NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Ritual Penarikan Sukma

Detik jarum jam dinding di kamar belakang rumah Sekar terasa berdentang seumpama hantaman godam besi yang memukul batin. Waktu bergerak linear tanpa belas kasihan, merayap pasti mendekati pukul dua belas malam. Di luar, bentangan langit Sabtu Kliwon mutlak menghitam, menelan sisa-sisa pendar rembulan yang kian terkikis oleh bayangan ghaib lereng Gunung Raung. Atmosfer fana di dalam ruangan berukuran empat kali empat meter itu telah bergeser menjadi medang pertempuran spiritual yang teramat pekat, pengap, dan berbau anyir.

Raga Bintang masih bersila tegak sekeras karang di sisi ranjang bambu milik Sekar. Sepasang matanya terpejam rapat, menyembunyikan fakta bahwa esensi jiwanya—sukma murninya—telah meluncur ke dasar bumi, tersedot masuk ke dalam labirin Istana Sisik Hitam. Di atas dada Bintang, Pisau Sungsang Buwana menempel kaku tanpa penyangga fana, bergetar hebat dengan frekuensi rendah yang menciptakan suara mendengung nggreeeng... nggreeeng... yang memekakkan telinga batin. Bilah pusaka peninggalan Ki Prakoso itu mulai mengeluarkan uap kelabu, menahan gempuran balik dari sisa-bisa Wisa Sengkolo yang mencoba merambat naik melalui jalur ikatan sukma.

Di sisi lain ranjang, raga Sekar menampakkan pemandangan yang jauh lebih mengerikan. Gadis itu tidak lagi tampak seperti manusia yang sedang pingsan atau koma. Kulit wajahnya yang semula pucat pasi kini mulai mengilat kaku di bawah temaram lampu minyak. Guratan-guratan sisik halus berwarna emas tua telah merayap naik dari pangkal leher, membelah rahang, hingga menyentuh tepi tulang pipinya. Setiap kali napas manusianya yang tersisa memburu satu-satu, terdengar suara gesekan halus seumpama sisik reptil yang bergeser di atas permukaan kain. Sreeet... sreeet...

Mbah Sariti berdiri di ujung dipan, mengawasi kedaruratan yang terjadi dengan sepasang mata tua yang berkilat tajam namun sarat akan ketegangan. Kerut di dahinya kian mendalam, mempertegas gurat kecemasan seorang sepuh ghaib yang tahu betul bahwa mereka sedang melangkah di atas seutas benang tipis di atas jurang neraka jahanam. Di sampingnya, Rahayu bersimpuh di lantai tanah, kedua tangannya mencengkeram erat pinggiran dipan bambu dengan tubuh yang menggigil hebat. Tangisnya sudah habis, menyisakan isak tertahan yang terdengar menyedihkan di tengah keheningan malam yang gila.

"Mbah... k-kulit anak saya... kenapa berubah seperti itu, Mbah?" bisik Rahayu dengan suara parau, nyaris habis oleh cekaman ketakutan yang luar biasa. Dia melihat sendiri bagaimana jemari tangan Sekar mulai menekuk kaku, kuku-kukunya menggelap seumpama tanduk kerbau yang runcing.

"Kalingga sudah menyentuh inti sukmanya di bawah sana," jawab Mbah Sariti, suaranya berat, kering, dan dingin tanpa basa-basi. "Sentuhan Pengikat Sukma. Siluman keparat itu sedang mengunci nyawa Sekar agar menyatu dengan rajah kutukan di belikatnya. Kalau sisik itu sampai menutup seluruh wajahnya sebelum tengah malam, anakmu bukan lagi manusia, melainkan mutlak menjadi bagian dari tanah kutukan."

Mbah Sariti melangkah maju, melompati sesajen dan barisan lilin merah yang apinya mulai menari-nari liar ditiup angin ghaib yang entah datang dari mana. Dia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah barat, tempat nampan kuningan besar berisi perlengkapan ritual terakhir diletakkan. Waktunya telah habis untuk sekadar bertahan. Bintang sudah bertaruh nyawa di dalam sangkar ular, dan tugasnya di dunia atas adalah membuka paksa gerbang ghaib wadah fana Sekar agar sukmanya bisa ditarik kembali sebelum segel Kalingga menjadi permanen.

"Ambil mangkuk tanah liat itu," perintah Mbah Sariti kepada Rahayu tanpa menoleh. "Isi dengan air sumur yang tadi sore sudah dicampur kembang telon. Jangan sampai tumpah satu tetes pun. Nyawa anakmu dan pemuda ini bergantung pada ketetapan tanganmu sekarang."

Dengan jemari yang gemetar hebat, Rahayu merangkak mendekati sudut ruangan, mengambil mangkuk tanah liat yang dimaksud. Atmosfer di dalam kamar mendadak terasa begitu berat, seolah udara tipis dipaksa memadat menjadi cairan kental yang menyumbat paru-paru. Setiap kali mereka menarik napas, ada rasa sesak dan sensasi terbakar belerang yang samar, menandakan bahwa pembatas antara dunia fana dan dimensi Istana Sisik Hitam kian menipis akibat gesekan mantra terlarang yang dirapalkan oleh Bintang.

Mbah Sariti merogoh kantong kain mori di pinggangnya, mengeluarkan segenggam kemenyan putih murni yang belum tersentuh api. Kemenyan ini bukan sebarang kayu gharu atau dupa pasar; ini adalah Kemenyan Sungsang yang didapat dari lereng barat Gunung Raung, dikeringkan di atas kain kafan perawan, dan dirajah dengan asma penolak bala selama empat puluh malam Jumat Legi.

Creees...

Mbah Sariti melemparkan segenggam kemenyan itu di atas bara arang batok kelapa yang menyala merah di dalam anglo tanah liat. Seketika, asap putih bersih yang sangat tebal dan pekat membubung tinggi menjerat langit-langit kamar. Bau harum yang sangat tajam, menusuk, bercampur aroma dingin seumpama udara kuburan yang baru digali, langsung menguasai seluruh ruangan. Harum kemenyan ini begitu magis, sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang tidak memiliki ketetapan iman.

"Sssshhh... Nggreeeng..."

Bersamaan dengan membubungnya asap kemenyan, dinding-dinding tripleks dan tiang kayu rumah Sekar mulai bereaksi aneh. Suara derit kayu terdengar beruntun seolah ada tekanan masif dari luar rumah yang sedang meremas bangunan tersebut. Dari pori-pori kayu dinding yang lapuk, cairan bening kekuningan yang kental mulai menetes lambat. Cairan itu mengalir meluluri permukaan dinding, mengeluarkan bau busuk bunga kenanga yang membusuk—keringat lendir amis Istana Sisik Hitam telah merembes masuk ke dunia nyata melalui ikatan batin Sekar.

"Mbah! Dindingnya... dindingnya keluar darah kuning, Mbah!" jerit Rahayu histeris, nyaris menjatuhkan mangkuk tanah liat di tangannya saat melihat cairan kental itu mulai menetes menyentuh lantai tanah dan mengeluarkan suara mendesis samar.

"Diam! Jangan goyah!" bentak Mbah Sariti dengan suara yang menggelegar ghaib, menggetarkan batin Rahayu hingga perempuan itu terbungkam kaku. "Itu Wisa Sengkolo. Kalingga tahu kita sedang mencoba menjemput sukma Sekar. Dia mengirimkan racun batinnya untuk meruntuhkan pertahanan ruangan ini. Tetap pegang mangkuk itu di depan dada Bintang!"

Mbah Sariti mulai bergerak. Dia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, melintasi asap kemenyan yang tebal. Mulutnya mulai komat-kamit melantunkan ayat-ayat pelindung tingkat tinggi yang dipadukan dengan mantra rajah kuno pemutus kutukan bumi. Suaranya tidak lagi terdengar seumpama suara nenek tua yang rapuh, melainkan bergema berat, berlapis-lapis seolah didukung oleh khodam leluhur yang agung.

"Bismillahirramanirrahim... Sallallahu 'alaihi wasallam. Heh, bumi kang mengku, langit kang ngayomi! Sopo sing masang kutuk ing gulu, sopo sing nandur wisa ing dodo, podo sirno dening kuasane Gusti Kang Akarya Jagad! Sungsang buwana, sungsang nyawa, balikno sukmane jabang bayine Sekar marang raga manusiane...!"

Setiap bait mantra yang dilepaskan Mbah Sariti seolah berwujud pukulan ghaib. Asap kemenyan putih di atas anglo mendadak berputar membentuk pusaran angin kecil, mengitari tubuh Bintang dan Sekar. Pendaran kuning redup dari Pisau Sungsang Buwana di dada Bintang merespons kutipan mantra tersebut; rajah-rajah ghaib pada bilahnya menyala lebih terang, memancarkan guratan cahaya keemasan yang mulai mengikis lendir amis yang merembes di dinding kamar.

Namun, Kalingga bukan siluman kelas teri yang mudah digoyahkan oleh mantra pemutus. Dari balik lantai tanah kamar yang lembap, terdengar suara desisan jutaan ular yang sangat pekat. Lantai tanah di bawah dipan Sekar mulai bergerak naik-turun lambat, bergelombang seolah-olah ada seekor ular piton raksasa berukuran sebesar batang pohon kelapa yang sedang merayap tepat di bawah permukaan tanah tempat mereka berpijak. Hawa dingin yang menusuk tulang langsung menyerbu naik, membuat kuku jari kaki Rahayu membiru seketika karena radang dingin ghaib.

Mbah Sariti mengambil sebilah keris kecil tanpa pamor dari balik pinggangnya—Keris Tirto Menggolo—lalu mencelupkan ujungnya ke dalam air kembang telon yang dipegang oleh Rahayu. Dengan gerakan kilat, dia memercikkan air tersebut ke kening Sekar dan dada Bintang secara bergantian.

Breeesss!

Saat air itu menyentuh kening Sekar, tubuh gadis itu mendadak tersentak hebat. Matanya yang terpejam mendadak terbuka lebar, menyingkap pemandangan yang membuat Rahayu menjerit tertahan: seluruh bola mata Sekar telah memutih tanpa pupil, dilapisi selaput lendir kekuningan yang bergetar gila. Mulutnya menganga lebar, mengeluarkan desisan parau yang panjang seolah-olah ada entitas asing yang sedang meminjam pita suaranya untuk memaki.

"Hhhssss... K-Keparat... m-manusia cacing...!" desis mulut Sekar dengan gema suara Kalingga yang berat. "Sukma perempuan ini sudah kusegel di dasar sendang! Siapa pun yang mencoba menariknya... akan mati membusuk bersama tanah ini...!"

Bersamaan dengan ucapan ghaib itu, Pisau Sungsang Buwana di dada Bintang terlempar ke atas, melayang beberapa senti seolah didorong oleh kekuatan tak kasat mata yang sangat dahsyat. Dari lubang hidung dan telinga raga Bintang, darah segar berwarna merah tua mulai meleleh keluar, membasahi bibir dan leher manusianya. Efek benturan spiritual di dimensi bawah telah mulai merusak organ dalam raga fana Bintang di dunia nyata.

"Mbah! Bintang berdarah, Mbah! Bintang bisa mati!" teriak Rahayu panik, tubuhnya gemetar menyaksikan pemuda yang mencoba menolong anaknya kini berada di ambang maut.

"Jangan bergeser!!! Kalau kau lepaskan mangkuk itu, sukma Bintang akan tersesat selamanya di alam siluman dan anakmu akan mati detik ini juga!" bentak Mbah Sariti dengan urat-urat leher yang menonjol tegang. Peluh dingin bercampur darah tipis mulai menetes dari pelipis Mbah Sariti sendiri. Dia tahu, ini adalah fase penentuan. Jiwa Sekar sedang ditarik oleh dua kekuatan raksasa: mantra penarikan sukma manusianya di dunia atas, dan Sentuhan Pengikat Sukma milik Kalingga di dunia bawah.

Mbah Sariti menancapkan Keris Tirto Menggolo tepat di atas lantai di antara dipan Sekar dan raga Bintang. Dia menggigit ujung jari telunjuk kanannya hingga mengeluarkan darah segar, lalu menggoreskan rajah pemutus kutukan berbentuk cakra sungsang di atas dahi Bintang dan dada Sekar.

"Bintang! Rungokno suworo iki, Le!" teriak Mbah Sariti menembus dimensi batin. "Gunakan pusaka Ki Prakoso! Tebas benang hitam yang mengikat belikat Sekar! Aku akan menahan gerbang raganya di sini sampai kau berhasil membawa sukmanya keluar... JANGAN MENYERAH, LE!!!"

Atmosfer di dalam kamar kian menggila. Lilin-lilin merah di sudut ruangan mendadak padam serentak, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh pendar rajah darah di dahi Bintang dan kilatan mata putih Sekar yang memancarkan horor mutlak dari dasar bumi lereng Raung.

Di dimensi bawah, di dalam ruang cekungan buntu Istana Sisik Hitam, bentakan Mbah Sariti bergema seumpama petir yang merobek langit-langit daging. Suara ghaib dari dunia fana itu berwujud gelombang suara keemasan yang menghantam rantai-rantai tak kasat mata yang mengikat tubuh spiritual Sekar.

Kalingga mendengus murka. Sepasang mata siletnya yang berwarna merah darah menatap tajam ke arah Bintang yang berdiri tegak di depan lorong hancur. "Dukun tua bangka di dunia atas tidak akan bisa mengubah takdir yang sudah tertulis di tanah ini, manusia cacing! Kau datang ke sini hanya untuk menyerahkan sukmamu sebagai hiasan tambahan di dinding istanaku!"

Sreeeeet!

Dengan gerakan yang luar biasa cepat, ekor ular raksasa Kalingga melepaskan lilitannya dari tubuh Sekar, lalu melesat maju seumpama tombak masif yang siap menembus dada sukma Bintang. Ujung ekor itu dipenuhi sisik-sisik hitam yang mengeras setajam bilah-bilah pedang baja kuno, membelah udara gua dengan suara desingan yang memekakkan telinga.

Bintang tidak bergeser satu sentimeter pun. Pijakan kakinya terkunci kokoh di atas lantai batu kali yang berlendir. Dengan ketetapan batin yang mutlak dan kepasrahan total kepada Sang Pencipta, dia mengangkat Pisau Sungsang Buwana secara melintang di depan dada. Rajah emas di sepanjang bilah pusaka itu meledak, memancarkan dinding pelindung ghaib berwujud perisai cahaya kuning keemasan yang bertuliskan ayat-ayat suci zikir penjaga.

BLAAAAM!!!

Hantaman ekor Kalingga membentur perisai emas Bintang dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Ledakan energi spiritual itu memicu gelombang kejut yang meremukkan pilar-pilar tengkorak di sekitar cekungan gua. Air lumpur hitam di kolam para selir terdahulu muncrat gila-gilaan, menyembur ke segala arah seumpama hujan minyak yang terbakar. Jiwa-jiwa perempuan setengah ular di dalamnya menjerit histeris, menutupi telinga mereka yang berdarah akibat pekikan ghaib yang ditimbulkan oleh benturan tersebut.

Bintang terseret mundur tiga langkah, telapak kaki sukmanya meninggalkan bekas bakaran hangus di atas lantai batu yang licin. Dadanya terasa sesak luar biasa; dia bisa merasakan bagaimana raga manusianya di dunia atas mulai mengalami pendarahan hebat akibat gempuran fisik ghaib Kalingga. Namun, mata Bintang tetap mengunci sosok Sekar yang terkulai kaku di belakang tubuh raksasa sang siluman.

Dia melihat benang perak ghaib yang mengikat jiwa Sekar kini telah tertutup oleh jalinan sulur hitam pekat—Sentuhan Pengikat Sukma milik Kalingga telah mengunci belikat kanan Sekar dengan sangat rapat. Pola bunga bangkai ghaib pada belikat gadis itu berdenyut kencang, memancarkan uap ungu yang terus meracuni kesadaran manusianya.

"Sekar! Sadar, Sekar! Lihat aku!" teriak Bintang, suaranya dialiri energi zikir sungsang untuk memecah efek hipnotis ghaib Kalingga.

Sekar bergerak lambat, kepalanya yang dipenuhi sisik emas tipis mendongak. Namun, sepasang matanya yang putih bersih tanpa pupil hanya memancarkan kekosongan yang dingin. Efek segel Kalingga terlalu kuat; kesadaran fana Sekar telah tenggelam terlalu dalam ke dalam ilusi keabadian yang ditawarkan sang siluman.

"Percuma, Bintang..." desis mulut Sekar, namun suara yang keluar adalah gema parau Kalingga yang penuh ejekan. "Dia tidak akan mendengar suaramu lagi. Raganya di atas sana sudah mulai membusuk, dan di sini... dia adalah milikku untuk selamanya!"

Kalingga tertawa gila. Tubuh manusianya yang pucat mendadak meliuk aneh, menyatu dengan gerakan ekor ularnya yang masif. Kulit wajahnya yang robek kian melebar, menyingkap struktur rahang reptil yang sanggup menelan manusia utuh. Dari sela-sela sisik hitam di sekujur tubuhnya, ribuan ular berbisa berukuran kecil mendadak keluar, merayap cepat memenuhi lantai gua, menciptakan gelombang kematian hitam yang bergerak maju mengepung posisi Bintang.

Sssshhh... Sssshhh... Sssshhh...

"Mati kau, manusia sombong!" bentak Kalingga beringas.

Ribuan ular berbisa itu melesat meloncat dari lantai batu, mengincar seluruh bagian tubuh sukma Bintang. Uap bisa hijau pekat menguar dari taring-taring mereka, siap melelehkan pelindung ghaib Bintang dalam hitungan detik.

Bintang menarik napas dalam-dalam menembus batin spiritualnya. Dia mengingat pesan terakhir Ki Prakoso tentang hakikat Pisau Sungsang Buwana: pusaka itu tidak diciptakan untuk menyerang sesama makhluk, melainkan untuk membalikkan segala bentuk kebatilan dan kezaliman ghaib kembali kepada penciptanya.

Bintang membalikkan genggaman pisaunya, mengarahkan ujung mata bilah ke arah dada sukmanya sendiri—sebuah posisi sungsang yang ekstrem—lalu menghentakkan pangkal pusaka itu ke atas lantai batu kali dengan kekuatan penuh.

"Sungsang Buwana, Sungsang Nyawa! Segoro bisa balik dadi tawar, sengkolo bali marang sing nandur! Demi dzat Kang Maha Kuwoso, sirno siro siluman jahanam...!!!"

BOOOOOOMMMM!!!

Cahaya keemasan yang luar biasa terang meledak dari titik hentakan pisau Bintang. Gelombang cahaya itu bergerak memutar seumpama lingkaran ombak api suci yang menyapu bersih seluruh permukaan lantai gua. Ribuan ular berbisa milik Kalingga yang terkena sapuan cahaya ini langsung menjerit parau, tubuh mereka hangus terbakar menjadi abu kelabu sebelum sempat menyentuh pakaian sukma Bintang.

Tidak berhenti di situ, gelombang pembalik sungsang itu terus merambat maju menghantam ekor raksasa Kalingga. Sang Penguasa Purba itu terkejut gila saat merasakan gelombang bisanya sendiri mendadak berbalik arah, menyerang sistem saraf ghaibnya dengan rasa sakit yang luar biasa panas seumpama disiram air raksa cair.

"Aaaaaakhhh!!! Keparaaattt!!!" jerit Kalingga membahana, tubuh ularnya yang masif terlempar menghantam dinding gua hingga menimbulkan retakan besar di jalinan otot istana. Darah hitam kental menyembur dari sela-sela sisik kirinya yang robek akibat hantaman energinya sendiri.

Melihat Kalingga yang terkapar kaku sesaat akibat efek pembalik sungsang, Bintang tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang telah dibayar dengan darah raganya di dunia fana. Dia melesat maju, melompati genangan lendir beracun, menuju ke arah Sekar yang masih terduduk kaku di sudut gua.

"Bintang..." Sebuah bisikan halus, sangat tipis dan lemah, mendadak terdengar dari lubuk batin Sekar yang paling dalam. Kilatan pupil hitam manusianya sempat muncul sesaat di sela-sela selaput putih matanya, menandakan bahwa zikir sungsang Bintang berhasil memicu sisa kesadaran fana Sekar untuk berontak dari dalam.

"Tahan, Sekar! Aku menjemputmu pulang!" teriak Bintang tegas.

Bintang telah berdiri tepat di belakang punggung Sekar. Di belikat kanan gadis itu, pola bunga bangkai ghaib dari kutukan Sengkolo Sabtu Kliwon bergetar hebat, mengeluarkan duri-duri hitam ghaib yang mencoba menusuk tangan sukma Bintang saat dia mendekat. Jalinan sulur hitam dari Sentuhan Pengikat Sukma milik Kalingga melekat kencang seumpama urat saraf tiruan yang mengunci nyawa Sekar pada dimensi ini.

Bintang mengangkat Pisau Sungsang Buwana tinggi-tinggi dengan kedua tangannya. Seluruh sisa energi zikir, tekad batin, dan doa keselamatan dari Mbah Sariti di dunia atas disatukannya ke dalam mata pisau pusaka tersebut. Bilah pusaka itu kini tidak lagi memancarkan pendaran kuning redup, melainkan menyala putih menyilaukan seumpama kilat yang ditarik dari langit tertinggi.

"Dengan ijin Gusti Kang Akarya Jagad... PUTUS!!!"

SWUUUUTTT... KRAAAKKK!!!

Bintang menebaskan Pisau Sungsang Buwana tepat ke arah jalinan sulur hitam di belikat Sekar. Suara benturan keras seumpama besi tua yang menghantam baja terdengar memekakkan telinga, disusul oleh lolongan kesakitan yang luar biasa mengerikan dari seluruh penjuru Istana Sisik Hitam.

Sulur-sulur hitam segel Kalingga terputus berantakan, mencuatkan darah hitam yang langsung menguap terbakar oleh cahaya putih pusaka. Tanda kutukan Sengkolo di belikat Sekar retak besar, polanya pecah memudar lambat laun. Bersamaan dengan putusnya segel tersebut, benang spiritual perak yang terikat pada kebaya putih Sekar kembali menyala terang benderang, menarik paksa tubuh spiritual Sekar keluar dari lantai batu gua, meluncur naik menuju gerbang dimensi fana.

"KAU TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBAWANYA KELUAR DARI SINI, BINTANG!!!"

Lolongan murka Kalingga terdengar dari balik kepulan asap. Sang Raja Ular telah bangkit kembali dengan wujud yang sepenuhnya hancur; wajah manusianya telah hilang, digantikan oleh kepala ular kobra raksasa bersisik hitam legam dengan sepasang mata merah menyala gila yang siap menelan sukma Bintang bulat-bulat.

Namun, sukma Sekar telah meluncur jauh ke atas, menerobos langit-langit daging istana menuju raga manusianya. Bintang berdiri sendirian di tengah cekungan gua yang mulai runtuh, bersiap menghadapi amukan mutlak dari sang Penguasa Purba lereng Raung yang telah kehilangan mangsa sucinya. pertarungan babak akhir yang sesungguhnya baru saja dimulai di kedalaman bumi yang kelam.

1
Tina Martince
anak kandung loh 🤭,penasaran ikutin cerita ini ya...😍
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
ibu nya sekar aneh ...
jgn2 sekar anak pungut
atau sengaja di tumbalkan
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
wajah tampan kalingga terlalu mempesona yaa sekarr😂
Tina Martince: 🤭 ya terlalu mempesona
total 1 replies
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
perjanjian apa ,
ibu nya sekar terlalu banyak diam
hubungan sekar dan ibu nya
tak harmonis ,
ada kisah rahasia apa disini
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
lahir nya sekar tibo weton wingit
💜⃞⃟𝓛 S҇ᗩᑎGGITᗩ༄⃞⃟⚡ 𝐀⃝🥀
harusnya ibu nya sekar lebih jujur
dgn keadaan sekar
mungkin ada perjanjian dgn dunia ghoib ,
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!