Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Perjalanan pulang dari mall diselimuti oleh keheningan yang mencekam.
Sesampainya mereka di halaman rumah baru, ketegangan itu belum juga mencair.
Diaz melangkah turun lebih dulu, lalu berbalik menatap Ganda yang baru saja menurunkan kantong belanjaan.
Dengan tatapan mata yang lelah namun penuh penekanan, Diaz menghampiri suaminya.
"Ganda, malam ini aku mohon, tidurlah di kamar Laura. Penuhi haknya," bisik Diaz lirih, nadanya terdengar seperti sebuah permintaan sekaligus kepasrahan agar tidak ada lagi perdebatan di antara mereka.
Ganda menatap Diaz dengan tatapan dalam. Ia menghela napas panjang, mengingat kembali wejangan Abah Kiai untuk bersikap adil secara lahiriah demi menjaga keutuhan rumah tangga.
Akhirnya, dengan berat hati, Ganda menganggukkan kepala.
Ia melangkah menaiki tangga menuju lantai dua, masuk ke dalam kamar istri keduanya.
Melihat kedatangan Ganda, sepasang mata Laura berkilat penuh kemenangan.
Namun, di balik senyum manisnya, tersimpan rencana busuk yang sudah ia siapkan sejak di mall tadi.
Laura tahu batin Ganda sedang enggan menyentuhnya, maka ia memilih jalan pintas.
"Mas Ganda pasti lelah sekali. Ini, aku sudah buatkan teh hangat untuk Mas," ucap Laura manja sembari menyodorkan secangkir teh.
Tanpa curiga sedikit pun, Ganda yang memang merasa penat langsung meminum teh tersebut hingga tandas.
Ganda tidak tahu bahwa Laura telah mencampurkan obat tidur dosis kuat ke dalam minuman tersebut.
Tak butuh waktu lama, pandangan Ganda mendadak buram.
Rasa kantuk yang luar biasa menyerang kesadarannya, membuat tubuh tegap sang ustaz langsung ambruk di atas ranjang dan tertidur pulas dalam kondisi tak berdaya.
Melihat suaminya sudah tidak sadarkan diri, Laura menyeringai puas. Ia sengaja mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.
Guna menghancurkan mental Diaz yang berada di kamar sebelah, Laura mulai menjalankan aksi gila.
Ia sengaja mengguncang-guncang ranjang kayu itu agar bersuara, lalu mengeluarkan suara desahan manja yang sengaja dibuat-buat dengan volume cukup keras.
Ia berakting seolah-olah ia dan Ganda sedang melakukan hubungan intim yang sangat ganas malam itu.
Di kamarnya, Diaz yang sedang mencoba memejamkan mata seketika tersentak.
Suara-suara desahan dan derit ranjang dari kamar sebelah terdengar samar namun cukup jelas di telinganya.
Hati Diaz seketika mencelos, rasanya bagai ditusuk ribuan jarum tak kasat mata.
Air mata cemburu yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh membasahi pipinya.
Namun, Diaz bukan lagi wanita lemah yang akan mengamuk tanpa arah.
Demi menenangkan dadanya yang bergemuruh hebat, ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.
Ia membasuh dirinya dengan air wudhu yang dingin, mencoba meluruhkan bisikan setan yang membakar hatinya.
Diaz membentangkan sajadah, mengenakan mukenanya, lalu menunaikan sholat malam.
Di atas kain suci itu, Diaz menumpahkan segala rasa sakitnya kepada Sang Pencipta.
"Ya Allah, jika ini adalah jalan takdirku, berikanlah hamba ketabahan yang luar biasa. Kuatkan hati hamba untuk berbagi..." bisik Diaz dalam doa yang sarat akan air mata.
Karena kelelahan fisik dan batin yang teramat sangat setelah menangis, Diaz akhirnya ketiduran di atas sajadah dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya.
Sementara itu di kamar sebelah, Laura merasa puas setelah merasa sandiwaranya cukup untuk memanaskan telinga Diaz.
Ia membiarkan Ganda yang masih mendengkur halus di balik selimut.
Merasa gerah karena ketegangan yang ia buat sendiri, Laura memutuskan untuk keluar kamar sejenak demi mencari angin segar di teras lantai atas.
Ia menutup pintu kamar rapat-rapat agar suaminya tidak terusik.
Namun, begitu Laura melangkah ke area teras yang remang-remang, sebuah bayangan hitam mendadak muncul dari balik pilar.
Set!
Sebelum Laura sempat menjerit, sebuah tangan kekar langsung membekap mulutnya dari belakang, sementara sebuah kain hitam tebal dipaksakan menutup seluruh kepala dan wajahnya hingga pandangannya gelap gulita.
"Kena kamu, Diaz! Akhirnya aku bisa membalas dendamku malam ini!" bisik sebuah suara berat yang penuh dengan kebencian dan gairah jahat.
Suara itu adalah milik Bramasta, yang rupanya kembali menyusup secara senyap demi melampiaskan dendamnya yang gagal di hotel semalam.
Karena kondisi teras yang gelap dan postur tubuh yang sekilas mirip, Bramasta yakin betul bahwa wanita yang dibekapnya adalah Diaz.
Jantung Laura mencolot keluar karena syok dan ketakutan yang luar biasa.
Ia mencoba memberontak, meronta dengan seluruh tenaganya sembari mengeluarkan suara erangan tertahan di balik bekapan kain.
"Mmmpphhh! Mmmppphhh!!"
Laura berusaha keras menjelaskan bahwa dia bukanlah Diaz, bahwa pria asing ini telah salah sasaran.
Namun, kain tebal dan cengkeraman brutal Bramasta membuat kata-katanya tidak pernah bisa keluar.
Bramasta yang sudah dibutakan oleh amarah dan nafsu setan tidak memedulikan rontaan itu.
Di bawah kegelapan teras rumah baru tersebut, Bramasta memaksakan aksi bejatnya, merenggut kesucian Laura yang ia kira adalah Diaz.
Laura hanya bisa menangis dalam diam, menanggung derita luar biasa atas petaka yang salah alamat
Setelah hampir setengah jam melangsungkan aksi kejinya di tengah keheningan malam, Bramasta segera memakai pakaiannya kembali dan melompati pagar teras, menghilang menembus kegelapan malam tanpa pernah menyadari kekeliruan fatal yang telah ia perbuat.
Teras rumah kembali sunyi. Laura terbaring lemah dengan tubuh gemetar hebat.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia membuka kain penutup kepala dan pembekap mulutnya.
Tangisnya pecah seketika, namun ia terpaksa membekap mulutnya sendiri agar suara tangis sesenggukannya tidak membangunkan seisi rumah.
Dengan tubuh yang kotor, sakit, dan jiwa yang terguncang hebat, Laura bangkit dengan tertatih-tatih.
Ia segera masuk kembali ke dalam kamar, mengunci pintu, dan melihat suaminya, Ganda, masih tertidur sangat pulas akibat pengaruh obat tidur dosis tinggi di atas ranjang.
Laura membersihkan dirinya dengan cepat di kamar mandi sembari terus menangis histeris tanpa suara.
Setelah selesai, ia naik ke atas tempat tidur, menyelinap di samping Ganda yang tak tahu apa-apa.
Tubuhnya meringkuk, bergetar ketakutan di balik selimut.
Pikirannya dipenuhi oleh kepanikan yang teramat sangat.
Ia tahu betul bagaimana hukum di pondok pesantren dan watak suaminya.
Jika Ganda sampai tahu bahwa tubuhnya telah dinodai oleh lelaki lain—terlepas dari statusnya sebagai korban salah sasaran—ia pasti akan diceraikan secara tidak terhormat dan didepak dari keluarga ndalem.
Rahasia ini harus ia kubur sedalam-dalamnya sampai mati.
Di tengah isak tangisnya yang pilu, ketakutan Laura perlahan bermutasi menjadi kebencian yang teramat pekat.
Ia menatap dinding pembatas kamarnya dengan Diaz dengan pandangan mata yang merah dan sarat akan dendam.
"Aku semakin membencimu, Diaz. Ini semua gara-gara kamu! Hidupku hancur karena kamu!" gumam Laura dengan suara berbisik yang bergetar penuh racun, melimpahkan seluruh kesalahan atas petaka malam itu kepada istri pertama suaminya
Keesokan paginya, matahari baru saja terbit ketika ponsel Ganda bergetar.
Sebuah telepon dari Abah Kiai meminta Ganda untuk mendampingi beliau menghadiri acara silaturahmi ulama di luar kota selama dua hari.
Mengingat rumah baru mereka belum sepenuhnya aman, Ganda memutuskan untuk menitipkan kedua istrinya di pondok pesantren selama ia pergi.
Ganda keluar dari kamar utama lalu berjalan ke ruang tengah untuk memanggil Diaz dan Laura.
Tak lama kemudian, Diaz keluar dari kamarnya dengan wajah segar setelah semalaman merendam luka hatinya lewat doa.
Di saat yang sama, Laura keluar dari kamar sebelah.
Langkah kaki Laura tampak sangat canggung; ia berjalan dengan sedikit ringkih dan menahan rasa sakit yang teramat sangat di bagian intimnya akibat pemerkosaan brutal semalam.
Diaz sempat melirik cara berjalan Laura yang aneh itu.
Sekali lagi, dada Diaz berdenyut perih—ia salah paham (lagi), mengira rasa sakit yang dialami Laura adalah akibat dari "permainan ganas" Ganda semalaman, seperti desahan yang ia dengar dari kamar sebelah.
Diaz membuang muka, mencoba bersikap acuh tak acuh.
Ganda, yang sama sekali tidak tahu-menahu bahwa istrinya telah diperkosa di teras dan dirinya sendiri telah dicekoki obat tidur, menatap keduanya dengan tenang.
"Diaz, Laura... silakan duduk sebentar. Ada hal penting yang harus aku sampaikan."
Setelah keduanya duduk, Ganda melanjutkan, "Abah baru saja menelepon. Beliau meminta aku untuk menemaninya menghadiri agenda ulama di luar kota selama dua hari. Jadi, selama dua hari ke depan, kalian berdua akan tinggal di dalam pondok pesantren demi keamanan."
Mendengar keputusan itu, Laura langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat.
Di dalam hatinya, ia merasa aman jika berada di pondok, jauh dari rumah baru yang kini menjadi tempat traumatis baginya.
Sebaliknya, Diaz langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas.
"Tidak, Ganda. Aku mau tetap di rumah ini saja. Aku malas kalau harus kembali ke pondok dan menghadapi tatapan sinis orang-orang di sana."
Ganda menghela napas, lalu memajukan tubuhnya.
Ia meraih jemari Diaz, menatapnya dengan pandangan memohon sekaligus penuh rasa khawatir yang mendalam.
"Aku mohon kali ini saja, Diaz. Ikutlah ke pondok. Aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian di rumah ini, karena kita tahu, Bramasta masih berkeliaran dan terus mengincarmu."
Deg!
Mendengar nama lelaki bajingan itu disebut oleh Ganda, tubuh Laura seketika menegang hebat. Jantungnya berdegup kencang bak ditabuh gada.
Di bawah meja, Laura mencengkeram erat kedua telapak tangannya sendiri hingga kukunya memutih.
Rasa perih, robek, dan hina yang ia rasakan semalam seketika berputar kembali dengan sangat jelas di pelupuk matanya.
Jiwanya menjerit histeris menyadari bahwa laki-laki yang semalam menodainya adalah Bramasta—pria yang sebenarnya mengincar Diaz, namun justru dirinya yang menjadi korban salah sasaran.
Rasa benci Laura kepada Diaz kian memuncak hingga ke ubun-ubun.
Ganda yang tidak menyadari perubahan drastis pada raut wajah Laura, kembali menatap kedua istrinya bergantian.
"Ayo, sekarang lekas berkemas, bawa barang seperlunya. Kita berangkat ke pondok sekarang juga sebelum Abah menunggu terlalu lama."
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡