~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 9
***
Suara riuh amarah warga di pelataran Rumah Adat seketika berubah menjadi gelombang kekecewaan dan murka yang terarah pada satu sosok. Bi Naya berdiri membeku, tongkat kayunya gemetar hebat ditopang jemarinya yang makin keriput. Di sampingnya, Sutan masih meraung meratap di lantai teras, memegangi kedua tangannya yang menghitam pekat bagaikan jelaga.
Rangga Wira melangkah perlahan menuju tengah teras. Sosok tegapnya berdiri penuh otoritas di hadapan Mbah Baya dan seluruh warga Hulu Rawa.
"Penghianatan terhadap keselamatan warga adalah pelanggaran hukum adat tertinggi di tanah ini!" suara bariton Rangga Wira menggelegar tenang, menyapu bersih sisa-sisa kegaduhan. "Sutan dan Bi Naya telah terbukti menanam racun dan mempertaruhkan nyawa anak-anak kita demi keserakahan dan dengki!"
Mbah Baya mengelus janggut putihnya, menatap Bi Naya dengan raut kekecewaan yang amat dalam. "Sungguh nista, Bi Naya... Kamu yang puluhan tahun dipercaya menjaga tradisi, justru merusaknya dari dalam. Keputusan Adat harus dijatuhkan!"
"Sesuai dengan Hukum Adat Hulu Rawa," sambung Rangga Wira dengan tegas, "Bi Naya dan Sutan dicabut haknya sebagai warga desa ini! Mulai matahari terbenam hari ini, kalian berdua diasingkan keluar dari batas hutan Hulu Rawa dan dilarang kembali selamanya!"
"Ampun, Ki Rangga! Ampun!" jerit Sutan seraya menyembah-nyembah di lantai kayu, namun beberapa pemuda desa yang dipimpin Seno dengan sigap langsung mencengkeram lengan mereka berdua untuk diseret turun dari Rumah Adat.
Setelah kedua pelaku dibawa pergi, suasana pelataran mendadak hening dan sarat akan rasa penyesalan. Mbah Baya melangkah turun beberapa anak tangga, mendekati Melani yang berdiri anggun di bawah tangga dengan pakaian tenun birunya. Tetua berjanggut putih itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Bidan Melani..." panggil Mbah Baya dengan suara bergetar tulus. "Kami, para tetua dan warga Hulu Rawa, memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidakadilan dan tuduhan kejam yang sempat kami timpakan padamu. Kami dibutakan oleh ketakutan dan prasangka."
Ibu-ibu yang anak-anaknya semalam ditolong oleh Melani turut maju, mata mereka berkaca-kaca. "Maafkan kami, Bidan... Terima kasih sudah menyelamatkan buah hati kami meskipun kami sempat menyakitimu..."
Melani tersenyum hangat. Paras ayunya yang manis menyinarkan keikhlasan yang murni tanpa sedikit pun dendam. Ia memegang jemari ibu-ibu itu dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Bapa, Ibu... Saya paham ketakutan seorang orang tua saat melihat anaknya sakit," jawab Melani tulus, suaranya jernih menenangkan. "Saya berada di sini memang untuk melayani dan membantu kalian semua."
Rangga Wira melangkah turun tangga, berdiri tepat di samping Melani. Pria tegap itu menatap seluruh warganya dengan sorot mata yang sarat akan perlindungan mutlak.
"Dengarkan saya wahai wargaku!" seru Rangga Wira nyaring. "Hari ini terbukti, Bidan Melani bukan hanya seorang ahli medis yang cakap, tetapi juga jiwa yang tulus dan berani! Mulai detik ini, Bidan Melani adalah bagian tak terpisahkan dari Hulu Rawa. Siapa pun yang mencoba mengganggu atau melukainya, artinya menantang hukum adat dan perlindungan penuh dari saya!"
Sorak lega dan tepuk tangan meriah membahana di seluruh pelataran. Rasa hormat, kagum, dan penerimaan hangat kini sepenuhnya melingkupi posisi Melani sebagai bidan resmi desa tersebut.
**
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke ufuk barat dan menjatuhkan pendar keemasan di atas tajuk pepohonan hutan, suasana desa kembali tenang. Beban berat yang menggelayuti pundak Melani selama beberapa hari terakhir seolah meluap perlahan.
"Ayo, keluar sebentar," ajak sebuah suara berat yang bernada lembut.
Melani menoleh dan menemukan Rangga Wira berdiri tak jauh darinya. Sang Ketua Adat telah melepas jubah kebesarannya, kini hanya mengenakan kemeja kain kasar berwarna gelap dengan lengan digulung hingga siku, menampilkan lengan tegap dan beruratnya.
Rangga membawa Melani menyusuri jalan setapak kecil di balik Pustu, melangkah menjauhi pemukiman menuju hulu sungai. Gemericik air jernih yang membelah batuan kali dan semilir angin sore yang membawa aroma dedaunan basah menyambut kehadiran mereka.
Di tepi hulu sungai yang tenang, terhampar sebuah batu kali berukuran besar yang ternaungi pohon rindang. Rangga memberi isyarat agar Melani duduk di sana, sementara ia sendiri berdiri bersandar pada batang pohon di sebelah gadis itu.
Melani meluruskan kakinya, menghela napas panjang yang terasa sangat lega. "Airnya jernih sekali... Ternyata di balik hutan yang lebat ini, ada tempat seindah ini, ya."
Rangga Wira menatap wajah ayu Melani dari samping. Kilau cahaya sore memantul indah di manik mata jernih bidan muda itu, mempertegas kecantikan alaminya yang sederhana.
"Tempat ini adalah jantung dari Hulu Rawa, Melani," tutur Rangga pelan, suara baritonnya berpadu harmonis dengan deru air sungai. "Desa ini memang terisolasi dan terperosok di ujung kabupaten. Orang-orang kota menganggap kami terbelakang, asing, dan berbahaya."
Melani mendongak, menatap garis rahang tegas pria di sebelahnya. "Kenapa desa ini begitu tertutup dari dunia luar, Pak Rangga? Mengapa warga begitu takut pada orang dari kota?"
Rangga memandangi aliran air sungai di bawah sana, sorot matanya yang sehitam malam menyimpan secercah cerita masa lalu.
"Puluhan tahun lalu, sebelum saya lahir, tanah ini pernah dirusak oleh orang-orang luar yang berdalih membawa 'kemajuan'," jelas Rangga tenang namun dalam. "Mereka menebang hutan kami, mencemari sungai, dan membawa penyakit baru tanpa pernah sungguh-sungguh peduli pada warga. Sejak saat itu, para tetua bersumpah untuk menutup diri agar cara hidup dan keseimbangan alam kami tidak hancur."
Rangga berpaling, menatap lurus ke dalam mata Melani. "Itulah sebabnya ketika kamu dan bidan-bidan terdahulu datang membawa peralatan modern, warga merespons dengan prasangka dan dinding pertahanan yang tebal. Kami hanya berusaha melindungi apa yang tersisa."
Melani menyimak setiap kata yang keluar dari bibir Rangga Wira tanpa memotong sedikit pun. Ada empati mendalam yang merayap di dadanya saat memahami sudut pandang sang Ketua Adat.
"Saya mengerti sekarang, Pak Rangga," ujar Melani lembut, menyunggingkan senyum manisnya yang menenangkan. "Saya berada di sini bukan untuk merusak atau mengubah cara hidup masyarakat Hulu Rawa. Pendidikan saya di bidang medis mengajarkan cara menyembuhkan fisik, tapi saya tahu adat dan tradisi di sini adalah jiwa yang menjaga keharmonisan kalian."
Melani menganggukkan kepalanya pelan, menegaskan keteguhan hatinya. "Saya sangat menghormati semua hukum, adat, dan tradisi yang ada di desa ini. Ilmu medis yang saya bawa dan tradisi lokal tidak harus saling menghancurkan, Pak Rangga... keduanya bisa berjalan berdampingan untuk melindungi warga."
Rangga Wira terpaku mendengar penuturan jujur dari bibir Melani. Ketulusan, kepintaran, dan keteguhan sikap gadis berusia dua puluh tiga tahun itu bagaikan air sejuk yang membasahi sudut hatinya yang selama ini kaku dan dingin.
Rangga melangkah satu tapak lebih dekat, berlutut pelan di samping batu tempat Melani duduk sehingga tinggi mata mereka kini sejajar. Jarak yang sangat dekat itu kembali menguarkan aroma kayu cendana dan maskulinitas hangat yang khas dari tubuh Rangga.
"Dulu, saya berpikir semua orang dari kota hanya membawa kehancuran..." bisik Rangga Wira dengan nada yang sangat dalam dan lembut, matanya menatap lekat pada sepasang mata jernih Melani. "Tapi kamu... Bidan Melani... kamu membuktikan bahwa prasangka saya salah."
Dada Melani berdesir hebat secara mendadak. Pipi mulusnya merona merah muda di bawah pendar senja. Tatapan mata tajam sang Ketua Adat yang biasanya mengintimidasi kini memancarkan kelembutan dan kejujuran yang begitu murni.
"Pak Rangga..." gumam Melani pelan, tenggorokannya mendadak terasa hangat.
"Panggil saya Rangga saat kita hanya berdua," pukas Rangga lembut, seulas senyum tipis yang sangat tampan terukir di bibirnya yang tegas—senyum tulus pertama yang secara khusus dipancarkan hanya untuk Melani.
Di tepi hulu sungai yang tenang itu, dua dunia yang semula bertolak belakang kini lebur dalam pemahaman, rasa hormat, dan benih-benih perasaan asing yang mulai tumbuh mengakar di antara mereka.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭