Pencapaian tertinggi setelah lulus kuliah bagi Kinan adalah bisa rebahan dengan tenang di kamarnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit dengan bekerja keras atau menikah kalau tidur siang saja sudah menjadi surga dunia? Menurut prinsip Work Smart-nya, energi harus dihemat seminim mungkin demi kedamaian jiwa.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat sang ibu menjodohkannya dengan Arga, seorang CEO workaholic akut yang hidupnya diatur oleh Google Calendar dan target. Melihat Arga bekerja saja sudah membuat Kinan merasa kelelahan setengah mati.
Di bawah satu atap, benturan dua dunia tidak terhindarkan. Arga menuntut disiplin, sementara Kinan selalu punya cara unik untuk memotong waktu pekerjaan rumah demi bisa kembali ke kasur.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Arga yang terpaksa belajar cara melambat, atau Kinan yang akhirnya mengikuti ritme hidup suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 1
"Isaac Newton pernah menyatakan dalam hukum pertamanya bahwa benda yang diam akan cenderung tetap diam, kecuali ada gaya luar yang memaksanya untuk bergerak."
Kinan sangat mengagumi teori itu. Sebab bagi Kinan hukum fisika tersebut bukan sekadar materi ujian yang berhasil mengantarkannya lulus kuliah dengan predikat Cum Laude bulan lalu, melainkan sebuah prinsip hidup yang sakral. Dan saat ini, kasur busa berukuran queen size di kamarnya adalah pusat gravitasi terkuat di alam semesta. Tempat di mana Kinan mempraktikkan hukum Newton tersebut dengan tingkat akurasi seratus persen.
**
"Kinaaaan! Turun! Ini sudah jam sepuluh siang, kamu belum sarapan, belum mandi, kerjaannya cuma telentang kayak ikan asin dijemur! Kamu itu perempuan, sudah lulus kuliah, masa depanmu mau ditaruh di mana kalau punggung kamu itu nempel terus di kasur?!"
Suara cempreng Ibu yang melengking dari arah dapur menembus sela-sela pintu kamar. Itu adalah 'gaya luar' yang paling Kinan hindari. Sebuah ganguan yang berpotensi merusak kedamaian yang sedang ia bangun sejak membuka mata dua jam lalu.
Kinan menghela napas panjang. Mengeluarkan energi untuk berteriak menyahut omelan Ibu dirasa terlalu melelahkan untuknya. Detak jantungnya harus tetap berada di zona yang stabil. Namun, dia tahu Ibunya tipe wanita yang tidak akan berhenti berteriak sebelum mendengar tanda-tanda kehidupan dari dalam kamarnya.
Dengan gerakan yang sudah terlatih di mana sebuah koreografi efisiensi tenaga yang ia sempurnakan selama bertahun-tahun.
Kinan tidak menggerakkan badannya sama sekali. Dia hanya menjulurkan kaki kanannya ke ujung kasur. Ibu jari dan jari telunjuk kakinya menjepit kabel pengisi daya yang menjuntai di lantai, menariknya perlahan dengan perhitungan tingkat tinggi. hingga ponsel miliknya yang berada di lantai ikut terseret naik ke atas kasur. Begitu ponsel itu berada dalam jangkauan tangan, Kinan menangkapnya.
Happ... Zero effort.
"Kinan... Kau memang Cerdas, hemat energi, dan tepat sasaran." Ia lalu mengetik sebuah pesan singkat di WhatsApp.
Kinan: "Kinan sudah bangun, Bu. Lagi merenungkan masa depan di kamar. Jangan teriak-teriak lagi ya, Bu, nanti tensi Ibu naik. Kinan sayang Ibu."
Pesan dikirim. Dua detik kemudian, terdengar suara denting notifikasi dari dapur, diikuti oleh keheningan. Kinan tersenyum puas. Mengetik sepuluh kata di ponsel jauh lebih efektif daripada harus berteriak balas-membalas yang bisa memicu perang dunia ketiga di rumah mereka.
Bagi sebagian besar orang, lulus kuliah adalah gerbang menuju kompetisi hidup yang sesungguhnya. Teman-teman seangkatannya di media sosial sibuk memperbarui profil LinkedIn mereka, memakai jas rapi, menghadiri job fair, atau membagikan foto estetik di depan gedung korporat dengan caption penuh motivasi tentang 'menjemput mimpi'.
Kinan? Baginya, pencapaian tertinggi setelah berhasil melewati drama skripsi dan dosen pembimbing yang ajaib adalah hak untuknya membalas dendam dengan cara menjadi penguasa tertinggi di atas kasurnya tanpa perlu memikirkan alarm jam enam pagi yang menggangu tidurnya.
Untuk apa hidup dibuat rumit? Pikir Kinan sinis sambil mengubah posisinya miring ke kanan. Cari kerja, bangun subuh, menembus kemacetan kota yang gila, berdesakan di transportasi umum, sampai kantor dimarahi bos, lembur sampai malam demi target yang tidak ada habisnya, lalu ujung-ujungnya stres, asam lambung naik, dan uang gajinya habis hanya untuk bayar dokter atau psikolog yang mahal.
"Huft... Ckckck... Bukankah itu pemborosan energi, dan juga lingkaran setan yang tidak efisien," gumam Kinan pada dirinya sendiri. "Lebih baik potong yang rumit itu. Dan lngsung bahagia dengan cara rebahan di kamar. Hemat biaya hidup, ramah lingkungan, dan menjaga kesehatan mental."
Kinan menarik napas panjang lalu membuangnya. "Huft... Nikamatnya hidup."
Kinan meraih tablet grafis yang tergeletak di samping bantalnya. Sambil tetap mempertahankan posisi tiduran miringnya. posisi yang menurut penelitian pribadinya adalah posisi paling sempurna untuk bekerja tanpa membuat lengan pegal, dengan jemarinya yang mulai menari di atas layar digital menggunakan pena stylus.
Di balik kelakuannya yang mirip kungkang, Kinan sebenarnya adalah seorang pelukis digital yang sangat berbakat. Dia lulusan Desain Komunikasi Visual. Alasan dia memilih jurusan itu pun sebenarnya sangat sederhana Karena tugas-tugasnya bisa dikerjakan di mana saja, termasuk di atas kasur, selama ada laptop dan koneksi internet. Kinan tidak malas berpikir, otaknya justru bekerja dua kali lebih cepat jika tujuannya adalah menemukan cara tercepat untuk menyelesaikan sesuatu agar dia bisa segera menganggur lagi.
Saat ini, dia sedang menyelesaikan sebuah pesanan ilustrasi dari klien luar negeri yang dia dapatkan lewat platform freelance. Harganya lumayan, menggunakan mata uang dolar, dan yang paling penting, Kliennya tidak perlu tahu bahwa ilustrasi indah beraliran surealis dengan detail memukau itu dikerjakan oleh seorang gadis yang bahkan belum menyisir rambutnya sejak kemarin sore dan hanya mengenakan setelan tidur longgar favoritnya yang sudah bolak-balik dicuci sampai menipis.
Brak!
Pintu kamar Kinan terbuka tanpa permisi. Pertahanan surga dunianya runtuh seketika. Ibu berdiri di ambang pintu dengan daster bermotif batik, tangan kanannya memegang spatula besi. Dengan tatapan matanya yang tajam, yang bahkan tidak membuat Kinan terkejut, melainkan hanya mengedipkan mata pelan.
"Tuh, kan! Ibu bilang juga apa! Masih begini posisinya!" Ibu berjalan mendekat, berkacak pinggang di samping kasur. "Kinan, Ibu serius ya. Kamu tahu gak, anaknya Jeng Lastri yang seangkatan sama kamu itu? Si Rara? Hari ini dia resmi keterima kerja di bank BUMN. Tadi Jeng Lastri pamer di grup arisan komplek, fotonya pakai seragam rapi banget."
Kinan menatap langit-langit kamarnya sejenak, menghitung putaran kipas angin sebelum menjawab dengan suara selembut mungkin. "Alhamdulillah, Bu. Ikut senang buat Rara. Berarti lowongan kerja di bank berkurang satu, beban persaingan berkurang."
"Bukan itu poinnya, Kinan!" Ibu mulai gemas, spatula besinya diangkat sedikit ke udara. "Poinnya adalah kamu kapan? Mau sampai kapan jadi pajangan kamar begini? Teman-teman kamu itu kalau gak sibuk cari kerja, ya sibuk sebar undangan nikah. Itu si Dita, minggu depan nikah sama pacarnya yang manajer di perusahaan swasta. Lah kamu? Jangankan kerja, pacar aja hilal-nya gak kelihatan. Kamu gak pengen nikah apa?"
Kinan memperbaiki posisi bantalnya, menumpuknya agar kepalanya sedikit lebih tinggi untuk menatap sang Ibu. "Bu, coba kita pakai logika matematis ya. Menikah itu artinya menyatukan dua kepala yang berbeda. Otomatis, potensi masalah hidup bertambah dua kali lipat. Harus mikirin ego suami, mertua, cicilan rumah, cucian piring yang numpuk, belum lagi kalau punya anak. Kalau sekarang Kinan sendiri saja sudah bahagia lahir batin, tidak ada konflik, hidup damai sejahtera, buat apa Kinan sengaja cari masalah baru dengan cara menikah? Itu tidak logis, Bu."