NovelToon NovelToon
Air Mata Di Ujung Penyesalan

Air Mata Di Ujung Penyesalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mabuok Hape

Arga Pratama adalah suami yang selama ini dikenal dingin, pekerja keras, dan mencintai istrinya sepenuh hati. Demi memenuhi semua keinginan sang istri, Nabila, ia rela bekerja siang malam hingga menjadi pengusaha sukses.

Namun, di balik kesibukannya, Nabila justru menjalin hubungan terlarang dengan Reza, sahabat terbaik Arga sendiri.

Pengkhianatan itu terbongkar pada hari ulang tahun pernikahan mereka.

Alih-alih langsung menceraikan, Arga memilih diam.

Ia mulai menyusun pembalasan yang begitu rapi, membuat semua orang yang telah mengkhianatinya kehilangan kehormatan, harta, dan kepercayaan satu per satu.

Tetapi di tengah balas dendam itu, muncul seorang wanita sederhana bernama Aisyah yang perlahan mengubah hati Arga.

Akankah Arga tetap menjadi suami yang kejam, atau memilih memaafkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mabuok Hape, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Tiga Hati

Malam kian melarut saat hujan deras di luar mulai mereda menjadi gerimis tipis yang konstan. Udara dingin menyusup hingga ke dalam ruang tamu utama rumah megah itu, berbaur dengan aroma kayu cendana dari pengharum ruangan yang biasanya menenangkan, namun malam ini terasa menghimpit dan mencekam.

Nabila masih bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin, lututnya lemas, jemarinya memungut sisa-sisa keberanian yang hancur. Air mata yang membasahi pipinya belum juga mengering. Tatapan Arga yang mengabaikannya beberapa saat lalu terasa lebih menyakitkan daripada bentakan Reza. Di dalam dada Nabila, ada kehampaan yang luar biasa besar—sebuah kesadaran terlambat bahwa benteng perlindungan yang selama ini ia anggap tak terbatas, kini telah menutup pintunya rapat-rapat.

Arga berdiri di dekat meja konsol, menuangkan air putih ke dalam gelas kristal. Gerakannya begitu teratur, tenang, dan tanpa tremor sedikit pun. Setiap lengkungan sikapnya memancarkan kendali penuh atas situasi, sebuah kontras yang tajam dibanding kekacauan emosi yang merajai Nabila.

Pintu depan berdering pelan, disusul suara langkah kaki yang terburu-buru dan napas yang memburu dari lorong masuk.

Reza melangkah masuk tanpa mengetuk. Kemeja mewahnya agak basah di bagian bahu terkena cipratan gerimis. Wajahnya pucat, matanya liar menyapu ruangan hingga akhirnya tertuju pada Nabila yang terduduk di lantai, lalu beralih pada Arga yang berdiri tenang memegang gelas.

"Ga..." Reza mencoba membuka suara, suaranya sedikit parau. Ia memaksakan sebuah senyuman—topeng paling kaku yang pernah ia pakai sepanjang hidupnya. "Maaf aku datang malam-malam begini tanpa kabar. Aku... aku cuma cemas sama Nabila. Tadi dia keluar dari kantorku sambil menangis histeris. Aku takut ada salah paham di antara kita."

Pertemuan tiga hati itu akhirnya terjadi di ruangan ini. Tiga manusia yang terikat dalam jaring kebohongan, perselingkuhan, dan dendam yang kini berkumpul di bawah pendar remang lampu gantung kristal.

Nabila mendongak, menatap Reza dengan sorot mata yang dipenuhi rasa benci, jijik, dan kekecewaan yang tak terhingga. "Jangan berakting lagi, Reza! Berhenti pura-pura peduli!" jerit Nabila dengan suara yang pecah.

Reza mengencangkan rahangnya, memberi pendar ancaman terselubung pada Nabila lewat tatapannya. "Nabila! Kamu ini kenapa sih? Aku cuma mau meluruskan masalah pekerjaan kita! Kamu jangan bawa emosi pribadi ke rumah dan bikin Arga bingung!"

Arga menghentikan ketukan jarinya di gelas. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap dua orang di hadapannya dengan pendar mata yang jernih—begitu jernih hingga seolah mampu menembus setiap lapisan busuk dari kebohongan mereka.

"Tidak usah bersandiwara lagi, Reza. Nabila," suara Arga mengalun sangat halus, memotong pertengkaran mereka bagai bilah pisau yang membelah kain sutra.

Keheningan seketika menyergap ruangan. Reza terpaku di tempatnya, sementara Nabila menahan napasnya yang patah-patah.

Arga melangkah maju dengan tenang, meletakkan gelas kristalnya di meja kaca. Ia berdiri tepat di tengah-tengah antara Nabila yang berlutut dan Reza yang mematung kaku.

"Arga... maksudmu apa?" bisik Reza dengan tenggorokan yang mendadak terasa sekering gurun. Logika bertahan hidupnya berputar cepat, mencoba mencari celah untuk mengelak. "Kalau soal transaksi 15 miliar yang tertahan itu, aku bisa jelaskan—"

"Aku tidak sedang membicarakan transaksi 15 miliar, Reza," potong Arga seraya menyunggingkan senyum tipis—senyuman yang membuat bulu kuduk Reza berdiri tegak. "Aku sedang membicarakan sepuluh tahun persahabatan kita... lima tahun pernikahanku dengan Nabila... dan dua tahun perselingkuhan kalian di belakangku."

Brak.

Kata-kata itu menghantam ruangan bagai petir di tengah malam yang sepi.

Wajah Reza seketika kehilangan seluruh warna darahnya. Bibirnya terkunci rapat, matanya membesar diliputi ketakutan yang murni dan luar biasa dahsyat. Lutut Reza bergetar pelan; seluruh keangkuhan dan rasa superioritasnya sebagai penipu ulung hancur berkeping-keping dalam satu detik.

Nabila memejamkan matanya erat-erat, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara. Ketakutan terbesarnya telah menjadi kenyataan. Pria yang ia sangka buta oleh cinta ternyata telah mengawasi setiap langkah kejatuhannya sejak awal.

"Kamu... kamu sudah tahu, Ga?" bisik Reza dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu kaku.

Arga menatap sahabatnya itu, lalu beralih menatap istrinya. chemistry bertiga malam ini bukan lagi chemistry cinta, persahabatan, atau gairah—melainkan chemistry antara sang Algojo dan dua terpidana mati yang baru saja mendengarkan pembacaan vonis.

"Tentu saja aku tahu," ujar Arga dengan nada yang amat lembut, hampir menyerupai bisikan pengabdi yang tulus. "Aku tahu saat kamu menyentuh istriku di rumah ini. Aku tahu saat kamu mengalirkan dana 100 miliar itu ke rekening-rekening rahasiamu. Dan aku tahu saat kalian berdua tertawa di belakangku, berpikir bahwa aku adalah pria bodoh yang bisa kalian peras hingga habis."

Arga melangkah mendekati Reza. Pria yang tubuhnya tegap itu kini tampak begitu kerdil di hadapan Arga. Arga merapikan kerah kemeja Reza yang sedikit lipat—sebuah gestur yang dulu bermakna perhatian seorang sahabat, namun kini terasa seperti sentuhan malaikat pencabut nyawa.

"Kamu tahu apa yang paling menarik dari permainan kalian, Reza?" bisik Arga tepat di depan wajah Reza yang pucat pasi. "Kalian begitu fokus membodohiku... sampai kalian lupa memeriksa berkas penjamin yang kalian tanda tangani sendiri."

Nabila mendongak dengan tatapan penuh kepanikan yang liar. "M-mas Arga... berkas penjamin itu..."

Arga menoleh pada Nabila, memberikan tatapan paling hangat namun paling membekukan jiwa. "Berkas Personal Guarantor itu tidak pernah dirancang untuk melindungimu dari aku, Nabila. Berkas itu dirancang untuk memastikan bahwa saat Reza melarikan uang itu... kamulah yang akan menggantikannya duduk di kursi pesakitan sebagai pelaku utama penggelapan aset."

"Enggak... enggak mungkin!" jerit Nabila hysteris. Ia merangkak mendekati Arga, mencoba menggapai kaki suaminya lagi, namun Arga melangkah mundur dengan dingin. "Mas Arga... aku istri Mas! Mas tega jebak aku?!"

"Aku tidak menjebakmu, Nabila," balas Arga tenang, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Kamu sendiri yang menandatanganinya dengan senyuman lebar. Kamu sendiri yang memilih untuk mempercayai pria yang sekarang berdiri di sampingmu ini."

Arga beralih menatap Reza yang kini bersandar kaku pada dinding, napasnya tersedat-sedat oleh kepanikan yang membakar otaknya.

"Dan kamu, Reza..." lanjut Arga, langkah kakinya mengintimidasi. "Besok pagi, tim hukum Pratama Group beserta otoritas kepolisian akan menyita seluruh aset PT Nusantara Karya, melacak seluruh rekening offshore-mu, dan menerbitkan surat penangkapan atas namamu dan Nabila."

"Arga! Tolong, Ga! Kita bisa bicara!" teriak Reza panik, matanya berkaca-kaca oleh rasa takut kehilangan segalanya—kehormatan, harta, dan kebebasannya. Ia maju hendak memegang bahu Arga, namun Arga menatapnya dengan kilatan mata yang begitu tajam hingga Reza menghentikan langkahnya seketika. "Kita ini sahabat, Ga! Aku khilaf! Aku bakal kembalikan uangnya! Tolong jangan hancurkan aku!"

"Sahabat?" Arga tertawa kecil—sebuah tawa dingin yang menggelegar di dalam ruangan yang sunyi. "Sahabat tidak meniduri istri sahabatnya. Sahabat tidak merampok rumah tempat ia ditumpangi saat melarat."

Arga berjalan menuju pintu utama, membukanya lebar-lehar. Udara malam yang dingin menyembur masuk, membelai wajah dua pengkhianat yang kini berdiri tanpa daya di tengah ruangan.

"Pertemuan tiga hati kita selesai malam ini," kata Arga dengan suara yang sangat tegas, berwibawa, dan tanpa ampun. "Keluarlah dari rumahku, Reza. Dan kamu, Nabila... kemasi barang-barangmu. Besok pagi, rumah ini akan disita atas nama kerugian perusahaan yang kamu jamin sendiri."

Nabila menangis meraung-raung di atas lantai marmer, menyadari bahwa penyesalannya tidak lagi memiliki arti. Reza berdiri mematung, menatap Arga dengan tatapan kehancuran yang mutlak—melihat bagaimana seluruh istana kemewahan dan kebohongannya runtuh seketika dalam satu malam.

Di pintu yang terbuka, Arga Pratama berdiri tegap menatap kegelapan malam. Jiwanya yang dulu terluka kini telah sembuh, bukan oleh amarah, melainkan oleh pembalasan dendam yang tuntas dan dingin.

1
Pinkan Aritra
sukurin
Pinkan Aritra
kapok
Idefdenko Channel
semogah Arga membalas perbuatan istri nya
Idefdenko Channel
mantap, mendebarkan ...
Idefdenko Channel
mantap
partini
konflik nya masih lama ya Thor
laju dikit Thor biar gereget bacanya ini slowly Banggt
Mabuok Hape: ya KK, maklum lah baru belajar buat novel .. he he he, kadang salah, kadang alur entah kemana perginya, jadi harap maklum 🙏
total 3 replies
partini
cari buktinya susah banget ya ga aihhhh
partini
ayo ga bikin kejutan buat mereka berdua yg sadis yah
partini
Arga kan terzolimi Thor istri selengkong ko ada kata suami kejam ?
partini: oh sperti itu ok ,tapi bukan kejam sih menurut ku harga yg harus di rasakan istri nya karena berani selengkong
jadi ga kejam 🤭
total 2 replies
partini
kumpulan bukti sebanyak"nya cari momen acara yg penting di hadiri kedua keluarga dan tamu play lah tuh bukti like boom
#@.Ar.world(。・ω・。)
cerita nya bagus aku suka dan udah aku kasih like, yang semangat bikin novelnya 👍👍
Mabuok Hape: makacih😍
total 6 replies
partini
lain ini lelaki yg di selingkuhi,,aihhh jadi suami kejam Dong masa iya balik ke lobang yg sama plus terkontaminasi cairan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!