Menjadi artis terkenal tidak selalu membuat bahagia, Ivy Brown harus menyaksikan adiknya diperkosa dan dibunuh, dia melarikan diri dan mengalami kecelakaan hebat. Mobilnya hancur sedangkan kondisinya mengenaskan, ia tidak sadarkan diri dan mengalami koma.
Saat dia tersadar, Ivy tidak mengenali dirinya sendiri dan yang lebih membuatnya kaget,seorang pria tampan berada disisinya dan mengaku sebagai suaminya. Ivy mencoba bertahan di samping pria itu dan pada saat ingatannya kembali, sebuah konspirasi yang dia dapat.
Pengkhianatan, cinta, persahatan dan dendam menjadi satu saat dia tahu siapa dalang atas kematian dan orang yang memperkosa adiknya.
Akankah dia mampu bertahan dengan pria yang mengaku sebagai suaminya? Sedangkan sebuah bukti dikirimkan untuknya yang membuktikan jika pria itu ikut terlibat atas pemerkosaan dan pembunuhan adiknya.
Bisakah dia membalas dendam? Sedangkan cinta mulai tumbuh di hatinya untuk pria yang telah terlibat menghabisi keluarganya.
Antara cinta dan dendam, yang mana harus dia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25. MFH: Pulang
Sesuai ucapannya, hari itu Henry membawa Ivy pulang dari rumah sakit kerumah pribadinya.
Saat mereka tiba hari sudah menunjukkan pukul lima sore dan pada saat mobil yang membawanya memasuki sebuah pekarangan rumah, Ivy melihat keluar jendela untuk melihat rumah dua lantai yang ada didepannya.
Rumah yang dicat serba putih itu tampak begitu mewah, disanakah mereka tinggal sebelumnya? Tapi kenapa saat dia melihat rumah itu dia tidak merasakan apapun bahkan dia tidak ingat apapun mengenai rumah itu.
Ivy masih menatap rumah itu dan mencoba mengingat-ingatnya tapi sungguh dia tidak bisa mengingatnya. Dia pikir memang tidak mudah mengembalikan ingatannya hanya melihat tempat itu saja, mungkin setelah dia tinggal beberapa hari disana dia mulai bisa mengingat apa saja yang dia lalui disana.
"Ivy." Henry memegangi tangannya saat mobilnya sudah berhenti.
"Oh." Ivy memalingkan pandangannya dan menatap Henry.
"Kenapa kau melamun?"
"Apa ini rumah kita, Henry?"
"Ya, kenapa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya mencoba mengingat tempat ini. Aku ingin tahu apa saja yang kita lewati ditempat ini tapi aku belum bisa mengingatnya."
Henry tersenyum dan mengusap tangannya, mana mungkin Ivy bisa mengingat tempat itu sedangkan ini pertama kali Ivy datang kerumahnya.
"Pelan-pelan saja, lambat laun kau pasti ingat."
"Kau benar." jawab Ivy dengan senyum diwajahnya.
Henry turun dari mobil dan setelah itu, dia membuka pintu mobil dimana Ivy berada. Dengan hati-hati dia menggendong Ivy keluar dari mobil dan pada saat melihat kedatangannya, pelayan pribadi sangat kaget.
"Turunkan barang-barang yang ada dimobil dan setelah itu siapkan makan malam." perintahnya.
"Baik tuan muda." jawab pelayan itu sedangkan Henry membawa Ivy masuk kedalam.
Pelayan itu sangat heran, bukankah wanita yang ada didalam gendongan majikannya adalah Ivy Brown yang dikabarkan telah meninggal satu setengah tahun yang lalu? Tapi kenapa majikannya bisa membawa pulang artis itu? Apa ini hanya kebetulan saja dan wajah wanita itu mirip dengan Ivy Brown?
Jika memang wanita itu benar Ivy Brown maka ini adalah kesempatan bagus untuknya karena dia adalah penggemar Ivy Brown jadi dia mau minta tanda tangan.
Akan dia lakukan nanti, kapan lagi bukan bisa mendapatkan tanda tangan artis terkenal dan dia akan meminta Ivy berfoto bersama dengannya juga dan akan dia unggah diakun pribadinya nanti.
Walaupun dia tidak tahu wanita itu Ivy Brown atau bukan tapi ini kesempatan bagus untuknya dan mungkin dia akan menciptakan berita heboh saat para awak media tahu jika Ivy Brown belum mati.
Pelayan itu tampak senang, dia sangat yakin jika wanita yang dibawa pulang oleh majikannya adalah Ivy Brown.
Sedangkan saat itu didalam kamar, Henry menurunkan Ivy diatas ranjang dengan hati-hati sedangkan mata Ivy melihat kamar itu dengan seksama.
Henry duduk disampingnya dan memegangi tangannya.
"Henry, apa ini kamar kita?" tanyanya.
"Ya, kita akan tidur disini."
Saat mendengarnya wajah Ivy memerah, dia jadi ingin tahu apa saja yang mereka lakukan dikamar itu berdua.
"Henry."
"Hm?"
"Aku ingin melihat foto pernikahan kita, ada bukan?"
Henry diam saja sedangkan Ivy menatapnya dengan heran, ada apa?
"Henry?" panggilnya lagi.
"Ivy, semua foto kita ada dirumah orang tuaku." dustanya.
"Kenapa ada disana? Apa sebelumnya kita tinggal disana?" tanya Ivy lagi.
"Ya, kita memang tinggal disana sebelumnya dan sebelum kau kecelakaan, kita pindah kemari belum lama." dustanya lagi. Dia terpaksa mengatakan hal ini supaya Ivy tidak bertanya lebih jauh lagi.
Ivy mengangguk dan mengusap tangannya dan pada saat itu dia menyadari sesuatu.
"Henry, dimana cincin pernikahanku?" tanyanya sambil memperlihatkan jarinya.
"Tunggu sebentar." Henry bangkit berdiri dan berjalan kearah lemari, dia membuka sebuah laci kecil dan mengambil sesuatu. Tidak lama kemudian, Henry kembali lagi dan duduk disamping Ivy.
Dia membawa sebuah kotak cincin dan membuka benda itu, tidak hanya itu saja, Henry mengeluarkan sebuah cincin berlian dari dalam kotak itu dan meraih tangan Ivy.
"Ini cincin pernikahan kita." ucapnya sambil memakaikan cincin dijari Ivy.
Cincin itu memang sudah dia siapkan untuk melamar Ivy sewaktu dia pergi menemui kedua orang tua Ivy, waktu itu Ivy menolak dan dia menyimpan cincin itu dengan baik.
Ivy melihat cincin berlian yang tersemat indah dijarinya, cincin itu berhias Berlian biru dimana disisi kanan dan kirinya juga dihiasi Berlian berwarna pink yang membuat cincin itu semakin indah.
Dia masih tidak mengerti tapi menurutnya itu bukanlah hal biasa, dilihat bagaimanapun itu pasti benda mahal karena memang cincin itu dihargai U$$ 10 juta.
"Henry, maaf jika aku melupakan kenangan tentang kita." ucapnya sambil tertunduk.
"Jangan dipikirkan, kita bisa membuat kenangan indah lagi berdua."
"Kau benar, kita akan membuat kenangan yang lebih baik lagi."
"Aku pasti akan memberimu kenangan yang indah, Ivy." Henry mengangkat dagu Ivy dan mencium bibirnya, memang mereka belum punya kenangan apapun dan mereka akan membuat kenangan mulai sekarang dan dia harap, saat ingatan Ivy telah kembali, Ivy mengingat akan kenangan yang mereka lalui dan tidak membencinya.
Ivy memeluk Henry dan tampak bahagia, dia beranggapan sebelum mengalami kecelakaan mereka pasti saling mencintai karena bisa dilihat, Henry benar-benar tulus dan sayang dengannya.
Henry mengusap wajah Ivy dengan senyum diwajahnya, wanita yang menolaknya sekarang sudah ada bersama dengannya.
Dengan pelan, Henry membaringkan Ivy diatas ranjang dan kembali mencium bibirnya sedangkan Ivy memeluk lehernya.
Mereka berciuman begitu lama sampai terdengar suara ketukan didepan pintu, "Tuan muda, makanan sudah siap." ucap pelayannya.
"Ayo kita makan." ajak Henry dan dia bangkit berdiri.
"Hm, tolong ambilkan kursi rodaku." pinta Ivy.
"Tidak perlu, selama aku ada dirumah maka aku yang akan menggendongmu."
Henry sudah menggendong Ivy dan membawanya keluar dari kamar, dia membawa Ivy masuk kedalam dapur dan mendudukkan Ivy didepan meja makan.
Para pelayannya mulai menyiapkan makanan tapi matanya tidak lepas dari Ivy, dia melihat Ivy dengan teliti dan dia semakin yakin jika wanita itu adalah Ivy Brown artis idolanya. Tapi bagaimana mungkin? Padahal Ivy Brown sudah dinyatakan meninggal satu setengah tahun yang lalu.
"Kalian yang ada disini!" ucapan Henry membuat para pelayannya menghentikan pekerjaan mereka.
"Aku peringatkan pada kalian yang ada disini, jika kalian masih mau bekerja disini sebaiknya jangan berbuat macam-macam! Jika sampai kalian berani maka kalian akan menanggung akibatnya." ancamnya.
"Baik tuan." jawab pelayannya serempak sambil menunduk.
Ivy sangat heran, kenapa Henry mengancam pelayannya, ada apa?
"Henry, kenapa kau berbicara seperti itu?"
"Tidak apa-apa, jangan dipikirkan."
Ivy hanya mengangguk walaupun dia tidak mengerti tapi dia tidak mau ikut campur apalagi dia belum mengingat apapun, lebih baik dia makan saja sedangkan para pelayan Henry masih melirik kearahnya dan melihatnya dengan teliti. Sekarang mereka semakin yakin jika wanita itu memang Ivy Brown.
Kl Bella cuma bilang dikenalkan dgn semua..... blm titik, Bella usah seneng duluan😄