NovelToon NovelToon
MY IDOL MY SUGAR DADDY

MY IDOL MY SUGAR DADDY

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Binar jingga08

MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ANCAMAN DAN KEBENARAN YANG DITUTUPI

Dua hari berlalu. Disya berusaha sekuat tenaga untuk tampil tenang di depan Min Jae. Ia tersenyum saat sarapan, mendengarkan cerita Min Jae tentang jadwal latihan, dan mengangguk saat Min Jae berjanji akan menghabiskan waktu akhir pekan bersamanya. Namun di dalam hatinya, kegelisahan masih menyelimuti. Kata-kata orang di agensi, perasaan tidak pantas yang sering muncul, dan kehadiran Li Bora yang semakin dekat—semuanya membuatnya merasa seperti berjalan di atas lantai yang rapuh.

Siang itu saat jam istirahat kuliah, ponselnya berdering. Nomor asing. Disya ragu sejenak sebelum mengangkatnya.

"Halo, apakah ini Disya Putri?" suara perempuan terdengar lembut namun tegas dari seberang. "Saya Li Bora. Bolehkah kita bertemu sebentar di kafe dekat gerbang kampus? Ada hal yang ingin saya bicarakan baik-baik tanpa melibatkan orang lain."

Jantung Disya berdegup kencang. Ia ingin menolak, tapi rasa ingin tahu sekaligus rasa takut membuatnya akhirnya setuju.

Di sudut kafe yang sepi, Li Bora sudah menunggu. Ia mengenakan pakaian kerja yang rapi, wajahnya tampak tenang namun matanya menatap tajam saat Disya duduk di hadapannya.

"Terima kasih sudah mau datang," ucap Li Bora duluan. Ia menuangkan air teh ke gelas Disya. "Saya tidak akan bertele-tele. Saya tahu kau mungkin heran kenapa saya kembali, dan kenapa saya sering berpapasan dengan Min Jae."

"Saya tidak punya hak untuk melarang apa pun yang Anda lakukan," jawab Disya pelan namun sopan. "Ini tempat kerja Anda, dan masa lalu Anda dengan Min Jae Oppa adalah urusan kalian berdua."

Li Bora tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke mata. "Kau gadis yang cerdas. Tapi kau harus tahu satu hal: Min Jae dan saya... kami tidak pernah benar-benar selesai. Dulu saya pergi bukan karena ingin berpisah, dan sekarang saya kembali untuk melanjutkan apa yang belum selesai."

Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, nadanya berubah lebih dingin. "Kau hanya singgah di waktu yang salah, Disya. Kau pikir hubungan ini nyata? Kau pikir kau benar-benar pantas berdiri di sampingnya?"

Disya menelan ludah, tangannya mencengkeram ujung meja. "Saya tidak tahu apa yang Anda maksud. Tapi saya tahu Min Jae memilih saya sekarang."

"Memilih?" Li Bora tertawa kecil, lalu matanya menatap tajam ke manik mata Disya. "Kau lupa bagaimana hubungan ini bermula? Kau lupa ada lembaran kertas yang menyatakan semuanya? Ada perjanjian, ada aturan, ada setiap angka yang ditransfer ke rekeningmu. Bukti itu ada di tangan saya sekarang."

Darah seolah berhenti mengalir di tubuh Disya. Matanya membelalak tak percaya. "Bukti... apa maksud Anda?"

"Maksud saya," Li Bora berbisik pelan namun jelas, "hubungan kalian bukanlah cinta yang tumbuh alami. Itu adalah kesepakatan transaksi. Dan jika hal ini terungkap ke publik, apa yang akan terjadi? Nama baik Min Jae yang sudah dibangun susah payah akan hancur seketika. Karirnya, reputasinya, semuanya akan musnah. Dan kau... kau akan dihina sebagai wanita yang memanfaatkannya."

Disya terdiam kaku. Air mata mulai menggenang di matanya. Ia tidak menyangka rahasia yang seharusnya terkubur rapi kini sudah berada di tangan orang lain.

"Saya tidak bermaksud menyakiti siapa pun," lanjut Li Bora dengan nada yang terasa seperti lemparan belati. "Tapi saya tidak akan diam saja melihat Min Jae hancur atau terjebak dalam kesalahan. Kau punya dua pilihan: pergi dengan tenang sekarang, dan biarkan semuanya tetap rahasia. Atau tetap bertahan, dan biarkan kebenaran itu menghancurkan dia."

Li Bora berdiri, merapikan tasnya. "Pikirkan baik-baik. Saya tunggu keputusanmu."

Disya tertinggal diam di meja itu, sekujur tubuhnya terasa lemas dan dingin. Ancaman itu bukan ditujukan padanya—tapi pada Min Jae. Dan itu adalah hal yang paling ia takutkan.

Sore harinya saat pulang ke apartemen, Min Jae menyadari perubahan sikap Disya seketika. Gadis itu diam saja, menunduk, dan tak menjawab saat ia menyapa.

"Disya?" panggilnya lembut sambil memegang bahu gadis itu. "Ada apa? Kau terlihat sangat lelah dan sedih. Apa ada masalah di kampus? Atau... kau bertemu seseorang?"

Disya mendongak, matanya merah dan berkaca-kaca. Ia ingin sekali bercerita, ingin sekali memeluk Min Jae dan meminta perlindungan. Tapi kata-kata Li Bora terus berputar di kepalanya: jika kau tetap di sini, karir Min Jae akan hancur. Ia takut. Ia takut kehadirannya justru menjadi malapetaka bagi pria yang dicintainya.

"Tidak ada apa-apa, Oppa," jawabnya pelan, berusaha menahan isak tangis. "Cuma... sedikit pusing saja. Saya mau istirahat dulu."

Ia berlalu masuk ke kamar, meninggalkan Min Jae yang berdiri bingung dan cemas. Pria itu tahu ada sesuatu yang besar disembunyikan. Disya tidak pernah berbohong padanya, dan tidak pernah menolak bercerita seperti ini.

Malam itu Min Jae tidak bisa tidur. Ia duduk di ruang tengah, memikirkan semua kejadian belakangan ini. Kembalinya Li Bora yang tiba-tiba, sikap ayahnya yang semakin menekan, pesan-pesan yang aneh, dan sekarang ketakutan yang terlihat jelas di mata Disya.

Tiba-tiba ingatannya melompat ke masa lalu. Dulu saat Li Bora berangkat ke Amerika, prosesnya berjalan sangat cepat. Padahal persyaratan beasiswa itu sangat ketat. Namun hanya dalam waktu dua minggu semua beres. Ayahnya yang mengurus semuanya, dan melarang keras Min Jae untuk bertanya lebih jauh atau mengantar Li Bora ke bandara.

Lalu setelah itu, ayahnya selalu berkata: "Lupakan dia. Dia sudah punya jalan sendiri. Jangan pernah cari tahu lagi."

Dulu Min Jae berpikir ayahnya hanya ingin ia fokus pada karier. Tapi sekarang... ada rasa curiga yang mulai tumbuh. Apakah kepergian Li Bora dulu benar-benar keinginannya sendiri? Atau ada tangan lain yang memaksanya? Apakah ayahnya terlibat di dalamnya?

Dan kini Li Bora kembali, membawa tekanan yang membuat Disya takut berbicara. Benang merah itu perlahan terhubung, tapi Min Jae belum bisa melihat gambaran utamanya dengan jelas.

Di kamar tidur, Disya duduk memeluk lutut di tepi tempat tidur. Air matanya menetes membasahi selimut. Ia mencintai Min Jae lebih dari apa pun. Tapi ia tidak sanggup jika harus menjadi alasan pria itu jatuh.

Haruskah aku pergi? batinnya teriris perih. Apakah dengan pergi aku bisa menyelamatkan dia?

Namun di sisi lain, hatinya berteriak menolak. Ia tahu Min Jae mencintainya, dan pergi tanpa penjelasan sama sekali akan menyakiti pria itu seumur hidup. Ia terjebak di antara dua rasa sakit: tetap tinggal dan berisiko menghancurkan masa depan Min Jae, atau pergi dan menghancurkan hati mereka berdua.

Malam itu menjadi malam yang paling panjang dan berat bagi mereka berdua. Di tempat yang berbeda, mereka sama-sama menyimpan rahasia dan ketakutan, tanpa sadar bahwa musuh yang sebenarnya sedang menyusun langkah terakhir untuk menghancurkan kebahagiaan yang baru saja mereka bangun.

1
Eomma'Drakor 01
Alice😡
Eomma'Drakor 01
disya kenapa ga pacaran Ama Jack aj sih?
Eomma'Drakor 01
langkah yang bagus disya nikmatilah semua fasilitas dari min jae oppa😍
Eomma'Drakor 01
langkah yang bagus disya, nikmatilah semua fasilitas dari min jae oppa😍
Tere Rere
keren
Flm Rendom
kisah cinta yg Berawal dari transaksi..
Flm Rendom
kira2 siapa nih yang bakalan melanggar aturan transaksi...
Wae
suka dengan persahabatan Jack dan disya😍 ceritanya bikin baper
Wae
my idol may sugar Daddy 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!