NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelukan yang dinanti

Jarum jam di dinding kamar menunjukkan hampir pukul dua belas malam.

Arga masih terjaga.

Rasa perih di ulu hatinya belum juga hilang. Sejak sore ia hanya mengganjal perut dengan beberapa potong roti dan air hangat. Meski begitu, lambungnya tetap terasa melilit.

Sesekali rasa mual ikut datang.

Arga menarik napas panjang, berusaha mengabaikan rasa sakit itu.

"Apa maagmu masih sakit?" tanya Bima yang duduk di kasur sebelah.

Arga mengangguk pelan.

"Masih."

"Tapi nggak apa-apa."

"Nanti juga reda."

Bima memandangnya dengan rasa bersalah.

"Andai saja obat di kotak P3K itu masih bisa dipakai."

Arga tersenyum tipis.

"Bukan salah Mas."

"Lagipula, saya juga nggak berani minum obat yang sudah puluhan tahun kedaluwarsa."

Bima menghela napas.

Kotak P3K itu kembali ia simpan di dalam ranselnya. Tak lama kemudian, telepon genggam Arga bergetar.

Nama Ayah muncul di layar.

Arga segera mengangkatnya.

"Assalamu'alaikum, Yah."

"Wa'alaikumussalam."

"Arga, Ayah sudah sampai di depan masjid."

"Kamu di mana?"

"Di penginapan samping masjid, Yah."

"Arga keluar sekarang."

Arga bangkit dari kasur. Saat berdiri, rasa nyeri di lambung kembali menusuk hingga membuatnya sedikit membungkuk.

Ia menggigit bibir pelan.

Jangan sekarang.

Ia tidak ingin ayah dan ibunya melihat dirinya dalam keadaan seperti itu.

Arga menarik napas perlahan beberapa kali, lalu memaksakan senyum.

"Ayo, Mas."

Bima mengangguk dan mengikuti dari belakang.

Udara malam terasa sejuk. Lampu halaman masjid menerangi area parkir yang hampir kosong. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan gerbang.

Pintu pengemudi terbuka.

Ayah Arga turun lebih dulu.

Begitu melihat Arga berdiri di halaman, langkahnya langsung terhenti.

"Arga..."

Suara itu terdengar lirih sekaligus penuh haru.

Arga mengangguk.

"Iya, Yah."

Detik berikutnya ayahnya berlari menghampiri dan langsung memeluknya erat. Arga membalas pelukan itu. Namun ketika ayahnya memeluk semakin erat, rasa nyeri di ulu hati kembali datang.

Ia meringis kecil.

Untungnya wajahnya tertutup bahu sang ayah sehingga ekspresi itu tidak terlihat.

"Alhamdulillah..."

"Alhamdulillah..."

Ayahnya terus mengucapkan syukur sambil menepuk pelan punggung Arga. Beberapa saat kemudian pintu mobil sebelah terbuka.

Ibunya turun tergesa-gesa.

"Arga!"

Beliau langsung memeluk putranya sambil menangis.

"Kamu ke mana saja, Nak?"

"Ibu takut..."

"Ibu benar-benar takut kehilangan kamu."

Arga ikut memeluk ibunya.

"Maaf, Bu."

"Maaf sudah membuat Ayah dan Ibu khawatir."

Ibunya mengusap wajah Arga.

"Kamu kurusan sekali."

"Wajahmu pucat."

"Kamu sakit?"

Arga segera menggeleng.

"Nggak, Bu."

"Cuma capek."

Ia kembali memaksakan senyum. Padahal rasa perih di lambung semakin menjadi. Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Namun ia berusaha tetap berdiri tegak. Ia tidak ingin momen pertemuan ini berubah menjadi kepanikan. Ayahnya memperhatikan wajah Arga beberapa saat.

"Kamu yakin tidak apa-apa?"

"Iya, Yah."

"Hanya kurang tidur."

Ayah mengangguk pelan meski masih menyimpan rasa curiga. Di belakang Arga, Bima berdiri dengan tenang. Ayah Arga menghampirinya dan menjabat tangannya.

"Terima kasih sudah menemani anak saya."

Bima tersenyum kecil.

"Justru Arga yang banyak membantu saya."

Ucapan itu membuat ayah dan ibu Arga saling berpandangan bingung. Mereka belum mengerti maksud perkataan tersebut.

Arga berniat menjelaskan.

Namun baru saja membuka mulut, rasa mual kembali menyerang. Ia menelan ludah beberapa kali agar tidak muntah. Tangannya tanpa sadar menekan pelan bagian ulu hati. Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian ibunya.

"Arga..."

"Kamu benar-benar tidak apa-apa?"

Arga buru-buru melepaskan tangannya dari perut.

"Iya, Bu."

"Mungkin cuma masuk angin."

Ibunya masih menatap wajah Arga dengan penuh khawatir. Seorang ibu memang sering kali mengetahui keadaan anaknya tanpa perlu diberi tahu.

Namun beliau memilih tidak mendesak.

"Kalau begitu, kita masuk dulu."

"Kamu pasti lelah."

Arga mengangguk.

Meski setiap langkah membuat lambungnya terasa seperti diremas, ia tetap bertahan. Baginya, rasa sakit itu jauh lebih ringan dibandingkan kegembiraan karena akhirnya bisa kembali bertemu kedua orang tuanya. Malam itu, ia memilih menyimpan semua rasa sakitnya sendiri.

Setidaknya...

Untuk malam ini, ia ingin melihat ayah dan ibunya tersenyum lebih dulu.

Mereka kembali memasuki penginapan sederhana di samping masjid. Bapak takmir yang masih terjaga menyambut mereka dengan ramah.

"Alhamdulillah, keluarganya sudah datang."

Ayah Arga menjabat tangan beliau.

"Terima kasih sudah mengizinkan anak kami menginap di sini."

"Sudah menjadi kewajiban kami membantu musafir," jawab bapak takmir sambil tersenyum.

Setelah berbincang singkat, mereka masuk ke kamar. Ruangan yang tadinya terasa cukup luas kini menjadi lebih sempit karena diisi empat orang. Ayah dan ibu Arga duduk di tepi kasur, sementara Bima memilih duduk di kursi kayu dekat jendela.

Keheningan sempat menyelimuti ruangan.

Tak seorang pun langsung berbicara.

Bagi ayah dan ibu Arga, melihat putra mereka kembali dengan selamat sudah lebih dari cukup.

Bagi Arga sendiri, ia masih berusaha menahan rasa perih yang semakin sering datang dari lambungnya.

Ia duduk sambil sedikit membungkukkan badan.

Sesekali menarik napas panjang agar rasa nyeri itu sedikit berkurang.

Ibunya mulai memperhatikan gerak-geriknya.

"Arga..."

"Kamu benar-benar baik-baik saja?"

Arga mengangkat wajah dan tersenyum tipis.

"Iya, Bu."

"Capek saja."

Namun kali ini senyum itu terlihat dipaksakan. Wajahnya semakin pucat. Bahkan bibirnya mulai kehilangan warna. Ayahnya yang sejak tadi diam akhirnya ikut angkat bicara.

"Sejak tadi Ayah lihat kamu sering memegang perut."

"Jujur saja."

"Kamu sakit?"

Arga terdiam beberapa saat. Ia sebenarnya tidak ingin membuat kedua orang tuanya kembali khawatir. Tetapi semakin lama rasa perih itu semakin sulit disembunyikan.

"Maag Arga kambuh, Yah."

Jawabannya lirih.

Ibunya langsung bergeser mendekat.

"Sejak kapan?"

"Sore tadi."

"Kenapa tidak bilang?"

Arga menundukkan kepala.

"Tadi seharian lupa makan."

"Banyak yang terjadi."

"Jadi Arga tidak terlalu memperhatikan."

Ibunya menghela napas panjang.

Ekspresi cemas kembali memenuhi wajahnya.

"Anak ini..."

"Kamu memang dari kecil kalau sudah fokus sesuatu suka lupa makan."

Ayahnya membuka tas yang dibawanya dari mobil. Untung saja sebelum berangkat dari Jakarta, mereka sempat membeli beberapa bekal untuk perjalanan. Beliau mengeluarkan sebotol air mineral, sebungkus biskuit tawar, dan roti.

"Jangan langsung makan banyak."

"Coba sedikit-sedikit dulu."

Arga mengangguk.

Ia mulai memakan beberapa keping biskuit dengan perlahan. Setelah itu meminum air hangat yang dibuatkan bapak takmir.

Rasa perih memang belum hilang.

Namun setidaknya mualnya mulai sedikit berkurang.

Bima yang sejak tadi memperhatikan akhirnya berkata pelan.

"Maaf..."

"Kalau bukan karena aku...

"...mungkin Arga sudah sempat makan."

Arga langsung menggeleng.

"Jangan bilang begitu, Mas."

"Ini memang salah saya."

"Saya sendiri yang lupa."

Ayah Arga memandang Bima.

"Arga sudah bercerita sedikit di pesan."

"Katanya kalian bertemu di hutan."

Bima mengangguk pelan.

"Iya, Pak."

"Tapi ceritanya cukup panjang."

Ayah tersenyum tipis.

"Tidak apa-apa."

"Malam ini kita tidak perlu memaksakan semuanya."

"Kondisi Arga juga belum benar-benar pulih."

"Nanti setelah istirahat, kita bicarakan pelan-pelan."

Semua mengangguk setuju.

Malam semakin larut.

Suara kendaraan di jalan raya mulai berkurang.

Yang terdengar hanya desir angin dan suara jangkrik dari halaman masjid.

Arga akhirnya berbaring.

Tubuhnya memang lelah.

Namun rasa sakit di lambung membuatnya sulit memejamkan mata.

Beberapa kali ia terbangun karena perih yang datang bergelombang.

Setiap kali itu pula, ibunya yang belum benar-benar tidur segera bangun dan mengusap pelan kepala putranya.

"Masih sakit?"

Arga hanya mengangguk kecil.

"Sedikit lagi juga reda, Bu."

Padahal ia tahu, rasa sakit itu belum benar-benar mereda. Di sudut ruangan, Bima memandangi pemandangan itu dengan hati yang campur aduk. Ia tersenyum melihat kasih sayang yang begitu besar antara Arga dan kedua orang tuanya. Namun di saat yang sama, kerinduan kepada ayah dan ibunya sendiri kembali memenuhi dadanya.

Sudah tiga puluh tahun dunia berjalan tanpa dirinya.

Dan kini...

Ia harus belajar menerima kenyataan bahwa pelukan yang baru saja diterima Arga adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa ia rasakan lagi.

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!