
sukaaaaaa
Amilia Indriyanti
goblog ai arley. ginjele di CT scan kan ngetoro
Amilia Indriyanti
kemayu
Amilia Indriyanti
bener. kemayu
noers
waduh gk tak woco es endinge aneh....
Kartikagusty 22
author nya seneng tapi readernya kecewa dengan endingnya
plisss buat season 2 nya
🌻Ruby Kejora
Sukses bwt kk
Aris Pujiono
mampir lagi kak ana
Aris Pujiono
semangat up
Aris Pujiono
lebih baik menikah ana
Aris Pujiono
ayo lanjut...
Tau Lo Hulandalo
ceritanya bagus tapi endingnya gak memuaskan. Kecewa aku Arley dan ana kakak adik kandung, bgmn dengan kehamilan ana?
Ningsih Abdullah
aku suka ceritanya, gak nyangka ana dan arley kk adik kandung
Aris Pujiono
mantap
Aris Pujiono
ayo semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!