PERNAHKAH KALIAN MEMAKAN LOLIPOP?
BAGAIMANA RASANYA MANIS?
Eirina karamyka Aldirck seorang gadis manis yang menyukai lolipop.
MAU TAU KENAPA SUKA LOLIPOP?
NONTON LOLIPOP MANIS BY NILA EDRINA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — LIONTIN BULAN SABIT
BAB 20 — LIONTIN BULAN SABIT
Malam semakin larut.
Hotel Grand Imperial perlahan kembali sepi setelah seluruh tamu berhasil dievakuasi. Garis polisi telah dipasang di beberapa sudut gedung, sementara petugas sibuk mengumpulkan barang bukti.
Di dalam mobil...
Eiri hanya diam menatap keluar jendela.
Pikirannya masih dipenuhi kejadian beberapa jam yang lalu.
Mahendra yang duduk di sampingnya sesekali melirik ke arahnya.
"Kamu masih takut?"
Eiri menggeleng pelan.
"Bukan..."
"Aku hanya terus memikirkan pria bertopi hitam itu."
Mahendra ikut terdiam.
"Aku juga."
"Entah kenapa..."
"Aku merasa dia bukan musuh."
Mobil pun melaju meninggalkan hotel.
Sesampainya di kediaman Axlarta...
Melveri langsung berlari menghampiri mereka.
"Eiri!"
Tanpa menunggu jawaban, ia memeluk Eiri dengan erat.
"Aku benar-benar khawatir."
Eiri tersenyum kecil sambil membalas pelukan itu.
"Aku tidak apa-apa, Kak."
Melveri menghela napas lega.
"Syukurlah."
Marchel yang berdiri tidak jauh dari sana ikut tersenyum.
"Aku sudah bilang Mahendra pasti melindunginya."
Mahendra hanya mengangguk pelan.
Namun pikirannya masih tertuju pada liontin berbentuk bulan sabit yang diperlihatkan Darius.
Larut malam.
Di ruang kerja.
Mahendra membuka laci meja lalu mengeluarkan sebuah kotak besi kecil.
Kotak itu merupakan peninggalan ayahnya.
Perlahan ia membukanya.
Di dalam terdapat beberapa dokumen lama, sebuah jam tangan tua, dan sebuah foto keluarga.
Mahendra mengambil sebuah buku catatan yang sudah mulai menguning.
Ia membuka halaman demi halaman.
Hingga akhirnya...
Ia menemukan sebuah gambar.
Lambang bulan sabit.
Persis seperti liontin yang diperlihatkan Darius.
Di bawah gambar itu tertulis sebuah kalimat.
"Jangan pernah percaya kepada Organisasi Bulan Sabit. Mereka akan menghancurkan siapa pun demi mendapatkan apa yang mereka inginkan."
Mahendra membelalak.
"Jadi..."
"Ayah sudah mengetahui mereka sejak dulu?"
Belum sempat ia membaca halaman berikutnya...
Tok...
Tok...
"Asisten masuk."
"Asisten menemukan sesuatu."
Mahendra menutup buku itu.
"Apa?"
"Asisten berhasil mengetahui identitas Darius."
"Katakan."
"Dulu dia pernah menjadi tangan kanan seseorang bernama Victor Hanzel."
Mahendra mengernyit.
"Victor?"
"Asisten belum menemukan banyak informasi."
"Tapi semua jejak keluarga Aldrick selalu mengarah kepadanya."
Mahendra mengepalkan tangan.
"Lanjutkan penyelidikan."
"Baik, Tuan."
Sementara itu...
Di kamar.
Eiri belum bisa tidur.
Ia kembali memegang gelang benang biru yang ditemukan beberapa hari lalu.
"Kenapa..."
"Setiap melihat benda-benda ini..."
"Hatiku terasa sakit."
Perlahan ia memejamkan mata.
Tiba-tiba...
Sebuah kenangan muncul lebih jelas daripada sebelumnya.
Seorang remaja laki-laki berdiri di bawah hujan sambil tersenyum.
Di tangannya ada dua lolipop rasa stroberi.
"Eiri, kalau suatu hari nanti kamu melupakanku..."
"...aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku."
"Ehh..."
Eiri sontak membuka matanya.
Air mata mengalir tanpa ia sadari.
"Aku..."
"Aku pernah mendengar suara itu..."
Namun wajah remaja tersebut masih belum terlihat jelas.
Di sebuah gudang tua.
Rivan sedang membuka peta kota yang terbentang di atas meja.
Di sampingnya terdapat tiga foto.
Foto Eiri.
Foto Melveri.
Dan foto Marchel.
Rivan menghela napas panjang.
"Waktunya hampir tiba."
Ia mengambil sebuah surat tua yang sudah lusuh.
Surat itu ditulis oleh ayah Eiri bertahun-tahun yang lalu.
"Jika suatu hari anak-anakku bertemu kembali, jangan biarkan mereka mengetahui kebenaran sebelum waktunya."
Rivan melipat kembali surat itu.
"Aku masih harus menepati janjiku."
Di tempat lain...
Darius memasuki sebuah ruangan yang sangat gelap.
Di sana telah duduk seorang pria tua membelakanginya.
"Apa hasilnya?"
tanya pria tua itu.
Darius menundukkan kepala.
"Mahendra mulai menemukan petunjuk."
Pria tua itu tertawa kecil.
"Bagus."
"Semakin dekat dia dengan kebenaran..."
"Semakin besar rasa sakit yang akan ia rasakan."
Darius mengangguk.
"Lalu bagaimana dengan Eiri?"
Pria tua itu menjawab dengan tenang.
"Biarkan dia hidup."
"Karena dialah kunci untuk membuka semua rahasia."
Senyuman tipis muncul di wajah Darius.
"Permainan ini akhirnya menjadi menarik."
Pagi harinya.
Mahendra sedang menikmati kopi di taman ketika Eiri datang menghampirinya.
"Tuan..."
Mahendra menoleh.
"Hm?"
"Aku bermimpi."
"Mimpi apa?"
Eiri menggenggam erat lolipop rasa stroberi yang ada di tangannya.
"Ada seseorang..."
"Dia mengatakan kalau suatu hari aku melupakannya..."
"...dia akan membuatku jatuh cinta lagi."
Mahendra membeku.
Kalimat itu...
Adalah kalimat yang pernah ia ucapkan kepada Eiri saat mereka berusia enam belas tahun.
Mahendra menatap Eiri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Jadi..."
"Kenanganmu mulai kembali..."
Eiri memegang kepalanya pelan.
"Aku belum bisa melihat wajahnya."
"Tapi..."
"Aku merasa..."
"Orang itu sangat penting bagiku."
Mahendra tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
"Aku akan menunggumu mengingat semuanya."
Dari balik jendela lantai dua...
Melveri tanpa sengaja melihat pemandangan itu sambil tersenyum.
Namun ia tidak sadar...
Di dalam gudang rumah, sebuah album foto lama yang jatuh beberapa hari lalu terbuka sendiri karena tertiup angin.
Di halaman terakhir...
Terlihat foto tiga anak kecil yang sedang berpelukan.
Di balik foto itu tertulis sebuah kalimat yang mulai pudar.
"Melveri, Marchel, dan Eiri. Tiga saudara yang tidak boleh dipisahkan."
Bersambung ke BAB 21 — Kenangan yang Retak.