NovelToon NovelToon
Istri Misterius Sang Jenderal

Istri Misterius Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Dijodohkan Orang Tua / Fantasi Wanita / Nikah Kontrak / Kerajaan
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mapple_Aurora

Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.

Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.

Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.

Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?

*

Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah mengungsikan seluruh warga ke desa tetangga, Orion dan para bawahannya menyeret kedua orang itu ke penjara bawah tanah yang berada di kediamannya. Keesokan paginya, Orion langsung bergegas menuju istana untuk melaporkan kejadian tersebut kepada Yang Mulia Raja.

Sementara itu, Arina tetap berada di kediaman Orion, menjalani kehidupannya sebagai istri pria itu. Ia memeriksa persediaan, membuat berbagai catatan, serta membantu merapikan dokumen-dokumen penting milik Orion agar pria itu dapat langsung mengerjakannya saat kembali nanti.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, hari mulai beranjak sore. Arina berendam di kolam air hangat yang terletak di bagian paling belakang kediaman itu. Sinar mentari senja menyinari kulit putihnya hingga tampak berkilau lembut.

Pandangan Arina jatuh pada tanda berbentuk bulan sabit di bagian atas dadanya. Jemarinya mengusap tanda itu perlahan. Setiap kali menyentuhnya, selalu ada perasaan aneh yang sulit ia jelaskan.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Orion terkejut melihat Arin berendam di kolam pribadinya. Sesaat kemudian, wajahnya berubah muram dan ia menggeram marah. “Siapa yang mengizinkanmu mandi di sini?!”

Tanpa menunggu jawaban, Orion melompat ke dalam kolam. Ia mencengkeram pergelangan tangan Arina, lalu menyeretnya keluar dengan kasar.

Arina tidak menunjukkan sedikit pun keterkejutan atas perlakuan itu. Dengan tenang, ia mengambil gaun yang tergeletak di tepi kolam, lalu mengenakannya seolah tidak terjadi apa-apa.

“Tidak seorang pun diizinkan mandi di kolam ini selain Stella.” Tatapan Orion begitu dingin hingga nyaris membekukan udara di sekitarnya. “Anggap ini peringatan pertama sekaligus yang terakhir.”

“Baiklah. Aku minta maaf karena telah lancang memasuki tempat pribadimu,” ucap Arina sambil menundukkan kepala. Permintaan maaf itu keluar dengan tulus. Sikap kasar Orion sama sekali tidak membuatnya sedih, apalagi merasa terluka.

Arina hanya melangkah pergi, meninggalkan tempat itu dengan langkah tenang dan anggun. Orion menatap punggungnya yang kian menjauh. Entah mengapa, ia merasa sedikit tidak nyaman melihat gadis itu pergi begitu saja tanpa membalas perkataannya.

Arina kembali ke kamarnya. Ia berganti pakaian, lalu mengikat rambut ungunya menjadi ekor kuda.

“Aku harus menemui kedua orang itu untuk memastikan identitas mereka,” gumam Arina.

Tanpa membuang waktu, ia berjalan menuju sisi selatan manor. Ia tahu pintu menuju penjara bawah tanah berada di sana.

“Nona Arina.”

Di sebuah belokan sebelum mencapai sayap selatan manor, Rigel menghampirinya. Butiran keringat membasahi dahinya setelah latihan. Kulitnya yang eksotis dan parasnya yang gagah membuat beberapa pelayan wanita yang melintas tak mampu menyembunyikan kekaguman mereka. Bagi para pelayan itu, Rigel adalah sosok yang tampak cukup dekat untuk diimpikan, tidak seperti Orion yang terlalu tinggi untuk dijangkau.

“Anda hendak ke mana, Nona?” tanya Rigel sambil menatapnya penuh selidik.

“Aku ingin ke penjara bawah tanah. Bisakah kau mengantarkanku ke sana?” tanya Arin dengan nada datar. Sejak dulu, memang begitulah caranya berbicara kepada siapa pun.

Rigel terdiam sejenak sebelum menjawab, “Anda memang istri Tuan di atas kertas. Namun, tidak seorang pun di kediaman ini menganggap Anda sebagai nyonya rumah. Jadi, jangan menganggap diri Anda memiliki wewenang di sini. Anda tidak diizinkan memasuki penjara bawah tanah.”

Setelah mengatakan itu, Rigel berlalu begitu saja, meninggalkan Arina. Ia kembali menuju lapangan latihan untuk melanjutkan pelatihan para prajurit di sore hari.

Beberapa pelayan yang menyaksikan kejadian itu saling bertukar pandang, lalu terkekeh mengejek.

“Mimpinya terlalu tinggi.”

“Tentu saja. Dia bahkan tidak pantas mendampingi Jenderal kita yang perkasa.”

“Satu-satunya wanita yang pantas menjadi istri Jenderal adalah Nona Stella. Dia tidak akan pernah bisa menandingi Nona Stella.”

Mereka sengaja bergosip dengan suara cukup keras agar setiap kata itu sampai ke telinga Arina.

Namun, Arina sudah terlalu sering mendengar ucapan semacam itu sejak tinggal di kediaman keluarga Volans. Bahkan, para pelayan di sana kerap mengatakan hal yang jauh lebih menyakitkan. Karena itu, ia hanya menganggap semua ejekan tersebut berlalu seperti angin.

Diam-diam, Arina melirik ke arah Rigel yang sedang fokus melatih para prajurit. Setelah memastikan pria itu tidak memerhatikannya, ia segera berjalan menuju sisi selatan manor.

Para penjaga di sayap selatan terkejut saat melihat Arina datang. Mereka segera memberi hormat singkat, tetapi tatapan penuh selidik tidak lepas dari wajah mereka.

Mengapa dia datang ke sini? Itulah pertanyaan yang terlintas di benak mereka.

“Aku ingin menemui dua tahanan yang dibawa tadi malam,” ujar Arina, menyampaikan maksud kedatangannya. Ia berhenti beberapa langkah di depan para penjaga dengan tatapan tenang dan tajam.

Keempat penjaga itu saling berpandangan. Entah mengapa, tatapan Arina seolah memberi tekanan tak kasatmata yang membuat mereka ragu untuk menghalanginya.

“A-apakah Tuan Orion sudah memberi izin?” tanya salah seorang penjaga dengan gugup.

Arina mengangguk pelan. “Tentu. Kalian bisa menanyakannya langsung kepada beliau.”

Mendengar jawaban itu, mereka menghela napas lega sebelum segera membuka pintu.

“Saya akan menemani Anda,” ujar salah seorang penjaga sambil melangkah mengikuti Arina dari belakang.

“Tentu.”

Arina kembali melangkah hingga akhirnya tiba di pintu masuk penjara bawah tanah. Para penjaga yang berjaga di sana menatapnya dengan penuh kecurigaan. Namun, begitu melihat salah seorang penjaga dari gerbang depan ikut mengantarnya, mereka tidak lagi menghalangi dan membiarkan Arina masuk.

Arina menuruni tangga sambil mengamati dinding batu hitam di sisi lorong. Deretan obor yang menyala di sepanjang dinding hanya membuat suasana penjara bawah tanah itu terasa semakin suram.

Di pintu masuk memang berjaga banyak prajurit, tetapi semakin ke dalam, hanya deretan jeruji besi yang memisahkan para tahanan dari lorong sempit. Beberapa tahanan tampak ketakutan, sementara yang lain berada dalam kondisi mengenaskan.

“Anda tidak takut, Nona?” tanya penjaga yang mengikutinya.

“Tidak. Kau takut?” Arina balik bertanya.

“Sedikit, Nona. Tempat ini adalah area terlarang yang ditakuti semua orang.”

Jadi, desas-desus itu benar, batin Arina. Ia pernah mendengar cerita tentang penjara bawah tanah ini. Konon, semua penjahat kelas kakap di kerajaan dikurung di tempat tersebut.

Katanya, belum pernah ada satu pun tahanan yang berhasil melarikan diri dari penjara bawah tanah milik Jenderal Orion.

Semakin jauh ia melangkah, semakin banyak wajah para tahanan yang terlihat di balik jeruji. Saat itulah Arina menyadari bahwa semua desas-desus itu ternyata bukan sekadar cerita. Tatapan-tatapan buas mengikuti setiap langkahnya ketika ia melewati sel-sel yang dihuni para penjahat paling berbahaya di kerajaan.

“Kau cantik sekali, Nak,” celetuk seorang pria bertubuh besar dengan wajah penuh bekas luka. Senyum mesum tersungging di bibirnya saat ia menyelipkan tangan kotornya melalui celah jeruji, berusaha meraih tangan Arina.

“Jaga sikapmu!” bentak penjaga yang mengiringi Arina. Dengan sigap, ia memukul tangan pria itu menggunakan sarung pedangnya.

Pria tersebut mengaduh kesakitan, sementara Arina terus melangkah tanpa sedikit pun menoleh.

“Kau tidak seangkuh yang lain,” ujar Arina sambil tetap berjalan. “Siapa namamu?”

“Saiph, Nona. Saya hanya bertugas di sini. Mana mungkin saya berani bersikap kurang ajar kepada Anda,” jawab Saiph dengan sopan.

Tak lama kemudian, mereka tiba di sel tempat dua orang yang ditangkap semalam ditahan.

Melihat kedatangan Arina, keduanya yang semula duduk di lantai langsung berdiri. Tatapan mereka kembali berubah ganas.

...***...

...Like, komen dan vote ...

1
Nda
kayanya Orion mulai cemburu nggak sh🤭
Nda
novelmu selalu menarik thor😍😍
ociii
🥰🥰
ociii
cerita'y bagus...♥️♥️
Mila Sari
Thor jgn setengah 2 ceritanya,, yg bnyk updatenya
Mila Sari: ditunggu ya Thor,, semangat berkarya
total 2 replies
Mila Sari
ceritanya smkin seru,, Thor yg bnyk updetnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!