Cecil si wanita lemah ditemukan meninggal di sebuah gudang yang terbakar. Ternyata sebelum gudang dibakar, Cecil sudah diperkosa oleh seorang pemuda tak dikenal. Siapa sangka, Cecil malah terlahir kembali. Cecil memiliki semua ingatan di masa depan dan tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Cecil pun merencanakan membalas semua teman-teman yang membullynya sampai membuatnya harus meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membuat Lucy Percaya
Cecil
Lucy menungguku sampai keluar toilet. Ia berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Aku santai saja dan mencuci tanganku di washtafel. "Kenapa? Mulai panik?" tanyaku dengan santai.
"Hmm ... Cil, kamu yakin kalau ucapan nenekmu benar?" Lucy terlihat mulai meragu.
"Kalau kamu tak percaya, buktikan saja ucapanku." Aku hendak berjalan meninggalkan Lucy namun anak itu kembali menarik tanganku.
"Kayaknya aku mulai percaya deh." Lucy yang ketus akhirnya menyerah juga. Aku tersenyum melihat Lucy akhirnya mempercayaiku.
"Kita bahas nanti saja ya, terlalu lama kita meninggalkan kelas, Lisa akan curiga. Aku kembali ke kelas dulu, kamu menyusul saja nanti. Ingat, jangan sekali-kali membuat dia curiga dengan apa yang kita lakukan." Lucy mengangguk dan setuju dengan apa yang kukatakan.
Aku pun kembali ke kelas dan Lisa langsung menatapku dengan tatapan curiga. "Kemana saja kamu, Cil?"
"Aku habis buang air di toilet, kayaknya aku tadi salah makan deh. Perutku sakit dan terasa melilit. Kenapa? Kamu mencariku?" tanyaku balik pada Lisa.
"Oh ... kirain aku kamu membuntutiku," sindir Lisa padaku.
"Membuntuti kamu? Untuk apa? Memang kamu kemana? Ke toilet juga? Kok kita tidak ketemu sih?" Aku duduk di tempatku dengan santai dan seakan tak ada beban. Tak lama setelah aku duduk, Lucy masuk ke dalam kelas dengan wajah yang menunduk.
Lisa tak jadi mencecarku, wajahnya berubah menjadi dingin. Lisa lalu menghadap ke depan dan pura-pura membuka buku pelajaran. Lucy dan Lisa terlihat sekali sedang perang dingin. Wajah Lucy seperti menahan amarah namun juga terdapat ketakutan dalam dirinya, mungkin Lucy takut apa yang kukatakan benar terjadi. Berbeda dengan Lucy, wajah Lisa justru terlihat khawatir, aku yakin ia takut rahasianya dibongkar oleh Lucy.
****
Pulang sekolah, aku mengajak Lucy ke suatu tempat yang aman untuk berbicara. Tempat itu adalah Triple S Caffee, dimana lagi kalau bukan di tempat usaha milik Pak Sandy. Seperti dugaanku, ada Black sedang mengobrol dengan Pak Sandy. Aku heran dengan Pak Sandy, kenapa dia tidak takut orang lain menilainya seperti orang gila karena berbicara sendiri? Ia cuek saja meskipun para karyawannya menatapnya dengan sejuta tanya.
"Hai, Cil! Tumben temannya beda?" sapa Pak Sandy padaku dan Lucy. "Biasanya sama pacarnya yang ganteng, kemana pacarnya? Lagi berantem ya?"
"Pacar? Ah, Pak Sandy bisa aja! Dia bukan pacarku, Pak, cuma teman saja. Pak, diliatin tuh sama karyawannya. Dari tadi Bapak ngomong sendiri, mereka pasti ngomongin Bapak di belakang." Aku memutuskan untuk menyampaikan apa yang ada di pikiran para karyawan terhadap Pak Sandy.
Pak Sandy bukannya risau tapi malah tertawa mendengar apa yang kusampaikan. "Biarkan saja, aku lagi asyik mengobrol sama Black. Kamu bisa lihat dia 'kan sekarang?" tanya Pak Sandy padaku.
Aku mengangguk dan tersenyum. "Bisa dong. Ternyata ganteng banget ya, Pak!"
"Dasar, Tikus Bodoh!" cibir Black sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatapku dengan tatapan sebal.
Pak Sandy tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku dan setelah melihat ekspresi Black. "Jadi ... dia ganteng ya? Selain ganteng, dia itu hebat loh, tidak pernah menua. Sejak dulu wajahnya selalu begitu."
"Oh ya? Jadi gantengnya awet gitu kayak di film-film? Wah keren! Sebenarnya, Black itu vampir ya? Biasanya kalau di film itu vampir selalu awet muda dan terlihat tampan. Atau dia sebenarnya adalah rubah ekor 9? Biasanya rubah ekor 9 harus tampan agar bisa menarik simpati korbannya. Jadi, Black itu sejenis apa?" tanyaku balik.
"Enak saja aku dibilang vampir! Aku tidak bertaring dan tidak haus darah! Aku juga bukan rubah yang bau! Aku tuh lebih keren daripada mereka berdua!" Black nampak semakin kesal dengan ucapanku, berbeda dengan Pak Sandy yang kini tertawa terbahak-bahak.
"Heh, Sandy, ketawa aja kamu! Kamu enggak lihat tuh temannya Cecil? Mukanya bingung. Kalian berdua ngomongin sesuatu yang enggak jelas tau enggak." Ucapan Black membuatku tersadar kalau aku tidak seorang diri mengunjungi cafe ini melainkan membawa Lucy.
"Oh iya, lupa! Pak Sandy, kenalin, ini temen aku, Lucy!" Aku mengenalkan Lucy pada Pak Sandy.
Lucy lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Pak Sandy baru saja hendak membalas uluran tangannya dan terkejut melihat ada tanda di tangan Lucy. Aku melihat mata Pak Sandy terbelalak dan seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Loh, kok bisa?" Bukannya membalas uluran tangan Lucy, Pak Sandy malah menarik tangan Lucy dan memeriksa lengannya. "Sejak kapan?"
Lucy terlihat mulai ketakutan. Sikap Pak Sandy memang membuatnya terkejut. "Aku kurang tahu. Kayaknya, dia dalam bahaya deh, Pak."
Wajah Pak Sandy yang semula tertawa kini berubah menjadi serius. "Ayo, duduk dulu!"
Aku dan Lucy duduk di depan Pak Sandy. Pria itu memanggil karyawannya dan menyuruh menghidangkan makanan dan minuman untuk kami.
Aku berusaha menenangkan Lucy yang terlihat agak pucat dan ketakutan. "Tak apa, kamu tak usah takut, Pak Sandy ini orangnya baik kok. Dulu juga aku berpikir kalau Pak Sandy agak aneh karena suka terlihat berbicara sendiri namun setelah aku bisa melihat siapa lawan bicara Pak Sandy aku jadi tahu kalau ternyata di dunia ini ada makhluk yang ganteng banget!" Aku menatap Black dan tersenyum lebar.
"Cil, memang apa yang terjadi sama dia sampai tanda itu bisa ada di lengannya?" Pak Sandy kembali memeriksa tangan Lucy, kali ini Lucy biarkan setelah mendengar aku menjelaskan padanya kalau Pak Sandy adalah orang yang baik.
"Mungkin beberapa hari yang lalu, Pak. Coba saja tanya sama Lucy sendiri!" Aku mencolek lengan Lucy dan dengan terbata Lucy menjawab pertanyaan Pak Sandy.
"A-aku ... dapat tanda ini kira-kira beberapa hari yang lalu." Lusi menoleh padaku seakan minta dukungan.
"Tak apa, cerita saja. Pak Sandy dulu pernah mengalami hal yang lebih buruk lagi daripada yang kamu alami. Pak Sandy berhasil selamat dan akhirnya seperti yang kamu lihat, ia menjadi pengusaha yang sukses." Aku berusaha meyakinkan Lucy namun ternyata anak itu tidak mau menceritakan apa yang sudah terjadi di depan Pak Sandy.
"Aku hanya mau cerita sama kamu saja, Cil," bisik Lucy di telingaku.
Baiklah kalau itu mau Lucy. Aku jelaskan pada Pak Sandi dan ia tidak memaksa. Pak Sandy lalu meninggalkanku dan melanjutkan pekerjaannya. Tentu aku dan Lucy tidak hanya berdua saja, ada makhluk tampan di depanku yang sedang memanyunkan bibirnya. "Coba tanyain sama dia, apa yang dia telah lakukan sampai tanda itu bisa pindah dari tanganmu ke tangan dia!" Perintah Black padaku.
"Oke, kamu sekarang bisa cerita sama aku apa yang telah terjadi. Cerita sejujurnya, jangan ada yang ditutupi!" Aku menatap Lucy dengan lekat.
Lucy memainkan kuku-kukunya dan dengan berat hati, ia pun menceritakan apa yang terjadi malam itu. "Jadi malam itu ...."
****