NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Pertama di Negeri Singa

Dengung halus mesin pesawat Singapore Airlines perlahan memelan saat roda-roda besi menyentuh landasan pacu Bandara Changi. Di balik jendela kaca oval, pemandangan kebun serba hijau dengan arsitektur futuristik khas Singapura menyambut kedatangan Callista dan Kenzo. Sinar matahari pagi membiaskan garis keemasan di atas bidang kaca, mengusir sisa-sisa kantuk setelah penerbangan singkat dari Jakarta.

Callista membetulkan letak blazer seragam resminya, menghela napas panjang untuk menetralkan rasa gugup yang menyelusup kaku di dadanya. Di genggamannya, paspor bersampul hijau dan kantong kain merah pemberian Mama Sean terikat erat.

"Deg-degan, Cal?" panggil Kenzo pelan.

Cowok itu sedang merapikan beberapa berkas boarding pass dan dokumen imigrasi ke dalam tas punggungnya. Gesturnya masih seanggun dan setenang biasa, seolah melangkah di negeri orang bukanlah hal yang baru baginya.

Callista menoleh, menyunggingkan senyum tipis. "Lumayan, Kenzo. Rasanya masih agak unreal kita beneran udah sampai di sini."

"Itu wajar," balas Kenzo halus seraya berdiri mengambil koper kabin dari bagasi atas. "Tapi lo gak usah cemas. Seminggu pertama ini fokus kita cuma adaptasi lingkungan dan pengenalan kampus di National University of Singapore."

Ketika mereka melangkah keluar melewati lorong arrival hall yang megah dan sejuk, seorang pria paruh baya berjas rapi berdiri memegang papan nama bertuliskan: Delegasi Indonesia - Young Asian Leaders Program.

"Selamat datang di Singapura, Kenzo, Callista," sapa pria bernama Mr. Bryan tersebut dalam bahasa Indonesia yang cukup fasih. "Saya pembimbing lapangan kalian selama karantina di program ini."

Perjalanan dari bandara menuju asrama peserta di kawasan Clementi menyuguhkan pemandangan kota yang sangat tertata rapi. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah berjejeran dengan taman-taman kota yang asri. Jalanan yang mulus tanpa kemacetan berarti membuat bus jemputan bergerak lancar.

Callista menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, menikmati lanskap pemandangan asing di sekelilingnya. Jemarinya yang lentik bergerak merogoh saku blazer, mengeluarkan ponselnya yang baru saja terhubung dengan jaringan lokal.

Satu notifikasi pesan masuk langsung menghiasi layarnya.

Sean: Sudah mendarat dengan selamat kan, Bu Perwakilan? Jangan lupa kabarin Tante kalau udah sampai asrama. Di sini Jakarta lagi hujan deras, tapi tenang aja... toko es krim Pak Min tetep buka kok.

Membaca pesan sederhana itu, senyuman hangat seketika terbit di wajah Callista. Rasa canggung dan terasing di negeri orang mendadak menguap, digantikan oleh kehangatan yang menjalar hingga ke relung dadanya.

Callista dengan cepat mengetik balasan:

Callista: Baru aja mendarat, Sean! Sekarang lagi jalan ke asrama di Clementi. Salam buat Tante Yuli ya, bilangin Callista sampai dengan selamat.

Asrama peserta Young Asian Leaders Exchange Program terletak di sebuah kompleks hunian modern yang teduh. Setiap peserta dari berbagai negara—seperti Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Thailand—ditempatkan di paviliun khusus yang memadukan fasilitas belajar dan ruang interaksi sosial.

Setelah proses pendaftaran ulang dan pembagian kunci kamar usai, seluruh delegasi dikumpulkan di ruang aula utama asrama untuk sesi penyambutan dan pengenalan program.

Atmosfer internasional begitu kental terasa. Bahasa Inggris dengan berbagai aksen terdengar saling bersahutan di penjuru ruangan. Peserta dari negara lain tampak memancarkan aura kepercayaan diri yang sangat tinggi, saling bertukar kartu nama dan mendiskusikan usulan proyek mereka.

Callista berdiri di dekat meja hidangan selamat datang, memegang secangkir teh hangat. Untuk sejenak, rasa cemas kecil kembali merayap. Persaingan di level internasional ini terasa jauh lebih pekat dibanding saat karantina provinsi di Indonesia.

Namun, Kenzo yang berdiri tak jauh darinya melangkah mendekat, membawakan se piring kecil kue kering.

"Jangan terintimidasi sama penampilan mereka, Callista," bisik Kenzo dengan nada suara yang begitu terkontrol dan berwibawa. "Proposal kita punya keunggulan di basis riset lapangan dan empati sosial. Fokus ke kelebihan kita."

Callista menatap Kenzo, menangkap sorot mata cowok itu yang penuh tekad dan kepemimpinan. Callista mengangguk mantap. "Lo bener, Kenzo. Kita udah berjuang sejauh ini, gak ada alasan buat minder."

Dalam sesi ice breaking yang dipandu oleh panitia internasional, Callista dan Kenzo menunjukkan sinergi yang sangat luar biasa. Saat diminta mempresentasikan gambaran umum latar belakang budaya dan proyek sosial mereka dalam waktu dua menit di depan seluruh delegasi, artikulasi Bahasa Inggris Callista yang luwes dipadukan dengan logika berpikir Kenzo yang tajam berhasil memukau banyak peserta.

Beberapa delegasi dari Jepang dan Thailand bahkan menghampiri meja mereka seusai sesi, menyatakan ketertarikan untuk berkolaborasi dalam proyek lintas budaya.

Malam harinya, setelah seluruh rangkaian acara penyambutan selesai pada pukul sembilan malam, udara sejuk kota Singapura membungkus pelataran asrama.

Callista melangkah menuju area balkon lantai tiga yang menghadap langsung ke arah taman dalam yang dihiasi lampu-lampu taman berwarna kuning hangat. Angin malam berembus pelan, memainkan helai-helai rambutnya.

Callista merogoh sakunya, mengeluarkan kantong kain merah pemberian Mama Sean, lalu meletakkannya di atas pembatas balkon. Ia mengeluarkan ponselnya, melakukan panggilan video (video call) yang sudah ia janjikan.

Setelah beberapa kali nada dering berbunyi, layar ponselnya menampilkan wajah familier.

Sean muncul di layar, masih mengenakan kaos oblong santai dengan latar belakang kamar tidurnya di Jakarta.

"Halo, Bu Perwakilan Singapura!" sapa Sean dengan cengiran khasnya yang renyah.

Callista tak sanggup menahan tawa leganya. "Sean! Akhirnya bisa telfonan juga."

"Gimana hari pertama di sana? Tempatnya bagus gak? Temen-temen dari negara lain galak-galak gak?" cecar Sean bertubi-tubi dengan nada bercanda.

"Tempatnya bagus banget, Sean. Asramanya bersih, terus taman-tamannya hijau," cerita Callista dengan mata berbinar-binar. "Temen-temen dari negara lain pinter-pinter banget, tapi tadi gue sama Kenzo berhasil bikin mereka terkesan pas sesi presentasi singkat."

Sean mengangguk-angguk penuh perhatian dari balik layar. Matanya menatap wajah Callista yang tampak berseri-seri meskipun memperlihatkan sedikit raut lelah.

"Tuh kan, apa gue bilang," sahut Sean lembut. "Lo itu hebat, Cal. Di mana pun lo ditaruh, lo pasti bisa bersinar."

Callista tersenyum haru. "Makasih ya, Sean. Lo lagi ngapain di rumah?"

"Baru selesai belajar buat ulangan harian Ekonomi besok," jawab Sean terkekeh. "Terus tadi sore mampir ke rumah lo sebentar, nganterin titipan kue dari Mama buat Tante."

Percakapan sederhana itu mengalir hangat selama hampir setengah jam. Di tengah perbedaan jarak dan suasana baru yang asing, suara Sean adalah oase menenangkan yang selalu membuat Callista merasa memiliki tempat berlabuh yang utuh.

Dari sudut balkon yang lain, Kenzo yang baru saja selesai menelepon orang tuanya berdiri memperhatikan Callista yang sedang tertawa kecil menatap layar ponselnya. Kenzo menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman penuh kedamaian mendalam dari seorang sahabat yang ikut bahagia melihat senyuman terindah Callista terpancar kembali di negeri orang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!