NovelToon NovelToon
Buy 1 Get 1

Buy 1 Get 1

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dikejar tenggat waktu menikah oleh sang nenek, Sari Maheswara CEO kaya raya yang dingin dan perfeksionis. Mobilnya mogok di dekat pasar subuh. Namun, kesialan itu membawanya bertemu dengan Arka, seorang duda tampan penjual kue basah yang karismatik. Hanya dengan sebutir kue klepon buatan Arka, lidah dan hati Sari langsung meleleh.
Terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang, Sari dengan angkuh menyodorkan Black Card-nya untuk membeli seluruh dagangan, gerobak, sekaligus sang penjual! Bukannya tergiur, Arka yang berprinsip justru menolak mentah-mentah keangkuhan sang CEO.
Penolakan itu malah menyulut jiwa kompetitif Sari. Demi menaklukkan hati sang duda, Sari rela menanggalkan gengsinya: bangun jam 4 subuh, menerjang beceknya pasar dengan high heels, hingga berebut kue dengan emak-emak berdaster. Meski Arka berulang kali memintanya mundur karena perbedaan kasta dan status dudanya, Sari justru makin tertantang untuk membuktikan bahwa cinta sejatinya tidak bisa dibeli melainkan diperjuangkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suara sirene ambulans meraung membelah jalanan ibu kota yang padat, memicu kepanikan di sepanjang jalur yang dilaluinya.

Di dalam kabin medis yang sempit, suasananya begitu mencekam.

Dua paramedis bergerak secepat kilat, memasang masker oksigen dan memantau monitor pendeteksi jantung yang berbunyi nyaring dan tidak beraturan.

Sari terbaring dengan perban darurat yang mulai memerah di kepalanya, sementara di brankar sebelah, kondisi Arka jauh lebih kritis.

Tubuh pria itu dipenuhi luka lecet dalam, dengan posisi lengan kiri dan kaki kanan yang tampak bengkok tidak wajar akibat hantaman keras.

Ciiiiiitttt!

Ban ambulans mencicit keras saat mobil itu berhenti mendadak di depan lobi Emergency Rumah Sakit Pusat. Pintu belakang dibuka paksa dari luar.

"Pasien trauma! Dua korban tabrak lari! Laki-laki kondisi kritis, penurunan kesadaran tajam! Perempuan cedera kepala ringan hingga sedang!" teriak petugas medis lantang.

Puluhan perawat dan dokter jaga berhamburan keluar membawa brankar dorong.

Mereka bergerak dalam ritme yang tergesa-gesa namun presisi, mendorong kedua tubuh yang tak berdaya itu menembus pintu kaca otomatis menuju ruang resusitasi. Bau antiseptik dan ketegangan langsung menyergap udara.

Tidak berselang lama, derap langkah kaki yang terburu-buru menggema di koridor rumah sakit.

Nenek Maheswara melangkah dengan tubuh yang bergetar hebat, bertumpu sepenuhnya pada tongkat dan papahan kuat dari Nanda.

Wajah sepuh itu pucat pasi tanpa darah setelah beberapa menit lalu pihak kepolisian menghubungi mereka mengenai kecelakaan tragis tersebut.

Begitu pintu ruang trauma terbuka sedikit, mata Nenek langsung menangkap pemandangan yang menyayat hati.

Cucunya, Sari, dan calon menantu cucu nya, Arka, terbaring kaku dikelilingi berbagai alat medis dan selang yang menempel di tubuh mereka.

"Sari... Arka..." bisik Nenek, suaranya tercekat di tenggorokan. Lututnya mendadak lemas, tubuh ringkihnya hampir saja ambruk ke lantai jika Nanda tidak dengan cekatan menahannya.

"Nenek, kuatkan hati Nenek. Ibu Sari dan Mas Arka sedang ditangani dokter," ucap Nanda dengan mata yang sudah berkaca-kaca, mencoba menenangkan sang nenek meski hatinya sendiri dirundung ketakutan luar biasa.

Pintu ruang resusitasi kemudian terbuka. Seorang dokter spesialis bedah trauma keluar dengan gurat wajah yang sangat serius.

Ia melepas sarung tangan karetnya dan langsung menghampiri Nenek Maheswara.

"Keluarga dari Saudari Sari dan Saudara Arka?" tanya Dokter dengan nada berat.

"Iya, Dokter. Saya neneknya. Bagaimana keadaan cucu-cucu saya?" tanya Nenek dengan suara bergetar, mencengkeram lengan baju Nanda erat-erat.

Dokter mengembuskan napas panjang sebelum menjelaskan kondisi yang sesungguhnya.

"Untuk Saudari Sari, ia mengalami cedera kepala tertutup akibat benturan keras saat terlempar dari motor. Ada luka robek di dahi, namun beruntung hasil CT-scan awal menunjukkan tidak ada perdarahan dalam di otaknya. Saat ini ia belum sadarkan diri karena syok berat dan efek benturan, tapi kondisinya relatif stabil."

Dokter menjeda kalimatnya, tatapannya berubah menjadi jauh lebih redup dan prihatin saat beralih membahas korban kedua.

"Namun, untuk Saudara Arka... kondisinya sangat kritis," ujar Dokter, membuat jantung Nenek dan Nanda seolah berhenti berdetak.

"Hantaman dari belakang membuat tubuhnya terpental tinggi, dan kepalanya menghantam aspal dengan sangat keras sebelum memakai helm dengan benar. Ia mengalami trauma kepala berat dan patah tulang tengkorak stadium awal."

Nanda membekap mulutnya, air matanya luruh seketika.

"Bukan hanya itu," lanjut Dokter dengan nada yang kian menegangkan.

"Kami menemukan indikasi patah tulang multipel. Lengan kiri dan kaki kanannya patah tebu karena menahan beban benturan mobil. Saat ini kami harus segera melakukan tindakan operasi darurat untuk menghentikan perdarahan dalam dan menstabilkan tulang-tulangnya. Peluangnya sangat tipis jika kita menunda waktu. Kami butuh persetujuan keluarga sekarang juga."

Nenek Maheswara memejamkan matanya rapat-rapat, air mata penyesalan dan kemarahan mengalir di pipinya yang keriput.

Di dalam hatinya, ia bersumpah akan mencari siapa pun dalang di balik kehancuran hari bahagia cucunya ini.

Namun sekarang, hidup Arka dan Sari sedang berada di ujung tanduk, bertaruh nyawa di atas meja operasi yang dingin.

Tanpa ragu sedikit pun, tangan Nenek Maheswara yang gemetar menyambar pulpen dari tangan dokter.

Ia menorehkan tanda tangan di atas surat pernyataan persetujuan operasi darurat untuk Arka.

Baginya, keselamatan lelaki itu adalah harga mati.

Setelah dokter kembali masuk ke ruang operasi dengan tergesa-gesa, Nenek terduduk lemas di kursi tunggu, menggenggam erat tangan Nanda yang juga tak henti-hentinya menangis.

Prok... prok... prok...

Suara derap langkah sepatu hak tinggi yang tergesa-gesa menggema di koridor sunyi itu.

Marta dan Diana datang setengah berlari. Wajah mereka disetel sedemikian rupa—alis berkerut, mata melebar—berusaha keras menampilkan riak kepanikan yang palsu.

"Nenek! Ya ampun, Nenek!" seru Marta sambil menghambur mendekat, langsung duduk di samping Nenek Maheswara.

"Kami baru dengar kabar dari berita lokal! Sari kecelakaan? Sari dengan siapa, Nek? Kok bisa sampai seperti ini?"

Marta berbicara dengan nada bergetar, berpura-pura buta sama sekali tentang keberadaan Arka di atas motor butut itu.

Sementara itu, Diana yang berdiri di dekat mereka menoleh ke kanan dan ke kiri.

Matanya tidak mencari ruang rawat Sari, melainkan sibuk memikirkan celah kekosongan kekuasaan.

Tanpa membaca situasi dan kondisi koridor IGD yang sedang mencekam, Diana membuka mulutnya dengan nada tak sabar.

"Nek, lalu bagaimana dengan posisi CEO di perusahaan sekarang? Kalau Sari koma atau cacat, kursi kepemimpinan tidak boleh kosong, kan? Siapa yang akan menggantikan—"

PLAKKK!!!

Suara tamparan yang teramat keras menyengat udara koridor.

Telapak tangan Nenek Maheswara mendarat dengan telak di pipi mulus Diana hingga wajah gadis itu terlempar ke samping.

Diana terpekik kaget, memegangi pipinya yang seketika memerah matang dan terasa panas terbakar.

Marta pun terlonjak kaget dari kursinya, membekap mulut dengan mata terbelalak.

Nenek Maheswara berdiri tegak, bertumpu pada tongkatnya yang bergetar karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.

Sorot mata tua itu berkilat bagai samudra yang mengamuk, menembus langsung ke dalam manik mata Marta dan Diana.

"Ajari anakmu, Marta!" bentak Nenek Maheswara, suaranya menggelegar bergaung di koridor rumah sakit, dingin dan mematikan.

"Cucuku sedang bertaruh nyawa di dalam, lelaki yang tulus menjaganya sedang digantung di ambang kematian, dan anakmu ini dengan tidak tahu malunya malah menanyakan kursi jabatan?!"

Marta gemetaran, buru-buru menarik lengan Diana untuk mundur.

"N-Nek, Diana tidak bermaksud—"

"Diam!" potong Nenek dengan napas memburu, menunjuk wajah mereka berdua dengan ujung tongkatnya.

"Jangan pikir aku tidak tahu apa yang ada di dalam otak busuk kalian berdua. Angkat kaki kalian dari rumah sakit ini sekarang juga, sebelum aku menyuruh sekuriti menyeret kalian keluar seperti sampah!"

1
Heriyani Lawi
arka kok terkesan TDK tau diri. istrinya seharian kerja, eh bukannya kasian malah minta jatah pdhl tgn dan kaki masih digibs, terkesan sekali egoisnya
my name is pho: namanya lelaki 🤭. kalau sudah ingin tidak bisa di tahan.
😄
total 1 replies
Diah Anggraini
lanjut ya Ka
Eli herlina
sumpah bagus bangets ceritanya👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Diah Anggraini
lamjut ya Ka
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,,
nunik rahyuni
lagian klo baru pertama kerja itu jgn lgsung dilepas di beri bimbingan dlu..suruh melihat dlu atau sambil di kasih aba aba apa dlu urutanya dan cara kerjanya..sdh tau orang kota kaya nyata ae g pernah tau bab dapur..melepuh kh tangan org..lgsg terjadi kecelakaan kerja
nunik rahyuni
thor sepanjang cerita aq masih bingung..bagaimana mereka lgsg serumah seatap tanpa ada ikatan pernikahan.....yg satu duda satunya wanita dewasa lho thor..mereka hidup di negara mana..pasti punya norma dan adat istiadat kan✌️✌️
nunik rahyuni
klo di dunia kita g ada ya thor modelan sari kya ini...yg ada sih sarimin🤣🤣🤣
klo mas duda menolak cinta sih 1000 : 1...
di dunia kita laki2 tu ibarat kucing garong...ikan asin bejejer j di cuntan makinya awewe bungas ✌️✌️✌️🤎
nunik rahyuni
mampir ya thor...perdana ni di lapak author..✌️✌️✌️
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
Gege
cepetan kek arka disambar petirnya..🤣 trus diinjek sistem trilyuner gitu...🤭😄🤣
Gege
semua yang namanya sari selalu keras kepala ego tinggi suka bermain perasaan 🤣🤭😄kenyataan...
Rian Moontero
mampiiirr👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!