NovelToon NovelToon
ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

ADIKKU SELINGKUHAN SUAMIKU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Pengkhianatan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Bagi Lina, pengorbanan adalah bahasa cinta. Ia rela menelan ego, mengubur ambisi, dan menjadi istri sempurna demi Raka, pria yang ia cintai sejak kuliah. Namun, retakan mulai muncul ketika Raka sering pulang larut dengan alasan pekerjaan, sementara Lina sibuk mengurus rumah tangga mereka yang terasa semakin hampa.

Puncaknya terjadi pada malam ulang tahun pernikahan mereka yang ke-5. Bukan hadiah mewah yang Lina temukan di meja makan, melainkan notifikasi dari ponsel Raka yang tertinggal. Pesan itu bukan dari rekan kerja, melainkan dari "Sayang"—yang ternyata adalah Dinda, adik kandung Lina sendiri. Gadis manis yang selalu Lina lindungi, yang sering menginap di rumah mereka karena "masalah di kosannya", dan yang selalu memeluk Lina erat sambil berbisik, "Kakak adalah segalanya bagiku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JEBAKAN DI RUANG TUNGGU

Suasana di koridor pengadilan mendadak terasa sesak, seolah oksigen telah disedot habis oleh kata-kata "tiga bulan" dan "positif". Lina berdiri mematung, napasnya tercekat. Di sampingnya, Arka tampak waspada, matanya menyapu sekeliling seperti radar keamanan bandara.

"Kita harus kembali ke dalam," bisik Arka, menyentuh lengan Lina dengan hati-hati "sebentar lagi hakim akan memanggil, Jika kamu terlihat goyah, Raka bisa memanfaatkannya untuk membalikkan keadaan."

Lina mengangguk kaku. Kakinya terasa seperti terbuat dari beton, tapi dia memaksakan diri untuk melangkah. Dia tidak boleh runtuh sekarang. Tidak di sini. Bukan saat mereka sedang merencanakan strategi licik di balik pintu toilet itu.

Saat mereka kembali memasuki ruang sidang, Hakim sudah duduk di takhtanya. Wajahnya serius. Pak Hendra sedang merapikan dasinya, sementara Raka dan Dinda sudah kembali ke tempat duduk mereka. Dinda masih terlihat pucat, tapi kini ada senyum tipis yang samar di sudut bibirnya. Senyum kemenangan prematur.

"Para pihak," suara Hakim bergema. "Sebelum putusan dijatuhkan, apakah ada hal baru yang ingin disampaikan?"

Raka berdiri. menatap Lina, lalu menoleh ke Hakim. Ada kilatan arogansi di matanya yang sebelumnya tidak ada.

"Yang Mulia," kata Raka, suaranya terdengar lebih percaya diri. "Saya ingin mengajukan fakta baru. Fakta yang mungkin mengubah pertimbangan Yang Mulia mengenai perceraian ini."

Pak Hendra langsung menegakkan punggungnya. Matanya menyipit tajam. "Keberatan, Yang Mulia. Ini di luar agenda sidang hari ini."

"Tunggu dulu," potong Hakim, mengangkat tangan. "Apa fakta tersebut, Saudara Terdugat?"

Raka menarik napas dalam, lalu meletakkan tangannya di bahu Dinda. Gestur posesif yang membuat mual Lina.

"Dinda... adik dari Penggugat, saat ini sedang mengandung anak saya," ucap Raka lantang.

Gedung pengadilan seolah runtuh seketika. Bisik-bisik pengunjung meledak seperti popcorn yang dipanaskan terlalu lama. Wartawan yang sedari tadi menunggu di bangku belakang mulai sibuk mencatat.

Lina merasa dunia berputar. Dia menatap Raka dengan tatapan kosong. Dia benar-benar melakukannya, pikir Lina. Dia menggunakan bayi itu sebagai perisai.

Hakim tampak terkejut. Dia mengetuk palu beberapa kali untuk menenangkan keributan. "Tenang! Tenang di ruangan sidang! Saudara Terdugat, apakah Anda memiliki bukti medis atas klaim tersebut?"

Raka tersenyum puas. Dia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari sakunya. "Ini hasil USG dan surat keterangan dokter kandungan, Yang Mulia. Usia kehamilan tiga bulan. Artinya, konsepsi terjadi saat kami masih dalam masa pernikahan yang sah secara de facto, meskipun secara emosional sudah retak."

Pak Hendra berdiri perlahan. Dia tidak terlihat panik. Malah, dia tersenyum tipis. Senyuman predator yang melihat mangsa terjebak dalam jebakan sendiri.

"Yang Mulia," kata Pak Hendra tenang. "Saya meminta izin untuk memeriksa dokumen tersebut."

Hakim mengizinkan. Pak Hendra mengambil amplop itu, membacanya sekilas, lalu menatap Raka dengan tatapan dingin.

"Saudara Terdugat," kata Pak Hendra, suaranya rendah namun menembus keheningan ruangan. "Anda mengatakan konsepsi terjadi tiga bulan lalu. Tepatnya sekitar bulan April, kan?"

Raka mengangguk bangga. "Benar."

"Menarik," lanjut Pak Hendra. "Karena pada bulan April, Saudara Raka sedang menjalani rawat inap di Rumah Sakit Pusat selama dua minggu akibat demam berdarah. Saya memiliki rekam medisnya di sini." Pak Hendra mengeluarkan folder lain dari tas kerjanya. Folder yang tampaknya sudah disiapkan sejak awal.

Wajah Raka berubah pucat. "Apa... apa maksud Anda?"

"Maksud saya," kata Pak Hendra sambil melemparkan folder itu ke meja hakim, "adalah mustahil bagi Saudara Raka untuk melakukan 'aktivitas biologis' yang menghasilkan kehamilan pada bulan April, karena beliau dalam kondisi koma ringan dan diinfus selama 14 hari. Jadi, pertanyaannya: Siapa ayah sebenarnya dari janin di rahim saudara Dinda?"

Hening.

Keheningan yang mematikan.

Dinda terbelalak. Mulutnya terbuka lebar, tapi tidak ada suara yang keluar. Tangannya gemetar hebat memegang perutnya.

Raka mencoba berbicara, tapi lidahnya kelu. "Itu... itu pasti salah tanggal! Dokternya salah catat!"

"Atau mungkin," sambung Pak Hendra dengan nada sarkastik, "Saudara Dinda memiliki 'teman curhat' lain selain Saudara Raka? Atau mungkin, kehamilan ini adalah rekayasa untuk memeras harta gono-gini? Karena jika terbukti anak itu bukan anak Saudara Raka, maka klaim hak warisnya gugur. Dan Saudara Dinda bisa dituntut atas pemalsuan dokumen dan penipuan."

Dinda tiba-tiba berdiri, kursinya terjatuh dengan bunyi keras. "Tidak! Itu anak Kak Raka! Aku bersumpah!"

"Bersumpah di mana?" tanya Pak Hendra tajam. "Di altar? Atau di atas kasur apartemen yang sama dengan jaket bomber hitam itu?"

Raka tampak bingung, lalu marah. Dia menoleh ke Dinda. "Din, apa yang dia bicarakan? Kamu bilang itu anakku!"

Dinda menangis histeris. "Aku... aku nggak tahu! Tanggalnya mungkin meleset! Aku cuma tahu kalau kita sering ketemu!"

"Sering ketemu tidak berarti hamil, Nona," potong Pak Hendra. "Butuh bukti DNA. Dan saya sarankan, sebelum hakim menjatuhkan vonis, kita lakukan tes DNA segera. Jika hasilnya negatif, saya akan menuntut ganti rugi materiil dan immateriil sebesar lima miliar rupiah atas pencemaran nama baik dan upaya penipuan pengadilan."

Angka lima miliar menggantung di udara.

Raka terlihat seperti akan pingsan. Dinda lunglai di kursinya, wajahnya tertutup tangan, tubuhnya terguncang-guncang oleh isakan.

Lina menonton semua ini dengan perasaan campur aduk. Ada kepuasan kecil melihat rencana licik mereka hancur berantakan. Tapi ada juga rasa sedih yang mendalam. Adiknya, darah dagingnya sendiri, ternyata rela melakukan hal serendah itu demi uang dan perhatian pria yang bahkan tidak setia padanya.

Hakim menatap Raka dan Dinda dengan tatapan menghakimi. "Sidang ditunda selama satu jam untuk verifikasi dokumen medis tambahan dari rumah sakit. Saudara Terdugat dan saksi diharapkan tetap berada di area pengadilan."

Saat sidang bubar sementara, Raka menyeret Dinda keluar ruangan. Mereka berbisik-bisik dengan panik, saling tuduh, dan menyalahkan.

Lina berjalan keluar, diikuti Arka.

"Gila," gumam Arka. "Pak Hendra memang legenda. Dia punya kartu as di saku bajunya."

Lina tidak menjawab. Dia menatap langit-langit gedung pengadilan yang tinggi. Hatinya masih sakit, tapi lukanya kini mulai tertutup oleh lapisan es ketegaran.

"Lin," panggil Arka lembut. "Kamu baik baik saja ?"

Lina menoleh. Matanya berkaca-kaca, tapi dia tersenyum. Senyum yang lelah, tapi jujur.

"Aku baik baik saja kok Raka," katanya. "Ternyata, kebenaran itu memang pahit. Tapi setidaknya, kali ini rasanya adil."

Mereka berjalan menuju kantin pengadilan. Lina tahu, perang belum selesai. Tes DNA akan memakan waktu. Dinda mungkin akan mencoba kabur. Raka mungkin akan mencari cara lain untuk lolos.

Tapi untuk pertama kalinya, Lina merasa memegang kendali. Dia bukan lagi korban pasif. Dia adalah pemain utama dalam drama ini. Dan dia tidak akan berhenti sampai keadilan—versi dia—terpenuhi.

Di ujung lorong, Lina melihat Dinda duduk sendirian di bangku panjang, menangis tanpa suara. Lina berhenti sejenak. Dia ingin menghampiri, bertanya kenapa adik kandungnya bisa jatuh begitu dalam. Tapi kakinya tidak bergerak.

Jarak antara mereka kini bukan lagi sekadar meteran fisik, tapi jurang moral yang tak terjembatani.

"Ayo," kata Arka, menarik pelan lengan Lina. "Jangan lihat ke belakang. Masa depanmu ada di depan, bukan di masa lalu yang busuk itu."

Lina mengangguk. Dia membuang pandangan terakhirnya ke arah Dinda, lalu berbalik badan, melangkah maju bersama Arka menuju cahaya terang di ujung lorong.

1
Allea
kok bisa dapet harta selama baca novel anak haram nasabnya ( bener ga) ikut ibu jd ga berhak atas warisan ( kata cerita2 novel ya bukan kata saya)😄
Nuna_Pena: bikin berbeda dari yang lain🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!