NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seporsi Bahagia

 Angin lembut menerpa wajah, ketika Niken menurunkan kaca jendela.

 "Jangan terlalu lebar, nanti masuk angin." Kata Danendra pelan.

 Niken menoleh sambil tersenyum, "iya, Mas." Ia kembali menaikan kaca jendela hingga menyisakan sedikit celah.

 Mobil terus melaju membelah jalanan Wonosobo yang mulai diselimuti udara sore. Kabut tipis perlahan mulai terlihat turun dari lereng perbukitan, sementara angin dingin sesekali berhembus membuat Niken mengusap kedua lengannya.

 "Tuh, kan. Jadi kedinginan." Ucap Danendra sambil meliriknya.

 "Memang udara Wonosobo sore begini selalu lebih dingin."

 Danendra mengangguk, "kalau begitu bagaimana kalau kita cari obatnya?"

 Niken mengernyit heran, "obat? Obat apa, Mas?"

 "Iya, obat masuk angin." Kata Danendra yang membuat Niken terkekeh.

 "Memangnya sudah masuk angin?"

 "Ya belum, makanya kita cegah."

 "Terus obatnya apa, Dokter Danendra?"

 Danendra ikut tertawa karenanya. "Bukan dokter, tapi suami yang sedang berusaha menjaga istrinya."

 Senyum di bibirnya perlahan mengembang, mendengar kalimat itu. "Mas bisa saja," ucap Niken tanpa berani menunjukan wajahnya.

 "Aku serius," jawabnya, kemudian Danendra sengaja memperlambat laju mobil. "Menurutku... ada satu cara paling ampuh mengusir hawa dingin sore ini."

 Niken menoleh, menatapnya penuh penasaran. "Cara apa?"

 Danendra meliriknya sambil tersenyum jahil. "Makan bakso."

 Niken langsung tertawa, "itu sih, bukan obat."

 "Siapa bilang bukan obat?" Jawabnya cepat, "kuahnya panas, baksonya hangat, perut kenyang, dan yang paling penting..." ia melirik Niken sebelum melanjutkan dengan suara pelan, "...hati kita juga ikut hangat."

 Kata-kata Danendra membuat Niken menggeleng geli. "Mas ini sedang merayu aku, ya?"

 Danendra tidak menyangkal, ia justru mengangguk kecil. "Iya. Supaya istriku mau menemani aku makan bakso."

 "Hmm..." Niken berpura-pura berpikir cukup lama. "Kalau aku tidak mau?"

 Danendra langsung memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Berarti aku harus makan sendirian. Kasihan sekali aku."

 Niken menahan tawa, "Mas aktingnya kurang meyakinkan."

 "Kurang?"

 "Iya." Jawab Niken sambil mengangguk cepat.

 "Kalau begitu... bagaimana kalau aku tambah satu alasan lagi?"

 "Apa?"

 "Aku ingin menikmati sore ini lebih lama bersamamu."

 Kalimat itu membuat suasana di dalam mobil mendadak hening. Niken yang semula tertawa kini hanya menatap wajah suaminya. Nada suara Danendra kali ini terdengar tulus, tanpa sedikit pun bercanda.

 "Jadi...?" Lanjut Danendra pelan, "bolehkah aku mencuri waktu satu mangkuk bakso sebelum kita pulang?"

 Pipi Niken perlahan memerah, ia menundukan kepala sambil tersenyum malu. "Kalau Mas meminta seperti itu, mana mungkin aku menolak?"

 Danendra tersenyum puas, "berarti kita sepakat?"

 Niken mengangkat telunjuknya cepat. "Tapi ada syaratnya."

 "Baik, sebutkan."

 "Cuma satu sih. Mas yang traktir," gurau Niken yang membuat Danendra tertawa puas.

 "Tentu. Jangankan semangkuk bakso, kalau istriku mau dua mangkuk pun akan aku belikan "

 Niken ikut tertawa. "Mas, nanti malah kekenyangan."

 "Nggak apa-apa. Yang penting istriku pulang dengan tubuh hangat, bukan kedinginan seperti sekarang ini."

 Mendengar kalimat itu, senyum Niken tak kunjung hilang. Kemudian Danendra membelokan mobilnya ke sebuah kedai bakso yang berdiri di pinggir jalan. Kedai yang tidak begitu besar, hanya bangunan sederhana dengan dinding kayu, beberapa meja panjang, dan pemandangan sawah yang terbentang di belakangnya. Uap tipis yang mengepul dari panci kuah yang masih mendidih, menciptakan aroma kaldu yang gurih pada sore yang dingin itu.

 Danendra mematikan mesin mobil, lalu menoleh kepada Niken. "Bagaimana? Setuju di sini?"

 Niken melihat ke sekeliling melalui jendela, sebelum menjawab. "Tempatnya sederhana, tapi kelihatannya ramai, berarti enak," menurutnya. "Mas sering ke sini?"

 "Kadang, kalau sedang ingin mencari suasana yang tenang."

 Niken mengangguk setuju, "aku suka."

 Danendra turun lebih dulu, ia langsung memutari mobil untuk membuka pintu bagi Niken.

 Niken tersenyum, "terima kasih, Mas."

 "Sama-sama."

 Sesaat setelah Niken turun, angin sore berembus cukup kencang, membuat Niken refleks merapatkan kedua tangannya ke tubuh. "Brrr... dingin sekali."

 Danendra spontan melepas jaket yang ia kenakan. "Pakailah."

 Niken menggeleng, "jangan, Mas. Nanti Mas yang kedinginan."

 "Mas lebih tahan dingin."

 "Tapi—"

 "Sudah."

 Tanpa memaksa, Danendra menyampirkan jaket itu perlahan di bahu Niken. Ia memastikan jaket tersebut tidak menganggu jilbab istrinya sebelum masuk ke kedai.

 Niken menatap suaminya dengan mata yang mulai berbinar. "Mas. Kalau begini, orang-orang pasti mengira kalau Mas suami yang sangat romantis."

 Danendra tertawa pelan, "lho, memangnya bukan?"

 "Bukannya bukan, hanya saja aku masih belum terbiasa."

 "Kalau begitu, mulai sekarang pelan-pelan biasakan." Bisik Danendra. Kemudian mereka berjalan berdampingan memasuki kedai.

 "Selamat sore, Pak." Sapa pemilik kedai dengan ramah, "silahkan duduk."

 Danendra tersenyum sambil mengangguk, kemudian memilih meja di dekat jendela yang menghadap hamparan sawah.

 "Di sini saja, pemandangannya bagus." Katanya.

 "Iya."

 Tak lama kemudian, seorang pelayan datang membawa buku menu. Danendra menyerahkan buku menunya kepada Niken terlebih dahulu. Kemudian Niken membaca sekilas sebelum akhirnya memesan. Namun, dalam suasana yang begitu dingin itu, Niken masih memesan es teh yang membuat Danendra langsung menyela pelan.

 "Udara dingin begini masih mau es?"

 Niken terkekeh sambil menepuk dahinya. "Lupa. Kalau begitu teh hangat saja."

 Pelayan tersenyum sambil mengangguk patuh, lalu bertanya kepada Danendra. Danendra pun memilih menu yang sama.

 Setelah pelayan pergi, keheningan yang menyenangkan menyelimuti mereka. Danendra memandangi wajah Niken yang sedang menikmati pemandangan di luar jendela.

 "Kenapa?" Tanya Niken setelah menyadarinya.

 "Tidak apa-apa. Aku hanya sedang berpikir."

 "Tentang apa?"

 "Seandainya beberapa hari yang lalu aku bisa mempercayaimu, mungkin kita sudah seperti ini sejak awal."

 "Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu yang masih bisa diperbaiki, Mas." Ucap Niken lembut yang dijawab anggukan oleh Danendra.

 "Terima kasih, karena sudah sabar menungguku berubah."

 Niken membalasnya dengan senyum yang begitu hangat, hingga ditengah dinginnya udara Wonosobo, semangkuk bakso yang belum juga datang seolah tidak lagi menjadi hal yang paling mereka tunggu. Karena mereka sedang menikmati sesuatu yang jauh lebih menghangatkan.

 Tak lama kemudian, pelayan datang membawa dua mangkuk bakso yang masih mengepulkan uap panas. "Silahkan, Pak... Bu."

 "Terima kasih," ucap keduanya hampir bersamaan.

 Pelayan itu berlalu setelah meletakkan pesanan mereka di atas meja.

 Aroma kaldu yang gurih langsung memenuhi indera penciuman mereka. Niken meniup pelan kuah baksonya sebelum menyeruputnya sedikit.

 "Hm... menghangatkan sekali."

 Danendra tersenyum melihat ekspresi istrinya. "Kataku juga apa? Ini obat paling ampuh buat udara dingin."

 Niken terkekeh, "iya, Dokter Danendra."

 Danendra menggeleng geli, "masih panggil dokter?"

 "Kan Mas yang bilang kalau ini obat."

 Keduanya tertawa kecil, kemudian terdiam beberapa saat sambil menikmati bakso mereka masing-masing. Sesekali Danendra mengangkat wajah demi memastikan Niken makan dengan lahap.

 "Mas."

 "Iya?"

 "Mulai sekarang, boleh tidak kalau sesekali kita ke sini lagi?"

 "Tentu. Asal Bu Guru tidak bosan."

 "Bakso seenak ini, mana mungkin bosan. Selain baksonya yang enak, aku juga senang karena bisa mengenal tempat-tempat yang Mas sukai."

 Danendra meletakan sendoknya sejenak. "Kalau begitu, lain kali aku ajak kamu ke tempat lain."

 "Masih di Wonosobo?"

 "Iya, ada satu tempat yang biasanya kudatangi kalau ingin menenangkan pikiran."

 "Di mana?" tanya Niken penasaran.

 "Nanti saja, supaya jadi kejutan."

 Niken mengerucutkan bibirnya. "Mas sekarang suka bikin penasaran."

 Danendra tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil. Mereka kembali menikmati bakso hingga mangkuk keduanya hampir kosong, kemudian Danendra memandang Niken dengan lembut.

 "Nik."

 "Iya, Mas?"

 "Terima kasih sudah mau menemaniku."

  Alisnya langsung terangkat, "kenapa Mas yang berterima kasih? Bukankah harusnya aku ya, yang berterima kasih, karena Mas sudah meluangkan waktu untukku."

 Danendra menggeleng pelan. "Bukan meluangkan, tapi menyediakan. Aku ingin mulai menyediakan waktu untuk keluargaku."

 Kalimat itu membuat hati Niken terasa dipenuhi oleh kupu-kupu. Cara lelaki itu mengubah prioritas hidupnya, membuat hatinya dipenuhi rasa syukur yang teramat.

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!