Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan di pagi hari
"Nathaniel Alister."
Giovani mengulangi kalimat itu untuk memastikan bahwa dia sedang tidak salah mendengar.
Aurelia mengangguk pelan. Cengkraman di rok nya tak kunjung melonggar. Ia tidak punya pilihan lain, otaknya sudah buntu sejak tadi pagi. Menyebutkan nama Nathaniel adalah hal yang tidak pernah ia rencanakan sama sekali, namun ia akan berusaha memperbaikinya setelah malam ini selesai.
"Kenapa dia?" Giovani semakin serius menatap Aurelia.
Wanita itu terdiam sejenak. Ia sedang memikirkan jawaban yang tepat tanpa membuat kesalahan. Cengkraman tangannya perlahan melonggar, matanya membalas tatapan Giovani.
"Karena aku sudah mengenalnya." Helaan napas Aurelia terdengar berat, ia hanya ingin segera lepas dalam situasi ini.
"Sejak kapan?" Giovani sedikit memiringkan kepalanya.
"Sejak aku dan dia menjalin hubungan bisnis."
Giovani membalas dengan tertawa kecil. Pria itu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah meja kerja yang sudah kosong. Ia menopang tubuhnya dengan satu tangan yang mencengkeram meja, lalu membalikkan badan untuk menatap Aurelia kembali.
"Apa dia lebih baik dari pada Elbarak?"
Aurelia tidak langsung menjawab, ia meneguk salivanya dalam-dalam. Matanya beralih menatap jendela yang terbuka, merasakan setiap hembusan angin malam yang menerpa wajahnya.
"Tidak." Aurelia beralih menatap Giovani dengan keberanian yang mulai ia bangun kembali.
"Aku baru sebentar mengenalnya...." Aurelia mengatupkan giginya rapat, aliran darah yang mulai mengering masih tertahan di pelipis, rasa perih sudah dapat ia rasakan sedari tadi.
"Tapi, aku lebih percaya dia dari pada Elbarak." Aurelia bicara dengan yakin. Wanita itu menatap Giovani dengan penuh harapan.
Jari telunjuk Giovani mengetuk meja dengan pelan, menciptakan sebuah irama samar yang memenuhi ruangan. Ia menatap Aurelia yang terlihat lebih berani, matanya terpaku sesaat pada luka di pelipis Aurelia, namun dengan cepat ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Apa kamu yakin dia mau?" Ucap Giovani dengan nada remeh. Senyuman miring hadir seolah yang dikatakan Aurelia adalah hal yang mustahil untuk di dengar. Giovani mengetahui siapa Nathaniel, bahkan semua orang pasti mengenalnya. Karena itu ia merasa ragu.
"Aku tidak akan meng-iyakan ataupun menjawab tidak, karena aku belum memulainya." Ucap Aurelia penuh percaya diri. Ia akan mulai mempertimbangkan hubungannya dengan Nathaniel setelah ini.
"Baik." Giovani mendudukkannya dirinya di kursi.
Aurelia terdiam sesaat. Tubuhnya maju selangkah dan menatap Giovani lekat.
"Papa setuju?" Ucapnya dengan senyuman tipis yang sangat samar sehingga tidak dapat dilihat oleh Giovani.
"Papa akan mencoba berbicara dengan keluarganya."
Aurelia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun, ada sedikit rasa lega dalam dirinya, seakan beban yang ia angkat sudah separuhnya sampai di tujuan. Meskipun separuhnya lagi masih dalam perjalanan yang masih berdiam diri di pundaknya.
"Dan apa kamu yakin, seorang Nathaniel menginginkan kamu?"
...****************...
Pagi hari di perusahaan Alister Property Group. Tepatnya di lantai dua puluh lima, ruangan yang di desain khusus sebagai tempat utama Nathaniel Alister.
Pria itu sedang duduk seraya membaca proposal, dengan beberapa tumpukan berkas lain yang menumpuk untuk dikerjakan.
Nathaniel menyandarkan tubuhnya di kursi, tangan kiri berada di pelipis, tangan kanan membuka setiap lembaran kertas yang akan ia baca.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. Attar muncul dibalik pintu dengan membawa satu proposal yang Nathaniel minta sebelumnya.
Nathaniel kembali membaca proposal. Sementara Attar mendudukkan dirinya di hadapan Nathaniel, ia meletakkan proposalnya di tumpukan paling atas.
"Apa anda sedang sibuk?" Attar bertanya memastikan sebelum memberitahukan satu informasi yang cukup penting.
Nathaniel menutup proposalnya, matanya beralih pada Attar.
"Ada apa?" Jawab Nathaniel dengan suara beratnya. Ia menggeser proposal yang baru saja ia tutup. Kedua tangannya ia simpan di atas meja dengan rapih. Jika Attar berani menganggu, itu artinya ada hal yang lebih penting.
Attar menghela napas sebentar sebelum menjawab.
"Tuan Giovani Evandra memberi pesan ingin bertemu dengan anda hari ini juga." Ucap Attar dengan nada sopan.
Nathaniel masih menyandarkan tubuhnya, matanya beralih memandangi keluar kaca yang menampakkan beberapa gedung-gedung tinggi. Tangannya bergerak mengambil bolpoin dan memainkannya dengan memutar pelan.
"Mengenai hal apa?" Tanya Nathaniel kembali menatap pada Attar. Ia cukup terkejut dengan apa yang ia dengar baru saja. Giovani Evandra, ia mengenal nama itu, yang tidak lain adalah ayah dari Aurelia.
"Dia ingin membicarakan tentang perjodohan anda dengan nona Aurelia."
Nathaniel menegakkan tubuhnya, ia menaruh kembali bolpoin di atas meja, kedua alisnya mengerut ketika menatap Attar.
Nathaniel berpikir sebentar, apakah Sarah sudah membicarakan hal itu dengan keluarga Aurelia? Atau ada hal lain yang terjadi tanpa ia ketahui.
"Perjodohan?" Nathaniel berusaha meyakinkan diri.
Attar mengangguk kecil, "Yang dia sampaikan dalam pesan seperti itu, tuan." Ucap Attar dengan jujur. Ia tidak akan menyampaikan apapun secara berlebih ataupun tidak sesuai yang ia ketahui.
"Dia, atau Aurelia sendiri yang menginginkan perjodohan ini?" Nathaniel menyipitkan matanya tajam. Nama Aurelia kembali muncul dalam pikirannya. Nathaniel tidak menyukai kenyataan bahwa urusan pribadi wanita itu kini mulai bersinggungan dengan dirinya.
"Saya kurang paham, tuan." Attar menundukkan pandangannya.
Nathaniel terdiam sesaat. Ia melirik pada ponselnya, entah kenapa, ingin sekali menghubungi seseorang detik itu juga.
"Tapi yang saya ketahui. Sebelumnya, tuan Giovani sempat menemui keluarga Elbarak Starlink, mereka membahas tentang perjodohan dengan nona Aurelia."
Rahang Nathaniel mengeras samar, telapak tangannya tiba-tiba saja terkepal erat setelah mendengar apa yang Attar ucapkan.
"Apa informasi itu benar?" Nathaniel menatap tajam pada Attar.
"Benar, tuan. Beritanya sudah beredar di kalangan mereka."
Sesaat Nathaniel terdiam, ia menyilangkan kedua kakinya. Attar tidak akan berbohong, dia akan mengetahui rumor-rumor yang beredar meskipun belum sampai pada media.
Ia menopang dagu dengan satu tangan.
"Elbarak Starlink. Bukankah dia sudah memiliki istri?" ucap Nathaniel, ia cukup mengenal tentang Elbarak meskipun tidak banyak. Mereka pernah menjadi rekan bisnis, tapi hanya berlangsung kurang dari satu bulan karena Nathaniel memutuskan kerja sama lebih dulu.
"Benar tuan. Tapi hanya bertahan beberapa bulan."
Nathaniel tidak langsung merespon, dia menatap lurus keluar jendela. Lalu suara notifikasi mengalihkan perhatiannya. Ekor mata Nathaniel melirik sekilas pada layar ponselnya yang menyala.
Nona Aurelia Evandra
Nama itu tertera dibalon notifikasi. Nathaniel menegakkan tubuhnya, ia mengambil ponsel dan membukanya.
"Maaf menganggu waktumu. Apa anda sedang sibuk? Jika tidak. Apa kita bisa bertemu hari ini? Tapi bukan membahas tentang bisnis. Ada hal lain yang ingin saya sampaikan."
Kedua alis Nathaniel terangkat tipis, ia membaca pesan selanjutnya yang dikirim Aurelia.
"Atau mungkin anda sudah mendapat pesan lebih dulu dari Papa saya. Jika berita itu sudah anda dengar. Apa kita bisa bicara sebelum anda menemui Papa saya?"
Nathaniel membaca setiap kata dengan serius, ia menatap layar dengan cengkraman erat di ponselnya.
"Terimakasih atas waktunya. Saya mohon pertimbangkan permintaan saya."
Nathaniel berkedip beberapa kali. Sudut bibirnya terangkat tipis, meletakkan ponselnya dan beralih pada Attar.
"Kosongkan jadwalku hari ini." Nathaniel beranjak berdiri, tangannya bergerak merapihkan dasinya yang terasa longgar.
Attar ikut berdiri, "Baik, tuan. Apa anda ingin menemui tuan Giovani?" Tanya Attar ingin memastikan jadwal pertemuan Nathaniel.
"Bukan."
"Lalu dengan siapa? Maaf lancang, tuan." Attar membungkukkan tubuhnya.
Nathaniel melirik Attar sekilas.
"Dengan Aurelia."