Keisya bangun kembali ke masa lalu–tepat sebelum kecelakaan yang mengubah segalanya. Dulu, rasa iri dan provokasi membuatnya menyiksa Keyla yang merupakan anak kandung keluarga Jordan yang tlah lama hilang, hingga akhirnya ia mati dibunuh oleh keluarga yang membesarkannya itu..
Kini, ia kembali ke usia 15 tahun dengan ingatan penuh penyesalan, dan setiap ia mengingat masa dimana ia menyiksa Keyla, kepalanya akan terasa sangat sakit, oleh sebab itu, sekarang ia hanya punya satu tekad yaitu melindungi Keyla dari bahaya, menebus kesalahan, dan membiarkan gadis itu mendapatkan tempatnya yang sesungguhnya di keluarga Jordan sebelum dirinya pergi dari keluarga itu agar bisa menjalani hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Melihat Keisya tetap diam, Ivan yang semula telah duduk di samping Alaric kembali bangkit.
Dokter muda itu berjalan menghampiri dengan wajah penuh perhatian.
"Coba buka mulutmu, Kei."
Tangannya sudah mengeluarkan ponsel dari saku jas tipis yang dikenakannya. Dalam hitungan detik lampu flash menyala.
"Aku mau lihat tenggorokanmu."
Tatapan Ivan tetap lembut.
"Kadang demam bisa jadi tanda ada infeksi."
Belum sempat Keisya menolak, suara jahil Geo menyela dari meja makan.
"Hayo... pasti kebanyakan makan cokelat lagi." Ia terkekeh kecil.
"Abis ini nggak boleh makan cokelat lagi ya."
Suasana yang tadinya tegang sedikit mencair karena candaan khas Geo.
Alex pun ikut membujuk. Ia kembali mengusap lengan Keisya, kemudian mengecup pelan puncak kepala anak bungsunya.
"Buka mulutnya dulu, Sayang."
"Sebentar saja. Biar Abang Ivan periksa." Alden ikut menimpali.
"Kalau memang sakit, sekalian kita bawa ke rumah sa—" Kalimatnya terpotong.
Semua orang mendadak terdiam, mereka melihat sesuatu yang sama.
Setetes air bening jatuh dari sudut mata Keisya, lalu disusul tetesan berikutnya dan berikutnya lagi.
Keisya sendiri tampak terkejut dengan emosinya yang tiba-tiba meluap. Dadanya terasa sesak, tenggorokannya tercekat, sementara air mata terus mengalir tanpa mampu ia hentikan.
Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memutar tubuhnya dan membenamkan wajah ke dada Alex.
Pelukan itu terasa begitu hangat dan aman.
Dan entah mengapa, untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, Keisya merasa benar-benar ingin menangis.
Bukan tangisan kecil yang bisa ditahan. Melainkan tangisan yang selama bertahun-tahun ia pendam seorang diri.
Isakannya pecah, bahu mungilnya bergetar hebat. Tangisan itu terdengar begitu pilu hingga membuat seluruh keluarga Jordan kehilangan kata-kata.
Alex hanya bisa memeluknya semakin erat sambil terus mengusap punggungnya perlahan.
Aldeb berdiri mematung. Pria yang biasanya selalu tenang itu kini tampak kebingungan. Kerutan di dahinya semakin dalam, sementara kedua tangannya mengepal pelan karena tidak tahu harus berbuat apa.
Ivan juga ikut panik.
Selama ini ia selalu menjadi sosok yang paling tenang ketika menghadapi pasien maupun keluarganya sendiri. Namun melihat Keisya menangis seperti itu, ketenangannya runtuh begitu saja.
Sedangkan Geo.. Pemuda yang biasanya paling suka menggoda adik bungsunya itu bahkan tidak lagi mampu melontarkan candaan.
Ia hanya menatap Keisya dengan wajah cemas.
Tangisan hari ini terdengar berbeda, seperti bukan tangisan anak manja yang mencari perhatian.
Melainkan tangisan seseorang yang seolah telah memikul penderitaan begitu lama hingga akhirnya tak sanggup lagi menahannya.
Entah mengapa, mendengar isakan itu membuat dada setiap anggota keluarga Jordan ikut terasa nyeri.
***
Beberapa menit kemudian, Keisya sudah berdiri memandangi gerbang sekolah yang menjulang di hadapannya.
Mobil yang dikemudikan Jena sudah lama menghilang di tikungan jalan, melanjutkan perjalanan menuju kantor tempat Alex bekerja.
Namun, Keisya masih belum bergerak sedikit pun, tatapannya kosong.
Beberapa detik berlalu, lalu...
"Huah..."
Ia mengembuskan napas panjang sebelum perlahan berjongkok di trotoar depan sekolah. Kedua tangannya mencengkeram rambut sendiri.
"Malu banget..." Suara lirih itu terdengar putus asa.
"Ya ampun... malu banget!"
Beberapa siswa yang baru datang mulai memperhatikannya.
Ada yang saling berbisik, ada pula yang menatap heran melihat putri keluarga Jordan itu jongkok sendirian sambil merutuki diri sendiri.
Keisya sama sekali tidak memedulikan mereka. Pikirannya masih dipenuhi kejadian beberapa menit yang lalu.
Matanya yang masih sembab menatap kosong ke aspal.
"Dua puluh lima tahun..."
Ia memukul pelan dahinya sendiri.
"Umur mental dua puluh lima tahun..."
"Tapi malah nangis kayak bocah."
Ia menghela napas frustrasi.
"Bukan cuma nangis..."
Tangannya menutupi wajah.
"Aku sampai meraung-raung di depan mereka."
Mengingat wajah panik Alex, kebingungan Alden, kecemasan Ivan, hingga Geo yang sampai kehabisan bahan candaan, Keisya langsung mengeluarkan erangan pelan.
"Ya Tuhan..."
"Kalau bisa, aku pengin menghilang aja sekarang!!"
pasti lelah kmu
kok dikit amat siiihhhhh
satu dua tiga scroll abisssssa nunggu bab selanjutnya 😭😭😭😭
up banyak banyak yaa thorrrrr
semangattttttttttttt 💪💪💪💪
kesiannya keysia 😭😭
biar saja keluarga mu semua menyesal karena sudah mengabaikan mu keu