Siapa sangka, jika pesona dingin seorang dosen mampu memikat hati dua perempuan kakak beradik.
****
Bryan Atmaja, dosen muda yang tampan selalu ketus dan dingin terhadap orang asing. Namun begitu lembut dan penuh kasih terhadap orang-orang yang dia sayangi.
Andin Mulia Pratiwi gadis polos sederhana yang tidak pernah mengenal cinta. Ia dijadikan asdos oleh dosen ganteng bernama Bryan Atmaja, yang pernah mencintai sahabatnya. Andin tidak percaya ketika cinta itu telah berlabuh untuknya.
Dewi Permata Putri, kakak kandung Andin juga jatuh cinta dengan Bryan sejak pandangan pertama. Bagaimana kisah segitiga itu berlangsung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling Mengungkapkan
Pertanyaan Andin membuat Bryan berfikir, ia mengerutkan kening sembari meletakkan telunjuknya di dagu.
"Mmmm ... sepertinya tidak," ucap Bryan menatap Andin.
Glek!
Bagai menelan batu kerikil yang nyangkut di tenggorokan. Sebisa mungkin Andin menenangkan dirinya menahan amarah. Namun menurutnya, kali ini Bryan sudah keterlaluan. Dia tidak mau menjadi bualan Bryan terus-terusan.
Kedua tangan Andin mengepal, kepalanya sudah memanas. Andin menghembuskan napasnya kasar. Ia lalu beranjak dari duduknya dan hendak pergi.
Dengan sigap Bryan menahan lengan Andin, "Andin, mau kemana? Awh ... sssshhh!" desis Bryan karena mencoba bangun menahan Andin.
Andin yang mendengarnya sontak berbalik, lalu membenarkan posisi Bryan, "Jangan banyak gerak dulu!" pekik Andin dengan mata tajamnya.
Bryan menggenggam erat tangan Andin, "Dengerin dulu, pertanyaan kamu tadi jawabannya tidak. Tidak bercanda dan tidak salah," ujar Bryan mantap.
Andin justru menangis mendengarnya. Air matanya terus menetes, namun mukanya datar tanpa ekspresi. Hanya menampakkan kekesalannya. Bryan menghapusnya perlahan.
"Kenapa menangis?" tanyanya bingung.
"Kapan sih Bapak berhenti mengerjai saya? Terkadang saya bingung tidak bisa membedakan, mana candaan dan mana ucapan serius. Saya seperti orang bodoh, yang selalu dipermainkan sama Bapak. Saya nggak kuat kalau terus-terusan diginiin. Lebih baik saya berhenti saja jadi asisten Bapak. Maaf kalau selama ini saya banyak kekurangan dalam membantu Bapak. Permisi!" seru Andin berderai air mata.
Andin melepaskan tangan Bryan lalu berjalan keluar. Ia menutup pintu dengan keras, lalu terduduk di lantai. Kedua lututnya menekuk, menyembunyikan wajahnya.
"Andin! Tunggu! Dengerin aku dulu!" pekik Bryan mencabut selang infusnya.
"Aaarrrghh!" Bryan menguatkan diri turun dari ranjang. Menahan pusing dan nyeri luar biasa pada bekas lukanya. Perutnya kembali mengeluarkan darah karena dia memaksakan diri bangun.
Bryan melangkah berpegangan erat pada ranjangnya. Andin yang mendengar rintihan Bryan segera berdiri dan masuk kembali.
Andin terkejut melihat Bryan berdiri dengan wajah pucat yang sudah seperti mayat. Pandangannya berpusat pada perutnya yang kembali mengeluarkan darah. Begitu pun dengan tangan bekas infusnya.
"Astaga, Pak! Apa yang Bapak lakukan!" jerit Andin semakin menangis berlari mendekatinya.
"Tidurlah kembali, Pak. Aku panggilkan dokter," ucap Andin membantu Bryan duduk di ranjang.
Bryan menahan tubuh Andin, merengkuhnya dalam pelukan. "Tunggu! Aku tidak mau kamu salah paham lagi. Maaf aku memang suka bercanda. Aku juga bukan laki-laki romantis. Aku tidak tahu cara melamar yang baik itu seperti apa. Tapi aku mohon, dengarkan detak jantung ini, Ndin. Dia tidak pernah berbohong. Setiap degubannya selalu meneriakkan nama kamu. Aku sungguh mencintai kamu, Andin. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu," ucap Bryan tersengal-sengal.
"Jadilah kekasihku, jadilah pendampingku seumur hidupku. Aku nggak mau kehilangan kamu Andin. Tolong percayalah, aku sungguh mencintaimu," imbuhnya semakin melemah tanpa peduli darah yang terus mengalir.
Andin membalas pelukan Bryan dengan erat, "Maaf Pak, aku juga mencintaimu," ucap Andin bergetar.
Bryan mengusap rambutnya perlahan, "Aku tahu, jangan pernah tinggalin aku. Aku sudah terlalu sering ditinggalkan. Aku sangat mencintaimu Andin Mulia Pratiwi," ujar Bryan mencium puncak kepala Andin.
Andin mengangguk, "Aku juga mencintaimu Dosen Gantengku."
Setitik kelegaan pada hati Bryan mampu mengungkapkan perasaannya. Dan mendapatkan balasan yang sama. Sungguh hatinya sangat bahagia meski raganya sedang terluka, namun rasa sakit itu tidak dapat dia rasa.
Air mata kekecewaan Andin kini telah berubah menjadi air mata kebahagiaan. Tidak pernah terfikirkan olehnya, jika hari ini akan tiba. Andin tidak pernah menyangka ia mampu menggeser Chaca dari hati Bryan.
Tiba-tiba Bryan melemah, ia pingsan. Andin begitu panik melihatnya. Ia lalu membenarkan posisi Bryan.
"Astaga, Pak! Bertahanlah," serunya berlari ketakutan memanggil dokter.
Bersambung~
Aihh deg-degan aku nulisnya..wkwkwk