NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14: Perceraian

Surya belum sempat mendorong pintu kaca Kantor Hukum Sentana ketika ponselnya bergetar.

Nomor pengadilan.

Ia menatap layar selama satu detik, lalu mengangkat.

"Saudara Surya Prasetyo?" suara petugas administrasi terdengar datar, seperti orang yang setiap hari membaca akhir hidup orang lain dari balik meja loket.

"Saya."

"Akta cerai Saudara sudah dapat diambil hari ini. Silakan datang membawa identitas asli dan salinan putusan."

Di depan papan nama Sentana, Surya diam.

Pagi itu seharusnya menjadi hari pertamanya memasuki kantor hukum. Tetapi sebelum ia memulai hidup baru, hidup lama menuntut tanda tangan terakhir.

Ia menatap gedung itu sekali lagi, lalu memutar badan.

"Saya datang sekarang."

Honda Brio hitam keluar dari parkiran Mega Kuningan menuju pengadilan Jakarta Selatan. Di sepanjang jalan, Surya tidak menyalakan musik. Ia hanya mendengar suara mesin kecil, klakson dari arah belakang, dan napasnya sendiri yang anehnya tenang.

Tiga tahun pernikahan berakhir bukan dengan tangisan di kamar, bukan dengan pelukan terakhir, bukan dengan kata maaf.

Berakhir di loket administrasi, dengan map cokelat, stempel basah, dan tanda tangan penerimaan.

Petugas menyerahkan dokumen itu kepadanya.

"Mulai hari ini, hubungan perkawinan Saudara dengan Nadia Kusuma sudah tercatat putus secara hukum."

Kalimat itu tidak keras.

Tetapi bagi Surya, bunyinya seperti pintu besi yang akhirnya terbuka.

Ia membaca namanya. Membaca nama Nadia. Membaca nomor perkara. Membaca tanggal penerbitan akta cerai.

Tidak ada lagi "suami Nadia".

Tidak ada lagi "menantu keluarga Kusuma".

Di atas kertas negara, ia kembali menjadi Surya Prasetyo.

Saat ia keluar dari gedung pengadilan, Nadia sudah berdiri di bawah kanopi. Rambutnya rapi, tasnya mahal. Namun, wajahnya tidak lagi punya kilau wanita yang biasa memandang semua orang dari atas.

Ia juga memegang salinan akta cerai.

"Puas?" Nadia bertanya.

Surya berhenti beberapa langkah darinya.

"Ya."

Jawaban pendek itu membuat Nadia seperti ditampar lagi.

"Kamu pikir setelah ini hidupmu akan naik?" Suaranya meninggi. Beberapa orang yang menunggu sidang langsung menoleh. "Kamu cuma laki-laki miskin yang kebetulan dapat bantuan polisi perempuan itu!"

Surya tidak menanggapi.

Nadia melangkah maju. "Tanpa keluarga Kusuma, tanpa uangku, tanpa rumahku, kamu bukan siapa-siapa!"

Seorang ibu berhijab yang duduk di kursi tunggu berbisik, "Itu yang tadi kalah perkara cerai, ya?"

Bisikan itu lebih tajam daripada bentakan.

Nadia mendengarnya. Matanya memerah.

"Kamu akan menyesal!" teriaknya, kali ini tanpa peduli siapa yang melihat. "Aku bersumpah, Surya! Kamu akan merangkak kembali!"

Surya menatap akta cerai di tangannya, lalu memasukkannya ke dalam map.

"Nadia," katanya pelan, "kalau aku merangkak, itu karena dulu aku masih mengira rumahmu tempat pulang."

Ia menatap mata mantan istrinya.

"Sekarang aku tahu itu cuma kandang."

Kerumunan kecil di sekitar pintu pengadilan menjadi hening.

Wajah Nadia berubah pucat.

Surya berbalik.

Pada saat yang sama, sebuah Porsche Panamera hitam berhenti di pinggir jalan. Kaca belakang turun sedikit. Dari dalam, Surya melihat profil wajah Kevin Tanuwijaya, kacamata hitam, rahang tegang, dan kesombongan yang dipaksa tetap utuh.

Nadia juga melihat mobil itu. Amarahnya yang tadi meledak langsung berubah menjadi kegelisahan. Ia menggenggam tas, lalu berjalan cepat ke arah Porsche.

Kevin tidak turun.

Ia hanya membuka pintu dari dalam.

Surya menyaksikan Nadia masuk seperti orang yang berlari ke lubang yang lebih dalam.

Sebelum mobil itu pergi, mata Kevin bertemu matanya lewat celah kaca.

Kevin mengangkat sudut bibir, seolah berkata perang belum selesai.

Surya tidak tersenyum.

Ia hanya mengangkat map berisi akta cerai sedikit, seperti menunjukkan senjata yang sudah menembus dada Nadia tanpa perlu darah.

Porsche itu melaju.

Beberapa menit kemudian, di layar ponsel Surya muncul berita bisnis.

Perkasa Enviro Tbk resmi melantai di IDX. Harga saham dibuka menguat. Budiman Tanuwijaya tersenyum di foto konferensi pers, berdiri di depan layar hijau dan biru, sementara Kevin terlihat di belakangnya dengan wajah rapi yang disiapkan untuk kamera.

Surya membaca berita itu sampai akhir.

Jadi inilah alasan mereka mau mengorbankan Nadia.

Selama nama Perkasa bersih, seorang perempuan yang pernah dijanjikan cinta bisa ditutup di kursi belakang mobil. Selama harga saham naik, teriakan Nadia di depan pengadilan bukan masalah keluarga, hanya kebisingan kecil di luar gedung bursa.

Surya mematikan layar.

"Bagus," gumamnya. "Naiklah setinggi mungkin."

Orang yang jatuh dari tempat tinggi selalu terdengar lebih keras.

Siang itu, Surya kembali ke Mega Kuningan.

Resepsionis Kantor Hukum Sentana & Rekan memandang jasnya, lalu Brio kecil yang terlihat dari kaca lobi, kemudian tersenyum profesional.

"Pak Surya Prasetyo?"

"Ya. Saya dijadwalkan melapor untuk program magang."

"Silakan tunggu. Pak Ferdy sedang rapat. Mas Arief akan menemui Bapak."

Kantor itu tidak berlebihan. Tidak ada patung mahal di setiap sudut. Tidak ada sofa yang membuat tamu merasa harus berbisik. Namun semua orang bergerak cepat. Telepon berdering pendek. Printer bekerja tanpa henti. Di dinding, deretan sertifikat advokat dan foto persidangan memberi tahu siapa pun yang masuk bahwa tempat ini hidup dari perkara, bukan pajangan.

Seorang pria berkemeja biru muda keluar dari ruang rapat kecil.

"Surya?"

"Saya."

"Arief Nugroho. Advokat pembimbingmu sementara." Pria itu menjabat tangan Surya dengan kuat. "Aturannya sederhana. Kamu magang, bukan advokat bebas. Tidak tanda tangan surat kuasa sendiri, tidak bicara ke media, tidak menjanjikan kemenangan kepada klien. Kamu boleh baca berkas, menyusun draf, ikut rapat, dan kalau diminta, observasi sidang."

"Saya paham, Mas Arief."

"Bagus. Orang yang paham batas biasanya lebih cepat dipercaya."

Belum sempat Surya menjawab, suara lain muncul dari meja dekat jendela.

"Oh, ini yang itu?"

Seorang pria berambut klimis menyandarkan punggung ke kursi. Name tag di mejanya tertulis Eko Saputra. Senyumnya tipis, matanya terang oleh kesenangan murahan.

"Yang mantan suami-suruhan itu?" Eko melanjutkan. "Katanya dulu kerjaannya masak, cuci piring, antar istri. Sekarang mau jadi pengacara?"

Beberapa staf menunduk pura-pura sibuk.

Arief menatap Eko. "Cukup."

Tetapi Surya mengangkat tangan kecil, meminta izin menjawab.

Ia berjalan mendekat ke meja Eko.

"Benar," kata Surya. "Dulu saya masak, cuci piring, dan mengantar istri."

Eko tertawa pendek.

Surya menatap tumpukan berkas di meja pria itu. "Karena itu saya tahu satu hal."

"Apa?"

"Orang yang meremehkan pekerjaan kecil biasanya paling berantakan saat memegang pekerjaan besar."

Tawa Eko berhenti.

Surya tersenyum sopan. "Kalau Mas Eko butuh bantuan merapikan berkas, saya bisa mulai dari situ."

Ruang kerja mendadak terlalu sunyi.

Arief menutup batuknya dengan kepalan tangan. Namun, sudut bibirnya bergerak.

"Surya," katanya, "ikut saya."

Hari pertama Surya di Sentana dimulai dengan meja kecil di sudut, komputer lama, dan tiga map perkara perdata yang harus ia ringkas sebelum sore. Ia membaca cepat, mencatat tanggal, memisahkan fakta dari emosi, dan menandai celah bukti dengan stabilo kuning.

Menjelang jam lima, Arief kembali dan melihat ringkasan itu.

"Kamu biasa baca berkas?"

"Saya biasa dibohongi pakai berkas."

Arief memandangnya sebentar, lalu tertawa pelan. "Itu sekolah yang mahal."

Saat kantor mulai lengang, pintu kaca terbuka. Meilu masuk dengan kemeja putih sederhana dan celana hitam. Tanpa seragam, tanpa rompi polisi. Namun, semua orang tetap memberi ruang seolah tubuhnya membawa garis kuning yang tidak boleh dilanggar.

Ia menghampiri meja Surya dan meletakkan satu map tipis.

"Dari Pak Ferdy. Saya hanya kebetulan lewat setelah koordinasi kasus lama."

Surya membaca label di map itu.

Calon Klien: Santi Setiawan.

"Kasus apa?"

Meilu menatapnya. "Perceraian. Suami selingkuh. Ada unsur penggelapan aset rumah tangga juga. Namun, belum kuat."

Surya menyentuh tepi map itu.

Sehari setelah ia menerima akta cerainya sendiri, kasus pertama yang datang adalah perceraian orang lain.

Meilu menahan map itu sesaat sebelum melepasnya.

"Ini kasus pertamamu," katanya. "Jangan mengecewakan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!