NovelToon NovelToon
Satu Hukuman, Dua Hati

Satu Hukuman, Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Di tengah gemerlap kehidupan SMA favorit di kota, dua dunia yang bertolak belakang terpaksa bersinggungan karena sebuah keterlambatan di pagi yang terik.
Alya Saraswati adalah representasi dari perjuangan dan ketenangan. Parasnya yang cantik alami berpadu dengan sifatnya yang pendiam, dingin, dan sangat cerdas. Bagi Alya, SMA bukanlah tempat untuk memadukan tren atau mencari popularitas, melainkan medan pertempuran untuk mengubah takdir ekonomi keluarganya. Berada di kelas sosial bawah, tujuan hidupnya sangat tegas: belajar sekuat tenaga, lulus dengan nilai sempurna, lalu bekerja demi membawa keluarganya keluar dari garis kemiskinan.
Keseharian Alya yang tenang disemarakkan oleh dua sahabat karibnya Adel dan jesica dua gadis dari keluarga kelas menengah yang berisik, hiperaktif, ekstrovert, dan tidak bisa diam sebentar pun. Meski kontras, kedua sahabatnya inilah yang selalu menjadi pelindung dan hiburan di tengah beban hidup Alya.
Di sisi lain garis takdir, ada Devan Narendra. Tampan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam kian melarut, merayap menuju pukul sebelas malam ketika rintik hujan gerimis mulai menetes pelan menimpa atap seng rumah Alya. Di dalam dapur sederhana berukuran tiga kali tiga meter itu, hawa panas membubung tinggi dari dua panci kukusan besar yang terus berhembus menembus celah dinding papan. Aroma pekat cokelat lelehan yang manis berpadu dengan gurihnya kentang kukus yang dihaluskan, memenuhi setiap sudut ruangan kecil tersebut.

Di atas meja kayu tua yang biasanya lengang, kini berubah menjadi medan perjuangan yang luar biasa. Berderet-deret wadah mika bening mulai terisi secara bertahap. Alya, dengan rambut diikat tinggi dan apron kain milik ibunya, bergerak sangat cekatan. Jemarinya yang ramping menakar adonan brownies cokelat ke dalam cetakan-cetakan kecil berbaris rapi. Di sisinya, sang ibu bekerja tak kalah lincah—tangan yang mulai dipenuhi kerutan halus itu dengan sabar mengolesi margarin tipis-tipis pada cetakan kue lumpur agar tidak lengket saat diangkat nanti.

"Alhamdulillah ya, Nduk... Ibu bener-bener gak nyangka," ucap ibu dengan suara lembut yang sarat akan rasa syukur. Wajahnya yang tampak lelah terhiasi senyuman paling tulus saat menatap ratusan mika kue yang tertata. "Baru kemarin sore kamu mulai jualan, malam ini sudah ada pemesan besar yang percaya sama kue buatan kita sampai dua ratus biji. Gusti Allah kalau mau membukakan pintu rezeki memang tidak pernah disangka-sangka jalannya."

Alya menoleh, mengulas senyum manis yang memancarkan binar kebahagiaan dari sepasang matanya. Rasa lelah yang mulai menggerogoti bahu dan jemarinya seolah sirna begitu saja melihat pancaran kebanggaan di raut wajah wanita yang sangat dicintainya itu.

"Iya, Bu," sahut Alya halus sembari menuangkan adonan brownies dengan bantuan sendok sayur. "Alya juga sempat kaget pas terima pesanannya tadi sore di sekolah. Katanya kue ini buat acara seminar besok pagi jam tujuh. Katanya lagi, mereka tahu Dapur Saras dari ulasan teman-teman di media sosial."

Ibu mengangguk-angguk paham, menyapu sisa tepung di tepi meja. "Ibu senang sekali liat kamu antusias begini. Walaupun capai, kalau dikerjakan dengan hati yang ikhlas dan senang, rasanya jadi ringan. Biar Ibu yang selesaikan mengocok adonan kentang untuk gelombang terakhir kue lumpur ini, kamu fokus saja menata kue brownies yang sudah dingin ke dalam kotak mika besar ya."

"Siap, Koki Kepala!" kelakar Alya riang, membuat ibunya terkekeh pelan di tengah keheningan malam.

Irama denting sendok yang mengocok adonan manual, kepulan uap panas kukusan, dan gelak tawa kecil yang sesekali tercipta di antara ibu dan anak itu menjadi melodi terindah di bawah naungan rumah berdinding papan kayu tersebut. Mereka mengerjakan dua ratus pesanan kue itu bukan hanya dengan target uang, melainkan dengan penuh rasa antusias, ketulusan, dan rasa bangga bahwa dari dapur yang sangat bersahaja ini, karya mereka dinikmati oleh banyak orang.

Alya mengemas kue demi kue dengan sangat hati-hati, memastikan setiap mika tertutup rapat dan higienis. Bagi Alya, pesanan dua ratus kue dari katering ini adalah anugerah tak terhingga yang akan mengukuhkan tabungan usahanya, sekaligus pembuktian bahwa usaha jujur tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Sementara itu, di sebuah kamar mewah serba putih berukuran luas di kawasan perumahan elit kota, atmosfer yang sangat bertolak belakang tengah terjadi.

Clara sedang berbaring santai di atas tempat tidur berukuran *king size* bertiupkan pendingin udara yang sejuk. Ia mengenakan piyama sutra mahal sambil mengayun-ayunkan kakinya, mengamati kuku-kukunya yang baru saja dihiasi warna merah menyala. Di genggamannya, ponsel flagship keluaran terbaru menampilkan tangkapan layar percakapan dari akun palsunya, @angeline.bakery_order, dengan akun "Dapur Saras".

Clara menyunggingkan senyum sinis yang penuh dengan rasa puas dan kebencian yang mendalam. Suara tawanya yang renyah namun dingin terdengar menggema pelan di dalam kamarnya yang sepi.

"Kasihan banget lo, Alya," desis Clara dengan nada meremehkan yang amat sangat. "Malam-malam gini pasti lo lagi mandi keringat di dapur kayu lo yang sempit itu, nguras semua sisa uang simpanan lo buat beli bahan baku dua ratus kue. Lo pasti mikir besok pagi lo bakal dapet uang banyak dan bisa bergaya di depan Devan, kan?"

Clara mengubah posisi duduknya, bersandar pada bantal empuk sembari membayangkan kekacauan yang akan terjadi esok pagi di taman belakang sekolah. Di dalam skenario licik yang dirancangnya, Alya akan datang menggeret kotak-kotak kue yang berat ke taman belakang yang sepi tepat pukul tujuh pagi. Alya akan berdiri di sana, menunggu berjam-jam hingga bel masuk berbunyi, sementara akun palsu itu sama sekali tidak akan merespons pesan apa pun dan memblokir Alya begitu saja.

Clara tertawa puas bayangan itu. Ia membayangkan Alya yang kelelahan karena tidak tidur semalaman, menangis tersedu-sedu di taman belakang karena seluruh modal uangnya ludes terbakar, dan membawa kembali dua ratus kue basi yang tidak terjual itu pulang ke rumahnya dengan kepala menunduk malu.

"Ini hukuman buat cewek miskin yang gak tahu diri kayak lo karena berani ngelawan gue dan nyari perhatian ke Devan!" gumam Clara tajam.

Namun, di balik segala rasa puas dan kepicikan rencananya yang ia anggap sempurna, ada satu kenyataan besar yang sama sekali tidak diketahui oleh Clara. Rencana liciknya untuk menggagalkan pelunasan biaya *study tour* Alya sebenarnya sudah *terlambat dan sia-sia sejak awal*.

Clara sama sekali tidak tahu bahwa siang tadi, Alya sudah melangkahkan kakinya ke ruang guru dengan kepala tegak, dan menyerahkan uang tunai hasil penjualan kue sahnya kepada Bu Ani. Nama Alya Saraswati sudah tercantum resmi di lembar dokumen Bu Ani sebagai murid yang *LUNAS* dan dipastikan ikut dalam perjalanan *study tour* minggu depan.

Kemenangan yang dibayangkan Clara hanyalah ilusi semata yang lahir dari rasa dengki. Ia tidak menyadari bahwa kebohongan yang dirancangnya esok pagi tidak akan mampu merubuhkan benteng kebahagiaan Alya yang sudah kokoh.

Kembali ke dapur sederhana rumah Alya, jarum jam dinding kini menunjuk angka **03.15 WIB**.

Seluruh siklus pembuatan dua ratus kue akhirnya selesai dengan sempurna. Dua ratus mika bersih berisi brownies mini cokelat yang legit dan kue lumpur kentang yang lembut dengan taburan kismis telah tertata rapi di dalam empat kotak karton besar yang bersih. Dapur yang tadi berantakan kini sudah disapu dan dibersihkan kembali oleh Alya dan ibunya.

Alya menatap tumpukan kotak karton itu dengan napas lega yang amat dalam. Peluh yang menetes di dahi dan rasa pegal di seluruh persendian tubuhnya terbayar tuntas oleh rasa puas yang tak ternilai harganya.

"Alhamdulillah... selesai juga ya, Bu," bisik Alya hangat, mengusap bahu ibunya yang duduk bersandar di kursi kayu.

"Iya, Nduk. Sekarang kamu cuci muka, terus istirahat sebentar walau cuma satu jam sebelum subuh ya," ujar ibu lembut, mengelus rambut Alya dengan rasa kasih sayang yang begitu membuncah.

Alya mengangguk tulus. Sebelum melangkah ke kamarnya, Alya sempat melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Layarnya menampilkan jam dan tidak ada notifikasi baru dari siapa pun. Alya tersenyum tenang, sama sekali tidak menaruh rasa curiga, tidak menyadari bahwa esok pagi jam tujuh, sebuah jebakan sedang menunggunya di taman belakang sekolah. Namun dengan ketulusan hati, kerja keras, serta dukungan dari orang-orang yang menyayanginya, Alya siap menghadapi apa pun yang membentang di hadapannya esok hari.

1
Rini Riyanti
lanjut dong thor, suka sama ceritanya
fatih faa
lanjut terus kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!