NovelToon NovelToon
Aku Yang Jatuh Cinta

Aku Yang Jatuh Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:204
Nilai: 5
Nama Author: citaaaa

Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ENAM

Hari ini suasana di cafe sedikit berbeda. Setelah kejadian pemecatan yang terjadi pada Arun kemarin, pak Broto beserta anak ke duanya yaitu Ilham datang ke Bandung.

Saat ini pak Broto sedang memandang Bio yang duduk sambil tertunduk, sedangkan Ilham, Dimas, Erik serta Akbar masih berdiri menyaksikan itu semua.

"Jangan mentang-mentang kamu bos, kamu bisa ngelakuin apa yang kamu mau ya!" ujar Broto, sang ayah.

"Bio cuma gertak dia aja" sahut Bio.

"Dengan cara kamu pecat dia, gitu?"

Bio hanya bisa terdiam, tidak mampu mengeluarkan kata apapun.

Setelah Dimas mendengar cerita tentang kejadian kemarin dari Akbar. Dimas langsung menghubungi Ilham, awalnya Dimas hanya meminta untuk Arun supaya bisa bekerja kembali di cafe. Namun tanpa Dimas sangka pak Broto ikut dalam permasalahan ini.

"Kenapa bisa pak Broto sampe tau pak?" tanya Dimas sambil berbisik ke arah Ilham.

"Gak sengaja denger pembicaraan kita di telpon waktu itu" ujar Ilham pelan.

Dimas menghembuskan napasnya pelan, namun dengan gerakan tubuh yang tidak nyaman.

"Sekarang papah gak mau tau, kamu harus minta maaf sama Arun" ujar pak Broto.

"Hah? Kenapa harus minta maaf segala sih pah?" tanya Bio.

Broto menatap Bio dengan kerutan di keningnya, "Lagian kemaren emang kerjaan dia gak bener, terus tiba-tiba minta izin pulang. Apa coba kayak gitu namanya kalo bukan gak profesional?" lanjut Bio.

"Maaf pak, sebenarnya kemaren Arun izin pulang karna nenek Salma masuk rumah sakit" ucap Akbar.

"Nenek Salma sakit? Sakit apa?" tanya Erik pada Akbar.

"Saya juga belum tau bang, soalnya mereka masih di rumah sakit. Kalo gak salah nanti sore mereka baru pulang" jelas Akbar.

"Pantesan dia panik banget. Pasti dia takut terjadi sesuatu sama neneknya" ujar Erik.

Bio yang mendengar penjelasan Akbar langsung menatapnya, "Sore nanti kamu harus ikut papah ke rumah Arun" ucap pak Broto tegas.

Setelah itu, pak Broto langsung pergi dari hadapan Bio, "Tapi pah? Pah?" Bio berusaha memanggil sang ayah yang mulai menjauh.

"Ikutin aja bro, lo tau sendirikan sifat papah gimana" ujar Ilham sambil menepuk pundak Bio lalu berjalan mengikuti sang ayah.

Bio mengacak rambutnya dengan kasar lalu pergi. Tersisa Dimas, Erik serta Akbar disana.

"Gue tau nih, lo kan yang lapor ke pak Broto?" tunjuk Erik pada Dimas.

Dimas mengusap-usap tengkuknya, "Gue gak bilang ke pak Broto, cuma ke pak Ilham. Tapi gue juga gak tau kalau ternyata pak Broto denger semuanya, jadi lah dia disini" jelas Dimas.

"Ckckck, Dimas-Dimas. Kalo pak Bio tau, gue jamin pasti lo di lempar pake meja cafe" ucap Erik.

"Kayaknya pak Bio bukan orang kayak gitu deh bang" sahut Akbar.

Erik melihat ke arah Akbar lalu melipat tangannya di depan dada, "Tau dari mana lo? Coba lo hari ini duduk aja gak usah kerja, Bar. Apa lo yakin pak Bio gak ngamuk?" ujar Erik.

"Maksud saya teh ..."

"Arun aja sampe di pecat" Erik memotong perkataan Akbar.

Setelah itu Dimas dan Erik langsung kembali ke tempat mereka bekerja. Akbar yang masih berdiri pun langsung melangkahkan kaki menuju beberapa kursi yang belum selesai dia turunkan tadi dari meja.

Arun baru saja kembali dari tempat administrasi rumah sakit.

"Lain kali biar Arun yang bayar. Arun juga punya uang" ucap Arun saat sampai didepan ruang rawat sang nenek.

Seorang perempuan berumur empat puluh tahunan yang sedang berdiri memperhatikan Salma menengok ke arah Arun.

"Mamah gak keberatan, Run" balas Linda, mamah dari Arun.

"Kalo suami mamah tau?" tanya Arun.

Linda menatap Arun dengan wajah sendu. Sejak perceraiannya serta Arun memilih untuk bersama sang nenek, hubungan antara ibu dan anak ini sedikit merenggang.

"Ini uang tabungan mamah. Jadi mamah berhak ngelakuin apa aja" balas Linda.

"Harusnya mamah simpen aja uangnya buat mamah sendiri, nenek urusan Arun sekarang" ucap Arun lalu membuka pintu kamar tersebut.

Arun melangkah menuju ranjang Salma, melihat sang nenek yang sedang duduk bersandar sambil memandangnya dengan lemah.

"Kamu teh gak kuliah?" tanya Salma.

"Hari ini Arun libur" balas Arun.

"Kamu libur cuma buat jagain nenek?" tanya Salma sambil memegang tangan sang cucu.

Arun menggeleng sambil mengusap punggung tangan Salma dengan lembut, "Nenek yakin mau pulang hari ini? Kalo enggak besok aja deh ya pulangnya?" bujuk Arun.

"Nenek udah sehat, kenapa harus lama-lama di rumah sakit" tolak nenek Salma.

"Tapi nenek harus janji sama Arun, pokoknya nanti di rumah nenek gak boleh capek-capek. Nenek harus istirahat dan ikutin semua peekataan Arun. Janji?" Arun menganggat jari kelingkingnya di hadapan nenek Salma.

Nenek Salma hanya tersenyum sambil mengangguk an kepala tanda menyetujui.

Arun langsung meraih jari kelingking sang nenek lalu mengaitkan dengan jari kelingking miliknya, "Nenek gak boleh ingkar, nenek udah janji. Kalo gitu Arun mau beres-beres barang dulu sebelum kita pulang" ucap Arun sambil melangkah untuk mengambil tas besar berwarna merah muda tersebut.

Linda memasuki ruangan lalu menghampiri sang ibu. Linda duduk didepan sang Ibu, Salma merupakan nenek Arun dari ibunya, "Bu, gimana keadaannya?" tanya Linda sedangkan Salma melihatnya dengan wajah sedikit kaget.

"Ibu udah baikan, kamu teh kapan pulang?" tanya Salma.

"Mamah yang bawa nenek ke rumah sakit dan bayarin semuanya" ucap Arun yang sedang melipat beberapa baju.

"Kamu pulang sendirian?" tanya Salma.

Linda hanya mengangguk, "Ibu jaga kesehatan ya. Aku minta maaf karna akhir-akhir ini jarang pulang, buat jengukin ibu" ujar Linda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Ibu gak apa-apa, kamu juga jaga kesehatan ya. Jangan lupa makan" ucap Salma sambil mengusap tangan sang anak.

Arun yang sejak tadi melihat interaksi ibu dan anak tersebut hanya diam lalu melanjutkan kegiatannya kembali.

Hening terjadi didalam ruangan tersebut, sampai suara panggilan telpon memecah kesunyian, "Hallo" Linda menempelkan hp pada telinganya, itu suara panggilan dari hp Linda.

"..."

"Oke, saya kesana sekarang" ujar Linda lalu menutup telponnya.

"Siapa yang nelpon? Suami kamu?" tanya nenek Salma.

Linda bangkit dari duduknya, "Bukan bu, ini asisten Linda kasih kabar kalau ada meeting sore ini. Maafin Linda ya bu, gak bisa anter ibu pulang ke rumah soalnya aku harus jalan sekarang" ujar Linda.

"Iya gak apa-apa, kamu hati-hati ya di jalan" ucap nenek Salma.

Linda mencium tangan sang ibu sebelum pergi lalu Arun tiba-tiba menghampirinya sambil mencium tangan Linda, "Mamah hati-hati di jalan, kalo udah sampe kabarin" ucap Arun lalu kembali ke tempat nya.

Linda langsung terdiam sambil menatap Arun, ini kali pertama Arun menginginkan kabar darinya.

Linda melihat ke arah nenek Salma sambil tersenyum cerah, "Aku pamit bu" ucap Linda lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Brukk

Tas tersebut Arun letakkan di samping ranjang agar mudah terlihat, "Kalo kamu mau sama mamah kamu, bilang nenek ya" ujar nenek Salma sambil tersenyum pada Arun.

"Udah selesai. Tinggal kita makan dulu sebelum pulang ke rumah" ujar Arun mengabaikan perkataan sang nenek.

Perjalan pulang Arun memilih menggunakan aplikasi online untuk memesan mobil. Jarak antara rumah sakit dengan rumah Arun membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit.

Tepat pukul empat sore Arun sampai di depan rumahnya, "Oke kita udah sampe" ujar Arun sambil membuka pintu mobil.

Arun mengulurkan tangannya didepan Salma, "Ayok nek, pegang tangan Arun. Pelan-pelan aja" ucap Arun lagi.

Salma dengan lembut memegang tangan Arun untuk bertumpu. Rasa lemas masih terasa di tubuh Salma saat ini. Arun mengantarkan sang nenek untuk masuk rumah lebih dulu, "Pak sebentar ya, saya anter nenek saya ke dalam dulu" pamit Arun pada driver yang sedang membuka bagasi mobilnya untuk menurunkan barang.

"Iya neng" balas sang driver ramah.

Arun sudah membuka pintu rumahnya lalu menuntun Salma untuk duduk di kursi, "Nenek di sini dulu ya, Arun mau ambil barang-barang kita dulu di mobil. Jangan kemana-mana dan jangan lakuin apapun" ucap Arun memperingati.

"Nenek teh udah sehat Run. Kenapa kamu dari tadi ngomong terus kayak waktu nenek sakit?" tanya Salma.

"Nenek masih lemes kan?" Salma mengangguk, menjawab pertanyaan Arun tersebut.

Arun hanya tersenyum lalu pergi keluar untuk membayar ongkos mobil tersebut. Namun Arun mengerutkan keningnya saat mobil yang dia tumpangi sudah tidak ada di depannya dan hanya tersisa barang-barangnya saja.

"Loh mobilnya mana?" ujar Arun heran sambil melihat sekelilingnya. "Kok malah ada ---"

Ucapan Arun terpotong saat melihat seseorang berusaha membawa barang-barang miliknya.

Tbc.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!