Darius Evandra Adhitama adalah putra tertua Keluarga Adhitama yang hidup susah bersama ibunya. Di usia 18 tahun, ibunya meninggal dan ia dicampakkan kekasihnya.
Darius lalu masuk militer, bangkit menjadi "Dewa Perang" legendaris dalam 6 tahun, hingga menguasai bisnis global, lalu menjadi pembunuh bayaran paling ditakuti.
Saat pulang untuk hidup tenang, keluarga Adhitama memaksanya kembali tanpa tahu identitas aslinya.
Darius lalu mendapati mantan kekasihnya telah dinikahi sang adik tiri, dan dirinya justru dijadikan tumbal pernikahan politik dengan Adelina Atmadja demi menyudahi perseteruan berdarah.
Diremehkan dan terjebak pernikahan paksa, Darius hanya menatap dingin. Mereka tidak tahu bahwa "anak buangan" ini sanggup meratakan kedua keluarga besar tersebut hanya dengan satu jentikan jari.
Saat naga yang tertidur akhirnya membuka mata, seluruh kota akan gemetar di bawah kakinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cardannak23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Sepanjang langkah menuju ruang makan di mansion megah itu, ketegangan yang sunyi terus merayap.
Darius melangkah dengan santai di samping William, sementara Violetta berjalan di belakang mereka dengan tubuh yang masih sedikit gemetar.
Beberapa kali mata Violetta melirik punggung tegap Darius dari belakang. Punggung itu terasa begitu kokoh, jauh berbeda dalam ingatan sebelas tahun lalu.
Di meja makan, Darius duduk di samping William dan Violetta. Di seberang mereka duduk Miranti bersama kedua putrinya. Sedangkan Surya duduk di dekat Tuan Besar Hardiman.
Suasana di meja makan terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu perak yang beradu dengan piring porselen mahal menjadi satu-satunya suara yang mendominasi ruangan.
Darius memotong daging di piringnya dengan gerakan yang sangat presisi dan tenang. Sebuah kebiasaan militer yang tak disadari oleh siapa pun di ruangan itu.
Miranti Adhitama melirik Darius dengan tatapan jijik yang sama sekali tidak disembunyikan. "Mas Surya, anakmu ini sepertinya lahap sekali ya? Dia pasti jarang makan makanan mewah seperti ini."
Savina menahan tawa, sementara Kiara berbisik sambil melirik pakaian Darius, "Iya, Mah. Lihat aja cara duduknya, kaku banget. Kayak pengawal yang mendadak diajak makan di restoran bintang lima."
Surya Adhitama yang mendengar hal itu langsung meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras. "Miranti, Savina, jaga ucapan kalian! Darius adalah anak tertua di rumah ini!"
Melihat ayahnya mulai tersulut emosi, William buru-buru menimpali untuk meredakan situasi. "Sudahlah, Ayah, Ibu, jangan bertengkar."
Ia lalu menoleh ke arah Darius dengan senyuman tulus. "Kak, kalau makanannya kurang cocok, bilang saja ya. Biar pelayan buatkan yang baru."
"Tidak perlu. Ini sudah cukup," jawab Darius tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya.
Di samping William, Violetta hampir tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia hanya mengaduk-aduk sup di hadapannya dengan tatapan kosong.
Tak lama kemudian makan malam pun selesai. Tuan Besar Hardiman berdiri terlebih dahulu, lalu menatap Darius dengan dingin.
"Besok, tim desainer akan datang untuk mengukur pakaian pernikahanmu," ucap Tuan Besar Hardiman dengan angkuh.
Setelah itu, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, beliau membalikkan badannya dan berjalan pergi menuju ruang kerjanya.
Satu per satu anggota keluarga mulai meninggalkan ruang makan. Miranti, Savina, dan Kiara pergi sambil melempar pandangan meremehkan.
Surya Adhitama lalu mendekati Darius dan menepuk pundaknya. "Darius, kamarmu sudah di siapkan oleh Pak Ruslan. Besok Ayah akan menemuimu lagi."
Darius hanya mengangguk pelan, sebuah gerakan kecil yang sarat akan rasa hormat sekaligus kepatuhan kepada ayahnya.
Setelah Surya Adhitama pergi, William pun bangkit berdiri. "Kak Darius, aku dan Violetta ke kamar. Kalau butuh sesuatu, jangan ragu untuk memanggilku atau Pak Ruslan."
"Pergilah," jawab Darius dengan datar. Suaranya terdengar begitu dingin, nyaris tanpa emosi.
Darius masih duduk di kursinya dengan tenang. Matanya menatap William dan Violetta yang menuju lantai atas dengan tatapan yang sangat dingin.
Tak lama kemudian, keheningan merayap di ruang makan itu. Darius tidak langsung bangkit, ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu menghela napas pendek.
Pak Ruslan, yang sejak tadi berdiri diam di dekat ruang makan akhirnya melangkah mendekat secara perlahan.
"Tuan Muda..." suara Pak Ruslan terdengar sangat lirih. "Kamar Anda berada di lantai tiga. Mari saya antarkan."
Darius kemudian bangkit berdiri tanpa bersuara. Ia mengikuti langkah Pak Ruslan menyusuri lorong-lorong mansion yang sepi, menaiki tangga hingga sampai di depan sebuah pintu kayu jati ganda.
Pak Ruslan mendorong pintu tersebut. Ruang kamar di dalamnya sangat luas, lengkap dengan balkon pribadi yang menghadap langsung ke halaman belakang mansion.
"Terima kasih, Pak Ruslan. Kau boleh pergi," ucap Darius datar.
Pak Ruslan membungkuk dalam-dalam. "Selamat beristirahat, Tuan Muda. Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa menekan bel interkom di dekat tempat tidur."
Setelah Pak Ruslan keluar dan menutup pintu, Darius melangkah menuju balkon. Dari lantai tiga ini, ia bisa melihat gemerlap lampu Ibu Kota yang tak pernah tidur.
Darius lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah ponsel khusus berwarna hitam tanpa logo yang menggunakan enkripsi tingkat militer.
Ia menekan satu tombol cepat. Hanya dalam satu kali nada panggil, panggilan itu langsung terhubung.
"Tuan!" suara seorang pria terdengar di seberang telepon. Suaranya tegas dan sarat akan penghormatan.
Dialah Julian Mahendra, mantan kapten intelijen pasukannya saat menjadi Dewa Perang, yang kini menjabat sebagai CEO Mahendra Global Holdings.
"Julian," panggil Darius, suaranya berat dan sarat akan otoritas yang tak terbantahkan.
"Siap, Tuan! Apa ada perintah?" tanya Julian dengan sigap dari seberang telepon.
"Jemput aku di persimpangan jalan utama, lima ratus meter di luar gerbang luar kediaman Adhitama," perintah Darius datar. "Sepuluh menit dari sekarang."
Di seberang sana, Julian tak bertanya sedikit pun mengenai alasan Darius ingin keluar di tengah malam seperti ini. Baginya perintah Darius adalah hukum.
"Diterima, Tuan! Sepuluh menit lagi saya sampai di titik penjemputan," tegas Julian sebelum sambungan telepon ditutup.
Darius memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ia merapikan kemeja kasualnya, lalu melompat dari balkon dan mendarat mulus di atas tanah.
Hanya dalam hitungan menit, Darius telah melewati pagar pembatas dan berjalan santai menyusuri trotoar jalan pinggiran Ibukota.
Tepat sepuluh menit kemudian, sebuah sedan mewah Maybach S-Class berwarna hitam pekat bergerak secara perlahan dan berhenti tepat di samping Darius.
Seorang pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan potongan rambut rapi bergegas keluar dari pintu kemudi. Dialah Julian Mahendra.
Tanpa membuang waktu, Julian segera membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat di hadapan Darius.
"Hormat saya, Tuan!" ucap Julian dengan suara rendah namun mantap. "Maaf membuat Anda menunggu."
"Kau tepat waktu, Julian," jawab Darius dengan datar tanpa nada ekspresi sedikit pun.
Julian dengan sigap membukakan pintu belakang mobil Maybach tersebut. Darius melangkah masuk dan menduduki kursi penumpang yang dilapisi kulit mewah.
Setelah memastikan Darius duduk dengan nyaman, Julian menutup pintu secara perlahan, lalu kembali ke kursi kemudi dan menjalankan mobil tersebut.
Di dalam mobil, suasana terasa sangat hening. Hanya suara deru mesin yang sangat halus yang terdengar mendominasi.
"Bagaimana perkembangan perusahaan milikmu, Julian?" tanya Darius memecah keheningan dengan nada datar.
Julian kemudian melirik spion tengah dengan pandangan penuh rasa hormat. "Perkembangan perusahaan saya sangat stabil, Tuan. Nilai sahamnya di bursa internasional naik dua belas persen."
"Bagus," jawab Darius dengan singkat, pandangannya tertuju pada lampu-lampu kota yang terpantul di kaca mobil.
Julian mengangguk mantap. Namun, ada satu hal yang menggantung di benaknya. Dengan nada yang amat sopan, Julian memberanikan diri untuk membuka suara.
"Mohon maaf, Tuan," ucap Julian sambil sesekali melirik spion tengah. "Jika saya boleh tahu... mengapa Anda berada di dekat kediaman Keluarga Adhitama?"
"Aku baru saja keluar dari sana," jawab Darius datar.
Mendengar hal itu, "Keluar dari sana? Maksud Anda... Anda baru saja bertamu ke Keluarga Adhitama, Tuan?"
"Bukan bertamu," sahut Darius dengan pendek. "Aku dipanggil pulang oleh mereka."
Mendengar hal itu, Julian seketika terdiam sejenak, mencoba merangkai fakta yang baru saja ia terima.
up nya yg banyak..
jgn satu.
KLO up nya 1 aja seperti makan krupuk seribuan, 1 menit SDH ludes.
aku suka.
up terus yg banyak ya