Ema adalah detektif yang sedang diskorsing sehingga ia kembali ke kampung halamannya. Saat kembalinya dirinya di kampung, ada kasus yang penuh kejanggalan. Kasus itu pula yang mempertemukannya dengan cinta pertamanya, Levi.
"Kenapa kamu berbohong? apa alasanmu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagaimana, Pak?
Emma mematung, pikirannya mendadak sunyi sampai dia tidak bisa berkata apapun. Bibirnya mengatup rapat dan matanya membulat menatap sosok indah yang menyapanya.
Sepertinya bumi telah berhenti berputar, atau itu hanya ilusinya saja. Emma memang punya tujuan khusus selain menangani kasus, yaitu Levi. Namun... Dia tak menyangka momen yang biasa ini mampu membuatnya lupa untuk bernafas.
"Ehem, apakah anda orang yang bersama saya di Rumah Sakit sekitar seminggu yang lalu?" Ucapnya. "Maksud saya, itu....mmm...Dion," lanjutnya lagi, seperti tercekat.
"O...ah ya, ya! Itu saya," jawabku ikut terbata-bata.
Ada semburat keraguan di wajah Levi. Keningnya menukik tajam dan bibir ditekuk kedalam. Tentu saja dia tidak merasa nyaman. Kejadian itu sungguh mengenaskan, bahkan untuk Emmma yang seorang detektif. Menyaksikan adegan secara langsung memang bisa berdampak buruk bagi mental. Jadi Emma memakluminya.
"La-lalu anda kesini ada apa? Bukannya kasusnya sudah ditutup? Aku juga sudah memberikan semua kesaksian saya di kantor polisi," Levi kembali tergagap, dia menyatukan dan meremas tangannya seolah mengutarakan kekhawatirannya.
"Ou.. saya kesini bukan karena itu. Saya sedang melamar pekerjaan," jawabku cepat-cepat karena merasakan atmosfer ketakutan dari Levi.
"Pekerjaan? Guru?" Tanyanya.
"Iya, tapi ... Ck... Kayaknya Pak Kepala Sekolah tidak menyukaiku deh. Ketus banget sumpah, mana mukanya garang banget kayak Aren Gentong!"
"Hah! Aren Gentong? Siapa lagi itu?" Kata Levi dengan muka cengonya.
"Kamu nggak tahu Aren Gentong? Itu lho, kucing betina yang suka marah-marah. Padahal dia viral banget lho di TikTik," ucap Emma menjadi terlihat sok akrab.
"Wkwkwk, kucing betina? Mmm... Kalau dipikir-pikir emang Pak Surya mirip sih sama kucing betina," ucap Levi ikut tertawa.
"Hehehe, kalau gitu aku permisi dulu ya. Kayaknya butuh waktu buat lamaranku diterima disini." Emma hanya tertawa seadanya sambil mengelus samping pahanya karena masih terbawa grogi. Tiba-tiba, ia merasa harus menutup obrolan itu agar debaran jantungnya tidak ketahuan.
"Oh ya, semoga berhasil ya!"
"Hehe, Terimakasih." Emma membungkukan badannya sejenak sebagai tanda bahwa dirinya ingin berpamitan.
"Iya, sampai jumpa lagi," ucap Levi ketika Emma yang mulai menunjukkan punggungnya menjauh itu darinya.
Levi masih memamerkan gigi rata dan putihnya seiring dengan berlalunya Emma, sampai ia menyadari suatu hal.
"Oh ya, tadi siapa namanya? Ck! Lagi-lagi seperti ini!" Ucapnya menepuk kepalanya.
"It's okay, nanti kalau dia kerja disini juga bisa kenalan lagi. Itu kalau keterima sih... Tapi gampang lah, bisa diatur..." Gumamnya masih menatap Emma hingga benar-benar menghilang.
...****************...
Setelah bel pulang berbunyi, di saat semua orang mulai berhamburan keluar gerbang sekolah, Levi malah sendirian di Kantin. Dia duduk di meja kantin paling depan untuk memudahkannya mengambil makanan pesanannya. Kesendirian yang biasanya dihindari orang lain itu menjadi suasana paling disukanya untuk menyegarkan pikiran.
Setidaknya itu lima menit yang lalu, sebelum orang itu datang dan merusak segalanya.
Dia adalah Pak Surya, Kepala Sekolah yang mendapat julukan baru dari emma, si kucing betina.
"Pak Levi? Masih disini? Yang lain sudah pada pulang lho!" Tanya Pak Surya menghampiri Levi dan duduk di depannya.
Namun, Levi tak menanggapinya. Dia masih asyik menikmati kopi sorenya sambil memejamkan matanya.
"Hei! Kalau diajak ngomong sama orang tua itu jawab!" Amuk Pak Surya.
"Bapak sendiri kenapa tiba-tiba datang kesini dan menggangguku?" Balas Levi tak kalah kerasnya.
"Ka-kamu ini memang..."
"Memang apa? Kurang ajar? Benar sekali, seratus buat bapak!"
Walaupun Pak Surya mendapat perlakuan tidak sopan dari Levi, beliau masih saja membiarkannya.
Alih-alih marah, beliau memilih untuk diam sejenak untuk mengatur emosinya.
"Kamu mau makan apa? Biar Bapak yang bayar..." Ucap Pak Surya merendahkan nadanya agar Levi tidak lagi marah padanya.
"Aku bisa bayar makananku sendiri!" Lagi-lagi Levi tidak sopan.
"Atau kamu mau merokok? Mau saya belikan?" Pak Surya kembali memberikan tawaran.
Namun, Levi dengan tegas menolaknya.
"Saya bisa beli sendiri tanpa bantuan bapak."
"Hemmm.... Ya sudah kalau itu maumu" Pak Surya menghembuskan nafasnya panjang dan mulai berdiri dari kursinya.
"Tunggu!"
Satu kata yang bisa dianggap remeh itu, entah bagaimana bisa menghentikan langkah Pak Surya yang awalnya marah itu. Lalu beliau menoleh dengan wajah sumringah seperti tengah mendapat berkah dari langit.
"Itu..."
"Itu apa?"
Pak Surya kembali duduk dengan penuh harap. Beliau seperti menantikan alasan apa yang membuat Levi menghentikannya untuk pergi.
"Itu... Tadi ada yang melamar pekerjaan jadi guru kan?" Tanya Levi.
"Melamar pekerjaan? Oh ya ya... Ada apa dengannya?" Tanya Pak Surya.
"Terima dia," jawab Levi, singkat tanpa ba-bi-bu.
"Kenapa? Kita tidak sedang membutuhkan guru Bahasa Inggris."
'Bahasa Inggris ya? Ok....' batin Levi
"Pokoknya anda harus menerimanya titik!!!" Bentak Levi.
"Kenapa? Kamu.... Menyukainya?" Tanya Pak Surya dengan matanya yang menyipit, meneliti setiap ekspresi yang dikeluarkan oleh Levi.
Seketika pipi cerah Levi memerah seperti kepiting yang direbus. Matanya jelalatan mencari spot untuknya menatap tanpa dicurigai. Tapi sepertinya Pak Surya menangkap sinyal itu dengan baik.
"Mmm... Cantik sih! Tapi masih kurang. Ada banyak cewek yang lebih cantik daripada dia," komentar Pak Surya langsung menohok batin Levi, hingga membuatnya kembali mengerutkan kening.
"Itu bukan urusan Bapak," ucap Levi dengan lirih. Mungkin setengah dari dirinya takut akan dipecat karena sering membentak atasan.
"Tentu saja itu urusan saya, Pak Levi..." Pak Surya sengaja menekan kata Pak Levi untuk memberitahukan kalau itu benar-benar urusannya.
"Saya Kepala Sekolah, jadi saya adalah satu-satunya orang yang berwenang untuk menerima pegawai. Sedangkan, anda hanya seorang Guru bawahan saya," ungkap Pak Surya dengan mimik wajah ingin dihormati sepenuhnya.
"Anda yang hanya guru ini, mendadak merekomendasikan seseorang sedangkan kita tidak benar-benar membutuhkan guru Bahasa Inggris baru. Ya... Kalau anda mau menggaji orang itu dengan uang anda sendiri sih, saya tidak keberatan," lanjut Pak Surya mengoyak harga diri Levi.
Apa yang dikatakan Pak Surya memang tidak sepenuhnya salah. Diterimanya Emma tanpa adanya lowongan kosong itu, hanya akan membebani anggaran sekolah. Itu membuat Levi tidak punya alasan agar Kepala Sekolah mengabulkan permintaannya.
Levi terdiam, menatap kopi hitamnya yang mulai mendingin. Dalam hati, dia menimbang-nimbang, merenung, dan memikirkan alasan dirinya yang seperti kesetanan menginginkan orang yang tidak dia kenal masuk dilingkungan kerjanya. Ada apa dengan dirinya? Ini bukan seperti dirinya yang biasa.
"Anda sudah sadar dengan kesalahan anda?" Celetuk Pak Surya ditengah lamunan Levi.
Tapi, seperti dicambuk dengan cemeti yang tajam dipunggungnya, Levi mendongakkan kepalanya lalu menatap tajam orang yang menjabat sebagai Kepala Sekolah itu.
"Kesalahan ya?" Lirihnya
"Begini saja, kalau anda menerima Guru baru itu, saya akan menganggap itu sebagai bayaran tutup mulut, atau...... anda mau saya membuka mulut saya yang terkunci ini?"
Ucap Levi tersenyum miring dengan kakinya yang menyilang santai.
.
.
.