Bagian dari The fate of marriage
Memiliki paras yang nyaris sempurna, ternyata tidak menjamin Ivannia menerima sembarang lelaki untuk mengisi hatinya. Ivannia mengalami trauma terhadap lelaki hingga membuatnya bersikap dingin terhadap semua pria. Dia menolak dan menjauh jika hal itu terjadi.
Sementara Gavin dibesarkan keluarga sederhana yang penuh kewaspadaan dan tidak mudah percaya pada orang lain kecuali Joevanka. Namun semenjak cintanya bertepuk sebelah tangan ia menjadi pria yang susah jatuh cinta. Namun semenjak dia mengenal Ivannia yang memiliki sifat jutek dan dingin membuat Gavin penasaran dan semakin jatuh ke dalam jurang cinta.
Di sisi lain seorang pria juga mengagumi Ivannia. Dia adalah seorang asisten yang bekerja di perusahaan Donisius. Lelaki itu adalah Halbret, dia humoris dan suka tersenyum kepada siapa saja. Ia berusaha untuk mendapatkan cinta dari Ivannia.
Bagaimanakah pertarungan cinta segitiga ini. Siapakah yang berhasil menahlukkan cinta Ivannia.
Ikuti kisah cinta mereka.
Whisper Of Love Season 2
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gavin putus asa.
💌 Whisper of love season 2 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
Pagi yang cerah, sang surya hangat menyinari semesta alam. Hotel yang langsung berhadapan dengan pantai membuat pikiran menjadi tenang. Namun tidak dengan Gavin. Ini adalah hari ke dua, Ia akan menemui uncle VALENO. Gavin termenung sambil memandang ke arah luar. Pikirannya jauh melayang.
"Apakah uncle akan senang bertemu dengannya?"
"Apakah Gavin akan diterima?"
"Apakah dia bersedia membantu?"
"Aaarggghh!"
Kata-kata itu seakan menari-nari dalam benaknya. Gavin membuang napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Demi ibunya, tidak apa mencoba dulu.
Sejenak Gavin termenung dalam keheningan. Hijau rindang di depan hotel membuat tempat itu menjadi indah. Garis pantai dan debur ombak, serta dua biru dan corak putih yang menyatu di cakrawala semakin menghipnotis Gavin. Ia terpaku dengan bertopang dagu di atas lipatan tangannya pada pegangan besi yang dingin di ujung balkon lantai sepuluh . Angin berhembus sejuk dalam keheningan dan sepi, seolah mencoba berbisik padanya. Gavin memejamkan matanya. Ia mengatupkan kedua tangan di depan dadanya.
"Di hadapanmu TUHAN, Jika ini adalah rencana-Mu, tunjukanlah jalan yang harus aku pilih TUHAN. Semoga engkau mempertemukan Kami." Ucap Gavin kembali membuka matanya.
Dalam diam, sesaat Gavin seperti menemukan satu jawaban. Seulas senyum merekah di bibirnya. Gavin akhirnya memutuskan untuk tidak memberi tahu langsung keputusannya ini kepada Levin dan Leona. Karena mereka belum tahu jika saudara ayah mereka masih ada.
"Tidak masalah kan ibu, aku menemui beliau. Aku hanya mencoba untuk mempersatukan keluarga kita kembali. Mengembalikan benang kusut walau tidak bisa seperti dulu lagi. Setidaknya aku berusaha ibu. Demi ayah kita." Kata Gavin membulatkan tekad untuk pergi kediaman Axton.
Seperti yang dikatakan wanita paruh baya itu, setiap hari minggu Valeno akan menghabiskan waktu di rumahnya. Ia memanfaatkan waktu terbaiknya untuk berkumpul bersama keluarga.
Ia kembali menghubungi Halbret. Wajah Gavin mengerut sudah dihubungi berulang kali tapi Halbret tidak meresponnya. Apa dia masih tidur? Gavin menatap ponselnya dengan lesu. Ia mencoba sekali lagi. Namun tetap sama Halbret tetap tidak mengangkatnya. Gavin paling tidak suka menunggu. Ia sudah terbangun pagi-pagi sekali dan sungguh kali ini kantuknya lenyap begitu saja. Padahal semalam ia hampir tak bisa tidur karena wajah Ivannia selalu datang dalam pikirannya. Menunggu, ah betapa waktu bergerak lamban rasanya. Jam seperti ikut mengejeknya, bergerak pelan sekali. Gavin akhirnya memutuskan untuk menggunakan Taxi.
DI SISI LAIN.
Mengurung di bawah selimut yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Halbret mulai gelisah, ia berusaha menyingkirkan selimut itu. Halbret tidak pernah menggunakan selimut jika sedang tertidur. Selimut itu seperti terlilit di bagian tubuhnya. Ia merasa tidak nyaman masih berada di bawah selimut tebal itu.
Panggilan yang berulang kali mengusik tidurnya. Tangan Halbret berusaha meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Namun panggilan itu mati lagi. Halbret menghentikan tangannya untuk meraba-raba keberadaan handphonenya. Tangannya kembali menyelusup masuk ke dalam bantal dan wajahnya dihadapkan ke arah kanan. Halbret mengerjap beberapa kali. Tiba-tiba mata Halbret membulat sempurna ketika mendapati Amber ada di tempat tidurnya. Sontak saja Halbret terduduk dan berteriak.
"Amber, apa yang kau lakukan di kamarku?" Bentak Halbret sangat terkejut.
Mendengar teriakan itu, Amber perlahan-lahan membuka matanya. "Astaga, Halbret kau ribut sekali."
"Apa yang kalau lakukan di kamarku?" Ucap Halbret kembali, ia memeriksa bagian bawah tubuhnya. Oh.. semua masih lengkap.
"Apa yang kau pikirkan?" Ucap Amber menatap malas.
"Aku tidak memikirkan apa pun." Kata Halbret salah tingkah. "Sekarang jawab, kenapa kau berada di sini?"
"Astaga, apa kau lupa?" Keluh Amber duduk masih dengan wajah lesu.
"Melupakan apa? yang aku tahu kau datang menyusulku ke kamar ini."
"Iya dan kita mabuk bersama Halbret. Kau mabuk dan terus mengatakan Ivannia adalah pujaan hatimu." Ejek Amber.
"Iya, itu memang benar. Ivannia adalah cinta sejatiku bahkan sampai aku mati dia tetap wanita yang aku cintai." Kata Halbret dengan yakin atas perasaannya.
"Cih...yakin sekali kau." kata Amber berdecak, ia membuang wajahnya tidak suka.
"Sekarang, yang jadi masalahnya kenapa kau tidur di sini? Kenapa kau tidak pulang?"
"Aku juga mabuk Halbret. Kau mau aku pulang sendiri dalam keadaan mabuk. Bagaimana jika ada seseorang menculikku?"
"Siapa juga yang mau menculikmu. Sekarang kau keluar dari sini. Aku mau tidur lagi."
"Aku juga mau tidur Halbret...Kau tahu, pukul berapa kita tidur? pukul 3 pagi. Jadi biarkan aku tidur sampai siang. Please! " Kata Amber menjatuhkan dirinya di tempat tidur dan memeluk bantal guling kembali.
Halbret membuang napas panjang. Ia terpaksa membiarkan Amber berada di tempat tidurnya. Ia beranjak dan mengambil handphonenya yang ada di atas nakas.
"Astaga...! aku melupakan sesuatu." ucap Halbret ketika melihat layar handphonenya dipenuhi tanda notifikasi panggilan. Halbret menepuk dahinya.
Ia langsung menghubungi Gavin. Ia membuang napas lesu ketika mendengar Gavin sudah pergi menggunakan taxi.
"Maafkan aku Gavin, aku tidak mendengar panggilan darimu." Ucap Halbret menunduk lesu.
" Tidak apa-apa Halbret, jangan terlalu dipikirkan."
" Benarkah?"
"Ehmmm." ucap Gavin dengan menggumam.
"Tapi aku merasa serba salah, karena aku sudah berjanji."
Gavin terkekeh. "Aku sudah bilang tidak masalah dude."
"Baiklah, terima kasih atas pengertiannya. Semoga harimu menyenangkan Gavin."
"Oke, Halbret." Kata Gavin mengakhiri panggilan.
Gavin kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya. Ia berdiri dan menatap kediaman Axton.
Matanya menyapu seluruh pemandangan yang bisa terjangkau olehnya. Sudah satu jam ia berada di sini. Tapi tidak seorang pun yang mau membukakan pintu untuknya.
Gavin masih menunggu. Ia menyandarkan punggungnya di dinding pagar halaman rumah Axton yang menjulang tinggi. Terkadang ia duduk jongkok dan kembali berdiri lagi. Mengintip dari pagar yang hanya di kasih lubang kecil.
Hari beranjak siang. Kediaman Axton sepi seperti tidak berpenghuni. Sementara ia sudah berulangkali menekan bell. Gavin segera menegakkan wajah dan matanya melihat ke dalam halaman rumah itu lagi. Sumpah saat ini ia sudah seperti penguntit. Gavin melihat satu orang pembantu rumah tangga memakai baju khusus berjalan mendekati pos security. Dengan sekuat tenaga Gavin berteriak dan menekan bell itu kembali.
“Permisi! Tolong bukakan pintu, aku ingin bertemu Tuan Axton.” teriak Gavin dengan suara lantang. Jelas wanita mendengarnya. Namun tak sedikit pun ia menoleh ke arah pagar. Gavin menunduk lesu. Wajahnya menampakkan kekecewaan namun matanya tetap masih berharap. Semoga ada yang mendengar teriakkannya. CCTV jelas ada di disini. Tidak mungkin mereka tidak melihatnya di luar. Bell saja sudah ratusan kali ditekan. Tidak mungkin kan mereka tidak mendengarnya? Apa mereka sengaja melakukannya.
Gavin melangkah meninggalkan rumah itu untuk mengisi perutnya yang kelaparan. Matahari semakin meninggi dan membakar kulit. cuaca terasa begitu panas. Seiring bertambahnya laju detak waktu langit pun semakin siang semakin membiru, tak terlihat awan berarak di sekitarnya. Kesibukan kota siang itu mulai terlihat seperti biasanya. Kendaraan berlalu lalang menebar asap yang menyesakkan. Gavin tidak putus asa, setelah perutnya sudah benar-benar kenyang. Gavin kembali ke tempat kediaman Axton.
Tiba-tiba Handphonenya berdering. Ia segera menggeser layar pipih itu ketika melihat siapa yang memanggilnya.
"Iya, Leona?"
"Kapan kakak pulang, dokter mengatakan lusa ibu harus melakukan operasi kak. Dokter Elizabeth tidak bisa menunggu sampai sepuluh hari lagi. Jika tidak dokter tidak bisa melakukan apa-apa."
DEG..!
Jantung Gavin seakan berhenti beberapa detik. Tangannya gemetar dan pandangannya kosong.
"Kak, kau masih di sana?"
"Tolong urus ibu Leona, lakukan operasi seperti yang dikatakan dokter. Kakak harus menyelesaikan urusan di sini. Setelah semuanya beres kakak akan segera kembali."
"Baik kak, aku dengan Levin akan mengurus ibu di sini. Kakak selesaikan lah tugas di sana. Dan tetap jaga kesehatan ya kak."
Panggilan langsung dimatikan oleh Gavin. Ia kembali berlari sekencang mungkin. Dadanya terasa sesak tak bisa berkata apa-apa. Matanya berkaca-kaca. Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada ibunya sebelum ia mendapat kan uang. Gavin tidak akan bisa memaafkan dirinya.
Ketika matahari telah bergulir ke sebelah barat, Gavin tetap dalam penantian. Raut mukanya terlihat resah. Cuaca lebih terik dari biasanya. Tak ada segumpal awan pun yang membantu menghalangi jatuhnya panas dari langit. Begitu biru, polos dan menyilaukan di atas sana. Suhu di weater pada layar Smartphonenya menunjukkan angka 38 derajat celcius. Luar biasa. Gavin bergegas melangkah mendekati pagar kokoh itu.
TING NONG
TING NONG
TING NONG
Gavin berulangkali menekan tombol itu. Agar orang yang di dalam mendengarkannya. Ia sengaja membuat keributan.
"Tuan Axton, aku ingin bertemu denganmu. Buka...tolong dibuka! Aku yakin kau melihatku di CCTV ini. Tolong buka pintunya! " teriak Gavin dari luar. Ia kembali mengintip dari lubang pagar. Nampak empat orang berpakaian lengkap melangkah mendekati pagar utama. Gavin tersenyum, ternyata usahanya tidak sia-sia. Suara pintu pagar dari besi kokoh itu terbuka. Lelaki tegap dan lengkap berkacamata itu langsung menghadang Gavin yang ingin masuk.
"Jika Anda membuat keributan lagi. Anda saya laporkan ke pihak berwajib karena telah membuat keributan di sini."
"Saya bukan buat keributan pak, anda yang tidak mendengar saya beberapa kali membunyikan bell ini. Tapi tak satu pun dari kalian membukakan pagar ini."
"Anda tidak berhak masuk kekediaman tuan Axton."
"Saya berhak karena saya keponakan dari yang punya rumah ini. Saya ingin bertemu beliau. Tolong kasih saya jalan!" pinta Gavin.
"Kami tidak semudah itu percaya dengan anda tuan. Mohon maaf, sebelum kami menyeret anda ke pihak yang berwajib lebih baik anda pergi dari sini."
"Jika anda tidak percaya. Saya punya KTP yang nama belakangnya sama dengan pak VALENO AXTON." Gavin dengan cepat mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan KTP nya kepada lelaki yang berpakaian lengkap itu. Mereka menatap KTP Gavin tanpa ekspresi kemudian melemparkan Kartu itu tepat di kaki Gavin.
"Sekarang lebih baik anda pergi dari sini."
Gavin menatap tajam kepada lelaki yang membuang kartu itu. Belum apa-apa sudah membuat isi kepala Gavin meledak karena menahan amarah. Tidak hanya menunggu berjam-jam. Kini mereka memperlakukan Gavin seperti penjahat. "Apa yang anda lakukan?" tanya Gavin mengambil kartu KTP nya.
Mereka tidak menjawab sama sekali. Empat orang yang berdiri di hadapannya seperti patung yang bernyawa. Gavin sudah kehilangan kesabaran. Ia memejamkan matanya beberapa detik. Lalu sepersekian detik Gavin menendang bagian perut lelaki yang berdiri hadapannya.
Mereka adu jotos. Tiga anak buahnya dengan cepat memberikan pukulan kepada Gavin. Namun Gavin bisa menghindar dengan baik. Cih..." Kamu membuatku menunggu lama, sekarang kalian menganggapku seperti lelaki pencuri. Rasakan ini. Aargghh..." geram Gavin memberikan beberapa pukulan lagi.
Pertarungan satu lawan empat tidak membuat Gavin takut. Emosi yang menguasainya mampu melumpuhkan mereka. Lima menit mereka bertarung sengit kemudian Gavin bisa menghajar lelaki yang berpakaian lengkap itu. Gavin terlihat marah, kilatan emosi terpancar jelas di matanya. Ia menghajar siapa pun yang ada di dekatnya. Sehingga Gavin berhasil lolos masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Ia berlari sekuat tenaga. Namun dengan cepat pintu rumah tertutup otomatis.
"Uncle VALENO, saya ingin bertemu dengan anda. Saya mohon keluarlah! " Teriak Gavin dari luar pintu yang tertutup rapat itu.
"Uncle... keluarlah saya anak dari Velix Axton. Saya mohon!"
Ke empat lelaki yang habis di hajar Gavin berlari cepat dan masuk ke dalam untuk menyeret Gavin.
"Lepaskan aku! " Gavin meronta dan berusaha melepaskan diri. Namun ia sudah diseret paksa sampai keluar pagar. Tubuh Gavin di dorong sampai tersungkur ke aspal.
"Jika anda kembali melakukan hal tadi, kau akan dimasukkan ke penjara. Kau akan membusuk di sana, Ingat itu! " tegas lelaki itu memberi peringatan kepada Gavin. Pintu pagar lalu tertutup lagi.
Gavin tertunduk lesu. Inikah jawaban dari doanya. Apa yang harus aku lakukan? Gavin mengepalkan tangannya. Gavin saat ini seperti lelaki putus asa.
BERSAMBUNG
❣️ GAVIN 😢😢😢😢
💌BERIKAN LIKE DAN KOMENTARMU💌
💌 BERIKAN VOTEMU 💌
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu