Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 HARI SIDANG & RANTANG BU ASTRID
Senin pagi pukul 7, langit Bandung begitu mendung. Galen di depan cermin, sudah rapi memakai baju kemeja berwarna putih dan dasi.
“Sudah rapi dan tampan, tapi kamu jangan tegang” Ujar Nabila
Galen menarik napas
"Takut om Bram muter balikin fakta lagi" Jawab Galen
Anggita nyelonong masuk bawa map setebal kamus.
"Tenang, kita bawa bukti segunung" Timpal Anggita
Sedangkan di ruang tamu sudah lengkap, Wijaya memakai blazer hitam yang di padukan dengan kemeja maroon, Alea yang memakai dress putih, Udin yang memakai baju batik, Dito yang memakai baju hitam plus ponselnya untuk live, Astrid yang membawa rantang 3 susun, sedangkan Laras membawa kardus kue lapis.
Melihat mereka Galen begitu terkejut …
“Bu Laras, itu apaan ?” Tanya Galen bingung
“Ini bekal untuk di sana, takutnya lama dan lapar” Jawab Laras
Melihat itu Alea tertawa …
“Ibu, di pengadilan itu tidak boleh makan” Ujar Alea
“Oh… ya sudah setelah sidang saja” Jawab Astrid membuat Alea geleng-geleng kepala
*****
Gedung Pengadilan Negeri Bandung yang begitu megah, diluar wartawan sedang menunggu.
"Pak Galen! Tanggapannya soal somasi!"
"Nanti ya, kita preskon abis menang" Ujar Dito
Di dalam ruang sidang, di kursi penggugat Bram yang memakai jas mahal yang dii sampingnya ada 3 pengacara dasi semua.
Di kursi tergugat ada Galen dan timnya, bangku mereka penuh. Map, laptop, dan rantang bu Astrid di bawah kursi
Hakim masuk
Tok… Tok… Tok…
"Silahkan duduk" Ucap Hakim
Galen noleh. Dan dia hampir jatuh dari kursi.
Hakimnya bernama Dewi, tetangga Astrid yang suka meminjam Loyang kue.
"Loh itu Bu Dewi, teman arisan" Ucap Astrid
"Waduh. Gimana ini..." Bisik Laras
Bu Dewi ngetok palu dengan wajah serius.
"Sidang perkara pencemaran nama baik dan penggelapan dimulai, silahkan Jaksa Penggugat" Ucap Bu Dewi selaku Hakim
Pengacara Bram berdiri
"Yang Mulia tergugat Galen Teriaz telah mencuri data perusahaan, mencemarkan nama baik klien saya, dan melakukan penyerangan. Kami punya bukti" Ucap Pengacara Bram
Layar dinyalain yang berisinya CCTV yang diedit. Di sana Galen terlihat sedang mencuri flasdisk.
"Itu di edit" Bisik Galen begitu murka
"Tahan, Galen" Ucap Nabila menahan Galen
Giliran pengacara Galen
"Yang Mulia, data itu bukti tindak pidana klien kami dan ini bukti aslinya"
Anggita colok flashdisk lalu muncul data C-12 dan rekaman Bram korupsi 2M, transfer ke rekening judi.
Ruangan menjadi hening, Bram tersenyum tipis
"Itu data palsu" Ucap Bram
"Silahkan saksi dari pihak tergugat," kata Bu Dewi.
Saksi 1 Pak Udin
Udin maju begitu gugup …
"Saya... saya liat terdakwa nyerang pake pistol, terus disiram kolak sama Bu Laras" Ucap Udin
Pengacara Bram
"Kolak? Ini pengadilan bukan dapur, Pak!" Pekik Pengacara Bram
"Iya tapi kolaknya panas Yang Mulia!" Jawab Udin
Saksi 2 Dito
Dito maju bawa HP …
"Yang Mulia, ini bukti video saya yang judulnya 'Emak-emak Lawan Teroris' dan ini udah 5 juta views" Ucap Dito
Dia play dan terdengar suara Astrid
"LEPASIN!"
Byur…
suara kolak, membuat seluruh ruang sidang nahan ketawa.
"Apaan ini ?" Bisik Bram begitu kesal
Saksi 3: Bu Astrid
Astrid maju membawa rantang
"Ibu bawa apa itu?" Tanya Hakim bingung
"Bekal Yang Mulia, takut sidangnya lama" Ceplos Astrid dengan polosnya
Melihat itu Bram menepuk jidat
"Tapi saya mau bersaksi, oang itu jahat. Dia mau nembak mas Galen, terus saya siram pake kolak. Dan kolak pisangnya juga sebagian saya bawa dan masih ada sisa di kompor kalau mau bukti" Tambah Astrid
Hakim mengetok palu 3 kali
"Cukup bu, terima kasih kesaksiannya" Ucap Hakim sambil menahan tawa
Pengacara Bram berdiri …
"Yang Mulia, semua ini rekayasa keluarga tergugat. Klien saya difitnah" Ucapnya
Bram berdiri …
"Yang Mulia, sya cuma mau hak saya. Hak dari perusahaan keluarga yang dulu dirampas kakak saya" Ucap Bram
Wijaya berdiri
"Karena kamu korupsi" Timpal Wijaya dengan aura dingin
"Karena mas serakah!" Sarkas Bram balik.
Ruangan sidang begitu panas …
Galen berdiri
"CUKUP!" Teriak Galen
Semua diem …
"Yang Mulia, saya gak mau perusahaan, saya juga gak mau uang. Saya cuma mau om saya berhenti nyakitin keluarga saya, karena saya dan ayah saya sudah menyerahkan semuanya kepada om saya. Data ini bukti, kalau Yang Mulia mau penjarakan saya karena ngelaporin kejahatan silahkan" Lanjut Galen
Nabila genggam tangan Galen, Anggita di belakangnya dan tim arisan di belakang lagi.
Hakim diam lama, ia melirik ke Astrid yang lagi nyembunyiin rantang lalu melirik ke Laras yang bisik-bisik
"Kuenya gimana" Bisik Laras
Hakim tarik napas …
"Pengadilan memutuskan, bukti dari pihak tergugat lebih kuat dan valid. Perkara pencemaran nama baik DITOLAK, untuk perkara penggelapan akan dilanjutkan dengan penyidikan terhadap pihak penggugat" Ucapnya
Tok … Tok … Tok ..
Palu diketok
Bram langsung berdiri dengan wajahnya merah.
"Ini gak adil!" Teriak Bram
"Kita banding!" Ucap Pengacaranya
Bram jalan keluar, sebelum keluar ia nengok ke Galen.
"Ini belum selesai, Galen" Ucap Bram
*****
Di luar pengadilan wartawan nyerbu ..
"Gimana tanggapannya Pak Galen ?"
"Kami cuma mau keadilan" Jawab Galen
Astrid duduk dan membuka rantang
"Udah sidang, makan yuk" Ajak Astrid
Dewi (Hakim) keluar, langsung nyamperin Astrid
"Bu... itu rantang isinya apa?" Tanya Dewi
"Rendang bu, Mau?" Tawar Astrid
Mendengar itu membuat Dewei tertawa …
"Iya, tapi lain kali jangan dibawa ke sidang ya" Jawab Dewi
Tapi dari kejauhan, Bram di dalam mobil memukul setir karena kesal.
"Pengacara! Cari celah lain, kita serang dari pajak dari aset dri mana aja!" Titah Bram