Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 33. Adegan Bollywod
Rengkuhan erat Ubay di pinggang Nadia baru terlepas setelah seorang pramuniaga toko berdehem pelan di dekat mereka sambil cekikikan, memecah sihir Bollywood yang sempat menghentikan waktu selama beberapa detik tadi. Dengan wajah yang sama-sama memerah sempurna, Ubay buru-buru menegakkan tubuh Nadia, sementara tangannya langsung sibuk memunguti popok dan baju bayi yang berserakan di lantai demi menyembunyikan salah tingkahnya.
Sepanjang perjalanan pulang di atas RX-King, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut keduanya. Nadia duduk dengan posisi yang agak kaku, melipat kedua tangannya di atas tumpukan kantong belanjaan besar yang ia pangku, sementara punggungnya sengaja tidak bersandar penuh pada jaket jeans Ubay seperti biasanya. Ada rasa panas yang menjalar di pipinya setiap kali ia mengingat bagaimana mata elang Ubay mengunci pandangannya tadi.
Sementara Ubay, pria gondrong itu mendadak mengendarai motornya seperti anak amatir yang baru belajar. Tangannya beberapa kali kedapatan salah memindahkan gigi persneling, membuat mesin motornya mengerang canggung. Fokusnya terbelah total antara lubang di jalanan dan rasa hangat sisa pelukannya yang masih tertinggal di telapak tangannya.
Begitu motor berhenti di halaman samping rumah tua, Ubay langsung turun dan menyambar seluruh kantong belanjaan dari pangkuan Nadia dengan gerakan cepat yang kikuk.
"G-Gue bawa masuk duluan," cetus Ubay, suaranya mendadak naik satu oktaf dan terdengar sangat kaku. Tanpa menunggu Nadia, ia melangkah lebar-lebar masuk ke dalam rumah, menyepak pintu kayu hingga terbuka.
Nadia turun dari motor perlahan, mengelus perutnya yang terasa ikut bergejolak karena debaran jantung ibunya yang belum juga mereda. "Cup, cup, anak pinter... jangan ikut ledek Ibu ya," bisiknya lirih pada bayinya sebelum melangkah masuk.
Di ruang tengah, kecanggungan itu justru semakin menggila. Ubay meletakkan kantong-kantong belanjaan itu di atas meja kayu dengan asal, membuat beberapa botol bedak bayi di dalamnya bergemerincing. Saat Nadia masuk dan hendak mengambil kantong itu untuk dirapikan, tangan mereka secara tidak sengaja bersentuhan kembali di atas meja.
Sret!
Bagaikan tersengat aliran listrik, keduanya kompak menarik tangan masing-masing dalam hitungan detik.
"Eh... maaf, Mas Ubay," cicit Nadia buru-buru. Ia langsung menundukkan kepala dalam-dalam, pura-pura sibuk merapikan ujung daster batiknya yang sebenarnya sudah rapi. Kedua ibu jarinya saling bertautan, memutar-mutar kain dengan gelisah. Wajahnya yang putih kini sudah matang seperti udang rebus.
Ubay sendiri langsung salah tingkah total. Pria yang biasanya disegani di seluruh sudut pangkalan pasar itu kini mendadak kehilangan wibawanya. Ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, membuang pandangan ke arah langit-langit rumah, lalu beralih menatap mading tua di dinding. Kakinya bergerak maju-mundur tidak keruan di atas lantai ubin.
"K-Kalau lu capek, biar itu... apa namanya, belanjaannya ditaruh situ dulu aja. Gak usah buru-buru diberesin," ujar Ubay terbata-bata. Kalimatnya acak-acakan, sangat tidak mencerminkan sosok Ubay yang biasanya irit bicara dan lempeng.
"I-Iya, Mas. Nanti sore saja saya rapikan," sahut Nadia, suaranya sekecil bisikan semut. Ia memberanikan diri melirik Ubay dari balik bulu matanya yang lentik.
Melihat Nadia yang menunduk dengan pipi merona segar dan napas yang masih agak pendek, dada Ubay kembali bergemuruh hebat. Sisa wangi minyak telon dari toko tadi seolah sengaja menetap di antara mereka, membuat atmosfer ruang tengah rumah tua itu mendadak terasa begitu intim dan mendebarkan.
Ubay yang tidak tahan dengan rasa panas dingin yang menyerang sekujur tubuhnya akhirnya memutuskan untuk "melarikan diri".
"Gue... gue ke kamar mandi dulu. Gerah. Mau cuci muka," pamit Ubay cepat. Ia berbalik dengan terburu-buru, namun karena terlalu salah tingkah, kakinya justru tidak sengaja menyenggol sudut meja kayu dengan cukup keras.
Jeduk!
"Ugh..." Ubay meringis pelan, menahan malu setengah mati sambil memegangi tulang keringnya.
Nadia yang melihat itu refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan. Rasa baper dan lucunya tingkah Ubay berbaur menjadi satu, membuat sebuah kekehan geli akhirnya lolos dari bibir manisnya. "Mas Ubay hati-hati..."
Mendengar tawa kecil Nadia, Ubay melirik ketus yang dibuat-buat, walau sudut bibirnya sendiri sudah bergetar menahan senyum. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia langsung ngacir melangkah cepat menuju area belakang rumah, meninggalkan Nadia yang kini terduduk di sofa sambil memegangi dadanya yang berdegup ugal-ugalan.
**
Malam semakin larut, dan sisa gerimis sore tadi menyisakan hawa dingin yang mengepung dinding-dinding rumah tua. Di ruang tengah, televisi tabung kembali menyala, memecah kesunyian dengan suara narator berita malam yang datar.
Nadia duduk di sofa kayu panjang, mencoba mencari posisi nyaman dengan mengganjal punggungnya menggunakan bantal kapuk. Namun, sejak pulang dari toko grosir siang tadi, rasa tidak nyaman di bagian bawah tubuhnya semakin menjadi-jadi. Nadia meluruskan kedua kakinya di atas sofa, lalu meringis kecil saat jemarinya menyentuh pergelangan kakinya.
Ubay yang duduk di ujung sofa sebelah masih dengan kaos hitam polosnya, sejak tadi tidak benar-benar fokus pada layar televisi. Mata elangnya menangkap gerak-gerik gelisah Nadia. Tatapan Ubay kemudian turun, tertuju pada sepasang kaki Nadia yang selonjoran.
Alis Ubay langsung bertaut rapat. Di bawah temaram lampu ruang tengah, ia bisa melihat dengan jelas pergelangan kaki hingga punggung kaki Nadia tampak membulat tegang, membengkak cukup besar hingga guratan urat-urat halusnya tak lagi kelihatan.
"Kaki lu kenapa begitu?" tanya Ubay, suaranya yang berat memecah keheningan ruangan.
Nadia tersentak pelan, buru-buru menarik daster batiknya ke bawah untuk menutupi kakinya yang bengkak karena merasa sungkan. "Eh... nggak apa-apa, Mas Ubay. Ini... cuma pegal biasa kok."
"Jangan bohong. Itu bengkak gede begitu lu bilang biasa?" Ubay menggeser duduknya, memotong jarak di antara mereka. Wajah sangarnya tampak mengeras karena rasa khawatir. "Pasti gara-gara tadi siang lu kelamaan berdiri di toko grosir, kan?"
Nadia menunduk, meremas pinggiran dasternya dengan canggung. "Bawaan bayi kata bidan kemarin memang begitu, Mas, kalau sudah masuk bulan tua. Nanti kalau dibawa tidur juga kempes sendiri."
Ubay tidak menyahut. Pria gondrong itu tiba-tiba berdiri, melangkah ke arah dapur. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sebuah baskom plastik kecil berisi air hangat dan sebotol minyak urut herbal yang biasa ia pakai kalau badannya pegal.
Ubay meletakkan baskom itu di lantai, tepat di depan kaki Nadia. Tanpa banyak bicara, Ubay langsung berlutut di lantai ubin yang dingin, mensejajarkan tubuhnya di bawah kaki istrinya.
Nadia seketika panik, ia menarik kakinya mundur hingga mepet ke sandaran sofa. "E-Eh, Mas Ubay! Jangan, Mas! Jangan begitu, nggak boleh... Mas Ubay nggak usah berlutut di bawah begitu. Saya nggak apa-apa, Mas, sungguh."
"Duduk yang bener, Nadia. Gak usah keras kepala," titah Ubay, suaranya merendah tapi penuh penekanan mutlak yang tidak bisa dibantah. Mata elangnya mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata teduh Nadia. "Gue gak suka lihat lu nahan sakit dari tadi. Sini kakinya."
"Tapi, Mas…"
"Sini!" Ubay mengulurkan tangannya yang lebar, menangkap pergelangan kaki Nadia dengan sangat lembut, lalu menuntunnya kembali agar selonjoran di atas lututnya yang kokoh.
Nadia akhirnya pasrah. Dadanya bergemuruh hebat, dan wajahnya kembali merona merah padam. Ada rasa takjub sekaligus haru yang luar biasa saat melihat seorang Ubay, preman pasar yang ditakuti orang-orang jalanan kini dengan sukarela berlutut dibawah kakinya demi meredakan rasa sakitnya.
Ubay membuka tutup botol minyak urut, menuangkan sedikit cairan hangat itu ke telapak tangannya sendiri. Ia menggosokkan kedua telapak tangannya hingga terasa panas, baru kemudian menempelkannya perlahan ke punggung kaki Nadia yang membengkak.
Deg!
***
Yaa panik la.. 🤣🤣
jgn nyesel klo otongmu di mutilasi... n di kirim ke rmh org tuamu buat hadiah mereka🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣