Alya Renatha tak pernah menyangka akan diceraikan oleh Leonhart Varellion, CEO dingin dari Leonhart Corporation yang menikahinya tanpa cinta. Saat ia pergi dari hidup pria itu, Alya tidak tahu bahwa dirinya sedang mengandung anak kembar tiga.
Bertahun-tahun berlalu. Alya kembali ke kota itu bersama ketiga putranya. Tanpa sengaja, mereka bertemu dengan Leon di sebuah lobi hotel.
“Om, mau nggak jadi Papa kami?” tanya ketiga bocah itu serempak—membuat Leonhart Varellion terpaku dengan tatapan datar, karena wajah mereka mirip dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasih Sayang Palsu
"Anak-anakmu? Kira-kira di mana, ya?" tanya Agra kembali dengan senyuman yang mengejek.
"Keluarkan aku dari sini!" teriak Alya.
Alya membuka pintu mobilnya tapi sudah dikunci, ia tidak bisa melarikan diri dan memohon pada Agra supaya jangan mencelakai anak-anaknya.
"Pak Agra, aku mohon. Jangan sakiti anak-anakku! Mereka tidak tahu apa-apa dan mereka masih terlalu polos," pinta Agra.
"Asalkan kamu mau menuruti perintahku?" tanya Agra dengan penuh ancaman.
Alya terdiam, perintah apa dulu? Apa yang aneh-aneh? Tatapan Agra sangat mencurigakan, dia sama seperti Jardon.
"Santai saja Alya! Aku hanya ingin memintamu membuat Leon semakin tersingkirkan dan dibenci semua orang."
Alya teringat dengan ucapan Leon tadi yang mengatakan jika Agra memanfaatkannya hanya untuk menghancurkan Leon.
"Apa yang Pak Agra inginkan? Asalkan anak-anakku tidak terluka aku akan melakukannya," jawab Alya.
"Kamu tinggal menuruti perintahku dengan membuat video pengakuan jika Leon pernah KDRT kepadamu lalu kamu juga harus mengatakan jika aku yang sudah menyelamatkan hidupmu dan anak-anak kembarmu selama ini," ucap Agra.
"Sebenarnya persainganmu dengan Leon bukan urusan kami dan kamu juga bukan orang yang menyelamatkan hidup kami," ucap Alya.
"Kita ini sepasang kekasih 'kan?" tanya Agra sambil mengelus kepada Alya.
"Aku memang tidak menyukai Leon tapi aku tidak mau menghancurkan hidupnya," ucap Alya.
Agra tersenyum simpul. "Baiklah, anak-anakmu akan mati di tanganku."
"Jangan! jangan lakukan itu! Aku akan lakukan apapun termasuk membuat video itu."
"Seharusnya seperti itu."
Agra hendak mencium bibir Alya, tapi wanita itu langsung memalingkan wajah, ia tak menyangka Agra akan seperti ini dan memang sejak awal ia sudah curiga pada pria itu yang mengikutinya dari Bandung sampai pindah ke Jakarta lagi.
"Baiklah, kita ke apartemenku dan kita buat video dulu," ucap Agra a.
Mobil dilajukan meninggalkan area itu, sementara Alya diam-diam menghubungi Bu Yanti dan menanyakan apakah benar si kembar ada di Fairy Care atau tidak, dia juga meminta pertolongan pada wanita itu. Agra langsung merebut ponsel itu, ia lekas menghapus pesan yang sudah dikirimkan oleh Alya.
"Bukankah pasangan harus saling percaya?" tanya Agra.
Alya diam.
"Aku sangat menyukaimu, seharusnya kamu lebih percaya padaku," ucap Agra.
"Anak-anakku bagaimana?" tanya Alya dengan mata yang sudah memerah.
"Tenang saja! Mereka baik-baik saja," ucap Agra.
Di sisi lain.
Farad, Fared , dan Farid menatap satu sama lain dengan ekspresi khawatir, masing-masing hati kecil mereka berdebar kencang.
Si kembar lima tahun itu baru saja melakukan sesuatu yang sangat berani yaitu melompat dari mobil yang sedang melaju perlahan.
"Farad, itu benar-benar serem!" bisik Fared sambil mengintip ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejar mereka.
Farid menggenggam tangan kedua saudaranya.
"Kita harus lari ke mana, Farad?" tanyanya dengan mata berkaca-kaca.
Farad sebagai kakak tertua walau hanya beberapa menit lebih tua
mengusap kepala Farid dan Fared.
"Kita cari tempat ramai. Di sana pasti ada yang bisa bantu kita," ujarnya sambil menunjuk ke arah keramaian yang terlihat dari kejauhan.
Mereka bertiga kemudian berlari sekencang-kencangnya, menghindari pandangan orang yang lewat dengan sesekali bersembunyi di balik tiang atau pohon yang ada.
Suara klakson dan keriuhan kota menjadi latar belakang mereka yang penuh rasa tegang.
"Kita kenapa harus lari, sih?" tanya Fared sambil terengah-engah, belum sepenuhnya mengerti situasi yang sebenarnya.
Farad menoleh ke belakang, memastikan bahwa mobil itu tidak ada di pandangan mereka.
"Aku denger mereka ngomongin sesuatu yang aneh, Fared. Kayaknya mereka nggak bawa kita sekolah. Mereka mau bawa kita ke tempat lain!"
Farid menangis pelan, "Aku takut, Farad. Aku mau mama..."
Farad menghentikan langkahnya, memberi semangat pada adik-adiknya dengan pelukan.
"Tenang, Farid. Aku janji, aku bakal jagakalian. Kita bakal ketemu mama lagi."
Sesampainya di keramaian, Farad memandang sekeliling. Orang-orang sibuk dengan urusan mereka, tidak ada yang memperhatikan tiga bocah kembar yang tampak kebingungan dan takut.
"Tunggu di sini, aku mau tanya sama bapak itu," ucap Farad sambil menunjuk ke arah seorang penjual balon.
"Permisi, Pak, kita boleh minta tolong?"
Farad bertanya dengan suara yang mencoba terdengar berani.
Penjual balon itu menatap mereka dengan keheranan.
"Ada apa, Nak? Kok kalian sendirian?"
Fared langsung menyerbu dengan ceritanya, "Pak, kita kabur dari orang jahat. Mereka mau bawa kita entah ke mana..."
Mendengar itu, wajah penjual balon berubah serius. "Baiklah, tunggu di sini ya. Aku panggilkan polisi untuk bantu."
Farid menarik lengan baju Farad, "Farad, itu benar-benar polisi kan? Bukan orang jahatlagi?"
Farad mengangguk, berusaha keras untuk tetap tenang meski di dalam hatinya, ia juga merasa takut.
"Iya, Farid. Ini bapak baik, dia akan bantu kita."
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka. Jantung si kembar berdetak kencang, siap untuk lari lagi jika perlu. Namun, ketika pintu mobil terbuka dan sosok yang mereka kenal turun, ketegangan di wajah mereka perlahan mengendur.
"Opa!" seru Farad, hampir tidak percaya.
"Farad, Fared dan Farid, apa yang kalian lakukan di sini? Apa yang terjadi?" tanyanya.
"Kakek, kami ketakutan. Ada orang yang mau bawa kami entah ke mana," jelasnya dengan suara bergetar.
"Tenang, kalian aman sekarang. Opa di sini," ucapnya.
"Kami pengen ketemu Papa Leon."
"Baik, tidak usah khawatir lagi. Sekarang Opa akan bawa kalian ke sana," kata Rafael.
Beberapa saat kemudian.
Mobil Rafael berhenti di depan rumah sakit. Si kembar meraih tangan kakek mereka erat-erat, masih merasa takut tapi lega sudah berada di tempat yang aman.
Mereka berjalan melalui koridor rumah sakit yang sepi, menuju kamar di mana Leon dirawat.
Pintu kamar terbuka dan Leon, yang terlihat lemah dengan balutan perban di beberapa bagian tubuhnya, terkejut melihat kedatangan mereka.
"Anak-anakku! Kenapa kalian di sini? Apa yang terjadi?" tanya Leon.
Farad yang biasanya lebih tenang, mulai menangis saat mendekati tempat tidur ayahnya.
"Papa, kami hampir diculik!" ucapnya antara isak tangis.
Fared dan Farid juga menangis, mendekati tempat tidur Leon dan memeluknya sebisanya.
"Kami takut, Papa," ucap Farid, suaranya tertahan oleh tangis.
Leon, meskipun dalam kondisi tidak baik, mengulurkan tangan untuk memeluk ketiganya.
"Papa di sini. Tidak apa-apa sekarang," bisiknya.
Rafael yang berdiri di pintu menambahkan, "Leon, ada yang mencoba menculik mereka. Mereka berhasil kabur dan aku bertemu mereka di pinggir jalan. Kita perlu berbicara tentang ini, tapi yang penting sekarang mereka aman."
"Terima kasih, Pah. Terima kasih sudah membawa mereka kesini."
Setelah beberapa saat berpelukan dan menenangkan satu sama lain, Leon duduk lebih tegak dan memandang anak-anaknya dengan serius.
"Ceritakan pada Papa apa yang terjadi dari awal," pintanya.
Farad mulai bercerita, diikuti oleh cerita Fared dan Farid, tentang bagaimana mereka merasa ada yang tidak beres dengan orang yang mengendarai mobil itu dan keputusan mereka untuk melompat keluar dari mobil yang sedang bergerak.
"Papa sangat bangga kalian berani dan pintar. Kalian tahu kapan harus lari dan meminta bantuan. Papa sayang kalian semua," ucapnya, mengusap air mata yang mulai kering di pipi mereka.
"Makasih, Pah."
"Lalu siapa yang mengirim mobil itu untuk kalian?" tanya Leon.
"Om Agra."
Leon terkejut.
"Benarkah?"
"Katanya mau diantar ke sekolah tapi kami malah dibawa ke tempat lain."
Leon memandang kaki dan lengan mereka yang lecet. "Baiklah, kalian harus diobati dulu."
Leon lantas memandang sang papa. "Pah, aku yakin Alya bersama Agra dan sekarang dalam bahaya. Aku mohon supaya Papa menyuruh orang untuk mencari Agra."
Rafael terdiam ketika mendengar itu.
"Pah, demi aku! Aku minta tolong saat ini saja, keadaanku juga sedang seperti ini dan Rick sedang dirawat juga," pinta Leon.
"Memangnya Agra akan melakukan apa pada wanita itu?" tanya Rafael.
"Aku merasa Agra akan berbuat jahat pada Alya. Aku mohon demi aku! Aku ini masih anak Papa 'kan?" tanya Leon.
Rafael mengangguk. "Cukup sekali ini saja, demi kamu dan cucuku."
Di sisi lain.
Alya menapakkan kakinya masuk ke dalam apartemen Agra dengan rasa penasaran dan sedikit cemas. Begitu pintu terbuka, pemandangan yang tak terduga langsung menyambutnya. Di sudut ruangan, terdapat berbagai barang yang berbau sensitif serta alat-alat berhubungan intim yang tersusun rapi di rak.
Detak jantung Alya semakin kencang, ia merasa merinding dan ingin kabur dari situ secepatnya.
Namun, langkah kakinya terhenti begitu sadar bahwa ia tak memiliki pilihan lain selain tetap berada di apartemen itu.
"Masuklah sayang! Jangan malu-malu," ucap Agra.
Agra menyadari tatapan Alya yang tertuju pada rak berisi barang-barang tersebut dan tersenyum simpul.
"Oh, itu? Jangan khawatir, mereka ada di sana hanya untuk keperluan koleksi saja," ujar Agra.
Namun, kata-kata Agra justru semakin membuat Alya merasa gelisah. Ia berusaha mengalihkan perhatiannya dari rak tersebut, namun pikirannya tetap terganggu oleh keberadaan barang-barang itu.
"Aaaah... sayang... sebelum buat video, kita bisa buat ini dulu," ucap Agra sambil melepaskan celananya.
knp Fared kesetanan liat badut itu 😡😡😡