Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 18
Mobil Vino melaju membelah rintik hujan tanpa arah yang jelas. Pandangannya kabur, bukan hanya karena sapuan wiper yang tak henti bergerak, melainkan oleh rasa penyesalan yang membakar dadanya hingga sesak. Kata-kata Kiara, terutama caranya menatap cincin itu berdengung paul di telinganya seperti alarm kematian bagi hubungannya.
Kiara tidak menangis. Kiara tidak mencacinya. Dan itu justru ratusan kali lebih menakutkan daripada amarah yang meledak-ledak. Vino mencengkeram kemudi erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.
"Gua harus jelasin semua ini," gumamnya frustrasi pada ruang kosong di dalam mobil.
"Gua nggak boleh kehilangan Kiara. Kenapa gue malah milih bohong di banding bilang dulu sama Kiara kalau aku membantu Shela. Shiiit... Vino bodoh bajingan..."
Namun, di sudut kota yang lain, Kiara justru merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan selama beberapa bulan terakhir.
Restoran bernuansa warm lighting itu dipenuhi gelak tawa teman-temannya. Kiara duduk di sana, menyantap makan malamnya dengan anggun, sesekali merespons lelucon rekannya dengan senyum tulus bukan senyum palsu yang baru saja ia berikan pada Vino di pelataran parkir.
"Ra, benaran kamu yang bakal ditarik ke proyek cabang luar kota mulai lusa?" tanya Maya, salah satu teman dekatnya di kantor, sambil memotong steak di piringnya.
"Bukannya itu proyek jangka panjang? Minimal enam bulan, kan?"
Kiara mengangguk pelan lalu menyeruput minumannya.
"Iya. Atasan udah setuju. Lagian, aku butuh suasana baru. Fokus ke karier dulu."
"Terus... Mas Vino gimana?" tanya Maya lagi, berhati-hati. "Bukannya kalian baru aja tunangan? Mas Vino izinin kamu pergi sejauh dan selama itu? Kalian akan segera menikah juga kan?"
Senyum Kiara memudar tipis, berganti dengan binar mata jernih yang sukar diartikan.
"Dia nggak perlu mengizinkan atau melarang, May. Ada hal-hal yang memang harus diselesaikan masing-masing. Kalau Mas Vino punya 'urusan penting' yang harus dia urus, aku juga punya hidup yang harus aku jaga."
Teman-temannya saling pandang, menangkap sinyal dingin dari ucapan Kiara, namun memilih untuk tidak menggali lebih dalam. Mereka tahu betapa gigihnya Kiara menata hatinya yang dulu sempat hancur. Malam itu, usai makan malam, Kiara pulang ke rumah orang tuanya. Saat memasuki kamar masa kecilnya, Kiara mendekati meja rias. Ia menatap pantulan dirinya di cermin, lalu perlahan menunduk menatap jemari tangannya.
Cincin lamaran dari Vino berkilau di bawah lampu kamar.
Tanpa air mata, Kiara menarik cincin itu dari jarinya. Gesekan logam dingin itu terasa begitu tegas. Ia membukanya perlahan, lalu meletakkannya di dalam sebuah kotak beludru kecil di atas meja.
Dia tidak membenci Vino. Dia hanya lelah. Lelah menjadi nomor dua di saat pria itu berjanji menjadikannya satu-satunya. Lelah harus selalu mengerti, sementara ketegasannya sendiri selalu goyah setiap kali sosok sepupu mengetuk pintu. Jika Vino belum selesai dengan masa lalunya, maka Kiara yang akan selesai dengan Vino.
Bukan panggilan dari Vino, melainkan notifikasi pesan bertubi-tubi dari nomor baru yang langsung dikenali Kiara: Shela.
Pesan-pesan itu masuk berderet, penuh kepanikan, ancaman terselubung, dan ratapan.
“Kiara! Tolong aku, Mbak... Mas Vino blokir nomor aku lagi. Padahal aku nggak pegang uang sepeser pun buat bayar sisa tagihan rumah sakit!”
“Kalau sampai aku diusir dari sini atau ditahan pihak rumah sakit karena nggak bisa bayar, aku bakal teriak ke semua orang kalau Mas Vino yang janji bakal tanggung jawab atas semuanya! Aku bakal datengin kantor kamu kalau kalian nggak peduli sama aku!”
“Kalian enak-enakan tunangan dan bahagia di atas penderitaan aku! Suruh Mas Vino buka blokirannya dan selesaikannya sekarang juga!”
Kiara, yang tadinya duduk tenang menikmati teh hangat bersama ibunya, membaca rentetan pesan itu satu per satu.
"Siapa Nak?" Tanya Bu Anisa.
"Shela... Dia marah karena Mas Vino tidak membayar biaya rumah sakit dan saat ini dia masih berada di sana,"
Bu Anisa yang sedang memegang cangkir tehnya seketika membeku. Senyum hangat di wajah wanita paruh baya itu luntur, berganti raut ketegangan yang amat sangat. Dari arah ruang tengah, Pak Haidar yang baru saja selesai membaca koran melangkah mendekat, menangkap perubahan atmosfer yang tiba-tiba di meja makan.
"Shela?" bisik Bu Anisa, suaranya bergetar menahan gejolak amarah yang mendidih.
"Wanita itu lagi, Nak? Setelah apa yang dia perbuat untuk merusak kamu dan Vino, sekarang dia berani menagih uang rumah sakit ke kamu?!"
Pak Haidar mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sebagai seorang ayah, ia tahu betul betapa Shela pernah menjadi benalu yang hampir menghancurkan kesehatan mental putri tunggalnya. Rahangnya mengeras.
"Bukan ke Kiara, Bu, Ayah," sahut Kiara pelan. Suaranya terdengar jernih, sangat tenang sebuah ketenangan yang justru lahir dari rasa lelah yang sudah mencapai batasnya.
"Shela nggak bisa hubungi Mas Vino karena nomornya diblokir. Jadi dia teror Kiara. Dia mengancam mau bikin keributan kalau tagihannya nggak dibayar."
"Kurang ajar!" Pak Haidar memukul meja pelan namun tegas.
"Vino benar-benar tidak pernah belajar! Dia janji di depan Bapak untuk menjaga kamu, tapi dia masih membiarkan wanita itu mengacaukan hidupmu? Dan sekarang dia melempar masalahnya ke kamu?!"
Belum sempat Kiara merespons, suara deru mesin mobil yang sangat familiar berhenti di luar pagar rumah. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu yang tergesa-gesa, diikuti panggilan suara yang bergetar penuh kecemasan.
"Kiara... Ra, ini Mas..."
Vino berdiri di luar. Langkahnya gontai, pakaiannya sedikit kusut, dan wajahnya pucat pasi bagai mayat hidup. Semalaman ia tidak tidur, dihantui rasa bersalah dan ketakutan luar biasa.
"Ayah, Ibu... Kiara belum mau ketemu Mas Vino sekarang. Kiara akan bertemu dia besok bersama dengan Rania saja. Dan malamnya sesuai permintaan Kiara ajak kedua orang tua Mas Vino untuk makan malam. Kiara akan mengatakannya besok,"
Pak Haidar dan Bu Anisa saling pandang, menatap putri tunggal mereka dengan pandangan sarat keharuan dan rasa bangga. Di balik raut lelah Kiara, ada kedewasaan dan ketegasan yang tak lagi bisa digoyahkan. Berpisah dengan putri satu-satunya lusa nanti tentu menjadi hal yang amat berat bagi mereka, namun melihat tekad Kiara yang ingin menyelesaikan segalanya dengan terhormat dan bermartabat, mereka tahu ini adalah jalan terbaik.
"Baik, Nak," Pak Haidar mengusap lembut puncak kepala Kiara, menyalurkan seluruh kekuatan seorang ayah.
"Kalau itu keputusan kamu, Ayah dan Ibu akan selalu berdiri di belakang kamu. Biar Ayah yang bicara sama Vino sekarang."
Pak Haidar melangkah mantap menuju pintu depan, sementara Bu Anisa merangkul bahu Kiara erat-erat.
Saat pintu kayu rumah terbuka, Vino yang berdiri di teras langsung membelalakkan mata panik. Wajahnya yang pucat pasi memancarkan kecemasan yang teramat sangat. Pria itu sudah memegang buket bunga yang tampak layu, sama seperti kondisinya saat ini.
"Om... Tante," ujar Vino tergesa, suaranya parau dan bergetar.
"Vino mohon, Om... Vino mau ketemu Kiara. Vino mau minta maaf dan jelasin semuanya. Vino nggak mau kehilangan Kiara..."
Pak Haidar menatap calon menantunya atau mungkin mantan calon menantunya dengan pandangan dingin dan penuh ketegasan. Tak ada makian, tak ada amarah yang meledak, hanya wibawa seorang kepala keluarga yang telah membulatkan tekad.
"Pulanglah, Vino," potong Pak Haidar singkat, menghentikan kepanikan Vino seketika.
"Pak, Vino mohon..." air mata Vino mulai menetes, meluruhkan sisa-sisa gengsi dan harga dirinya. Pria itu bahkan bersiap untuk berlutut di teras.
"Demi Allah, Vino cuma cinta sama Kiara. Masalah Shela kemarin cuma kebodohan Vino yang kasihan, Vino udah blokir nomornya..."
"Tugas kamu memikirkan Shela atau memblokir nomornya bukan lagi urusan kami, Vino," tegas Pak Haidar tanpa keraguan.
"Kiara tidak akan menemui kamu malam ini. Dia butuh waktu, dan kamu harus menghargai itu."
Vino membeku, dadanya naik turun menahan sesak yang makin mencekik.
"Lalu... kapan Vino bisa ketemu Kiara, Om? Tolong, jangan jauhin Kiara dari Vino..."
"Besok," jawab Pak Haidar datar.
"Kiara akan menemui kamu besok. Dan dia minta kamu menyiapkan waktu besok malam. Undang kedua orang tuamu untuk makan malam bersama keluarga kita. Kiara yang akan menyampaikan langsung semuanya di depan kedua keluarga."
Kata 'makan malam keluarga' yang diucapkan Pak Haidar sama sekali tidak terdengar seperti undangan perayaan, melainkan sinyal dari sebuah penghakiman akhir.
"Om... apa Kiara mau batalin lamaran kami?" bisik Vino dengan bibir gemetar, matanya menatap pintu rumah yang tertutup rapat di belakang Pak Haidar dengan rasa takut yang luar biasa.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,