Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
"Kak Erlan, ya aku harus menemui kak Erlan sekarang, dia pasti tau tentang ini, aku harus pulang," ucap Karin yang saat ini bergegas mengemudi mobil nya dari perusahaan menuju rumah.
Siapakah sosok Erlan yang di sebut oleh Karin? Kalian akan tau nanti.
Tiga puluh menit kemudian.
Karin kini tiba di rumah kediaman keluarga Gemilang yang saat ini berdiri kokoh dengan sangat megah di tengah-tengah kota (K).
"Kak Erlan! Kak kau dimana kak? Kak!" baru saja masuk ke dalam rumah, Karin sudah berteriak kesana kemari memanggil nama Erlan, suaranya bergema di seluruh sudut rumah mewah itu.
"Ada apa ini Karin? Tumben kamu pulang kantor sepagi ini nak," ucap sang mama yang saat ini menghampiri Karin karena panggilan nya yang mengema.
"Ma, kakak dimana? Dimana dia?" tanya Karin sambil memegang kedua tangan sang mama, dia mengabaikan pertanyaan yang di lontarkan sang mama barusan.
"Kakak mu sudah pergi, dia bilang ada urusan dan kembali ke jakarta tadi pagi, mama juga tidak tau urusan apa yang membuat nya sangat terburu-buru seperti itu, kau sendiri, kenapa mencari kakak ku sperti kucing gila seperti ini?" ucap sang mama sambil mengerutkan keningnya.
"Apa? kakak sudah kembali ke jakarta? Kenapa dia tidak bilang padaku? Kan aku juga mau ikut," ucap Karin tampak sangat kecewa, dugaan nya semakin kuat kalau sang kakak tau sesuatu tentang apa yang terjadi di keluarga Pratama alias keluarga Lilian.
"Sebenarnya kalian berdua ini kenapa? Ada apa sih Karin? Tadi pagi kakak ku tiba-tiba membawa koper dan bilang kalau dia akan kembali ke jakarta, sekarang kamu, apa yang akan kalian lakukan di sana? Bukan kah dulu kalian yang mau pindah ke sini meninggalkan jakarta, sekarang kalau kalian pergi siapa yang akan mengurus perusahaan Karin," ucap sang mama lagi, ia tampak sangat bingung dengan situasi saat ini.
"Tidak bisa ma, aku mohon untuk beberapa hari kedepan mama tolong hendel semua urusan di perusahaan bersama dengan asisten kak Erlan ya, aku akan menyusul kak Erlan ke jakarta," ucap Karin yang kemudian meninggalkan sang mama.
"Tapi Karin! Karin kau tidak bilang ke mama ada apa sebenarnya? Hey Karin! Astaga anak ini!" ucap sang mama sambil sedikit menjerit namun jeritan tersebut sama sekali tidak di pedulikan oleh Karin.
Sementara itu di kamar nya, Karin bergegas membereskan semua barang-barang yang dia butuhkan selama di jakarta, namun sebuah foto yang ada di atas nakas samping tempat tidur nya tiba-tiba mencuri perhatian Karin.
Ia tampak sangat sedih setelah menatap foto tersebut dan kemudian mengambil nya, Karin duduk di pinggir ranjang sambil memperhatikan bingkai foto itu dengan seksama.
"Tiga tahun berlalu Lilian, akhirnya kau memutuskan untuk bercerai, aku tidak tau apakah kita akan bertemu lagi atau tidak nanti setelah aku kembali," ucap Karin sambil mengusap bingkai foto tersebut, ia tampak sangat sedih dan juga merindukan sahabat baik nya itu.
Sementara itu di sisi lain.
Setelah selesai sarapan bersama Lilian pun memutuskan untuk kembali ke kamar nya, sebenarnya dia ingin ikut Karen ke perusahaan hari ini, tapi sayangnya papa Ardan melarang nya, bukan tidak boleh tetapi dia baru saja kembali, papa Ardan ingin Lilian beristirahat di rumah terlebih dahulu, memulihkan hari dan pikiran.
Di kamar nya, Lilian yang sudah terbiasa mengemban begitu banyak pekerjaan kini mulai merasa bosan karena tidak ada hal yang bisa dia kerjakan, akan tetapi sesuatu tiba-tiba terlintas di benaknya. Ia pun berjalan mendekati meja rias besar yang ada di dalam kamar tersebut, mengambil kunci laci yang dia sembunyikan di atas lemari dan kemudian membuka laci tersebut.
"Sudah sangat lama, agak susah membuka nya," gumam Lilian sampai akhirnya ia berhasil membuka kunci laci tersebut.
Di dalam laci meja rias itu terdapat begitu banyak album foto, terutama album foto kelulusan SMA Lilian, keluarga dan juga teman-teman nya.
Karena tidak ada hal lain yang bisa dia kerjakan, Lilian pun mengeluarkan semua album tersebut untuk melihatnya satu persatu, tiba-tiba rasa rindunya kembali menerpa setelah membuka halaman pertama album tersebut.
"Karin, apa kabar mu sekarang? Dan di mana kau berada? Aku sangat merindukan mu, tapi mungkin aku tidak akan pernah punya keberanian untuk bertemu dengan mu lagi, setelah putus nya hubungan persahabatan ini aku benar-benar menerima karma dan juga sangat malu, dulu kau sangat menantang keras hubungan ku dengan Alen sekarang apa yang kau khawatir kan benar-benar terjadi," ucap Lilian sambil menatap wajah Karin yang ada di dalam foto, dia bahkan tersenyum namun air matanya malah lolos begitu saja membasahi pipinya.
Sementara itu di perusahaan keluarga Pratama.
Ting ...
sebuah pesan masuk ke ponsel Karen yang saat ini tengah mengadakan rapat bersama para kolega bisnis nya di ruang rapat perusahaan.
Karen melirik ke arah ponselnya dan kemudian mengambil benda pipih tersebut untuk memastikan siapa yang mengirim pesan padanya di waktu-waktu sibuk seperti ini.
Terlihat sebuah nomer yang tampak tidak asing di mata Karen.
Isi pesan:
"Aku kembali hari ini,"
Pengirim : Erlan Hermanza Gemilang
Tiba-tiba senyum tipis terlukis di kedua sudut bibir Karen, ia tidak membalas pesan tersebut dan kemudian kembali meletakan ponselnya ke atas meja.
"Tuan muda tersenyum,"
"Mimpi apa aku semalam, bukan kah dia selalu murung?"
"Mungkin salah lihat, sejak kepergian adik nya dan kecelakaan itu, tuan muda selalu murung, mana mungkin tiba-tiba ada hal yang bisa membuat nya tersenyum,"
Begitulah bisik-bisik para karyawan yang saat itu juga ikut rapat di ruangan tersebut.
"Heem," Dimas yang menyadari itu segera memberi kode agar semua bawahnya segera diam.
Ya, Dimas, kalian tidak mungkin melupakan si mata-mata itu kan? Dia sebenarnya adalah asisten pribadi Karen.
Yey terkejut kan? Gak mungkin, pembaca ku semuanya gak suka kaget kagetan oke lanjut aja.
"Aku pikir kau sudah menyerah, ternyata aku salah," batin Karen memikirkan isi pesan dari Erlan.
Kalian pasti bertanya-tanya apa dan kenapa? Nanti akan author jelaskan secara detail, di bab selanjutnya.
****
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍