NovelToon NovelToon
Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Dikira Miskin: Ternyata Suamiku CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Larasati, wanita pekerja keras yang sudah lelah hidup dalam kesulitan dan pernah terluka oleh orang yang hanya mementingkan harta, jatuh hati pada Agung—pria sederhana yang tampak tidak memiliki apa-apa, namun selalu menyayanginya dengan tulus dan penuh perhatian. Meski diperingatkan kerabat dan teman agar tidak membuang waktu pada pria yang dianggap tidak mampu mensejahterakannya, Larasati tetap teguh memilih Agung. Mereka menikah dengan sangat sederhana, berjanji untuk membangun kehidupan bersama dalam suka maupun duka.

Selama berbulan-bulan mereka berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan gaji yang pas-pasan, namun kasih sayang Agung tak pernah berkurang sedikitpun. Hingga suatu hari, kedatangan seorang pria tua berwibawa dengan mobil mewah mengubah segalanya. Larasati akhirnya mengetahui kenyataan yang disembunyikan Agung selama ini: suaminya bukanlah orang miskin, melainkan pewaris tunggal keluarga konglomerat Wijaya yang sengaja menyamar menjadi orang biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Ujian di Antara Dinding Dingin

Tiga hari berlalu sejak Larasati pindah ke kediaman keluarga Wijaya, namun ia belum juga merasa tinggal di sebuah rumah. Baginya, gedung megah itu hanyalah kotak marmer dingin yang dipenuhi tatapan penuh penilaian. Setiap langkahnya terasa diawasi: saat ia mengambil air minum sendiri, para pelayan saling berpandangan sinis; saat ia memakai baju katun sederhana untuk sarapan, Ibu Saras akan mendengus pelan sambil membetulkan letak sendok emas di hadapannya, seolah keberadaan Larasati adalah noda yang merusak kerapian meja makan mereka.

Agung berusaha sekuat tenaga menjadi tameng. Ia selalu bangun lebih awal hanya untuk menemaninya sarapan, menolak setiap ajakan makan malam bisnis orang tuanya jika Larasati tidak diizinkan ikut, dan setiap malam sebelum tidur ia akan memeluk istrinya erat-erat sambil berbisik, "Bertahanlah sedikit lagi, Lar. Mereka akan melihatmu sepertiku. Percaya padaku."

Namun kenyataan tidak semudah kata-kata. Tekanan justru makin berat saat seorang tamu khusus datang berkunjung pada sore keempat. Namanya Raisa Andini—putri tunggal keluarga konglomerat perbankan yang selama ini secara diam-diam dijodohkan dengan Agung oleh kedua orang tua. Wanita itu turun dari mobil sport putihnya dengan gaun sutra biru langit yang menempel sempurna di tubuhnya, rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, dan senyumnya begitu terlatih hingga terlihat sempurna namun dingin.

Saat mata Raisa bertemu dengan Larasati yang sedang menyiram tanaman di taman belakang dengan pakaian rumah biasa, alisnya terangkat sedikit dengan pandangan yang jelas-jelas meremehkan. "Jadi ini dia yang membuat seluruh keluarga Wijaya gempar?" ucapnya pelan namun cukup terdengar, sambil melangkah mendekat dengan langkah anggun. "Agung selalu punya selera yang... unik. Dulu dia selalu menolak wanita mana pun yang kupilihkan untuknya, ternyata dia cuma mencari yang paling jauh dari dunia kita ya?"

Larasati berhenti menyiram, tangannya mengepal erat memegang gagang selang. Ia ingin menjawab, ingin mempertahankan harga dirinya, namun sebelum sempat bersuara, Ibu Saras sudah keluar dari teras sambil menyambut Raisa dengan pelukan hangat yang tidak pernah ia berikan pada menantunya sendiri.

"Raisa sayang, akhirnya kamu datang juga. Ibu sudah rindu sekali," ucap Ibu Saras sambil menatap gadis itu dengan mata berbinar, lalu melirik Larasati dengan dingin. "Di sini banyak hal yang belum pada tempatnya. Kamu yang harus mengajarkan banyak hal pada Agung dan... temannya ini. Bagaimanapun juga, kamu yang paling mengerti bagaimana seharusnya kehidupan keluarga Wijaya berjalan."

Ungkapan itu menusuk hati Larasati lebih dalam dari apa pun. Ia bukan disebut sebagai istri, melainkan hanya "temannya". Seolah pernikahan mereka yang sudah disahkan agama dan negara tidak ada artinya sama sekali di mata keluarga suaminya.

Malam itu, Ibu Saras sengaja mengadakan makan malam khusus hanya untuk menyambut Raisa. Meja makan panjang dihiasi bunga mawar impor, perak peralatan makan berkilauan, dan masakan dihidangkan oleh koki pribadi yang didatangkan khusus dari luar negeri. Larasati duduk di ujung meja, jauh dari Agung yang sengaja dipaksa duduk di samping Raisa oleh ibunya.

Sepanjang makan, Ibu Saras terus memuji-muji Raisa: bagaimana gadis itu fasih berbicara tiga bahasa asing, bagaimana ia berhasil memimpin salah satu cabang bank keluarganya di usia muda, bagaimana latar belakang keluarganya yang "sesuai" untuk berdiri di samping Agung. Setiap pujian itu diucapkan sambil melirik Larasati, seolah ingin mengatakan bahwa wanita itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Raisa.

Puncaknya terjadi saat Ibu Saras meminta Larasati menuangkan anggur merah ke dalam gelas Raisa. Tanpa sengaja—karena gugup dan tangannya yang gemetar—sedikit cairan itu tumpah ke ujung gaun sutra mahal Raisa.

"Oh ampun!" seru Ibu Saras sambil berdiri kaget, wajahnya memerah padam. "Apa yang kamu lakukan, Larasati? Apa kamu tidak bisa melakukan hal sederhana saja dengan benar? Lihat apa yang kamu lakukan pada gaun Raisa! Itu harganya mungkin lebih mahal dari seluruh gajimu setahun bekerja!"

Raisa hanya tersenyum tipis sambil mengelap kainnya dengan serbet, namun tatapannya pada Larasati penuh kemenangan. "Tidak apa-apa, Bu Saras. Mungkin dia memang tidak terbiasa memegang barang-barang mahal. Kita tidak bisa menyalahkannya, kan? Lagipula, dia terbiasa hidup dengan apa adanya..."

Kata-kata itu adalah tetesan terakhir yang membuat bejana emosi Larasati pecah. Tanpa meminta izin, ia bangkit dari kursinya, berlari keluar ruang makan melewati koridor panjang yang dingin, hingga sampai ke taman belakang yang gelap dan sunyi. Di sana, di bawah pohon beringin tua yang rindang, ia akhirnya membiarkan air matanya mengalir sepuasnya. Tangisnya tertahan, tidak mau bersuara keras agar tidak ada yang mendengar, membuat dadanya terasa makin sesak.

Kenapa ia harus bertahan di sini? Kenapa ia harus menerima semua penghinaan ini hanya karena ia tidak lahir dari keluarga kaya? Bukankah cinta dan ketulusan seharusnya lebih berharga dari semua harta di dunia? Saat ia sedang berpikir untuk berkemas dan pergi selamanya, sepasang tangan hangat tiba-tiba memeluk pundaknya dari belakang.

Aroma tubuh yang sangat ia kenal—aroma sabun kayu putih yang selalu dipakai Agung sejak mereka tinggal di kamar kos dulu—segera menyelimutinya. Tanpa perlu menoleh, ia tahu itu suaminya.

"Aku minta maaf, Lar. Aku minta maaf sudah membiarkanmu terluka seperti ini," bisik Agung di samping telinganya, suaranya bergetar hebat menahan emosi. Ia memutar tubuh Larasati hingga mereka saling berhadapan, lalu dengan lembut mengusap air mata istrinya dengan ujung jari. "Melihatmu menangis seperti ini... rasanya lebih sakit daripada dipukuli ribuan kali. Aku bodoh. Aku seharusnya tidak pernah memaksamu masuk ke dunia ini jika aku tidak bisa melindungimu sepenuhnya."

Larasati menatap wajah suaminya yang juga basah oleh air mata. Di bawah cahaya rembulan yang tembus di sela daun, Agung terlihat sama persis seperti pria yang dulu menjemputnya di halte hujan: sama lelahnya, sama tulusnya, sama mencintainya.

"Aku lelah, Agung," bisik Larasati lirih. "Setiap orang di sini memandangku seolah aku hama yang masuk ke rumah mereka. Aku merasa tidak punya tempat di sini. Aku takut... takut lama-lama kamu juga akan melihatku seperti mereka melihatku."

Agung menggeleng cepat, lalu menarik istrinya masuk ke dalam pelukan yang begitu erat hingga rasanya sulit bernapas, namun pelukan itu juga terasa paling aman yang pernah Larasati rasakan. "Jangan pernah bicara begitu. Jangan pernah berpikir aku bisa berubah. Bagiku, kamu bukan sekadar istri. Kamu adalah satu-satunya orang yang melihat diriku apa adanya, bukan nama belakangku, bukan hartaku. Dulu saat aku tidak punya apa-apa selain motor tua dan kamar sempit, kamu tetap ada di sampingku. Sekarang saat aku punya segalanya, bagaimana mungkin aku melepaskanmu?"

Agung berhenti sejenak, lalu mencium kening Larasati dengan lembut, sentuhan yang penuh rasa hormat dan cinta yang begitu dalam. "Besok, kita bicara tegas pada Ayah dan Ibu. Jika mereka tetap tidak bisa menerimamu, maka aku yang akan pergi bersamamu. Kita kembali ke kamar kos kecil kita, kembali bekerja keras seperti dulu. Aku lebih memilih hidup miskin bersamamu daripada hidup mewah di istana ini tanpamu. Kamu mengerti? Bagiku, kamu adalah rumahku yang sebenarnya. Bukan gedung ini."

Malam itu, di bawah pohon beringin tua, di tengah dunia yang terasa begitu asing dan kejam, Larasati kembali menemukan alasan untuk bertahan. Bukan karena harta keluarga Wijaya, bukan karena kedudukan yang kini melekat padanya sebagai istri pewaris konglomerat. Tapi karena satu pria yang berdiri di hadapannya, yang rela melepaskan segalanya hanya demi tetap memegang tangannya.

Namun takdir sepertinya ingin memberi kesempatan bagi Larasati untuk membuktikan dirinya. Keesokan paginya, saat semua orang sedang sibuk bersiap untuk rapat keluarga besar, tiba-tiba terdengar teriakan panik dari lantai atas. Pak Haryo terjatuh di kamar mandinya, dadanya terasa sesak hebat, dan seluruh rumah menjadi kacau balau. Ibu Saras histeris, Raisa hanya berdiri bingung tidak tahu harus berbuat apa, para pelayan berlari kesana kemari tanpa arah.

Saat semua orang panik, hanya Larasati yang bergerak cepat. Dengan pengalaman berbulan-bulan merawat ibunya yang sering sakit jantung di kampung, ia segera membaringkan Pak Haryo di tempat yang datar, melonggarkan kemejanya, memijat titik-titik tertentu di dada dan lengan pria itu dengan gerakan yang tepat, sambil menyuruh salah satu pelayan segera memanggil dokter pribadi keluarga. Tindakannya begitu tenang, begitu pasti, tanpa keraguan sedikit pun.

Sepuluh menit kemudian, napas Pak Haryo mulai kembali teratur. Saat matanya terbuka perlahan, orang pertama yang ia lihat adalah Larasati yang masih memegang pergelangan tangannya sambil mengusap keringat di dahinya dengan lengan bajunya. Wajah wanita itu tampak lelah namun penuh ketulusan, tidak ada pamrih sedikit pun di sana.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Pak Haryo menatap menantunya itu bukan lagi dengan tatapan penilaian dingin. Ada sedikit kelembutan yang mulai muncul di matanya, serta rasa hormat yang perlahan tumbuh. Meskipun Ibu Saras yang berdiri di sampingnya masih tampak cemberut, dan Raisa di sudut ruangan mulai menyadari bahwa lawannya mungkin bukan wanita selemah yang ia duga, Larasati tahu satu hal: ujiannya baru saja benar-benar dimulai. Dan kali ini, ia tidak akan lari lagi.

 

Bersambung ke Bab 5: Kebenaran yang Menyatukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!