Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sore itu, mentari belum sepenuhnya tenggelam, menyisakan semburat jingga yang cantik di langit kota saat mobil sedan hitam milik Hanan Arkan perlahan berhenti di halaman luas.
Derit pagar besi yang dibuka oleh santri jaga mengiringi langkah Hanan yang baru saja kembali dari rutinitas kampus.
Penampilannya masih sangat rapi sambil menjinjing ransel hitamnya, menambah kesan wibawa sang dosen muda yang dikenal kalem dan kharismatik itu.
Di teras ruma pondok, Kanza Arumi duduk menyender pada tiang kayu jati besar yang kokoh.
Ia tampak sedang memainkan ujung kerudungnya dengan wajah bosan yang didramatisir, sesekali menghela napas panjang seolah-olah baru saja menunggu selama satu dekade.
Begitu melihat Hanan turun dari mobil, Kanza langsung menegakkan punggung dan mendengus pelan, seolah memberikan sinyal "protes" yang sudah disiapkan sejak tadi.
“Lama amat, Pakl—eh, Mas!” ucapnya setengah kesal, hampir saja keceplosan memanggil panggilan favoritnya untuk menyindir sang suami.
Hanan tersenyum tipis, sebuah senyum yang sanggup meluluhkan hati mahasiswa bimbingannya, namun biasanya hanya dibalas lirikan sinis oleh istrinya.
Ia meletakkan tasnya sebentar di kursi rotan lalu mengulurkan tangan, mengelus puncak kepala Kanza yang kini mulai bersikap sedikit lebih akrab, meskipun tetap dibalut dengan gaya ketusnya yang khas.
“Maaf ya, kelas terakhir tadi agak molor karena sesi tanya jawab yang tidak kunjung usai. Sudah siap untuk pulang sekarang?” tanya Hanan lembut.
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Kanza langsung berdiri dan berjalan lebih dulu ke arah mobil.
Langkahnya terlihat gemulai namun sesekali dibumbui gumaman tidak jelas, mungkin sedang mengabsen daftar menu makan malam atau sekadar menggerutu tentang cuaca yang panas.
Hanan hanya bisa tersenyum simpul melihat tingkah ajaib istrinya itu.
Ia segera menyusul, membukakan pintu mobil untuk Kanza dengan gerakan yang sangat sopan, lalu mereka menempuh perjalanan pulang menuju rumah elegan di pinggiran kota.
Di dalam kabin mobil yang sejuk, Kanza mulai membuka sesi "laporan harian" tentang mangga dan ibu kantin yang sukses membuat Hanan tertawa kecil sepanjang jalan.
Malam harinya, selepas shalat Isya dan makan malam ringan yang diselingi perdebatan kecil soal rasa sambal, Kanza Arumi terlihat menggulung rambutnya sembarangan, lalu menyelipkannya ke dalam ciput dengan gerakan sat-set.
Hanan Arkan yang baru saja selesai membereskan sisa-sisa buku referensi di ruang kerja langsung menghampiri istrinya yang tampak sudah siap tempur.
“Belanja bulanan malam ini saja ya? Biar besok kita tidak perlu berdesakan,” tawarnya sambil mengenakan jaket abu panjang yang membuatnya terlihat seperti pria mapan dalam drama-drama romantis.
Kanza langsung mengangguk mantap.
“Oke, tapi ada syaratnya. Mas yang bawa semua keranjang belanja, ya. Kanza bagian memilih dan riset produk, Mas bagian mikul dan jadi kuli angkut pribadi.”
“Siap, Bu Menteri Logistik dan Perbelanjaan,” jawab Hanan sambil terkekeh pelan, memaklumi tingkah istrinya yang selalu ingin berkuasa di urusan dapur.
Tak lama, mereka sampai di salah satu supermarket besar di pusat kota.
Gemerlap lampu kota menambah suasana hangat meskipun waktu sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam.
Di antara rak-rak yang berjejer rapi, mereka tampak seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Kanza dengan langkah cepat, memilih sabun, camilan micin, dan berbagai kebutuhan rumah tangga; sementara Hanan mendorong troli dengan sabar di belakangnya.
Sesekali Hanan menahan tawa melihat komentar absurd istrinya tentang biskuit yang menurutnya, “teksturnya mirip amplas tapi rasanya bikin kecanduan”.
Di lorong lain supermarket, tepat di belakang rak minyak goreng yang menjulang tinggi, seorang perempuan muda berdiri diam membeku.
Matanya tertuju tajam pada dua sosok di seberang lorong, Hanan dan Kanza, yang sedang tertawa kecil saat Kanza mencoba menjangkau bungkus mie instan di rak paling atas dengan berjinjit payah.
Perempuan itu mengenakan gamis sederhana warna pastel, dengan kerudung lembut yang jatuh rapi di pundaknya.
Wajahnya cantik bersih, tipe kecantikan yang tenang, namun saat ini terlihat begitu murung. Dia adalah Zahira.
Air matanya menggantung di ujung mata, namun tak dibiarkannya jatuh begitu saja.
Senyum pahit mengembang sekilas di bibirnya, namun segera menghilang tertelan rasa sesak yang menghimpit dada.
Ia merasa seakan oksigen di supermarket itu mendadak hilang.
Zahira menghela napas perlahan, berusaha tak menimbulkan suara yang bisa memancing perhatian.
Ia menunduk, lalu berjalan menjauh dengan langkah ringan yang terasa sangat berat bagi hatinya.
Lampu jalan di area parkir menyorot samar wajah Zahira yang kini berdiri di balik pilar dekat deretan troli belanja.
Dari kejauhan, ia melihat Hanan dan Kanza sedang berjalan menuju kasir.
Hanan mendorong troli penuh sembako, sementara Kanza dengan gaya khasnya yang tak bisa diam menggoyang-goyangkan kardus susu sambil berceloteh absurd entah soal rasa keju yang katanya “aroma-aroma pipi bayi”.
Mereka tertawa. Terlihat sangat bahagia. Terlihat sangat nyata, sebuah kenyataan yang justru menghancurkan dunianya.
Zahira mematung.
Kedua tangannya menggenggam erat ujung khimar, meremasnya kuat seolah ingin memindahkan rasa sakit dari hati ke kain itu.
Matanya memanas, tak kuasa lagi membendung gelombang luka yang menyembur dari dada.
Napasnya memburu dalam diam, hanya air mata yang jatuh pelan, satu-satu, membasahi pipi pucatnya.
“Kenapa...?” lirihnya nyaris tak terdengar, tenggelam di balik bising kendaraan yang lewat.
Ia mundur satu langkah, mencari sudut yang lebih sepi di antara pilar beton.
Tubuhnya bersandar pada tembok dingin, dan di sana, tangisnya pecah dalam senyap yang menyayat hati.
“Kenapa harus perempuan itu, Mas...?” bibirnya bergetar hebat.
“Aku... Aku yang selalu menunggu... dari dulu... sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di pesantren, aku simpan rasa ini dengan rapat. Aku jaga dengan doa, karena aku yakin, Allah akan membolak-balikkan hati kita pada waktu yang tepat...”
Zahira mengangkat wajah, menatap langit-langit supermarket yang terang benderang seolah mencari jawaban yang tak kunjung datang.
“Tapi ternyata... bukan aku. Bukan aku yang Mas Hanan pilih...”
Suara tawa Kanza terdengar samar dari arah kasir, diselingi dengan ucapan absurd yang membuat petugas kasir ikut tertawa geli.
Zahira menoleh, bibirnya mengerucut getir dengan tatapan penuh luka yang mulai bercampur dengan rasa tidak terima.
“Kenapa gadis kecil itu?”
“Dia... dia bahkan terlihat tidak pantas bersanding denganmu, Mas,” desisnya pelan, lirih, nyaris seperti doa luka yang ditelan sepi malam.
Dadanya sesak luar biasa. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya untuk menahan erangan kecewa yang meluap-luap.
Tangannya menghapus air mata dengan gerakan kasar, menyisakan gurat kemerahan di wajahnya.
“Padahal aku yang dekat dengan Umah... dengan Abah... bahkan Aisya sudah kuanggap adik sendiri... semua orang tahu aku yang paling cocok di sana,” suaranya pecah, parau oleh kepedihan.
“Kenapa aku bukan takdirnya...?”
Zahira tak sadar kakinya mulai melangkah gontai keluar dari area supermarket.
Matanya sembab, langkahnya goyah seolah tak lagi memiliki tumpuan.
Namun di balik wajah yang hancur itu, perlahan muncul semburat tekad yang menyala, sebuah percikan api yang diam, dalam, dan penuh rencana tersembunyi.
Ia belum siap untuk melepas begitu saja apa yang sudah ia nantikan bertahun-tahun.
Malam merambat pelan saat mobil hitam milik Hanan Arkan berhenti tepat di garasi rumah mereka yang bertingkat dua itu.
Lampu-lampu taman menyala temaram, memberikan kesan elegan sekaligus hangat pada dinding marmer hunian baru mereka.
Hanan keluar lebih dulu, lalu dengan gerakan gentleman, ia membukakan pintu untuk istrinya yang masih duduk dengan wajah manyun, seolah-olah baru saja kalah dalam pertandingan catur internasional.
“Kanza, ayo turun,” ucap Hanan lembut sambil menyunggingkan senyum yang sanggup meruntuhkan pertahanan siapa pun.
Kanza Arumi justru menyilangkan tangan di depan dada, tak bergerak seinci pun.
“Kanza capek. Kanza mau teleportasi saja langsung ke sofa. Bisa tidak? Mas kan dosen, harusnya tahu teknologi mutakhir semacam itu.”
Hanan terkekeh pelan, sudah sangat terbiasa dengan logika ajaib istrinya.
“Kalau bisa, Mas juga mau ikut teleportasi biar tidak perlu angkut belanjaan berat begini. Ayo turun, nanti Mas bantu bawakan semua kantongnya.”
Dengan malas-malasan, Kanza akhirnya turun, lalu menyeret kakinya masuk ke dalam rumah.
Begitu pintu terbuka, aroma lembut rumah mereka menyambut, perpaduan harum kayu dan wangi diffuser vanila yang sebelumnya dipilih Hanan dengan teliti.
Tapi semua kenyamanan itu tetap tak berhasil mengubah mood Kanza yang masih mendung tanpa sebab.
“Duh, rumahnya kegedean deh. Kanza bisa nyasar nih di dalam rumah sendiri. Kalau nanti Kanza hilang di koridor lantai dua, Mas Hanan harus sebar poster orang hilang, ya!” celetuknya sambil menendang sandal ke arah rak sepatu dengan gaya seenaknya.
Hanan meletakkan kantong belanjaan ke dapur sambil tersenyum sabar, kesabaran yang mungkin sudah setingkat wali.
“Kalau Kanza hilang, Mas tinggal diam dan dengarkan suara paling nyolot se-pesantren. Pasti langsung ketemu pelakunya.”
“MASSS! Kanza serius tahu!” Kanza berseru, berusaha menahan senyum meski pipinya sudah memerah karena geli sendiri mendengar sindiran akurat suaminya.
Setelah berganti pakaian santai, mereka duduk di ruang tengah yang hangat.
Kanza bersandar di sofa, memeluk bantal besar seolah itu adalah benteng pertahanan terakhirnya.
Hanan duduk di sampingnya, lalu menyodorkan sebatang cokelat premium yang tadi mereka beli.
“Makan dulu, biar kadar bad mood-nya berkurang sedikit,” ucap Hanan pelan, suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan.
Kanza menerima cokelat itu dengan ekspresi malas yang dibuat-buat, tapi begitu gigitan pertama mendarat di lidahnya, matanya langsung melebar sempurna.
“INI! Ini enak banget! Kanza berubah pikiran. Mas Hanan boleh tetap hidup hari ini.”
Hanan terbahak hingga bahunya bergetar.
“Hanya karena sebatang cokelat, hukuman mati Mas dibatalkan?”
“Jangan tanya. Itu rahasia negara yang sangat rahasia,” jawab Kanza sok misterius, lalu kembali menyuapkan potongan cokelat besar ke mulutnya.
Tapi suasana ceria itu tak berlangsung lama. Kanza mendadak terdiam. Pandangannya tiba-tiba kosong, menatap langit-langit rumah seolah sedang merenungi nasib dunia.
Hanan melirik cemas, menyadari perubahan aura istrinya.
“Kenapa? Kok tiba-tiba diam?”
Kanza mendesah berat, sebuah helaan napas yang terdengar sangat melankolis.
“Mas...”
“Hm?”
“Kanza... sedih banget.”
Hanan langsung menggeser duduknya mendekat, tangannya menyentuh pundak Kanza dengan penuh perhatian.
“Kenapa, hmm? Ada yang mengganggu pikiranmu?”
Kanza menoleh dengan mata berkaca-kaca, sebuah akting yang sangat meyakinkan jika saja Hanan belum mengenalnya.
“Mas... Kanza baru sadar akan sebuah tragedi besar...”
“Tragedi apa?” Hanan semakin panik.
“Kanza lupa beli boba yang ada cream cheese-nya di depan supermarket tadi!”
Hanan terdiam sejenak, menatap istrinya dengan ekspresi datar, sebelum akhirnya tawanya meledak memenuhi ruangan.
“Ya Allah, Kanza. Mas sudah panik setengah mati, kirain ada masalah serius!”
“INI SERIUS MAS! Hati Kanza rasanya bolong, sehampa ruang hampa udara di luar angkasa tahu!” seru Kanza sambil membenamkan wajahnya ke bantal, sementara Hanan hanya bisa geleng-geleng kepala menghadapi drama tengah malam istrinya yang tiada akhir.
~~~NEXT~~~